Mengapa ‘Terima Kasih’ Bisa Jadi Kata Paling Bermakna dalam Bahasa Indonesia?

Suatu sore saya dan Lucas Dukes, relawan dokter hewan dari London di IAR Ketapang, bicara soal banyaknya logat bahasa Inggris, bahkan di United Kingdom sendiri. Saya jadi penerjemah Lucas, sesekali mengajari dia bahasa Indonesia.

Hari itu ia tanya sesuatu yang sama sekali nggak berkaitan dengan rumus tata bahasa.

"Menurutmu, apa kata terbaik dalam bahasa Indonesia?"

Saya sempat berpikir beberapa detik sebelum menjawab. Apa kata terbaik? Apakah kata yang paling indah bunyinya? Yang paling sering digunakan? Atau yang paling penting secara makna?

Pertanyaan sederhana itu ternyata membuka ruang yang cukup luas untuk saya renungkan.

Saya akhirnya jawab, "Terima kasih." Bukan karena dua kata itu terdengar paling puitis, tetapi karena di dalamnya ada satu kata kecil yang terasa sangat besar: kasih.

Sejak hari itu, saya benar-benar sadar bahwa bahasa sering kali membawa saya pada perenungan-perenungan kecil yang nggak selalu direncanakan, tetapi justru membantu saya memahami kembali bahasa yang selama ini saya pakai setiap hari.

Saya tumbuh dengan beberapa bahasa: Aceh, Jawa, Sunda, bahasa Arab, Inggris, bahasa Indonesia. Sempat belajar bahasa Prancis sebentar dan sekarang mencoba belajar bahasa Spanyol. Saya jarang sekali bertanya mengapa kata tertentu terasa hangat atau mengapa beberapa ungkapan terdengar lebih dekat dibandingkan yang lain.

Lalu, ketika saya diminta menerjemahkan atau mengajar orang lain yang benar-benar baru mempelajarinya seperti Lucas, pertanyaan-pertanyaan seperti itu tiba-tiba terasa jadi penting.

Apa sebenarnya yang membuat sebuah kata terasa penting? Apakah karena sejarahnya? Frekuensi penggunaannya? Atau karena pengalaman manusia yang melekat di dalamnya? Dan jika kita harus memilih satu kata yang paling mewakili cara kita berhubungan dengan orang lain, kata apa yang akan kita pilih?

Dalam bahasa Indonesia, "terima kasih" secara harfiah dapat dibaca sebagai tindakan menerima sesuatu yang disebut kasih, mengasihi. Ada gerakan menerima, ada pengakuan bahwa sesuatu telah diberikan, dan ada kesadaran bahwa kita nggak berdiri sendirian.

Kasih punya banyak makna. Dalam bahasa spiritual ada kata "pengasih" yang disandingkan dengan "penyayang". Kata ini juga bisa disandingkan dengan kata sayang, "kasih sayang".

Jadi dalam frasa "terima kasih" bisa bermakna seseorang telah menerima sesuatu dengan kasih sayang. Saya baru menyadari hebatnya kata ini.

Buat kamu atau banyak orang mungkin, ungkapan itu sederhana, bahkan sangat biasa. Anak-anak kecil pun mempelajarinya sejak dini. Namun, justru karena kesederhanaannya, kita sering lupa melihat lapisan makna yang tersembunyi di dalamnya.

Di kesempatan lain, saya juga mengajari bahasa Indonesia untuk Issabella Fernandez atau Isi, yang masih kesulitan mengucapkan bunyi "ng" dan "ny" yang buat lidah Spanyolnya terasa sulit.

Ia mengulang kata yang ada "ng" seperti "mengambil" beberapa kali, sering terdengar sengau atau sesekali masih terpotong di tengah.

Setiap kali ia mencoba lagi, saya melihat usaha kecil yang nggak selalu terlihat oleh orang lain. Belajar bahasa memang sering dimulai dari satu bunyi, satu imbuhan, satu kata yang diulang berkali-kali sampai lidah mulai terbiasa.

Berapa banyak kesabaran yang sebenarnya dibutuhkan untuk mempelajari bahasa baru? Dan berapa banyak kesabaran yang kita miliki ketika menjadi penutur asli yang mengajarkannya? Apakah kita cukup memberi ruang buat pembelajar untuk salah, untuk mencoba lagi, untuk terdengar belum sempurna?

Saat Isi tanya tentang imbuhan seperti me- dan ber-, saya sempat bingung menjelaskannya. Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita sering nggak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu. Lagi pula, saya bukan guru bahasa.

Karena itu, kita biasanya nggak perlu berpikir lama sebelum mengatakan "berjalan" atau "membaca." Namun, buat pelajar asing, setiap awalan adalah keputusan.

Mereka harus memikirkan apakah kata itu membutuhkan objek, apakah bentuk bunyinya berubah, dan bagaimana cara mengucapkannya dengan tepat. Di balik satu kata sederhana, ada proses berpikir yang nggak sederhana.

Di momen-momen seperti itulah saya mulai menyadari bahwa belajar bahasa bukan hanya kegiatan memindahkan pengetahuan tata bahasa. Ia adalah upaya untuk mempertemukan berbagai latar belakang, berbagai cara berpikir, dan berbagai tingkat keberanian untuk mencoba.

Ketika seseorang berani bertanya, "Apakah ini benar?" atau "Bagaimana cara mengucapkannya?", ia sebenarnya sedang membuka diri untuk kemungkinan baru. Dan setiap kali kita menjawab dengan sabar, kita ikut menjaga ruang kemungkinan itu tetap aman.

Pertanyaan Lucas tentang kata terbaik dalam bahasa Indonesia akhirnya membuat saya merasa bahwa mungkin kata itu terasa penting bukan hanya karena maknanya, tetapi juga karena perjalanan dan pelajaran yang menyertainya.

Ada usaha untuk memahami budaya yang berbeda, ada keinginan untuk menghargai orang lain dengan cara yang tepat, dan ada keberanian untuk berbicara meski belum sepenuhnya percaya diri.

Jika kita memikirkan kembali, berapa kali dalam sehari kita mengucapkan "terima kasih" tanpa benar-benar menyadarinya? Kepada pengemudi ojol, kepada rekan kerja, kepada teman yang mengirim pesan singkat, atau kepada seseorang yang menahan pintu minimarket agar kita bisa lewat lebih dulu.

Kata itu begitu sering digunakan sehingga sering terdengar seperti kebiasaan otomatis. Tetapi apakah frekuensi membuatnya kehilangan makna, atau justru menunjukkan bahwa kita terus-menerus hidup dalam sistem koeksistensi semesta yang saling terhubung?

Saya mulai percaya bahwa kekuatan sebuah kata nggak selalu terletak pada keunikannya. Sebab kata yang sama bisa terasa sangat hangat meski diucapkan berulang-ulang seperti kata "terima kasih" yang menurut keyakinan saya memang menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar fungsi komunikasi.

Ia jadi pengingat bahwa relasi antarmanusia dibangun dari banyak gestur kecil yang tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya bermakna.

Mungkin memang nggak ada satu kata yang benar-benar paling baik untuk semua orang. Setiap orang membawa pengalaman masing-masing, dan pengalaman itu membentuk kata mana yang terasa paling dekat.

Namun, buat saya, "terima kasih" tetap memiliki tempat yang istimewa. Ia mengandung pengakuan bahwa kita menerima sesuatu yang nggak selalu bisa kita balas secara langsung. Ia mengajarkan bahwa menghargai orang lain nggak selalu membutuhkan kalimat panjang. Ada kalanya cukup dua kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh.

Mahéng duduk bersama Issabella Fernandez (Isi) dari Madrid, Spanyol, Lucas Dukes dari London, serta para dokter hewan International Animal Rescue Ketapang dalam percakapan santai lintas bahasa pada malam hari di sebuah kedai kopi di Ketapang, Kalimantan Barat.
Mahéng bersama para dokter hewan International Animal Rescue Ketapang dalam percakapan lintas bahasa. (Foto: Isi)

Kembali pada pertanyaan awal Lucas. Apa kata terbaik dalam bahasa Indonesia? Mungkin jawaban masing-masing dari kita nggak pernah benar-benar selesai.

Mungkin setiap tahap kehidupan akan memberi kita jawaban yang berbeda. Tetapi untuk saat ini, saya masih merasa bahwa "terima kasih" mengingatkan bahwa belajar, mengajar, dan bertemu orang-orang baru selalu melibatkan sesuatu yang kita terima dengan "kasih" dari orang lain.

Dan jika suatu hari nanti salah satu dari kamu yang membaca tulisan ini ikut bertanya pertanyaan yang sama, mungkin saya akan menjawab dengan cara yang sedikit berbeda.

Saya mungkin akan bertanya balik: kata apa yang paling ingin kamu pelajari lebih dulu, dan mengapa? Karena kadang-kadang, bukan jawabannya yang paling penting, melainkan percakapan yang tumbuh setelahnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.