Rumah Gerakan Rode 610: Tempat Saya Belajar Bertanya

Saya datang ke Yogyakarta untuk kuliah. Yang nggak saya duga, saya justru belajar paling banyak di sebuah rumah kontrakan di Gang Rode.

Saya pertama kali mengenalnya waktu belajar di Jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Saat masa orientasi mahasiswa, saya berkenalan dengan Muflikhatun Afrianti, mahasiswi Jurusan Perbandingan Agama, yang sekarang berganti nama menjadi Jurusan Studi Agama-agama. Karena sama-sama berada di Fakultas Ushuluddin, kami sering bertemu di kampus.

Suatu hari, Afria mengajak saya untuk membentuk sebuah kelompok belajar. Namanya cukup panjang: Kelompok Belajar Sentral Mahasiswa Ushuluddin Dialektika, disingkat SEMUD. Markas kecil kami berada di sebuah rumah di Gendeng, Baciro, nomor 971.

Belakangan saya tahu, rumah itu bukan sekadar sekretariat organisasi mahasiswa. Ia adalah salah satu simpul dari Liga Forum Studi Yogyakarta (LFSY).

Pada masa itu, banyak kampus memiliki kelompok belajar sendiri. Di UIN ada FORSMAD, SODAKO, KOMASYAH, dan SEMUD. Di UAD ada SEMAK dan UII ada KOMAKA. Kelompok-kelompok belajar itu kemudian saling terhubung melalui LFSY.

Rumah Gerakan Rode 610 menjadi titik temu mereka.

Saya sampai hari ini belum menemukan jawaban yang benar-benar pasti kenapa rumah itu disebut Rumah Rode.

Ada yang bilang karena berada di Gang Rode dan nomor rumahnya 610. Ada juga yang menjelaskan bahwa "RODE" merupakan singkatan dari Pro-Demokrasi.

Bisa jadi keduanya sama-sama benar.

Yang jelas, rumah itu memang menjadi rumah buat banyak percakapan tentang demokrasi. Bahkan saya belajar orasi dan demonstrasi.

R. A. Mahéng mengikuti aksi bersama Liga Forum Studi Yogyakarta (LFSY) di kawasan Jalan Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam foto ini Mahéng terlihat mengenakan caping bambu sambil tersenyum di tengah barisan peserta aksi, sementara seorang rekan memasangkan caping merah sebagai bagian dari simbol demonstrasi. Di belakang tampak puluhan mahasiswa, aktivis, dan anggota kelompok belajar membawa spanduk serta poster yang menyuarakan isu agraria dan hak-hak masyarakat. Dokumentasi ini merekam salah satu fase perjalanan Mahéng ketika aktif berdinamika di Rumah Rode 610, sekretariat LFSY yang menjadi ruang diskusi lintas kampus di Yogyakarta.
Mahéng mengikuti aksi bersama Liga Forum Studi Yogyakarta (LFSY) di Malioboro. Dok. LFSY.

Di Rode, saya mulai membaca buku-buku yang sebelumnya hampir mustahil saya temukan ketika tumbuh di Aceh. Saya mengenal Tan Malaka, Karl Marx, Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, sampai berbagai pemikir yang waktu itu terdengar asing. Saya bahkan pernah sok-sokan menulis puisi seperti Wiji Thukul. Kalau mengingatnya sekarang, rasanya malah malu sendiri.

Di sana saya mulai bertemu banyak orang yang punya jasa besar terhadap bangsa ini. Salah satunya adalah Bang Yamin, almarhum, yang belakangan saya tahu pernah berteman dengan Andreas Harsono.

Bertahun-tahun kemudian, saya juga baru mengetahui bahwa Nezar Patria pernah berdinamika di Rode. Selama ini saya hanya tahu kalau ia adalah alumni PPMI—organisasi pers yang pernah saya pimpin.

Setelah dari Rode, saya sempat belajar di Pondok Pesantren Mahasiswa Madrasah Mutahhari, di bawah Rausyan Fikr yang diampu A. M. Safwan. Di sana saya mulai mempertanyakan banyak hal yang saya pelajari di Rode dari sudut yang berbeda.

Marx nggak lagi dibaca dengan cara yang sama. Agama nggak lagi dilihat dari satu arah. Masyarakat nggak lagi cukup dijelaskan hanya dengan perjuangan kelas.

Saya nggak merasa salah memilih salah satunya.

Justru karena pernah berada di dua ruang yang berbeda itu, saya jadi belajar bahwa berpikir bukan soal mencari kutub yang paling benar, melainkan belajar mendengar alasan dari setiap orang.

Kalau Rode mengajari saya mempertanyakan kekuasaan, Muthahhari mengajari saya mempertanyakan diri sendiri.

Dua-duanya sama penting.

Setelah itu, saya perlahan mulai jarang datang ke Rode. Saya merasa posisi saya waktu itu mulai berubah.

Ketika dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PPMI Dewan Kota Yogyakarta, lalu kemudian menjadi Sekretaris Jenderal PPMI Nasional, saya mulai khawatir.

Rode dikenal sebagai ruang diskusi yang melahirkan banyak aktivis. Sebagian alumninya kemudian masuk ke politik praktis, menjadi pengurus partai, anggota legislatif, peneliti, akademisi, sampai pejabat negara. Di dalam rumah itu, semua identitas memang dilepas. Siapa pun yang datang cukup membawa pikiran dan kegelisahan.

Namun di luar rumah itu, orang bisa melihatnya secara berbeda.

Sebagai insan pers mahasiswa, saya merasa perlu menjaga jarak. Saya nggak ingin media yang saya pimpin dipersepsikan memiliki afiliasi politik tertentu. Pers mahasiswa hanya akan dipercaya kalau mampu menjaga independensinya.

Tetapi saya nggak pernah benar-benar meninggalkan Rode.

Sebab ada hal-hal yang terus tinggal bersama saya. Yang paling terasa adalah cara memandang manusia.

Di Rode saya belajar kalau seseorang nggak boleh dihakimi hanya karena latar belakang ekonomi, agama, suku, ataupun pilihan politiknya. Kami terbiasa duduk melingkar tanpa mempersoalkan siapa anak pejabat dan siapa anak buruh.

Yang dinilai adalah argumennya.

Hierarki memang ada, tetapi nggak pernah jadi alasan seseorang berhenti berbicara.

Ketika hari ini orang bertanya apakah saya kiri, kanan, nasionalis, religius, atau apa pun, saya sering kesulitan menjawab.

Saya pernah belajar bahwa dunia terlalu rumit untuk dipaksa masuk ke dalam satu kotak.

Rumah Rode nggak membuat saya menjadi seorang Marxis. Ia juga nggak membuat saya menjadi orang lain.

Ia mengajari saya bahwa setiap pikiran layak diuji, termasuk pikiran saya sendiri.

Kalau sekarang saya lebih banyak menulis daripada turun ke jalan, barangkali itu juga salah satu jejak Rode.

Dulu kami berdiskusi hingga larut malam, kadang lanjut di warung kopi. Sekarang saya berdialog lewat halaman-halaman yang saya tulis.

Sebab buat saya, Rumah Rode bukan sekadar sebuah bangunan di Gang Rode Nomor 610.

Ia adalah ruang yang mempertemukan banyak kepala, banyak kegelisahan, banyak perdebatan, dan banyak persahabatan.

Barangkali itulah fungsi sebuah rumah perjuangan. Bukan untuk membuat semua orang berpikir sama, melainkan untuk membuat setiap orang pulang dengan pertanyaan yang lebih baik daripada ketika ia datang.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.