Pengalaman Jadi Penerjemah Kelas Musik di International Animal Rescue Ketapang

Saya belum pernah membayangkan suatu hari harus berdiri di panggung terbuka, di bawah pohon-pohon tinggi kawasan pusat pembelajaran Sir Michael Uren milik International Animal Rescue (IAR) Ketapang, sambil memperagakan gerakan musik yang bahkan saya sendiri nggak benar-benar pahami.

Jumat 13 Februari 2026, saya diminta menjadi penerjemah untuk Issabella Fernandez, dokter hewan relawan asal Madrid yang sedang mengadakan kelas perkusi menggunakan barang-barang bekas buat anak-anak binaan divisi edukasi IAR.

Lokasinya sekitar lima belas kilometer dari pusat Kabupaten Ketapang. Panggung kecil itu berada di ruang terbuka, dinaungi pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk.

Pesertanya nggak terlalu banyak, sebagian anak-anak, sebagian lagi remaja, tetapi rasa ingin tahu mereka memenuhi panggung sejak awal kegiatan dimulai.

Saya sudah kenal Issabella, yang biasa disapa Isi, sekitar satu bulan. Selama itu pula saya beberapa kali menjadi penerjemahnya dalam situasi-situasi sederhana untuk membantu komunikasi dengan staf dapur, menjelaskan kebutuhan sehari-harinya, atau menerjemahkan percakapan ringan dengan staf lapangan.

Namun jadi penerjemah dalam kelas musik ternyata pengalaman yang sama sekali berbeda.

Saya bukan orang yang memahami musik, apalagi perkusi, dan hari itu saya memang diminta menerjemahkan, tetap saja saya perlu mencontohkan gerakan kepada peserta.

Kelas berlangsung sekitar satu setengah jam. Sejak awal suasana sudah riuh, antusias. Anak-anak mencoba memukul, mengetuk, dan menggesek benda-benda yang disediakan seperti mangkuk, sedotan plastik, wadah bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah.

Isi bergerak sangat energik, menunjukkan ritme dengan tangan, kaki, dan tubuhnya. Salah satu bagian yang cukup sulit adalah latihan body percussion. Peserta harus mengulangi satu atau dua pola gerakan berkali-kali sampai ritmenya terasa.

Saya berdiri di samping Isi, berusaha menangkap instruksi yang ia ucapkan dalam bahasa Inggris, lalu menerjemahkannya ke bahasa Indonesia dengan cara yang bisa dipahami anak-anak.

Tantangan sebenarnya bukan hanya pada bahasa, tetapi pada cara menjelaskan. Bahasa untuk orang dewasa berbeda dengan bahasa untuk anak-anak.

Ketika menerjemahkan untuk staf IAR, saya bisa menggunakan kalimat langsung dan teknis. Tetapi di depan peserta yang lebih muda, saya harus mengubah kalimat menjadi lebih sederhana, sesekali bahkan menambahkan contoh gerakan agar mereka benar-benar memahami maksudnya.

Bagian paling lucu sekaligus membingungkan adalah ketika saya harus mencontohkan gerakan perkusi yang bahkan saya sendiri baru melihatnya saat itu.

Saya mencoba menirukan gerakan Isi seakurat mungkin, sambil berharap anak-anak nggak menyadari bahwa saya sebenarnya sedang belajar pada saat yang sama dengan mereka.

Di beberapa momen kami semua tertawa. Justru di situlah suasana kelas terasa cair. Musik nggak lagi terlihat sebagai sesuatu yang rumit, melainkan sebagai permainan bersama.

Mahéng dan peserta kelas musik IAR Ketapang selepas kegiatan
Foto bersama selepas kelas musik IAR Ketapang. Foto: Issabella Fernandez

Isi juga memperkenalkan sebuah lagu sederhana yang ia beri judul “Lagu Bumi”. Hal yang menarik buat saya, ia belum bisa berbahasa Indonesia, tetapi tetap berhasil menciptakan lirik yang bisa diikuti peserta.

Saya sendiri sempat bertanya-tanya bagaimana ia bisa menyusunnya. Mungkin karena musik memang memiliki cara sendiri untuk melampaui batas bahasa.

Anak-anak tampaknya nggak mempersoalkan aksen atau tata bahasa; mereka lebih sibuk mengikuti ritme, menepuk tangan, dan mengetuk mangkuk yang mereka pegang.

Kelas itu buat saya bukan hanya tentang musik. Penggunaan barang bekas adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikan. IAR sebagai lembaga konservasi nggak hanya berbicara tentang satwa liar, tetapi juga tentang kebiasaan manusia terhadap lingkungan.

Menggunakan barang yang bisa dipakai ulang menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan gagasan bahwa plastik atau barang-barang yang nggak lagi bisa digunakan sebagaimana mestinya nggak selalu harus berakhir sebagai sampah.

Ada satu momen yang sangat saya ingat. Seorang anak, saya bahkan lupa namanya, tampak sangat cepat menangkap ritme yang diajarkan. Ia bisa langsung mencontohkan pola gerakan yang baru saja diajarkan, bahkan lebih stabil daripada beberapa peserta lain.

Suara ketukan yang semula acak mulai terdengar lebih seragam. Saya berani bilang, proses belajar nggak selalu membutuhkan alat yang mahal; yang lebih penting adalah ruang yang membuat anak-anak merasa berani mencoba.

Sebagai penerjemah, saya menghadapi kesulitan lain yang nggak terlalu terlihat dari luar. Saya nggak memiliki latar belakang musik, sehingga beberapa istilah ritme atau teknik harus saya pahami terlebih dahulu sebelum menerjemahkannya.

Ketika kelas hampir selesai, saya merasakan sesuatu yang nggak saya duga sebelumnya: mungkin rasa bangga?

Apa yang saya terjemahkan ternyata bisa ditangkap dengan baik oleh peserta. Mereka mampu mengikuti pola ritme. Saya sadar peran penerjemah bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga memastikan pesan tetap hidup ketika sampai ke pendengarnya.

Hari itu juga saya dalam kondisi emosional yang nggak sepenuhnya stabil. Beberapa waktu sebelumnya saya membuat kesalahan yang menyakiti orang yang sangat saya sayangi, dan perasaan bersalah masih terasa kuat.

Berdiri di panggung kecil itu, membantu anak-anak belajar musik dari barang bekas, mungkin bukan cara besar untuk memperbaiki sesuatu, tetapi senggaknya jadi pengingat bahwa selalu ada kesempatan untuk melakukan hal yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.

Dari barang-barang bekas, anak-anak itu menciptakan musik. Dan tanpa banyak suara, saya mengerti bahwa memperbaiki diri pun bekerja dengan cara yang sama: dimulai dari hal sederhana, diulang perlahan, sampai akhirnya terdengar selaras.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.