Kelelahan, Cerita, dan Mendengar: Di Balik Penulisan Naskah Buku 20 Tahun IAR Indonesia
Beberapa minggu yang lalu, sebuah pesan singkat terkirim ke gawai Bang Argitoe Ranting, Direktur Operasional Yayasan IAR Indonesia.
Saya merengek, meminta atau lebih tepatnya meminjam sebuah speaker berkualitas tinggi miliknya.
Bukan untuk mendengarkan musik jazz atau orkestra, melainkan untuk sebuah tugas yang jauh lebih melelahkan: transkripsi.
Ada puluhan jam rekaman wawancara yang menumpuk di meja kerja saya. Kumpulan arsip suara yang merangkum dua dekade perjalanan IAR Indonesia (International Animal Rescue). File-file audio ini bukan sekadar data digital, mereka adalah potongan sejarah yang tercecer dari rimba.
Telinga saya butuh bantuan. Saya butuh perangkat yang mampu memisahkan desau angin hutan dari gumam pelan narasumber, membedakan isak tangis tertahan dari suara hewan di latar belakang.
Sebelum bertolak ke Spanyol, Bang Argitoe menyerahkan benda itu. Kini, di kamar yang kalau malam sangat sunyi, speaker itu menjadi mesin waktu.
Suara-suara dari kerja-kerja jurnalistik saya memenuhi ruangan. Namun, yang mengejutkan saya bukanlah kejernihan suaranya, melainkan apa yang luput saya tangkap saat pertemuan fisik terjadi.
Geografi Kelelahan: Dari Ketapang hingga Air Naningan
Beberapa bulan lalu, tubuh saya diseret melintasi bentang alam yang melelahkan demi mengumpulkan kepingan cerita ini.
Rute itu membentang jauh dari panasnya tanah gambut di Ketapang, Kalimantan Barat; menuju kesejukan dan lembap di kaki Gunung Salak, Ciapus, Bogor hingga menempuh jalanan berliku dan terjal menuju Air Naningan di Lampung.
Gawai saya sempat galat dan itu cukup membuat saya kerepotan hingga harus merepotkan Bang Heribertus Suciadi di Ketapang dan Mbak Siti Rohmah di Ciapus.
Saya ingat betul rasa lelah itu. Saat proses rekaman dan wawancara terjadi, raga saya hadir di sana, duduk berhadapan dengan narasumber. Namun, harus saya akui dengan jujur, kesadaran saya sering kali tergerus oleh keletihan fisik.
Perjalanan udara, laut, darat berjam-jam, pindah dari satu moda transportasi ke lain, serta adaptasi cuaca yang ekstrem, menguras energi hingga ke titik nadir.
Saat itu, saya mencatat poin-poin penting di kepala, gawai, buku catatan, mengangguk pada cerita mereka, tetapi jiwa saya mungkin sedang tertidur.
Saya melewatkan getaran-getaran halus dalam suara mereka.
Saya melewatkan jeda panjang yang mereka ambil sebelum menjawab pertanyaan sulit. Yang sebagian dari mereka sempat mengeluh, Mahéng ini bertanya seperti interogasi. Yang membuat mereka bercerita dan kadang ya, menangis.
Baru sekarang, saat menyimak ulang rekaman-rekaman itu melalui speaker pinjaman di kamar yang tenang, saya benar-benar "mendengar". Jarak waktu dan ketenangan memberikan saya kemewahan untuk meresapi apa yang terlewat.
Dan di sinilah, hati saya justru lebih tersentuh—jauh lebih dalam daripada saat saya bertatap muka langsung dengan mereka.
Paradoks "Orang Bodoh" dan Profesor Kehidupan
Salah satu hal yang paling menohok ulu hati saya saat mendengar ulang rekaman tersebut adalah kerendahhatian yang menyakitkan dari masyarakat akar rumput.
Ada pola yang berulang dari para narasumber lokal ini—mereka yang tinggal di pinggiran hutan, yang hidup berdampingan dengan konflik satwa liar setiap hari.
Dalam rekaman, sering kali terdengar kalimat kurang lebih kalau saya rangkum seperti: "Ya, kami ini kan orang bodoh, Mas Mahéng. Nggak sekolah tinggi, nggak ngerti apa-apa kayak orang-orang IAR itu."
Dan kalau boleh jujur, cara pandang seperti itu kadang juga tanpa sadar hidup di internal IAR sendiri.
Mendengar itu, ada rasa sesak di dada. Mereka melabeli diri mereka "bodoh" hanya karena nggak memiliki gelar akademis atau nggak fasih bicara soal regulasi konservasi dalam bahasa birokrasi.
Saat rekaman terus berputar, saya mendengar narasi yang justru membuktikan sebaliknya.
Mereka adalah orang-orang yang paham kapan musim buah tiba hanya dari arah angin. Mereka mengerti jalur lintasan satwa liar tanpa perlu memasang GPS collar. Mereka memiliki kearifan untuk membaca tanda-tanda alam yang nggak diajarkan di ruang kuliah mana pun.
Mereka merasa kecil di hadapan staf lembaga konservasi yang datang dengan seragam dan peralatan canggih, padahal merekalah profesor kehidupan yang sesungguhnya.
Ketulusan dan kepolosan mereka dalam bercerita, yang diiringi rasa minder yang nggak perlu itu, justru memaksa saya mempertanyakan arogansi intelektual yang sering kita anggap wajar.
Melampaui PowerPoint: Ancaman dan Senjata Rakitan
Inilah alasan terbesar mengapa sejarah lisan ini harus dibukukan. Mengapa tumpukan transkrip ini layak diperjuangkan hingga tetes tinta terakhir. Aseeeek.
Di dunia korporat atau manajemen LSM modern, kita terbiasa dengan Annual Meeting. Kita terbiasa duduk di ruangan berpendingin udara, menatap layar proyektor yang menampilkan PowerPoint.
Di sana, pencapaian disajikan dalam bentuk grafik yang rapi: jumlah satwa yang diselamatkan, persentase penurunan deforestasi, atau jumlah dana yang terserap.
Data itu penting, tentu saja. Tapi data itu dingin. Grafik batang nggak berdarah. Angka persentase nggak berkeringat.
Saya mendengar realitas lain yang nggak muat dalam slide presentasi. Saya mendengar cerita petugas lapangan yang suaranya bergetar saat menceritakan bagaimana ia harus lari ketika situasi memanas.
Saya mendengar kesaksian tentang momen mencekam saat berpapasan dengan pemburu liar yang menenteng senjata rakitan di tengah hutan rimba, tempat di mana hukum seolah nggak berlaku.
Cerita-cerita ini tentang ketakutan, tentang nyali, tentang negosiasi alot di tengah ancaman fisik adalah denyut nadi konservasi yang sebenarnya.
Ini adalah sisi manusiawi yang sering kali terhapus saat laporan lapangan diringkas menjadi satu paragraf dalam laporan tahunan. Buku ini adalah upaya untuk mengembalikan "darah" dan "keringat" itu ke dalam narasi sejarah 20 tahun Yayasan IAR Indonesia.
Ekosistem yang Nggak Bisa Direkayasa
Pada akhirnya, puluhan jam rekaman ini bermuara pada satu pemahaman filosofis yang mendasar. Selama ini, kita—manusia modern—terlalu sering mengucapkan kata "ekosistem" dengan ringan.
Kita mengucapkannya seolah-olah itu adalah sebuah mesin mobil yang jika rusak, bisa kita bawa ke bengkel, kita ganti suku cadangnya, lalu akan berjalan normal kembali.
Transkrip-transkrip ini mengajarkan saya bahwa alam nggak bekerja seperti itu. Alam memiliki sistem purba yang rumit, kaotis, namun memiliki keteraturannya sendiri yang nggak sepenuhnya bisa direkayasa oleh teknologi manusia.
Upaya konservasi, rehabilitasi, dan reintroduksi satwa bukanlah upaya "memperbaiki mesin".
Itu adalah upaya rendah hati untuk memulihkan sedikit saja dari apa yang telah kita hancurkan, sembari menyadari bahwa kita nggak pernah benar-benar memegang kendali.
Kalaupun kita mencoba merekayasa alam seperti membuat hutan buatan, memanipulasi pakan, mengatur populasi, hasilnya nggak akan pernah semaksimal desain aslinya.
Mendengarkan kembali rekaman-rekaman ini menyadarkan saya bahwa pekerjaan rumah kita masih sangat panjang.
Namun, senggaknya, dengan menuliskan kisah-kisah mereka, kita sedang merawat ingatan. Kita sedang memastikan bahwa keberanian mereka yang berhadapan dengan ancaman, dan kerendahhatian mereka yang merasa "bodoh", nggak hilang ditelan zaman.
Transkrip ini mungkin hanya teks di layar laptop. Tapi buat saya, ini adalah monumen. Dan tugas saya sekarang adalah menyusun batunya satu per satu.
Mungkin inilah bentuk konservasi yang paling sederhana: mendengarkan dengan utuh, lalu menolak lupa.
Karena selama ingatan masih dirawat, perjuangan mereka belum benar-benar tamat.


Leave a Comment