Bagaimana Saya Mengolah Pengalaman Pribadi Menjadi Tulisan yang Hidup

Beberapa hari lalu satu akun anonim meninggalkan komentar di salah satu tulisan saya.

"Cinta mu hanya sebatas kata-kata tanpa pembuktian."

Saya ketawa.

Tulisan itu memang lahir dari pengalaman saya. Saya memang lagi merindukan seseorang. Sedang kehilangan. Saya memang lagi curhat.

Yang bikin saya ketawa adalah karena satu kekeliruan yang cukup sering terjadi.

Orang mengira curhat yang ditulis otomatis menjadi "tulisan".

Nggak sepenuhnya tepat, sebab menurut saya, nggak sesederhana itu.

Kalau sekadar ingin merilis perasaan, saya bisa menelepon teman. Bisa juga menulis di catatan ponsel lalu nggak pernah membukanya lagi.

Menulis, buat saya, memang salah satu cara mengikat ingatan sekaligus melepaskan beban.

Saya nggak pernah menyangkal itu.

Meski begitu, pengalaman pribadi hanyalah bahan mentah. Resep. Tulisan adalah hasil olahannya.

Saya pernah ditanya bagaimana cara menulis esai-esai yang sangat personal.

Jawabannya mungkin mengecewakan. Saya nggak pernah mencari pengalaman supaya bisa ditulis.

Saya hidup dulu. Baru menulis. Saya bangkrut, lantas menulis. Saya ditinggal menikah. Lalu menulis. Saya kehilangan seseorang. Tulis. Saya hampir tertimpa durian. Itu pun saya tulis.

Banyak orang mengira tulisan yang menyentuh kerap lahir dari pengalaman yang menyedihkan.

Saya justru berpikir sebaliknya. Pengalaman menyedihkan itu murah.

Semua orang punya.

Yang mahal adalah mengolahnya menjadi sesuatu yang membuat orang lain ikut merasa, tanpa memaksa mereka merasa kasihan.

Karena itu saya hampir nggak pernah mengemas tulisan dengan kalimat, "Saya sedang sedih."

Saya lebih memilih mengemas tulisannya dengan durian. Atau bayam liar.

Kalau saya menulis, "Saya miskin," kamu mungkin mengangguk.

Tetapi ketika saya bercerita bahwa saya pernah memetik bayam liar di halaman belakang Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian untuk dicampur ke dalam mi instan, kamu bisa membayangkan.

Kalau saya menulis, "Saya patah hati," mungkin kamu ikut bersimpati. Atau bahkan nggak peduli.

Tapi ketika saya menulis tentang seseorang yang diam-diam datang membawa kopi dan air es tanpa mengucapkan, "Semua akan indah pada waktunya, héng" kamu mulai mengingat orang yang pernah melakukan hal serupa kepadamu.

Di situlah, menurut saya, tulisan mulai bekerja.

Bukan lagi tentang saya. Melainkan tentang pembaca.

Mungkin kamu juga pengen nanya, apakah semua yang saya tulis benar-benar terjadi.

Saya biasanya menjawab: iya. Hingga muncul pertanyaan kedua.

"Berarti semuanya persis seperti itu?"

Nah, ini yang menarik.

Saya nggak mengubah pengalaman. Saya memolesnya.

Kalimat itu dulu sempat membuat saya gelisah. Saya bahkan pernah bertanya kepada diri sendiri, apakah memoles pengalaman berarti berbohong.

Sampai akhirnya saya ngerti, hidup nggak pernah berjalan dalam bentuk yang rapi.

Ia berantakan. Ada kala lucu di saat yang salah. Menyakitkan tanpa klimaks. Kadang selesai tanpa penutup.

Tulisan nggak bisa bekerja seperti itu. Karena tulisan membutuhkan ritme. Membutuhkan jeda. Membutuhkan struktur.

Saya lebih takut kehilangan kejujuran emosi daripada kehilangan ketepatan kronologi.

Tentu ada pengecualian. Misalnya ketika menulis berita, laporan penelitian, atau BAP pembubaran aksi. Di situ kronologi bukan pilihan estetika.

Salah urutan sedikit, urusannya bisa berubah dari sastra menjadi pidana.

Ada satu hal lagi yang sering saya sadari.

Kenapa tulisan saya hampir selalu menyelipkan humor, bahkan ketika sedang membahas kehilangan.

Jawabannya karena hidup juga begitu. Waktu bangkrut, saya masih bisa tertawa. Waktu patah hati, saya masih sempat bercanda.

Waktu makan mi instan dicampur bayam liar, saya masih sempat berpikir, "Buat sebagian orang ini slow living. Buat saya, ini strategi still living."

Foto menampilkan pemandangan close-up yang jernih dan detail dari tangan Mahéng yang memegang erat satu ikat besar bayam liar (wild spinach, bayam liar) yang baru dipetik. Tangan Mahéng, yang terlihat mengenakan tiga gelang khas, berada di latar depan yang tajam, menyoroti tekstur alami dan urat-urat daun bayam liar yang hijau segar. Bayam liar tersebut memiliki daun hijau pekat yang lebat dengan urat daun yang menonjol dan batang hijau muda yang kuat. Mahéng memegang pangkal batang dengan mantap.
Segenggam bayam liar di halaman belakang SekNas GUSDURian. (Dok: Mahéng).

Humor bukan musuh kesedihan. Humor adalah cara bertahan hidup.

Saya nggak terlalu percaya pada tulisan yang hanya ingin membuat pembacanya menangis.

Saya lebih suka kalau pembaca saya tertawa sebentar. Lalu diam agak lama.

Beberapa orang juga pernah meminta tips menulis kepada saya.

Jawaban saya hampir selalu senada.

Cara menulis ya dengan menulis.

Saya tahu jawaban itu terdengar menyebalkan buat sebagian orang. Saya memang belum menemukan jawaban yang lebih baik.

Saya belum belajar menulis dari artikel berjudul sepuluh langkah menjadi penulis hebat.

Saya belajar menulis dengan terus hidup. Lalu menuliskannya.

Kalau hari ini ada orang yang berkata cinta saya hanya sebatas kata-kata, mungkin saya akan kembali tertawa.

Karena saya penulis. Yang saya miliki memang kata-kata.

Dan menurut keyakinan saya, ketika kehadiran nggak lagi mungkin, kata-kata adalah satu-satunya cara untuk cinta itu tetap "ada".

Kalau suatu hari nanti seseorang membaca tulisan saya lalu diam-diam berkata, "Saya juga pernah seperti itu," buat saya, curhat itu sudah selesai menjadi milik saya.

Ia telah berubah menjadi milik pembaca.

Kalau itu masih dianggap "sebatas kata-kata", saya nggak keberatan.

Saya memang hidup dari merawat kata-kata. Dan mungkin akan terus begitu sampai nyawa berpisah dengan tubuh saya.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.