Menulis Adalah Laku Spiritual

Saya nggak pernah bercita-cita menjadi penulis.

Kalau ditanya kapan semuanya bermula, ingatan saya justru terlempar ke bangku Madrasah Tsanawiyah Harapan Bangsa Meulaboh, sekitar 2008 hingga 2011. Guru bahasa Inggris kami waktu itu seperti "mewajibkan" kami menulis diary dalam bahasa Inggris.

Saya bahkan sudah lupa apa isi catatan harian itu, apakah ada bumbu-bumbu kenakalan remaja yang disembunyikan, saya benar-benar nggak ingat.

Bukunya pun sudah lama hilang entah ke mana.

Yang saya ingat, hari itu adalah awal-awal saya belajar bahasa Inggris sekaligus berbicara kepada diri sendiri melalui tulisan.

Saat itu saya nggak pernah membayangkan kalau tugas sekolah yang bikin pusing tersebut bakal mengantar saya sampai ke titik ini—titik di mana menulis bukan lagi sekadar jadi juru ketik, tapi sudah jadi semacam laku spiritual.

Kalau ada yang bertanya kenapa saya menjadi penulis, jawabannya mungkin agak tragis, karena cuma ini satu-satunya kemampuan saya yang tersisa.

Pernah kepikiran jadi model?

Wah, jangankan jalan anggun di catwalk, saya kalau masuk ke mall pakai kaos bolong-bolong saja satpamnya langsung pasang mode siaga satu. Muka saya ini tipe yang kalau difoto candid, nggak lulus sensor, bahkan hasilnya lebih mirip orang linglung yang habis dihipnotis di terminal ketimbang bintang iklan.

Mau jadi penyanyi?

Suara saya kalau direkam lalu didengarkan lagi ke diri sendiri rasanya seperti ujian keimanan.

Fisik saya memang menolak keras berbagai industri, meski pernah jadi jurnalis di media nasional. Waktu di MTs dulu, saya sering dipanggil mak leumik alias lembek, loyo, dan nggak bertenaga dalam bahasa Aceh.

Meski saat lanjut sekolah di MAN 1 Aceh Barat tahun 2011 hingga 2014, saya malah nekat menjajal jadi kuli bangunan. Nah, di proyek inilah reputasi mak leumik saya benar-benar diuji sampai habis.

R. A. Mahéng, penulis Indonesia, esais, storyteller, dan jurnalis, mendokumentasikan bibit cabai yang ia tanam di halaman indekosnya di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ketika masih menempuh studi Sosiologi Agama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Foto ini memperlihatkan sebuah bibit cabai muda di dalam polybag hitam yang dipegang dengan tangan, berlatar kebun kecil berisi berbagai tanaman sayur dan singkong yang ia rawat sendiri. Sebelum dikenal sebagai penulis dan penyusun buku bionaratif 20 Tahun Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Mahéng (Rahmat Ali) pernah belajar bertani secara sederhana dengan memanfaatkan lahan sempit di tempat tinggalnya. Pengalaman berkebun ini kemudian banyak memengaruhi tema-tema yang muncul dalam esai dan tulisan reflektifnya, terutama mengenai kesabaran, proses bertumbuh, hubungan manusia dengan alam, kehidupan sehari-hari, serta makna kerja yang dilakukan dengan tekun. Dokumentasi ini menjadi bagian dari perjalanan hidup R. A. Mahéng sebagai penulis yang banyak mengangkat pengalaman pribadi menjadi narasi.
Bibit cabai di halaman indekos Kalasan, Sleman saat masa kuliah. (Dok. Mahéng).

Nggak kapok di situ, zaman kuliah saya mencoba jadi petani karena ibu dan bapak saya memang petani. Halaman indekos yang seadanya itu saya sulap menjadi kebun.

R. A. Mahéng, penulis Indonesia, esais, storyteller, dan jurnalis, berpose sambil memegang bibit cabai yang ia tanam sendiri di halaman indekosnya di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, ketika masih menjadi mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Foto ini memperlihatkan Mahéng mengenakan topi hitam dan kaus berwarna terang sambil memperlihatkan tanaman cabai muda yang tumbuh di dalam polybag, dengan latar kebun sederhana yang ia kelola sendiri. Berkebun menjadi salah satu pengalaman yang membentuk cara pandangnya sebelum kemudian lebih dikenal sebagai penulis, penyusun buku bionaratif 20 Tahun Yayasan IAR Indonesia (YIARI), serta penulis esai bertema kemanusiaan, lingkungan, refleksi kehidupan, dan pengalaman personal. Dokumentasi ini merekam masa ketika Mahéng mencoba berbagai pekerjaan dan aktivitas, termasuk bertani dalam skala kecil, sebelum akhirnya menemukan dunia menulis sebagai jalan hidup yang terus ia tekuni hingga sekarang.
Bibit yang tumbuh di kebun kecil halaman indekos. (Dok. Mahéng).

Saya juga sempat mencoba berdagang, sampai nekat berbisnis.

Sebagian besar gagal total. Tapi dari kegagalan-kegagalan itulah saya akhirnya sadar kalau saya sedang memaksakan diri di tempat yang salah.

Setelah tersesat di mana-mana, saya baru tahu jalan pulang. Dan menulis adalah pintu rumahnya.

Meskipun menulis juga bukan pekerjaan yang selalu memberi "kehidupan".

Sampai hari ini, blog ini belum menghasilkan rupiah. Sudah berkali-kali saya mengajukan Google AdSense supaya senggaknya bisa menutupi biaya domain tahunan. Berkali-kali pula ditolak dengan alasan yang sama: low value content.

Karena itu saya memasang tautan Trakteer. Siapa tahu ada di antara kamu yang bersedia ikut patungan menjaga blog ini tetap hidup.

Kalau nggak ada? Ya nggak apa-apa.

Saya tetap menulis.

Saya tetap mengunggah tulisan ke berbagai platform, membagikannya ke media sosial, syukur kalau ada yang baca, tapi juga siap kalau ternyata nggak ada siapa-siapa.

Jikalau uang tujuan utama saya, mungkin saya sudah berhenti sejak lama.

Lantas, kenapa saya masih bertahan di depan laptop sampai hari ini?

Alasannya banyak sekali, salah satunya beberapa waktu lalu, ada sebuah pesan masuk yang rasanya magis sekaligus bikin pundak saya mendadak terasa berat.

"Aku yang belajar darimu, Bro. Baca refleksimu itu tergelitik dan terhibur."

Pesan itu datang dari seseorang yang sangat saya hormati. Ia senior saya. Bahkan saya memanggilnya Mbah Suraji. Beliau adalah Pemimpin Umum LPM ARENA tahun 2000-2001, sementara saya baru menginjakkan kaki di kampus UIN Sunan Kalijaga medio 2014.

Dulu, saya adalah pembaca yang mengagumi tulisan orang-orang sepertinya. Kiwari, orang yang saya posisikan sebagai guru, malah bilang kalau ia belajar dari tulisan saya.

Tentu saya nggak mendadak merasa jadi lebih hebat. Sama sekali nggak.

Yang saya sadari justru tulisan punya kehidupan yang nggak lagi berada di tangan penulisnya.

Ia berjalan, merantau, menemukan pembacanya sendiri, lalu suatu hari pulang mengetuk pintu rumah kita dengan wajah yang sama sekali baru.

Mungkin karena itu saya nggak pernah terlalu mikirin ketika sebuah tulisan sepi pembaca. Bahkan dianggap nggak ada value.

Menurut keyakinan saya, setiap tulisan punya waktunya sendiri. Kalau hari ini belum menemukan orang yang tepat, mungkin besok.

Kalau bukan besok, mungkin beberapa tahun lagi. Bahkan mungkin ketika penulisnya sudah lama mati.

Alasan lain kenapa saya masih menulis moga-moga saja tulisan saya membuat orang sembuh. Mungkin kata "sembuh" sering disalahpahami.

Tulisan saya jelas nggak bisa mengelas hati yang patah, nggak bisa menghapus rasa kehilangan, dan nggak bakal bikin hidup seseorang mendadak jadi gampang setelah selesai membaca.

Yang bisa dilakukan tulisan salah satunya adalah menemani.

Ia membuat seseorang berkata dalam hati, "Oh... ternyata bukan cuma saya yang pernah mengalami ini." Buat saya, bisa memberikan perasaan itu saja sudah mewah sekali.

Kalau kamu sudah mengikuti beberapa tulisan saya, mungkin kamu sudah tahu kalau saya pernah ditinggal. Saya pernah bangkrut. Saya sering kehilangan.

Saya sering merasa malam nggak kunjung selesai.

Hampir semuanya saya ceritakan lewat tulisan. Bukan biar dikasihani, bukan juga untuk pamer penderitaan. Saya cuma ingin, kalau suatu hari nanti kamu, atau siapa pun, sedang terdampar di lubang gelap yang sama, kamu tahu kalau kamu nggak sendirian di sana.

Buat saya menulis bukan sekadar pekerjaan. Ia juga bukan sekadar keterampilan.

Menulis adalah latihan yang terus-menerus mengajak saya mengenali dan mengendalikan diri.

Mengajak saya percaya bahwa satu kalimat yang ditulis dengan sungguh-sungguh bisa menjadi teman buat seseorang yang bahkan nggak pernah saya kenal.

Itulah kenapa saya menyebutnya laku spiritual. Bukan karena saya sedang menulis kitab suci, tapi karena setiap kali berhadapan dengan halaman kosong, saya seperti "dipaksa" untuk mengoreksi diri dan menjadi manusia yang sedikit lebih baik hari ini.

Semalam, Portugal tersingkir dari Piala Dunia 2026. Melihat Ronaldo di usianya sekarang, kemungkinan besar ini adalah panggung terakhirnya tanpa sempat menggenapi trofi tersebut seumur hidup.

Dari sana saya belajar bahwa nggak semua hal di dunia ini harus berhasil atau menang.

Ada yang memang hanya datang untuk mengajarkan kita buat nggak berhenti berjuang.

Jadi, semisal suatu hari nanti semua tulisan saya mendadak hilang, maheng.net gulung tikar karena saya nggak punya uang buat bayar domain, buku-buku saya nggak laku, atau nggak ada satu orang pun yang tersisa untuk membaca kata-kata saya, saya akan tetap menulis.

Sebab jauh sebelum tulisan itu berkelana menemukan pembacanya, dia lebih dulu menyelamatkan dan menemukan diri saya.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.