Oke Mahéng, Kamu Gagal Lagi: Catatan Rungkad 2025
Ada kegagalan yang nggak datang dengan suara menggema, tapi bertahan paling lama di kepala.
Ia nggak meledak, nggak dramatis, nggak langsung membuat kita roboh di depan banyak manusia.
Ia datang perlahan, berulang, dan sedikit demi sedikit menggerus keyakinan sampai suatu hari kita sadar bahwa yang runtuh bukan hanya rencana, juga cara pandang kita terhadap dunia.
Dua ribu dua puluh lima adalah tahun seperti itu buat saya.
Bukan tahun paling buruk, hanya tahun paling jujur. Tahun setelah jatuh, ketika saya nggak lagi sibuk menyangkal, menyemangati diri dengan kata-kata besar, atau berpura-pura semuanya masih bisa diselamatkan.
Tahun ketika saya akhirnya duduk, menatap puing-puing, dan berkata dalam hati: “Oke Mahéng. Ini gagal.”
Runtuhnya Idealisme dan Identitas
Bisnis event organizer yang kami bangun benar-benar runtuh. Festival literasi yang saya perjuangkan gagal untuk ketiga kalinya. Tiga kali mencoba, tiga kali pula saya harus menerima kenyataan bahwa idealisme nggak selalu cukup untuk menggerakkan dunia.
|
| Kenangan Kosa Kota Festival di Purwokerto. Niatnya 'Keyeng Maca Urip Sentosa', tapi realitanya menjadi puncak rungkad yang menguras segalanya. Foto: Dok Istimewa KKF |
Saya menyebutnya rungkad, tapi kata itu pun terasa terlalu ringan untuk menggambarkan betapa kosongnya dada saat itu.
Ada kegagalan yang bahkan nggak ingin kita ceritakan ke siapa pun, sebab setiap kali mencoba menjelaskannya, kata-kata terasa nggak sanggup memuat rasa malu, lelah, dan kecewa sekaligus.
Kerja Keras Saja Ternyata Nggak Cukup
Yang paling menyakitkan bukan kegagalannya, melainkan kesadaran bahwa saya sudah mengerahkan banyak hal: waktu, tenaga, mimpi, bahkan harga diri.
Dan tetap saja, hasilnya nihil. Nggak semua perjuangan berbuah. Nggak semua niat baik mendapat jalan.
Di titik itu, saya mulai mempertanyakan banyak hal yang dulu saya anggap pasti. Saya sadar, saya masih kurang dalam begitu banyak aspek. Dan yang lebih penting, saya mulai berdamai dengan satu kebenaran yang jarang diakui dengan jujur, bahwa kerja keras saja nggak cukup.
Kekayaan, keberhasilan, dan kelimpahan nggak sepenuhnya lahir dari usaha. Ada faktor keberuntungan yang bekerja diam-diam. Mau diakui atau nggak.
Saya muak mendengar motivasi kosong. Kalimat heroik seperti “kalau saya bisa, seharusnya kamu juga bisa,” yang seakan menyederhanakan kompleksitas hidup manusia.
Sampai akhirnya saya tiba pada kesimpulan sinis: “Kalau kamu bisa, ya sudah, kamu saja.”
Bukan karena saya menyerah, tapi karena saya lelah berpura-pura bahwa semua orang punya garis start yang sama.
Meski begitu, saya juga nggak ingin menghapus fakta bahwa dari semua kegagalan itu, saya masih bisa makan dari apa yang saya usahakan.
Itu bukan pencapaian besar, cukup untuk membuat saya nggak sepenuhnya jatuh ke jurang putus asa.
Dua ribu dua puluh lima juga menjadi tahun pelepasan identitas. Saya nggak tahu, untuk sementara atau selamanya.
Sejak 2015, saya membangun diri sebagai entrepreneur.
Dari menjual buku, kaus, ide, hingga mimpi.
Saya ingin dikenal sebagai orang yang membangun sesuatu dari nol. Sepuluh tahun mencoba dengan keras, dan di tahun ini, hampir semuanya harus saya lepas.
Bukan karena saya nggak mau berjuang lagi, tapi karena saya akhirnya jujur pada diri sendiri: mungkin ini bukan jalan yang ditakdirkan untuk diri ini.
Ada luka yang lahir bukan karena gagal, tapi karena terlalu lama memaksa diri berada di tempat yang salah.
Saya mulai bertanya, apakah salah jika setelah sepuluh tahun mencoba dan tetap gagal, saya memilih berhenti? Apakah melepas selalu berarti kalah? Atau justru itu bentuk kedewasaan yang paling nggak bisa dibantah?
Menulis Sebagai Ruang Bernapas
Di tengah semua itu, saya sadar akan satu hal yang nggak pernah benar-benar pergi: menulis.
Saya jatuh, iya. Saya hancur, mungkin. Tapi saya selalu kembali ke tulisan.
Menulis jadi satu-satunya ruang di mana saya nggak perlu berpura-pura kuat. Lucunya, di saat saya merasa gagal sebagai manusia bisnis dan dikejar bayang-bayang utang, karya saya justru mulai menemukan jalannya sendiri di rak buku internasional.
Melihat buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi terpajang di katalog luar negeri dengan harga yang berlipat dari harga Indonesia seolah menjadi bisikan semesta: “Kamu mungkin gagal mengelola angka, tapi kamu berhasil menjaga nyawamu dalam kata-kata.”
Mungkin benar kata Tuhan, jika saya percaya bahwa saya dilahirkan untuk menulis. Hidup ini memberi saya peristiwa agar saya mengerti pahit-manis.
Di tahun ini pula, saya banyak mengoreksi diri.
Akhir 2024 dan mungkin awal 2025, saya pernah merasa bahwa hidup selibat adalah pilihan yang ideal, bahkan terasa suci.
Tapi dunia berubah, dan saya pun berubah. Saya belajar bahwa mengevaluasi pilihan lama bukanlah bentuk pengkhianatan pada masa lalu. Apalagi menelan ludah sendiri.
Hidup bukan monumen yang statis; ia bergerak.
Partner dengan "Ruang Gagal" Dua Puluh Persen
Tahun ini saya juga belajar menerima kegagalan dalam diri sendiri dengan cara yang berbeda. Saya bertemu seseorang yang ingin saya jadikan partner hidup.
Saya mulai menyayanginya dengan sadar, sekaligus dengan risiko.
Untuk itu, saya menyisakan "ruang gagal" dua puluh persen dalam rencana-rencana saya untuk menjemputnya, meski rasa sayang saya bisa tumbuh hingga seratus. Karena menyayangi tanpa ruang gagal hanya akan melahirkan kekecewaan yang lebih menjadi-jadi.
Ada waktu, jadi penulis sering kali terasa seperti kutukan. Orang susah percaya pada ketulusan kita karena dianggap sebagai "pabrik kata-kata" yang bisa direkayasa.
Padahal justru karena saya penulis, saya tahu betapa mahalnya sebuah kejujuran. Saya nggak ingin menulis fiksi di dalam hubungan. Saya ingin hidup yang nyata, meski nggak selalu sempurna.
Saya sering berkata pada diri sendiri: Mahéng, kamu harus pernah jatuh agar kamu tahu bagaimana caranya berdiri.
Dan berdiri itu ternyata nggak harus selalu gagah. Boleh sesekali ragu-ragu. Ada waktu disertai gemetar. Tapi ya tetap berdiri.
Utang dan Batas Terakhir Harga Diri
Namun, di atas segala kalimat filosofis itu, ada satu hal yang paling melelahkan sepanjang tahun: utang.
Ia bukan sekadar angka atau tagihan, melainkan rasa takut yang ikut tidur, ikut bangun, dan ikut berpikir.
Saya bisa menerima gagal dalam banyak hal—gagal bisnis, gagal mimpi, gagal menjadi versi ideal diri sendiri—tapi ada satu kegagalan yang nggak saya beri izin yaitu gagal bayar utang.
Setiap notifikasi, setiap tanggal, setiap nama yang terlintas di kepala mengingatkan saya pada satu kalimat yang terus berputar: saya nggak boleh mati sebelum semua utang saya lunas.
Bukan karena moralitas yang sok suci, tapi karena di situ batas harga diri saya berada. Ketakutan itu menampar saya setiap hari, memaksa saya tetap bangun dan tetap berusaha, meski adakalanya rasanya ingin berhenti saja.
Menutup 2025, saya nggak membawa euforia. Nggak ada resolusi megah. Nggak ada janji akan menjadi versi terbaik dari diri saya. Yang ada hanya satu kebenaran yang akhirnya bisa saya terima tanpa perlawanan bahwa saya nggak harus selalu berhasil.
Ke depan, kalau umur saya panjang, ada Buku Masalembu yang siap lahir. Ada buku The Power of Mama yang akan terbit, ada rekam jejak 20 Tahun IAR Indonesia yang menanti untuk diceritakan.
Jika suatu hari nanti saya benar-benar berhasil, biarlah itu datang tanpa harus mengkhianati semua kegagalan yang telah membentuk saya.
Tahun 2025 nggak membuat saya menang. Tapi ia memastikan saya nggak menunggu mati sebagai orang yang berbohong pada dirinya sendiri.
Dan buat seorang penulis, mungkin itu adalah cara terbaik untuk bisa tidur nyenyak di tengah dunia yang berisik.
Selamat tahun baru 2026, kira-kira kegagalan apa lagi yang bakal datang dengan lebih unik?

Leave a Comment