Mencari Alasan Nyamuk Menghisap Darah Lebih Mudah daripada Mencari Tanggung Jawab Pemerintah
Sekarang aku resmi naik kasta.
Pindah dari staff house ke ruang VIP di Learning Center IAR Ketapang. Kalau malam, cuma ada aku dan satu dokter hewan magang dari NGO sebelah. Beda kamar, tentunya.
Tapi tetap saja, kantor kalau malam itu kayak gedung sekolah tua di film horor. Cuma ada suara napas aku sendiri yang mulai kedengaran kayak beban hidup, dan klak-klik keyboard yang bunyinya kayak detak bom waktu.
Di depan aku, puluhan transkrip dengan puluhan jam rekaman menunggu untuk dijinakkan.
![]() |
| Proses pengerjaan transkrip buku 20 tahun Yayasan IAR Indonesia |
Sesekali aku menatap layar gawai yang mulai menghitam di pojok kiri atas—mungkin dia lelah melihat mukaku—berharap ada notifikasi panggilan dari Ayas.
Atau minimal satu kalimat: “Bang Mahéng, hari ini aku udah poop, banyak loh,” yang meski nggak estetik, bisa bikin jantung aku kerja lagi.
Tapi nihil. Kosong.
Yang Lebih Agresif daripada Nyamuk
Kangenku ke Ayas itu kayak penyakit autoimun. Dia nggak butuh musuh dari luar buat bikin aku tumbang; dia nyerang diri sendiri tanpa ampun.
Kangen ini jauh lebih rimbun dan lebih berisik daripada dengung nyamuk-nyamuk IAR yang kayaknya lebih banyak dari utang Indonesia.
Mereka sudah hafal golongan darah aku, jadwal tidurku, sampai titik-titik empuk di tubuhku melebihi ibuku sendiri.
Ngomong-ngomong soal nyamuk, Ayas malah nanya hal yang bikin aku berhenti ngerjain transkrip.
Pertanyaan filosofis yang sangat fundamental: “Bang, kenapa sih nyamuk harus isap darah? Kenapa nggak isap lemak saja?”
Ya juga ya, kenapa nggak sekalian isap utangku, yang jumlahnya nggak tahu diri itu?
Jika Nyamuk Sedot Lemak, Gym di BSD Bisa Gulung Matras
Coba bayangin kalau nyamuk itu pecinta kolesterol. Dunia pasti bakal berubah drastis.
Kita nggak perlu lagi setor muka dan iuran bulanan ke gym-gym elit di Bumi Serpong Damai yang harganya bikin kantong meriang—seratus delapan puluh ribu sampai setengah juta rupiah per bulan.
Meski bikin dompet meriang, banyak dari kita yang mau ya.
Itu dibuktiin data industri, pasar gym di Indonesia lagi wangi-wanginya.
Di tahun 2024 saja, pertumbuhannya stabil di angka 6,1%. Isinya didominasi generasi muda yang health-conscious, generasi yang takut mati tapi hobinya begadang sambil scrolling sampai mata kayak panda.
Kalau nyamuk sedot lemak, kita nggak perlu lagi sok kuat angkat beban sampai urat leher mau putus cuma demi konten workout yang estetik di media sosial.
Cukup tidur telentang di pinggir Hutan Kota BSD Dua, buka baju dikit, lalu biarkan nyamuk bekerja sebagai ahli bedah estetika tanpa lisensi.
Tapi namanya alam semesta itu nggak se-receh imajinasi kita. Katanya, nyamuk betina itu menghisap darah bukan karena dia kurang ajar atau doyan kuliner ekstrem.
Mereka butuh darah karena mengandung protein tinggi dan zat besi yang krusial buat mematangkan telur-telur mereka.
Ini bukan soal selera, Yas.
Ini soal sistem reproduksi yang non-negotiable.
Darah itu berfungsi sebagai pemicu pembentukan hormon gonadotropik yang diperlukan buat ovulasi si nyamuk.
Nyamuk Menghisap untuk Hidup, Kebijakan Pemerintah Menghisap untuk Apa?
Jadi, saat nyamuk gigit kita, dia sebenarnya lagi berjuang demi kelangsungan garis keturunan keluarganya.
Dia lagi berjuang jadi ibu yang baik buat ribuan jentik-jentiknya.
Mulia sekali, kan?
Meskipun dia nggak memaksakan anaknya jadi pejabat hingga melanggar konstitusi, tapi tetap akibat ulahnya kita yang gatal setengah mati.
Andai saja kalau protein itu diganti lemak. Bangun-bangun, lemak jahat kita sudah dipanen massal. Perut rata.
Rahang setajam Angga Yunanda.
Nyamuk-nyamuknya mungkin bakal terbang sempoyongan karena obesitas, tapi mereka bahagia karena kenyang lemak jenuh.
Klinik kecantikan di Tangerang Selatan mungkin bakal bangkrut berjamaah. Orang bakal berhenti ribut sama timbangan. Nyamuk bakal dimuliakan, bukan ditepok.
Bahkan mungkin Baygon bakal dilarang pemerintah.
Dilarangnya bakal lebih keras daripada pelarangan diskusi buku Reset Indonesia yang rencananya mau dibahas di Desa Gunungsari, Madiun, tapi malah dilarang aparatur itu.
Logikanya mirip: mencari alasan kenapa nyamuk menghisap darah itu jauh lebih masuk akal dan mudah ditemukan secara biologis daripada mencari tanggung jawab pemerintah.
Nyamuk menghisap untuk kehidupan, sementara kebijakan yang menghisap seringkali tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kenang-kenangan Gatal dan Ovulasi Emosi di Ketapang
Kita mungkin bakal pasang sesajen berupa gorengan dingin di pojok kamar, supaya nyamuk makin nafsu dan makin rajin sedot lemak sisa junk food dari Lengkong Wetan.
Tapi ya itu tadi, alam punya aturannya sendiri. Nyamuk punya seleranya sendiri. Dia mungkin lebih suka kita "berdarah-darah" macam kelakuan pemerintah.
Kayak aku sekarang di Learning Center IAR. Nyamuk tetap setia menghisap darahku, padahal aku sudah tawarkan lemak di perut ini secara sukarela biar aku nggak terus-terusan merasa upset kayak Filippo Inzaghi, sang legenda AC Milan yang selalu terlihat panik kalau nggak cetak gol.
Darahku diambil, tapi gatalnya ditinggalin.
Rasanya persis kayak sistem birokrasi pas kita lagi ngurus perpanjangan SIM: sudah bayar, sudah antre, tapi was-wasnya nggak hilang-hilang.
Atau jangan-jangan, rasa gatal ini memang sengaja ditinggalin sebagai kenang-kenangan?
Sama kayak kamu, Yas. Kamu nggak isap lemak aku, kamu cuma isap waktu dan perhatianku sampai aku terkintil-kintil begini.
Dan sesekali, caramu bikin kangen ini buncah, rasanya mirip kayak nyamuk yang lagi memicu hormon gonadotropik itu: bikin reproduksi emosi aku mengalami ovulasi masal.
Nyamuk butuh darah buat bertelur, kalau aku butuh kabarmu buat sekadar bisa tidur.


Leave a Comment