Pantai Tanjung Belandang, Dilihat Sebagaimana Adanya
“Kamu hitam, Kak Mahéng,” celetuk drh. Tetri Regilya sore tadi.
Saat itu kami sedang sibuk mencari angle foto di Pantai Tanjung Belandang agar muka saya terlihat cerah.
Matahari masih cukup tinggi, cahaya memantul dari pasir basah, dan saya berdiri agak memiringkan wajah, berharap kamera bisa bekerja lebih baik dari kenyataan.
Kalimat itu telak dan jujur.
Ia meruntuhkan upaya kecil saya untuk terlihat “keren” secara instan. Nggak ada nada mengejek di sana, hanya sebuah pernyataan apa adanya dari Tetri, seperti laut yang nggak peduli ingin dilihat biru atau nggak.
Narasi Wisata yang Terlalu Rapi
Saya menyempatkan diri berselancar di mesin pencari untuk mencari referensi penulisan artikel ini.
Seperti biasa, hasilnya mudah ditebak. Banyak artikel menuliskan narasi yang serupa dan mirip. Membacanya membuat saya termenung.
Entah kapan para penulis itu benar-benar menapakkan kaki di Pantai Tanjung Belandang, atau jangan-jangan mereka hanya merangkai kata demi memuaskan algoritma, tanpa pernah peduli pada fakta?
Saya datang ke sana bukan sebagai turis. Saya datang sebagai manusia yang ingin merilis penat setelah berjam-jam punggung kaku menghadap laptop.
Saya nggak sendirian. Saya diajak drh. Tetri Regilya dari Jejak Pulang yang sejak pagi sudah pengen di sana.
Dan apa yang kami temukan adalah sebuah realitas yang jauh dari polesan brosur wisata.
Tanjung Belandang di Hari yang Riuh
Tanjung Belandang hari ini (1 Januari, tahun baru) adalah sebuah perayaan yang riuh, bising, dan melelahkan.
Suara musik saling tumpang tindih, tawa beradu dengan teriakan, dan langkah kaki manusia menyusuri pantai tanpa jeda.
Sebelum masuk, kami disambut oleh portal dan retribusi dadakan sebesar lima ribu rupiah per orang. Mungkin “pajak” tahun baru yang muncul secara gaib, lalu lenyap begitu saja, menyisakan sobekan karcis di atas tanah saat kami pulang.
“Anggap saja sedekah,” kata Tetri.
Sebuah kalimat sederhana yang mencoba memanusiakan komersialisasi momen yang serba mendadak itu. Kami tersenyum, lalu melanjutkan perjalanan.
Setelah sampai di lokasi dan mencari tempat yang agak sepi, kami berjalan cukup jauh, menyusuri garis pantai yang luas.
Baru saat kaki ini benar-benar bergerak, saya menyadari bahwa pantai ini memang luas. Sebuah detail geografis yang luput dari narasi-narasi dangkal di internet.
Luas yang nggak instan. Luas yang harus ditempuh dengan peluh.
Perjalanan menuju “ujung” pantai ini seperti sebuah pengingat kecil bahwa sering kali kita harus berjalan lebih jauh untuk menemukan sesuatu yang lebih indah.
Sebab, nggak semua hal bisa dirangkum dari jarak aman.
Dalam bahasa Aceh, seperti yang tertulis dalam lagu Rafly Kande berjudul Peulara Lidah. Liriknya begini, Tajak beutrôh ta eu ta eu beudeuh. Bèk rugoe meuh haté sakét.
Kita datang harus sampai, harus kita lihat sendiri dengan jelas, jangan cuma dengar-dengar, atau katanya.
Karena itu bisa bias, bisa menyakiti hati saat nggak sesuai dengan realitas.
Mungkin banyak juga di antara kita yang terjebak filter media sosial. Kita percaya pada warna, sudut, dan narasi yang dipoles rapi.
Ketika berhadapan langsung, realitas sering kali justru berbanding terbalik.
Air Cokelat, Bau Keringat, dan Realitas
Di ujung sana, nggak ada air biru seperti pantai-pantai cantik yang digambarkan kebanyakan. Yang ada hanyalah air berwarna cokelat, keruh, dan tampak lelah.
Air yang nggak berusaha menyenangkan mata, hanya menunjukkan kondisinya apa adanya.
Saya nggak tahu pasti apa penyebabnya.
Mungkin deforestasi yang kian beringas di hulu. Mungkin limpahan Sungai Pawan yang sudah bertahun-tahun membawa beban limbah dari berbagai aktivitas manusia.
Atau mungkin gabungan dari semua kelalaian manusia yang pelan-pelan menumpuk.
Di Ketapang, jika kamu menemukan air pantai yang biru, anggaplah itu sebagai gift. Sebuah anugerah langka yang nggak bisa dipesan, nggak bisa dijadwalkan, dan nggak selalu datang saat kita inginkan.
Sambil berjalan, bau yang tercium bukan aroma terapi laut yang menenangkan saja. Yang tercium juga adalah bau keringat kami sendiri. Tubuh yang bergerak di bawah matahari, mencoba berdamai dengan riuh dan sesak.
Kami terus melangkah, mencari sudut yang cukup layak untuk sekadar duduk dan berdiskusi tentang keunikan jenis manusia berikut segala problematikanya.
Tetri sempat berujar, mungkin setelah saya mendengar ceritanya, saya akan mulai menjustifikasi atau menghakimi banyak hal tentang dia.
Namun buat saya, setiap manusia diciptakan unik dengan segala kerumitannya. Menghakimi ciptaan adalah bentuk protes kepada Sang Pencipta, dan saya nggak layak mengambil peran itu.
Keindahan yang Jujur, Bukan yang Dipoles
Di sela-sela pasir yang basah, kami menemukan bangkai ular dan ranting-ranting pohon yang patah. Salah satu dari ranting itu saya ambil, lalu saya gunakan untuk menggali “sumur-sumuran” kecil.
![]() |
| Menggali sumur-sumuran dengan ranting patah, upaya kecil untuk berdamai dengan riuh dalam diri. (Dok. drh. Tetri Regilya) |
Saat mengutak-atik pasir dengan ranting itu, saya sadar kalau sore ini saya datang tanpa kebutuhan untuk terlihat apa pun.
Kalimat Tetri di awal tulisan tadi cukup untuk meruntuhkan ilusi kecil yang biasanya saya rawat tanpa sadar. Dan mungkin masih ada.
Di tengah obsesi kita terhadap filter yang mencerahkan kulit, terhadap narasi pantai biru dan pasir putih, saya diingatkan bahwa kita nggak perlu terlihat cerah untuk sekadar terlihat meyakinkan.
Sama seperti pantai ini. Ia nggak perlu dipaksakan menjadi biru atau berpasir putih kristal untuk menjadi penting.
Kejujuran warnanya yang keruh adalah identitas yang jauh lebih kuat daripada kebohongan warna biru hasil editan.
Saat menulis ini, pikiran saya tiba-tiba melompat jauh ke Pulau Masalembu. Bukunya sudah lama saya tulis dan mungkin akan terbit bulan ini.
Judul sementara Masalembu: Safarnama di Jantung Nusantara.
Ada benang merah yang aneh antara Pulau Masalembu dan Ketapang. Keduanya sering terjebak dalam stereotip sebagai tempat yang “nggak aman”.
Entah dari mana label itu bermula, namun prasangka sering kali lebih cepat sampai daripada kebenaran.
![]() |
| Tugu penanda Pantai Tanjung Belandang, berdiri di tengah riuh manusia yang apa adanya. (Dok. drh. Tetri Regilya) |
Kondisi Tanjung Belandang saat kami datang terasa seperti sebuah konflik yang telanjang.
Alam di sini tampak hanya digunakan sebagai wadah untuk memenuhi hasrat manusia akan hiburan. Sampah berceceran di sela-sela suara orang berkaraoke yang saling tumpang tindih.
Kontras sekali dengan apa yang pernah saya tulis dalam Runduma: Surga Kecil di Wakatobi.
Jika Runduma adalah tentang kemurnian yang terjaga, Tanjung Belandang adalah tentang luka yang nggak boleh ditutup-tutupi.
Namun, di tengah semua kekeruhan dan kebisingan itu, saya dan Tetri sempat menyinggung satu kata: cantik.
Lalu, apakah cantik harus selalu identik dengan biru yang kristal dan pasir yang putih bersih? Bisakah sebuah luka menjadi cantik?
Saya belum punya definisi dan jawabannya. Yang saya tahu, di Tanjung Belandang, keindahan yang saya temukan adalah keindahan yang jujur.
Bukan keindahan yang dikarang-karang oleh penulis konten yang bahkan mungkin nggak tahu seperti apa bau amis lautnya.
Sekitar pukul tujuh belas lebih, matahari seharusnya mulai bersiap turun. Namun sunset yang juara itu nggak muncul.
Kami nggak menunggu lebih lama.
Kami pulang dengan membawa sisa pasir di sandal dan sebuah catatan di kepala, paling nggak kepala saya, bahwa Tanjung Belandang nggak butuh narasi palsu untuk menjadi penting.
Ia hanya butuh dilihat sebagaimana adanya. Sebagai pantai yang sedang berusaha bertahan hidup di tengah riuhnya manusia.



Leave a Comment