Pantai Pulau Datok dan Air Paoh: Perjalanan Gabut yang Nggak Direncanakan
Rencana yang disusun terlalu rapi kerap kali menguap menjadi sekadar wacana.
Kita bisa membuat jadwal, menentukan hari, mengajak orang, bahkan membicarakannya berkali-kali.
Namun pada akhirnya, rencana itu tetap tinggal sebagai rencana.
Saya pribadi sudah beberapa kali berencana melancong ke pantai yang jauh dari Sei Awan dan berakhir seperti itu. Setiap kali hendak diwujudkan, selalu ada yang membuatnya tertunda. Ajaibnya, perjalanan yang akhirnya membawa kami sampai ke Pantai Pulau Datok bermula dari keputusan yang nyaris tanpa persiapan.
Kemarin malam, di tengah kunyahan makanan, ide untuk plesiran ke laut mendadak meletup. Nggak ada rapat panjang. Cuma memilih antara Kendawangan, yang pantainya bagus tapi jalannya hancur, atau Sukadana, yang secara look nggak sebagus Kendawangan tapi jalannya relatif mulus.
Setelah itu, travel langsung dipesan.
Kami benar-benar berangkat.
Keputusan spontan bin gabut itu baru terasa nilainya ketika tubuh-tubuh kami mengapung dan berenang bebas di tengah gulungan ombak Pantai Pulau Datok. Lanskap di hadapan kami begitu memukau, tetapi tangan kami kosong.
Nggak ada satu pun piranti kamera yang aman dibawa menembus air asin.
Untuk sekali itu, kami hanya melihat. Mungkin benar, nggak semua hal harus didokumentasiin, kadang cukup dinikmatin.
KEPUTUSAN untuk meresapi momen itu sudah diuji sejak awal perjalanan. Pagi di Tempurukan adalah salah satu buktinya. Alih-alih diusap kabut embun pegunungan yang menyejukkan, hari Sabtu (15 Agustus 2026) justru dibuka oleh kepulan asap kebakaran hutan dan lahan yang menggantung di kaki-kaki bukit.
Dari balik kaca depan yang bernoda bintik-bintik air, aspal hitam tampak meliuk di antara rimbun pakis dan semak senduduk, terselimut jerebu yang ngilu dipandang mata.
Sebuah truk bermuatan sawit berderam di depan kendaraan kami, menyemburkan sisa jelaga yang sudah terlanjur payau oleh bau sangit gambut hangus.
Namun, ancaman ekologis dan muramnya cuaca di Kabupaten Ketapang beberapa jenak kehilangan taringnya ketika saya menengok ke dalam kabin. Di ruang duduk yang sempit dan memangkas segala bentuk jarak itu, kehangatan manusia berdenyut dengan ritmenya sendiri.
"Kekeluargaan," kata Arfi.
Saya sedang menemani Arfi dari Universitas Indraprasta PGRI, Hani dari Universitas Padjadjaran, bersama Bagus, Fajri, Putra, dan Chandra dari Universitas Jambi. Disopiri oleh Adi, kami duduk berdesakan hingga lutut nyaris saling bersentuhan. Nggak ada keluhan soal ruang yang menghimpit.
Atmosfer sangit di luar lumat oleh tawa yang meletup bergantian dari kursi tengah hingga belakang.
Di dalam ruang sempit yang terus bergerak itu, perjumpaan lintas kampus dan lintas latar belakang seketika mencair, bahkan sebelum roda kendaraan menyentuh destinasi pertama kami di Air Paoh.
Ketika kendaraan akhirnya menepi di kawasan Air Paoh, Pangkalan Buton, Sukadana, bau jerebu yang sedari tadi membungkus jalan raya perlahan menyublim, digantikan aroma serasah dan tanah humuk yang menyengat indra penciuman.
Kanopi rimba yang lebat segera memayungi langkah-langkah. Pohon-pohon berdiri layaknya payung raksasa, membiarkan berkas sinar matahari hanya menerobos di antara celah dedaunan durian dan pepohonan kecombrang.
Hari ini kami main ke Pemandian Alam Air Paoh di Pangkalan Buton, Sukadana.
— Mahéng (@iamaheng) August 15, 2026
Datang pas musim kemarau, airnya ternyata sedang sedikit. Ya sudah, daripada bengong, saya malah jadi pemandu dadakan dan menjelaskan ke teman-teman apa itu kecombrang dan apa salah satu kegunaannya. pic.twitter.com/3fpbjwP4bD
Hutan selalu punya cara sendiri untuk melucuti ego dan pangkat manusia. Jalur setapak berbatuan granit besar di Air Paoh menuntut konsentrasi penuh dari siapa pun yang melintasinya. Bunyi krasak-krosok dedaunan dan ranting kering yang terinjak alas kaki bersahut-sahutan dengan gemericik air kali yang tersembunyi di balik tebing batu.
Setiap kali ada langkah kaki yang goyah di atas permukaan batu, uluran tangan yang sigap dan tawa lepas. Medan jelajah yang curam seketika berubah menjadi ruang untuk tumbuh bersama.
Di salah satu kelokan setapak, sebuah cempedak liar yang jatuh dan berbelatung di atas tanah menjadi ruang belajar mendadak. Dengan jemari yang belepotan getah kenyal dan seringai jenaka, buah yang sudah separuh membusuk itu diangkat dan dibedah di depan sorot kamera ponsel.
Kekeh tawa seketika pecah, memantul di antara tebing batu granit dan rindangnya rumpun bambu. Pengetahuan itu masuk lewat tawa dan bau getah cempedak yang belepotan di jemari.
Sebelumnya, nggak jauh dari titik itu, perjalanan terhenti sejenak di hadapan sebatang pohon aren yang berdiri kokoh. Saya sempat mengusap serabut ijuknya. Mencoba menjelaskan dengan santai, menghubungkan sebatang pohon di tengah rimba dengan gaya hidup masyarakat urban di hilir.
"Ini pohon kolang-kaling, pohon gula aren. Sari airnya bisa jadi gula aren yang kamu pesan di kafe-kafe estetik."
Kami kembali bersahut-sahutan melempar tawa, meresapi pengetahuan ekologis itu sebagai kegembiraan bersama.
|
| Swafoto di kawasan Air Paoh. Foto: Chandra (Ponsel Hani) |
Kami datang di musim kemarau, air surut hingga ke sela-sela batu. Zoooonk.
"Walaupun kita nggak bisa mendapatkan hasil yang bagus, kita dapat menikmatinya secara bersama," kata Arfi.
SETELAH keringat membasahi punggung, perjalanan beralih menuju Pantai Pulau Datok. Perubahan lanskap dari heningnya rimba ke bentangan laut yang lapang menghadirkan ritme yang jauh lebih lambat dan rileks.
Lengkung teluk menyambut kami. Di bawah naungan deretan pohon ketapang tua berdaun lebat dan gazebo-gazebo beratap seng, angin pesisir yang membawa uap garam mulai bekerja. Di salah satu meja kayu berlapis taplak bermotif lengkung, sebuah tas selempang abu-abu tergeletak santai, menandai tempat kami merebahkan lelah.
Tepat di kursi kayu berongga di sebelah meja, seekor kucing kampung berbulu telon, putih, cokelat keemasan, dan abu-abu, duduk grooming diri. Matanya sesekali menatap datar ke arah pantai, menempatkan dirinya bak pengawas pesisir yang sedang bertugas.
Buat Hani, Pantai Pulau Datok menyuguhkan realita yang mematahkan kebiasaannya. Di kepalanya, pantai kerap diidentikkan dengan riuhnya perahu atau keriangan voli pantai.
"Biasanya aku planner banget, dan nggak bisa kalau lagi liburan tapi gabut. Tapi kemarin, gabut doesn't feel bored to me."
Waktu luang tanpa agenda itu justru diisi dengan mengobrol di meja gazebo, hingga merajut percakapan dengan seorang pedagang cilor yang melintas.
"Nggak semua vacation harus diburu-buru untuk get paling banyak destination."
Daya tarik pesisir rupanya terlalu menggoda untuk sekadar dinikmati dari balik gazebo. Kehangatan pun berpindah ke hamparan pasir yang ditinggalkan air surut. Kami turun dan melebur langsung ke batas ombak, nggak memedulikan celana yang mulai basah oleh cipratan.
Di kejauhan, seorang anak kecil tampak berlarian lincah menyusuri bibir pantai, menyajikan latar yang begitu hidup. Kelincahan anak kecil itu seolah menular pada para dewasa muda ini. Tanpa ragu, Putra bahkan setengah tengkurap di atas pasir basah, menarik dan mendorong lumpur dengan kedua lengannya bak sedang berenang di atas daratan.
Tawa kembali meledak saat kami akhirnya duduk melingkar, bahu-membahu menimbun gundukan pasir untuk membuat sebuah miniatur bukit. Jemari menyatu dalam adonan pasir.
Menjelang magrib, alam menyuguhkan lanskap penutup yang sofis. Tepat di atas perbukitan hijau yang memagari pantai, matahari senja menggantung dalam bulatan merah yang sempurna. Warnanya redup tertahan sisa jerebu, memantulkan bayangan pijar keemasannya yang memanjang tegak lurus di atas permukaan laut.
|
| Matahari senja berselimut jerebu memantulkan pijar keemasan di Pantai Pulau Datok, (Foto: Arfi). |
Saat gelap malam benar-benar telah mengambil alih pesisir Sukadana, kami kembali masuk ke dalam kabin. Sorot lampu utama mobil menembus dan membelah keheningan jalanan malam yang temaram menuju Sungai Awan.
Di tengah keletihan fisik yang mengendap tebal di sekujur otot, kehangatan yang sudah terbangun sejak pagi nggak sedikit pun luntur. Layar head unit di dasbor berpendar biru lembut di tengah kegelapan kabin, mengalunkan lagu lawas Harga Diriku milik band Wali. Lirik dan nadanya menemani alur jalanan pulang, berbaur dengan Arfi yang sudah terlelap.
Kemarin malam, perjalanan ini bahkan belum ada dalam rencana. Kami hanya memilih antara Kendawangan atau Sukadana, memesan travel, lalu berangkat. Nggak ada yang tahu perjalanan gabut itu akan membawa kami sampai ke hutan Air Paoh, bermain pasir di Pantai Pulau Datok, berenang, atau pulang dengan badan yang pegal dan kepala yang penuh cerita.
Mungkin memang begitu banyak hal dalam hidup seharusnya dimulai. Nggak selalu dengan rencana yang matang. Ada saatnya, cukup dengan satu keputusan kecil yang akhirnya benar-benar dijalankan.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment