Setelah Hampir 90 Hari, Hujan Turun di Ketapang Tanpa Perlu Rapat Dulu
Setelah kurang lebih sembilan puluh hari paru-paru warga Sei Awan Kiri di Ketapang dan Kalimantan, dipaksa berkolaborasi dengan partikulat PM2.5, hari ini terjadi kejadian luar biasa.
Saking luar biasanya, ini lebih mengejutkan daripada melihat tokoh publik di Konoha mengakui kesalahan.
Hari ini hujan.
Kejadian Langka
Bukan kabar burung, karena burungnya sendiri pada megap-megap, setelah rumah mereka hilang. Bukan juga gerimis lima menit yang datang sebentar lalu menghilang seperti janji manis pejabat.
Air benar-benar jatuh dari langit.
Di undakan tangga kayu ulin Learning Centre Sir Michael Uren yang biasa kami jadikan tribun untuk menonton acara di panggung depan, tetes-tetes pertama menyentuh paving block. Aroma sangit karhutla perlahan berganti dengan petrikor.
Dari belakang saya terdengar satu celetukan.
“Bohong… bohong…”
Iya, guys. Kami sudah sampai pada tahap di mana gerimis pertama pun dituduh sebagai hoaks.
Setelah berminggu-minggu hidup dalam asap dan menunggu hujan, rupanya kepercayaan terhadap cuaca juga ikut mengalami krisis.
Jangan-jangan ini bukan hujan, jangan-jangan ini cuma halusinasi massal karena otak kami sudah terlalu lama kekurangan oksigen.
Tapi beberapa menit kemudian, hujan makin deras.
Kolega saya yang penerbangannya ke Jakarta sampai dua kali dibatalkan akibat asap bahkan nge-DM, nanya, “Yang bener gannn?” Dia juga memverifikasi ke yang lain.
Dan kami mulai percaya.
Ketika Birokrasi Kalah Cepat dari Hujan
Kurang lebih tiga bulan terakhir bukan berarti nggak ada yang bekerja.
Pemerintah datang. Gubernur Kalimantan Barat sempat mampir ke YIARI pada 22 September, dan Menteri Kehutanan juga sempat datang langsung ke sini pada 9 September. Operasi Modifikasi Cuaca juga dilakukan di Kalimantan Barat pada awal September sebagai bagian dari penanganan karhutla.
Meskipun, di sisi lain, setiap kunjungan pejabat juga berarti pekerjaan tambahan.
Teman-teman di kantor mendadak sibuk luar biasa. Tempat harus disiapkan. Konsumsi diurus. Ruangan dirapikan. Segala sesuatu dipastikan siap sebelum rombongan datang.
Riuh bin riweh.
Kalau dilihat dari jauh, suasananya seperti sedang menyambut raja. Kalau memakai logika demokrasi di Indonesia, bukankah rakyat yang seharusnya jadi pusat dari semua urusan ini?
Ini rakyatnya sedang megap-megap menghirup jerebu, di saat yang sama harus memastikan semuanya siap sebelum rombongan pejabat datang. Saya nggak tau apa yang dibawa pulang oleh masing-masing rombongan setelah kunjungan selesai.
Yang saya tahu, setelah mereka pergi, asap masih ada, jerebu masih tebal, mata masih perih, mulut kami masih batuk-batuk.
Dan besoknya kehidupan kembali berjalan seperti biasa, dengan paru-paru sebagai salah satu bagian tubuh yang paling rajin bekerja lembur.
Mungkin memang begitu cara birokrasi bekerja. Banyak hal harus disiapkan sebelum sesuatu terjadi. Ada surat. Koordinasi. Jadwal. Rapat. Kunjungan. Konsumsi. Dan ada dokumentasi.
Ketika Alam Ambil Alih
Akan tetapi hari ini, alam mengambil alih birokrasi.
Hujannya deras. Deras sekali.
Saya melihat pot-pot tanaman di sepanjang undakan tangga kayu kembali segar tersiram guyuran air. Daun-daun yang beberapa waktu terakhir ikut menahan panas sekarang basah kuyup.
Halaman Learning Centre berubah warna. Paving block mengilap.
Dan langit yang berbulan-bulan terasa seperti atap raksasa berwarna abu-abu, akhirnya benar-benar menjatuhkan isinya.
Entah ini lucu atau nggak, tapi awan ternyata nggak butuh prasmanan untuk bekerja. Nggak perlu rapat dengar pendapat. Nggak perlu studi banding. Nggak perlu memastikan pejabat yang datang sudah duduk nyaman.
Awan tinggal datang. Kemudian turun hujan.
Entah kenapa, alam hari ini melakukan sesuatu yang sangat sulit dilakukan birokrasi: langsung eksekusi.
Normal Menurut Siapa?
Sekarang, saat saya menyelesaikan tulisan ini, sudah lewat pukul empat sore.
Hujan masih turun. Sudah lebih dari tiga jam sejak rintik pertama tadi siang, dan sampai tulisan ini dibuat, air sudah menunjukkan tanda-tanda mau berhenti.
Untuk orang yang tinggal di daerah dengan curah hujan cukup, pemandangan seperti ini mungkin biasa saja. Tapi buat kami di sini, hujan hari ini terasa seperti kedatangan tamu yang sudah terlalu lama ditunggu sampai ketika benar-benar datang, kami malah curiga.
Lucu memang. Tapi di balik kelucuannya ada sesuatu yang sebenarnya nggak lucu sama sekali.
Kalau hujan sampai terasa seperti kejadian luar biasa, berarti selama ini kita sudah terlalu lama hidup dalam kondisi yang nggak seharusnya dianggap normal—meski Kepala BNPB melaporkan normal kepada presiden.
Dua hari sebelum hujan ini turun, ia bahkan sempat minta maaf soal kata “normal” itu. Padahal di jalur dekat sini saja, jarak pandang sempat anjlok sampai 20 meter. Kalau itu normal, saya nggak kebayang definisi “darurat” menurutnya kayak apa.
Kenapa Baru Sekarang?
Kalau nanti ada konferensi pers yang mengaitkan hujan hari ini dengan keberhasilan operasi tertentu, silakan saja.
Saya nggak punya masalah dengan siapa pun yang ingin mengklaim bagian dari keberhasilan penanganan karhutla. Memang ada berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, termasuk operasi modifikasi cuaca.
Tapi sebagai warga yang sudah berbulan-bulan menghirup asap dan jerebu, mungkin kami cuma bisa nanya:
Kenapa baru sekarang?
Kalau hujan memang bisa diupayakan, kenapa paru-paru kami harus menunggu selama ini?
Apakah pesawatnya kemarin-kemarin kena macet birokrasi? Atau jangan-jangan hujan harus menunggu anggaran cair setelah upacara?
Saya nggak tau.
Yang saya tau, hari ini turun hujan.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment