Saya Keliru Menulis Nama Sendiri
Selama ini saya mengira kesalahan terbesar saya adalah salah memilih jurusan, salah memilih pekerjaan, atau jatuh cinta pada orang yang tepat di waktu yang salah.
Belakangan, daftar kesalahan itu ternyata masih kurang satu.
Saya keliru menulis nama sendiri.
Ironis juga kalau dipikir-pikir.
Saya hidup dari menulis. Menulis esai, buku, artikel, sampai status media sosial. Saya menghabiskan banyak waktu memilih kata yang paling tepat, menghapus satu kalimat hanya karena terasa kurang pas, lalu menghabiskan berjam-jam lagi untuk memperbaikinya.
Tapi selama bertahun-tahun saya justru salah mengeja kata yang paling sering saya tulis.
Nama saya sendiri.
Nama pena yang selama ini saya tulis sebagai Mahéng, ternyata kalau mengikuti kaidah bahasa Aceh seharusnya ditulis Mahèng.
Saya baru benar-benar menyadarinya beberapa tahun belakangan.
Mahèng dalam bahasa Aceh kurang lebih berarti dekil. Kotor.
Julukan itu muncul karena saya memang anak kampung yang lebih sering bermain di luar rumah daripada diam di kamar. Saya suka hujan-hujanan, main bola di sawah, berguling di lumpur, lalu pulang dengan pakaian yang warnanya sudah sulit dibedakan antara kain dan tanah.
|
| Saat masih menjadi siswa MTsS Harapan Bangsa di Masjid Al-Muqaddas, Kuta Padang, Aceh Barat. (Dok. Mahéng). |
Kulit saya juga gelap. Foto di atas salah satu buktinya.
Saya jadi ingat Ayas Adinda. Suatu hari, kami berbincang lewat telepon. Salah satu yang diobrolin adalah kenapa bibir saya hitam. Saya membela diri karena dulu merokok.
Ayas langsung menyahut, "Tapi asapnya kayaknya kena ke seluruh kulit."
Lalu ia ketawa. Tertawa lepas sekali. Saya ikut tertawa. Sekarang setiap kali mengingat percakapan itu, saya nggak lagi memikirkan warna kulit saya.
Saya lebih sering merindukan tawanya.
Orang-orang secara nggak langsung memanggil saya dekil, kotor. Kalau dipikir sekarang, saya justru bersyukur nama itu tetap tinggal sampai hari ini.
Sebab setiap kali mendengarnya, saya seperti diingatkan bahwa saya bukan manusia yang selalu bersih.
Bukan cuma karena lumpur. Bisa juga karena hati saya sering kotor oleh kesombongan, iri, amarah, dan berbagai hal yang pelan-pelan menempel tanpa saya sadari.
Mungkin itu sebabnya saya nggak pernah benar-benar ingin lari dari nama tersebut.
Nama itu ikut tumbuh bersama saya.
Ketika merantau ke Yogyakarta tahun 2014, saya mulai memakai Mahéng sebagai nama pena.
Ia muncul ketika saya aktif di Kelompok Belajar SEMUD. Ikut nongkrong di Rumah Gerakan Rode 610. Masuk ke LPM Humaniush.
Lalu perlahan ikut tercetak di blog, media sosial, sampai buku-buku yang saya tulis.
Selama hampir sepuluh tahun saya nggak pernah mempertanyakan ejaannya. Saya hanya merasa, begitulah nama saya ditulis.
Baru ketika mulai banyak membaca kembali ejaan bahasa Aceh, berdiskusi dengan Mas Pandu (dulu redaktur Gusdurian.net), saya menemukan ada sesuatu yang keliru.
Kalau mengikuti bahasa Aceh, nama itu seharusnya ditulis Mahèng. Bukan Mahéng.
Saya sempat belajar bahasa Prancis karena waktu itu sempat bercita-cita kuliah di Strasbourg. Dan justru di sana saya menemukan paradoks yang lain.
Dalam bahasa Prancis, penulisan Mahéng malah terasa masuk akal. Ternyata penulisan nama yang keliru menurut bahasa ibu saya justru dianggap tepat dalam bahasa lain.
Mungkin bahasa memang selalu punya rumahnya masing-masing. Yang benar di satu tempat belum tentu benar di tempat lain.
Contohnya, kata "jangak" dalam bahasa Ketapang berarti "cantik", tetapi dalam bahasa Aceh berarti "maling."
Nama saya memang relatif sering berubah-ubah bunyinya tergantung siapa yang memanggil.
Di Rode 610, ada yang memanggil saya Mehong.
Di Yayasan IAR Indonesia, Issi hampir selalu menyebut saya Mahing. Mungkin karena pengaruh logat bahasa Spanyolnya.
Guru bahasa Prancis saya, Imane, malah membaca nama itu menjadi Ma'eng karena huruf h dalam bahasa Prancis nyaris nggak terdengar (silent letter).
Saya nggak pernah merasa terganggu. Sebab menurut keyakinan saya, logat adalah identitas.
Saya sendiri ketika berbicara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa masih membawa logat Aceh. Kalau berbicara bahasa Inggris pun, saya jelas nggak terdengar seperti orang Inggris.
Dan saya rasa itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Bahasa bukan cuma alat komunikasi. Ia juga membawa kampung halaman.
Beberapa kali saya berpikir untuk mengubah semuanya. Mengganti Mahéng menjadi Mahèng. Merevisi blog. Mengganti nama di media sosial.
Memperbaiki semua yang sudah telanjur tercetak di buku.
Tapi semakin lama saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa persoalannya bukan lagi soal satu aksen.
Mahéng sudah hidup terlalu lama bersama saya. Ia sudah ada di buku-buku saya. Di Maheng.net. Di berbagai jejak digital yang mungkin akan tetap ada jauh setelah saya berhenti menulis.
Saya akhirnya memilih membiarkannya. Sebab ada hal yang jauh lebih penting untuk diperbaiki.
Saya pernah berpikir, nama adalah doa. Kalau begitu saya punya banyak doa.
Rahmat adalah doa. Ali adalah doa.
Ajjank adalah doa. Mahéng pun mungkin doa.
Doa agar saya nggak pernah merasa paling bersih. Doa agar setiap hari tetap mau belajar membersihkan diri.
Bukan membersihkan nama. Tetapi membersihkan cara hidup.
Orang mungkin akan lupa bagaimana mengeja nama saya. Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana saya memperlakukan mereka.
Hari ini saya tahu, menurut bahasa Aceh nama saya mungkin memang seharusnya ditulis Mahèng. Tetapi kalau kamu tanya apakah saya akan mengubah semua yang sudah terlanjur memakai nama Mahéng, jawabannya mungkin nggak.
Yang ingin saya revisi terlebih dahulu bukan cara menulis nama saya.
Melainkan cara hidup saya.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.
Sebab jauh lebih mudah memperbaiki satu huruf daripada memperbaiki satu manusia.

Leave a Comment