Dididik oleh Api: Catatan dari Ketapang di Tengah Musim Kebakaran

Beberapa hari, mungkin beberapa pekan terakhir, Ketapang, di Kalimantan Barat, mulai penuh asap.

Malam hari, asapnya sudah terasa sampai ke tempat saya tinggal. Udara berubah. Kucing-kucing mulai batuk. Sudah sekitar seminggu, Prob, salah satu dari mereka, batuk-batuk. Kalau malam, mereka juga terlihat kedinginan.

Aneh juga rasanya. Siang hari panasnya menyengat, tetapi malam hari bisa membuat beberapa teman meminta kipas dimatikan karena terlalu dingin.

Saya sendiri pernah sampai menggigil.

Amil, setelah pulang dari Camp Serumput di Gunung Tarak, bilang, "This is the first time I feel cold."

Ia dari Galicia, Spanyol. Yang seharusnya kepanasan di Ketapang.

Saya masih bekerja seperti biasa.

Menulis. Merenung. Tertawa.

Sore hari, kalau sempat, saya tetap bersepeda ke Pantai Tanjung Belandang. Pekerjaan nggak boleh berhenti hanya karena di luar sana ada kebakaran.

Laptop tetap terbuka. Tulisan tetap harus dikerjakan. Hari tetap berjalan.

Mungkin justru itu yang membuat keadaan ini terasa ganjil buat saya.

Ketapang nggak berhenti ketika terbakar.

Orang-orang tetap bekerja. Motor tetap berjalan. Warung tetap buka. Bensin sering langka. Saya tetap menulis. Tetapi setiap kali melihat keluar, kebakaran sepertinya selalu kembali menjadi latar.

Awalnya saya ingin mendapatkan banyak adegan lain selama tinggal di Ketapang. Ternyata beberapa pekan ini adegannya itu-itu saja.

Kebakaran. Asap. Orang-orang menyiram. Mencari air. Api lagi.

Saya pernah kehilangan ide ketika sedang duduk menulis di kafetaria Learning Center Sir Michael Uren. Tubuh sudah gaduh, kepala juga terasa penuh.

Nggak jauh dari tempat saya duduk, seorang staf sedang menyiram sekitar Learning Center. Ia perlu memastikan nggak ada lelatu yang jatuh ke daun-daun kering.

Lelatu.

Saya baru benar-benar memikirkan kata itu ketika melihatnya dalam konteks seperti ini.

Lelatu atau latu-latu adalah percikan api yang terbawa angin. Secara visual, lelatu bisa terlihat indah, mirip kembang api. Percikan cahaya yang muncul di udara lalu hilang.

Tetapi di Ketapang, sesuatu yang indah itu bisa jatuh ke daun kering dan menjadi awal dari kebakaran.

Mungkin nggak semua yang indah itu baik.

Ada yang indah sekaligus berbahaya.

Dan gambut membuat bahaya itu nggak selesai ketika api yang terlihat sudah padam. Di Ketapang, lahan gambut yang kering bisa terbakar jauh di bawah permukaan. Api dapat bertahan berhari-hari di dalam tanah.

Karena itu, apa yang terlihat dari permukaan nggak selalu menunjukkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di bawahnya.

Beberapa kanal di sekitar YIARI sudah sangat surut. Selokan di sekitar Learning Center bahkan mengering. Ketika saya pergi ke Pematang Gadung, kanal di sana juga sudah jauh menyusut.

Di tengah keadaan seperti itu, saya membaca story seorang petinggi YIARI. Isinya, kurang lebih, terdengar seperti gurauan:

Sepertinya akan mandi air asin.

Air untuk memadamkan kebakaran mulai menjadi persoalan. Kemarau membuat kanal-kanal menyusut, sementara sumber air yang biasanya bisa diandalkan semakin sedikit. Di Camp Serumput, Gunung Tarak, kali yang menjadi sumber air utama bahkan mengering.

Api selama ini selalu menjadi benda yang paling mudah dilihat dalam cerita tentang kebakaran. Kita membayangkan nyala merah, asap pekat, orang-orang berlari membawa selang atau nozzle. Tetapi semakin lama berada di Ketapang, saya mulai melihat bahwa kebakaran juga merupakan cerita tentang air.

Dan mungkin itu sebabnya saya tiba-tiba lebih memahami cerita-cerita yang selama ini hanya saya dengar.

Saya sedang mengerjakan buku bionaratif tentang dua puluh tahun perjalanan Yayasan IAR Indonesia. Selama mengerjakan buku itu, saya mendengar banyak cerita tentang kebakaran. Saya mendengar bagaimana orang-orang harus berjuang memadamkan api sampai pagi.

Saya membaca transkrip dan menulis ulang pengalaman orang-orang yang menghadapi situasi itu.

Selama itu, kebakaran hanya ada di dalam cerita. Sekarang kebakaran berada di depan muka saya.

Kebakaran lahan di Ketapang, Kalimantan Barat, pada malam hari. Api dan asap terlihat membumbung di balik pepohonan, sementara sejumlah orang melakukan pemadaman.
Kebakaran lahan di Ketapang, Kalimantan Barat, 7 Agustus 2026.
(Foto: Suwandi/YIARI)

Saya belum mengalami apa yang mereka alami pada 2015. Semoga jangan. Menurut cerita mereka, keadaan waktu itu jauh lebih parah. Tetapi kondisi sekarang saja sudah membuat saya berpikir: kalau belum separah itu sudah seperti ini, bagaimana rasanya ketika keadaan benar-benar mencapai puncaknya?

Salah satu nama yang muncul di kepala saya adalah Argitoe Ranting, direktur operasional YIARI.

Dalam sebuah wawancara, ketika membicarakan kebakaran 2015, Argitoe mengatakan kalau pikirannya bekerja keras mencari cara agar kebakaran berhenti, agar orang nggak lagi memelihara kebiasaan yang menyebabkan kebakaran.

Saya sekarang lebih mengerti kenapa kalimat seperti itu bisa keluar dari orang yang sudah lama bekerja di tempat seperti ini.

Bukan karena orang-orang YIARI nggak takut pada api.

Api mengajari mereka.

Saya mulai memahami karakter orang-orang di sini dengan cara yang berbeda. Ada sesuatu yang "keras kepala" dalam cara mereka bertahan. Pantang menyerah. Rela berkorban. Nggak mudah mundur hanya karena pekerjaan semakin berat.

Sebelum tinggal di sini, saya mengenal Ketapang melalui cerita-cerita yang beredar di media sosial. Salah satu gambaran yang sering muncul adalah kuyang.

Tetapi setelah beberapa minggu tinggal di sini, gambaran itu terasa terlalu kecil, stereotip.

Saya lebih sering melihat orang yang tetap bekerja ketika keadaan nggak ideal. Orang yang mencari cara agar pekerjaan tetap berjalan. Orang yang menyiram tempat kerja mereka sendiri karena satu percikan api bisa membuat semuanya ludes.

Mungkin ini salah satu wajah Ketapang yang nggak banyak muncul di media sosial.

Dan saya baru melihatnya setelah setahun tinggal di sini.

Argitoe sendiri berkali-kali bicara tentang bagaimana pekerjaan harus bergerak ke hulu. Setelah kebakaran 2015, YIARI nggak bisa terus-menerus hanya menunggu satwa yang terkena dampak untuk kemudian diselamatkan.

Menurutnya, kalau rescue terus dilakukan tanpa menyentuh persoalan di hulunya, pekerjaan itu nggak akan selesai.

"Itu bukan solusi."

Cara berpikir seperti itu kemudian terlihat dalam banyak kegiatan di YIARI, termasuk pendidikan, hubungan dengan masyarakat, kelompok masyarakat, sampai upaya agar orang-orang yang sekarang didampingi nantinya bisa berdiri sendiri.

Mungkin itu yang dimaksud ketika saya bilang mereka dididik oleh api. Api mengajari mereka bahwa memadamkan saja nggak cukup.

Beberapa waktu sebelum kebakaran ini, saya baru saja menulis buku tentang The Power of Mama. Saya menulis tentang mama-mama yang memegang nozzle dan ikut menghadapi kebakaran. Mereka bukan orang-orang yang menerima gaji untuk melakukan pekerjaan itu.

Ada dukungan untuk bensin. Saya masih melihat story mereka di aplikasi pesan singkat. Dan sekarang, ketika asap mulai memenuhi Ketapang, perjuangan mereka terasa berbeda.

Saya pernah menulis tentang mama yang kakinya terbakar karena terperosok ke dalam gambut yang terbakar. Gambut yang dari permukaan mungkin terlihat seperti tanah biasa menyimpan api di bawahnya.

Dulu saya menulis semua itu sebagai cerita orang lain.

Sekarang saya melihat petugas menyiram sekitar Learning Center. Melihat kanal yang surut. Selokan yang mengering.

Barangkali itulah hal paling absurd dari semua ini.

Saya sedang menulis tentang orang-orang yang bertahun-tahun menghadapi kebakaran, sementara saya sendiri duduk di tengah musim kebakaran dan berusaha mencari kalimat berikutnya.

Sekarang saya mulai mengerti kalau saya juga sedang menulis tentang bagaimana tempat membentuk manusia yang tinggal dan bekerja di dalamnya.

Mungkin orang-orang itu bukan sejak awal pantang menyerah. Mungkin mereka jadi seperti itu karena terlalu sering berhadapan dengan sesuatu yang nggak bisa diselesaikan hanya dengan menyerah.

Besok mungkin langit akan lebih cerah. Mungkin hujan turun. Atau mungkin asap akan datang lebih banyak lagi.

Untuk sementara, mungkin saya tetap menulis.

Sebab di tempat seperti ini, seorang penulis pun akhirnya harus belajar dari api: beberapa hal nggak bisa ditunggu sampai selesai terbakar baru kemudian dipahami.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.