Pohon yang Saya Beri Nama Ayas

Sekitar setahun yang lalu, 11-13 Juli 2025 (saya lupa persisnya), di pesisir Pulau Cempedak, saya menanam sebatang pohon.

Saya beri nama dia: Ayas.

Saya menanamnya dengan harapan, memberinya pagar pelindung, dan mendoakannya agar tumbuh kuat meski angin pantai begitu keras menghantam.

Ternyata, alam punya rencananya sendiri. Pohon itu nggak bertahan. Ia mati.

Kematian pohon itu mungkin saja jadi prolog dari apa yang saya rasakan selumbari, saat saya duduk di tengah obrolan di sebuah kafetaria. Tiba-tiba, firasat daftar kehilangan dalam hidup saya rasanya semakin hari semakin panjang.

Belum kering ingatan dan tulisan saya tentang kepergian seorang guru yang mengajarkan epistemologi cinta, hari ini saya kembali dihadapkan pada kematian atas sebuah harapan.

Kalau memento mori—kesadaran bahwa segala hal di dunia ini fana dan pasti akan pergi—adalah cara saya bertahan hidup dari rentetan kehilangan di masa lalu, maka hari ini, kematian demi kematian itu benar-benar menguji batas kewarasan saya.

Kehilangan kali ini rasanya lebih membekas, dan ia nggak datang tiba-tiba.

Sebab kehilangan ini bukan sesuatu yang benar-benar datang tanpa tanda. Mungkin karena itu rasanya jauh lebih sakit.

Ibarat tersayat pisau, luka yang datang tiba-tiba mungkin mengejutkan, tetapi mengetahui pisau itu perlahan mendekat dan kita tetap nggak mampu menghindarinya menghadirkan rasa sakit yang berbeda.

Kalau kamu menelusuri tulisan-tulisan saya di blog ini, jejaknya berserakan di label racauan. Sejak masa-masa "rungkad" di penghujung 2025, tentang nyamuk, hingga renungan tentang sakit fisik sebagai izin untuk istirahat di bulan April lalu.

Di antara racauan-racauan itu, ada satu nama yang memang saya tulis sebagai doa, Ayas Adinda. Saya memanggilnya Bi.

Ia bukan sekadar nama yang mampir dalam hidup saya; ia adalah napas yang ikut menyusun paragraf-paragraf saya. Ini bukan sekadar metafora. Dalam banyak kesempatan, ia jadi salah satu alasan yang membuat saya tetap ingin menulis ketika saya buntu.

Bahkan, belum genap dua minggu yang lalu, tepatnya 18 Mei di hari ulang tahun saya, ia meninggalkan jejak jemarinya di kolom komentar.

Ia menulis: "Beberapa pertemuan sebenarnya ga butuh alasan rumit. Semoga ke depannya bang Maheng bisa lebih sering mengambil kesempatan untuk bertemu orang-orang yang kamu sayang…" Kalimat itu saya balas dengan hangat.

Dengan cita-cita menua bersama. Saat itu, segalanya terasa begitu hidup dan "akan terwujud".

Dulu saya percaya bahwa mencintai adalah soal ketelitian mendengarkan dan keberanian merawat "kehadiran". Saya merasa sudah jadi penjaga yang baik, mirip seperti niat saat saya menanam pohon di Cempedak.

Saya menyimpan memori itu sebagai sebuah rekaman yang hidup di kepala.

Saya ingat bagaimana nada suaranya berubah saat ia mulai goyah. Saya ingat detail paling menyakitkan: bagaimana ia mencoba menutupi isak tangisnya di balik mikrofon yang ia mute, meskipun sesenggukan itu tetap sampai ke telinga saya di seberang lautan dengan getaran yang menyayat.

Di tengah kelelahan yang mendera, kami masih sering mencari celah untuk saling menguatkan.

Saya pikir, dengan jadi saksi yang paling tekun atas air mata dan kelelahannya, saya telah membangun jembatan yang cukup kuat agar ia nggak merasa sendirian menghadapi labirin di kepalanya dan tembok keras di dalam rumahnya.

Namun, belakangan saya menyadari sesuatu. Di dunia perasaan dan realitas sosial yang bising, ingatan yang akurat ternyata nggak selalu berbanding lurus dengan rasa aman.

Kita bisa hafal setiap frekuensi suara seseorang, tapi tetap gagal memahami kenapa ia pada akhirnya memilih untuk diam dan mengunci pintu.

Saya ingat filosofi olahraga. Orang bilang, kalau mau punya badan bagus, kamu harus siap dihajar rasa sakit. Otot-otot itu harus robek dulu lewat beban yang berat, pegal yang menyiksa, hingga akhirnya mereka terbentuk jadi sesuatu yang membanggakan.

Akan tetapi dalam relasi dua manusia, saya mulai bertanya: apakah rasa sakit harus menjadi syarat wajib untuk sebuah relasi makin sempurna? Apakah kita harus hancur berkali-kali hanya untuk menyadari bahwa cinta itu adalah segalanya?

Saya nggak ingin ada rasa sakit hanya untuk sekadar sadar bahwa mencintai adalah sebuah anugerah. Rasanya nggak adil jika hati kita harus dipaksa robek oleh realitas dan kesalahpahaman hanya untuk mendewasakan rasa.

Apa nggak bisa cinta itu dinikmati tanpa perlu ada fase "pegal" yang menghancurkan?

Harusnya bisa.

Saya melihat sosoknya mulai kelelahan. Di saat yang sama, beberapa hari terakhir dia lebih sering ingin menelepon, meski pendek-pendek durasinya.

Perubahan itu memicu keinginan besar dalam diri saya untuk terus bertanya. "Bii, kamu baik-baik aja?"

Mungkin salah satu kekeliruan saya adalah menganggap bahwa besarnya usaha akan selalu berbanding lurus dengan hasil yang saya harapkan. Saya memberi perhatian, saya mendengar ceritanya, menghentikan pekerjaan demi menemaninya, lalu diam-diam berharap semua itu cukup untuk membuat kami mampu melewati apa pun badai yang menghadang.

Padahal cinta bukan rumus matematika. Ia nggak menjanjikan bahwa ketulusan akan selalu menghasilkan keberanian atau bahwa kesabaran akan selalu berakhir pada kebersamaan.

Kini, persimpangan yang aneh itu menemukan ujungnya yang paling brutal. Ujung yang diam-diam sudah saya takutkan sejak beberapa waktu terakhir.

Orang bilang ujian jarang datang sendirian, tapi hari ini, alam semesta seolah sedang memamerkan selera humornya yang paling gelap.

Bayangkan berada di titik ini: diteror oleh debt collector—saya punya utang tapi bukan dari pinjol atau sejenisnya—pekerjaan yang mendadak mandek dan buntu, dihantam oleh ketiadaan restu, yang berada di luar kendali kami, lalu relasi kami berhenti, dan pada hari yang sama saya kehilangan cara untuk bisa berbicara dengannya.

Rentetan ini bukan lagi sekadar ujian; ini adalah sebuah pembantaian mental buat saya.

Pada tanggal 30 bulan Mei, di tengah tumpukan kekacauan itu, sebuah pesan terakhir datang meruntuhkan apa yang tersisa. Ia mengaku sudah kehabisan energi untuk membenturkan diri pada keputusan orang tuanya.

Sebagai bentuk pertahanan dirinya yang terakhir, ia memutus akses komunikasi. Sebab buatnya, terus berbincang hanya akan membuat proses melepaskan ini terasa jauh lebih menyiksa.

Ketika pintu itu akhirnya benar-benar dikunci dari dalam, saya nggak punya pilihan selain menerima bahwa mencintai adakalanya melapangkan dada untuk sebuah kepergian.

Saya, bagaimanapun, sadar kalau suatu hari kami akan berpisah. Saya percaya bahwa apa yang sudah menjadi takdir kita nggak bisa diubah, bahkan jika seluruh manusia di Bumi mencoba mencegahnya. Sebaliknya, apa yang nggak ditakdirkan untuk kita akan tetap pergi dengan caranya sendiri.

Mungkin tugas saya sekarang bukan lagi menjadi orang yang mencoba memperbaiki semuanya. Ada hal-hal yang memang berada di luar jangkauan saya, sekeras apa pun saya ingin membantu.

Dan mungkin salah satu bentuk cinta yang paling sulit adalah menerima keterbatasan itu—sama seperti saya harus menerima bahwa pohon yang saya tanam di Cempedak nggak ditakdirkan untuk tumbuh besar.

Ada 'pertempuran' yang nggak bisa saya 'menangkan' untuk orang lain. Ada keputusan yang nggak bisa saya ambil atas nama siapa pun selain diri saya sendiri.

Saya mulai mempertimbangkan ide tentang kesendirian yang panjang lagi. Nggak tahu sampai kapan. Sampai Ayas kembali? Saya juga nggak tahu. Bukan karena saya benci pada rasa, tetapi karena saya sedang lelah berhadapan dengan situasi-situasi yang nggak pasti dalam relasi manusia.

Saya ingin belajar memberikan rasa aman kepada diri saya sendiri dulu, sebelum saya lancang menawarkannya kepada orang lain.

Hidup saya yang sedang menghitung mundur ini sama sekali bukan bahan candaan.

Saya merasa sudah berjuang dengan terhormat sampai di titik ini dan seandainya saya masih berkomunikasi dengannya, saya akan terus berjuang sampai saya benar-benar kehabisan tenaga.

Saya nggak tahu apa alasan orang tuanya menolak saya.

Yang saya tahu, sejak awal saya nggak pernah membayangkan jalan keluarnya adalah melawan orang tua. Saya justru berharap suatu hari bisa mengenal mereka dengan baik, memahami keberatan mereka, dan kalau diberi kesempatan, saya juga ingin menyayangi mereka sebagaimana saya menyayangi orang tua kandung saya sendiri.

Ayas mendoakan agar saya tetap menjadi orang baik, ia menulis, "I sincerely wish you good health, happiness, success, and a wonderful life ahead. Keep being the good person you are. I know you will."

Dan saya berdoa "Ya Allah, kalau Ayas memang baik untuk saya dan saya baik untuknya, dekatkan kembali kami dengan cara yang baik. Kalau nggak, jangan biarkan saya kehilangan pelajaran dan cinta yang pernah saya dapat darinya."

Karena mungkin bagian yang paling sulit buat saya bukan hanya kehilangan Ayas yang sangat saya sayangi, tetapi juga kehilangan kesempatan untuk berjuang bersama menghadapi badai ini.

Saya berpikir, kalau suatu hari kami memang harus berpisah, senggaknya kami sampai di titik itu setelah sama-sama mencoba, berjuang menghadapi berbagai tantangan dan cobaan yang ada. Termasuk tantangan restu orang tuanya.

Menurut keyakinan saya, banyak relasi yang awalnya nggak direstui tapi bisa berubah ketika diperjuangkan dengan baik disertai doa.

Meskipun saya juga paham, kapasitas emosional setiap orang berbeda. Dan saya juga belum bisa membayangkan betapa besarnya tekanan yang dialaminya di rumah sehingga hubungan yang sedang kami bangun akhirnya harus ia lepaskan.

Dan di situ pula saya belakangan sadar. Saya sering berpikir bahwa perhatian adalah sesuatu yang selalu dibutuhkan orang yang kita sayangi.

Saya ingin hadir, mendengar, membantu, dan menjadi tempat beristirahat ketika ia kelelahan.

Namun, belakangan saya juga belajar bahwa kehadiran yang menurut kita menenangkan belum tentu dirasakan sama oleh orang lain.

Mungkin ada saat-saat ketika seseorang justru membutuhkan ruang yang nggak bisa kita berikan karena kita terlalu sibuk berusaha menemani.

Saya nggak tahu apakah itu yang terjadi pada kami. Dan mungkin saya memang nggak akan pernah tahu.

Au revoir, ma chère.

Doaku akan tetap menjagamu dari jauh.

Mungkin pohon yang aku beri nama Ayas di Pulau Cempedak memang nggak pernah tumbuh besar. Mungkin memang bukan itu takdirnya.

Tapi aku tetap bersyukur pernah menanamnya.

Sebab selama beberapa waktu, pohon itu membuatku percaya bahwa masa depan adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, Bi.

Maafkan aku karena pernah membuatmu menangis, merasa cemas, merasa nggak aman, atau memikul beban yang seharusnya nggak perlu Bi tanggung. Dan terima kasih karena pernah jadi orang yang sangat berarti, yang selalu mendukung, serta jadi tempat aku pulang dan melepas lelah.

Dan kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu: aku nggak menyesal pernah mencintaimu sedalam ini.

Aku cuma sedih karena ternyata nggak semua hal yang pernah kita cita-citakan diberi cukup waktu untuk bertumbuh.

Kalau waktu bisa diputar kembali, aku tetap akan memilih menanam pohon itu. Aku juga tetap akan memilih mencintaimu setinggi-tingginya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.