Belajar Jadi Rumah yang Aman Tanpa Kehilangan Arsitektur Diri
Fisik saya sudah memberikan tanda bahaya (warning) berkali-kali dalam seminggu terakhir.
Tulang belulang serasa ingin lepas dari engselnya, dan setiap kali saya mencoba bangkit dari kursi kerja di Learning Center IAR Ketapang, ada bunyi krek yang terdengar seperti protes dari tubuh yang sudah terlalu lama dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya.
Saya tahu ini tanda-tanda badan akan drop.
Namun, lebih dari sekadar kelelahan fisik karena tumpukan transkrip, saya tahu ada sesuatu yang lebih berat yang sedang menghimpit di balik dada.
Saya teringat sebuah dad-joke, lelucon garing yang sering lewat di lini masa: sendi yang paling sakit adalah "sendirian".
Di kantor, suasana sebenarnya sedang ramai. Ada obrolan dokter hewan magang dari Madrid, ada deru makaka, ada aktivitas staf IAR.
Namun, entah kenapa, saya merasa benar-benar sendiri. Dan yang lebih aneh lagi, di tengah kesendirian yang menyesakkan itu, saya justru merasa butuh waktu untuk menyendiri.
Sebuah kontradiksi yang hanya bisa dipahami oleh orang yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Bulan ini, tagihan-tagihan baru bermunculan di layar gawai. Saya menatap angka-angka itu dengan perasaan tidak adil. "Kenapa hanya saya yang ditagih?" pikir saya dalam satu detik kemarahan yang egois.
Pada detik berikutnya, saya sadar betapa piciknya pikiran itu. Bicara soal keadilan terhadap diri sendiri saat kita sendiri yang menciptakan kekacauan adalah bentuk pengkhianatan terhadap logika.
Mengayuh Menuju Tanjung Belandang
Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar. Saya pergi ke Pantai Tanjung Belandang.
Jaraknya sekitar empat kilometer dari kantor. Saya memutuskan untuk mengayuh sepeda.
Anehnya, meski tulang-tulang saya tadi terasa mau rontok, saat kaki ini mulai mengayuh, tubuh terasa ringan. Seakan-akan beban hidup ini tertinggal sejenak di kamar yang penuh transkrip.
Saya memasang earphone, mencoba memutar musik streaming. Dulu, saya punya playlist sharing dengannya. Sebuah ruang digital tempat kami saling bertukar rasa lewat nada.
Namun sekarang, akses sharing itu sudah dicabut. Ruang itu sudah terkunci. Rasanya… entahlah, sulit untuk dideskripsikan.
Mungkin yang paling mendekati, rasanya seperti berjalan di rumah sendiri, namun tiba-tiba semua lampu dimatikan dan kunci pintunya diganti.
Tanjung Belandang masih sama seperti terakhir kali saya datang. Airnya cokelat, khas pesisir Ketapang, dan matahari masih menggantung tinggi di langit.
Saya duduk di sebuah gazebo kayu yang entah milik siapa. Warungnya tutup, jadi saya hanya ditemani semilir angin yang cukup kencang. Termometer di ponsel menunjukkan angka 31 derajat Celsius. Terik, tapi saya merasa hati saya jauh lebih panas dan mendidih.
Sampah, Kesalahan, dan Penyesalan
Mata saya kemudian tertuju pada pasir pantai. Sampah plastik berserakan di mana-mana. Botol bekas, bungkus deterjen, sedotan yang sudah memudar warnanya.
Saya terdiam menatap sampah-sampah itu dan mulai bertanya-tanya: apakah sampah ini berasal dari pengunjung di pantai ini? Ataukah ini sampah kiriman dari pantai lain, bahkan dari negara lain, yang dibawa arus laut lalu terdampar dan menetap di sini?
Pertanyaan itu membawa saya kembali ke kejadian tahun lalu. Selepas mengunjungi Ragunan, saya pernah menulis dengan penuh percaya diri lebih kurang begini: "Kalau kamu nggak mau diperlakukan buruk, jangan perlakukan buruk orang lain." Kalimat itu sekarang berbalik memukul wajah saya sendiri.
Saya telah melakukan tindakan yang bodoh dan ceroboh. Saya teledor, dan keteledoran itu telah melukai hatinya.
Ada satu pesan chat darinya yang membayangi saya selama sebulan terakhir. Pesan yang begitu membingungkan sehingga saya kehilangan kata-kata untuk menjelaskan siapa saya di hadapannya sekarang.
Saya melakukan kesalahan fatal, dan bagian paling menyakitkan dari semua ini adalah kenyataan bahwa saya sulit memaafkan diri saya sendiri.
Saya sudah mencoba minta maaf berkali-kali. Lewat kata, lewat upaya, lewat segala cara yang saya tahu. Tapi seperti yang sudah saya duga, sulit buat dia memaafkan keteledoran itu.
Di dalam gazebo yang sepoi-sepoi, terjadi perdebatan di kepala saya. Dua suara yang sama-sama tidak mau mengalah.
Suara logika saya berteriak dengan dingin, "Mahéng, kamu sudah ditinggal. Untuk apa kamu masih berjuang? Lihat kenyataannya, pintunya sudah tertutup, playlist-nya sudah dihapus. Berhenti menjadi martir untuk kesalahan yang sudah tidak bisa diperbaiki."
Namun, ada suara kecil dari sudut hati paling dalam, yang berbisik, "Jangan berhenti, Mahéng. Jangan biarkan dirimu menyerah pada rasa bersalah."
Saya tidak bisa menjawab pertanyaan logika saya sendiri. Kenapa saya masih bertahan? Mungkin karena dalam cinta dan penyesalan, tidak pernah ada "daftar pustaka" atau referensi akademik yang masuk akal.
Tidak ada buku panduan yang mengajarkan bagaimana cara berhenti mencintai seseorang tepat setelah kita menyakitinya. Semuanya adalah area abu-abu yang luas di laut yang tidak lagi biru.
Janji pada Diri Sendiri
Duduk di Tanjung Belandang dengan kaki yang sesekali menyentuh pasir berlumpur dan bercampur plastik, saya belajar tentang penyerahan diri.
Mungkin hidup memang tidak selalu harus berjalan sesuai dengan naskah yang kita tulis di kepala. Ada saatnya, kita adalah protagonis, tapi lebih sering kita adalah antagonis dalam cerita orang lain karena kecerobohan kita sendiri.
Jika memang perpisahan adalah "harga" yang harus saya bayar untuk sebuah keteledoran, maka saya harus berani berdiri tegak untuk membayarnya. Meskipun saya berharap bisa membayar dengan cara yang lain.
Di sisi lain, kehilangan orang yang saya cintai bukan berarti saya harus kehilangan integritas saya sebagai manusia.
Rasa sakit, panas di hati, dan gatal karena "sampah-sampah" ini harus menjadi pengingat.
Saya akan masuk ke usia tiga puluh sebentar lagi. Ini adalah usia di mana laki-laki harus berhenti membuat alasan atas kesalahannya.
Di Tanjung Belandang ini, di bawah terik tiga puluh satu derajat, saya membuat janji pada diri sendiri.
Saya berkomitmen untuk tetap menjadi "Mahéng yang lebih baik". Saya akan membersihkan sampah-sampah dalam diri saya, memperbaiki cara saya memberikan afeksi, dan belajar untuk lebih presisi dalam bertindak.
Terlepas dari apakah dia akan ada di sana untuk menunggu saya, paling tidak saya tetap harus berjuang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya, sekali lagi.
![]() |
| Foto: Dok. Mahéng |
Matahari mulai sedikit merendah. Saya berdiri, mengambil sepeda, memasang helm, dan bersiap mengayuh kembali ke kantor. Jalanan mungkin masih berlubang, tulang saya mungkin masih terasa lepas, tapi setidaknya sekarang saya tahu: tagihan itu memang harus saya bayar, dan saya tidak akan lari darinya.
Sebab jika suatu hari ia pulang, saya ingin sudah siap jadi rumah yang aman—tanpa kehilangan arsitektur diri saya sendiri.


Leave a Comment