Mulai dari Sini
Kalau baru pertama kali mampir dan bingung mau membaca apa, mulai dari sini saja.
Maheng.net adalah tempat saya menaruh esai, catatan perjalanan, cerita dari lapangan, renungan personal, dan pengalaman menulis buku. Tulisannya bisa berangkat dari kabut asap, semangkuk mi instan, atau kejadian kecil di jalan. Topiknya bisa ringan atau serius, tapi saya berusaha melihat orang dan persoalan di baliknya. Saya ingin menulis dengan bahasa yang dekat, tanpa menganggap perkara kecil selalu remeh.
Dua belas tulisan di bawah ini saya pilih sebagai pintu masuk untuk mengenal isi dan nada blog ini. Ada yang jenaka, ada yang personal, ada pula yang mengajak kita melihat persoalan sehari-hari dari sudut pandang berbeda.
![]() |
| Mahéng memegang buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi, karya travelogue tentang Wakatobi. (Foto: Dea Yola) |
Saya juga menulis buku: Runduma: Surga Kecil di Wakatobi (travelogue, 2024), Nayanika (roman spiritual, 2025), dan Masalembu: Suara dari Laut Seberang (travelogue, 2026). Daftar lengkapnya bisa kamu lihat di halaman Karya.
Esai dan renungan
Beberapa hal yang tampak biasa ternyata menyimpan persoalan yang lebih besar. Di bagian ini, saya menulis tentang kehidupan sehari-hari, pengalaman personal, dan pikiran-pikiran yang kadang muncul dari hal sederhana.
Kenapa Udara Bersih Itu Privilese?
Setelah berbulan-bulan menghirup asap, hujan akhirnya datang. Sesuatu yang biasanya kita anggap biasa mendadak terasa seperti kemewahan.
Ketika Sakit Mungkin Jadi Satu-satunya Cara Saya Mengizinkan Diri Sendiri Istirahat
“Jaga kesehatan,” kata Ayas, “meskipun kamu tetap perlu sakit supaya kamu bisa istirahat lebih lama.” Catatan tentang kebiasaan menunda istirahat sampai tubuh sendiri yang mengambil keputusan.
Januari: Tentang Jadi Diri yang Utuh, Bukan Jadi Diri yang Menjadi-jadi
Setiap pergantian tahun, kita seperti diminta membuang diri yang lama dan menciptakan versi baru. Mungkin, yang kita butuhkan cuma belajar menerima diri sendiri secara utuh.
Jelajahi tulisan lainnya di Racauan →
Catatan dari Ketapang
Untuk sementara, saya tinggal di Ketapang, Kalimantan Barat. Tempat ini menjadi salah satu tempat yang melahirkan banyak cerita. Dari pengalaman di jalan sampai kehidupan warga yang berhadapan dengan persoalan lingkungan, ada banyak hal yang rasanya sayang dilewatkan begitu saja.
Gara-Gara Bensin Habis Tengah Malam di Jalan, Saya Paham Kenapa Manusia Belum Punah
Tengah malam, bensin habis di tengah jalan. Lalu seseorang datang menolong dengan cara yang mungkin nggak pernah diajarkan di sekolah mengemudi: menyedot bensin dari selang menggunakan mulutnya.
Setelah Hampir 90 Hari, Hujan Turun di Ketapang Tanpa Perlu Rapat Dulu
Hampir sembilan puluh hari warga Sei Awan Kiri hidup bersama kabut asap. Ketika hujan akhirnya turun, alam rupanya nggak membutuhkan undangan rapat untuk mengambil keputusan.
Maudy Ayunda Minta Maaf: Kapan Giliran Pejabat Kita?
Berangkat dari pagi yang berkabut asap di Ketapang, tulisan ini sampai pada pertanyaan yang lebih luas: kalau figur publik bisa meminta maaf, kenapa pejabat yang mengambil keputusan sering kali begitu sulit melakukannya?
Jelajahi tulisan non-fiksi lainnya →
Kembara
Saya senang mengunjungi tempat-tempat baru, tetapi perjalanan nggak selalu tentang mencari pemandangan bagus atau mengumpulkan foto. Buat saya, justru orang-orang, kebiasaan, dan hal-hal yang nggak direncanakan sering kali jadi bagian paling menarik dari sebuah perjalanan.
Perjalanan ke Kampung Salaka dan Pergeseran Perspektif yang Tidak Direncanakan
Pada akhirnya, saya berdandan.
Menyusuri Talang Rabun: Air Terjun Stabil, Tebing Lengkung, dan Arter Batu Lapis
Akses yang buruk kadang justru menyelamatkan sesuatu dari kehancuran yang terlalu disengaja.
Jelajahi catatan perjalanan lainnya →
Menulis
Selain menulis esai dan catatan perjalanan, saya juga sesekali berbagi pengalaman tentang proses kepenulisan. Ada banyak hal yang saya pelajari dari membaca, menulis, menerbitkan buku, dan mencari cara agar tulisan bisa sampai kepada pembaca.
Cara Menulis Feature dan Jurnalisme Naratif yang Menggugah
Feature mengajak pembaca masuk ke dalam sebuah peristiwa lewat manusia, suasana, detail, dan alur. Semua itu membuat pembaca merasa ikut mengalami peristiwa yang ditulis.
Cara Dapat Uang dari Menulis: Panduan Realistis untuk Penulis Pemula
Berawal dari pertanyaan seorang kawan, “Kamu ngeblog ya, menguntungkan nggak?” Sebuah jawaban realistis tentang mencari penghasilan dari menulis, tanpa menjanjikan jalan pintas.
Jelajahi tulisan tentang kepenulisan lainnya →
Di balik buku
Menulis buku nggak selesai ketika naskah dikirim ke penerbit. Ada proses panjang, keputusan yang kadang sulit diambil, dan cerita-cerita yang justru baru muncul setelah sebuah buku selesai ditulis. Dua tulisan berikut berkaitan dengan buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang.
Setelah Buku Masalembu Dibaca Kembali
Catatan setelah Masalembu terbit. Perjalanan sebuah buku masih berlanjut setelah penulis menyelesaikan halaman terakhirnya.
Ada Nama yang Sengaja Saya Hilangkan dari Buku Masalembu
Dalam penulisan nonfiksi, nggak semua hal yang diketahui penulis harus dimasukkan ke dalam buku. Ada satu nama yang sengaja saya hilangkan, dan ada pertimbangan di balik keputusan itu.
Jelajahi cerita lainnya di balik naskah →
Beberapa tulisan saya di tempat lain
Selain di blog ini, tulisan saya juga pernah terbit di sejumlah media dan platform lain. Kamu bisa menemukannya melalui halaman penulis berikut:
Mau membaca lebih banyak?
Dua belas tulisan di atas hanyalah sebagian kecil dari arsip yang tersedia di blog ini. Kamu juga bisa menjelajahi tulisan berdasarkan kategorinya: Racauan, Non-Fiksi, Kembara, Tips Menulis, dan Ulasan Buku.
Kalau ingin mengenal buku-buku saya lebih jauh, mampir ke halaman Karya. Kalau tulisan-tulisan di sini pernah menemanimu atau memberimu sesuatu untuk dipikirkan, kamu juga bisa ikut mendukung ruang ini melalui halaman Dukung Mahéng.
Selamat membaca. Semoga ada satu-dua cerita yang membuatmu betah berlama-lama di sini.


Tidak ada komentar