Kenapa Udara Bersih Itu Privilese?

Mungkin kita baru akan mensyukuri sesuatu saat ia nggak ada lagi. Atau paling nggak, waktu kita mulai sadar kalau sesuatu itu bisa hilang sewaktu-waktu. Seperti udara bersih yang baru terasa begitu berharga setelah berbulan-bulan kita menghirup jerebu dan kabut asap.

Udara bersih itu privilese

Dua atau tiga hari belakangan ini hujan turun di Learning Center (LC) Sir Michael Uren IAR di Ketapang. Udara terasa lebih segar. Saya bisa bernapas sedikit lebih lega, seolah-olah paru-paru saya baru saja diberi kesempatan untuk beristirahat.

Saya nggak tau sampai kapan keadaan ini akan bertahan. Bisa jadi besok hujan berhenti, asap kembali mengepung, dan udara bersih kembali jadi sesuatu yang harus kami rindukan.

Yang pasti, hujan dua hari ini beri saya perspektif baru tentang privilese. Selama ini, ketika mendengar kata itu, saya lebih sering membayangkan uang, pendidikan, pekerjaan yang layak, daftar haji sejak usia dua tahun, atau kesempatan-kesempatan yang nggak dimiliki semua orang.

Hujan deras di halaman kantor Morio YIARI, Sei Awan Kiri, Ketapang, 29 Oktober 2026
Hujan mengguyur gedung kantor Morio Yayasan IAR Indonesia di Sei Awan Kiri, Ketapang, pada 29 Oktober 2026. (Dok. Mahéng).

Saya jarang kepikiran privilese dalam bentuk yang paling mudah dijumpai, seperti bisa menghirup udara tanpa merasa sesak.

Ternyata, privilese bisa sesederhana itu.

Sesuatu yang nggak perlu kita pikirkan setiap hari, sampai suatu saat kita nggak bisa lagi menikmatinya dengan leluasa.

Saya jadi kepikiran, berapa banyak hal lain dalam hidup yang selama ini saya perlakukan sebagai sesuatu yang sewajarnya ada?

Kenapa yang cukup jadi kurang?

Nggak usah jauh-jauh. Ambil contoh mi instan. Kalau masak satu bungkus, rasanya kurang. Saya ingin nambah satu bungkus lagi. Tetapi setelah dua bungkus selesai dimasak, belum tentu semuanya sanggup saya habiskan.

Begitu juga dengan bakso. Semangkuk terasa nikmat, lantas muncul keinginan untuk nambah. Setelah mangkuk kedua datang, saya malah mulai merasa kenyang dan kehilangan selera.

Manusia memang punya bakat membuat sesuatu yang awalnya cukup jadi kurang.

Entah apakah ini berlaku untuk semua hal, tetapi saya sering merasa kenikmatan nggak selalu bertambah seiring bertambahnya sesuatu. Ada kalanya justru keterbatasan yang membuat kita menikmati apa yang ada di hadapan.

Mungkin manusia mudah sekali menyesuaikan diri. Sesuatu yang kemarin bikin kita bahagia perlahan jadi biasa. Apa yang dulu kita perjuangkan mati-matian, setelah berhasil kita dapatkan, berubah jadi bagian dari rutinitas.

Kita kemudian cari sesuatu yang lain untuk diinginin.

Dulu kita ingin punya pekerjaan. Setelah punya pekerjaan, ingin punya waktu luang. Ketika punya waktu luang, bingung mau melakukan apa karena uangnya belum cukup. Begitu uangnya cukup, waktunya malah habis untuk bekerja.

Saya jadi ingat Mahmoud Darwish. Dia pernah bilang, “Mungkin bulan itu indah hanya karena letaknya jauh.”

Barangkali begitu juga dengan banyak hal dalam hidup. Dari jauh, pekerjaan orang lain tampak menyenangkan. Hidup orang lain terlihat lebih mapan. Kita melihat foto liburan mereka, makanan yang mereka santap, atau rumah yang baru mereka beli, lalu mulai membandingkannya dengan hidup sendiri.

Padahal, kita cuma melihat potongan hidup orang lain, tetapi membandingkannya dengan seluruh isi hidup kita.

Saya pun begitu.

Beberapa waktu terakhir, hidup saya terasa jauh lebih baik. Utang berkurang, meskipun masih banyak. Kualitas hidup meningkat. Berat badan naik. Saya bisa makan dengan lebih teratur dan menikmati makanan yang lebih sehat. Ada hal-hal yang dulu hanya bisa saya impikan, sekarang perlahan menjadi kenyataan.

Dulu, saya pernah sampai harus mengutang kelapa di Purwokerto. Dagingnya saya makan, airnya saya jadikan air minum. Di Seknas Jaringan Gusdurian, saya sering makan sisa makanan Mas Trust Plus atau mencari bayam liar di halaman belakang untuk dicampurkan ke mi.

Waktu itu, saya nggak bisa milih mau makan apa, pilihannya, hari ini bisa makan atau nggak.

Sekarang, setelah bisa makan dengan porsi dan gizi yang lebih teratur, yang disediakan YIARI, kadang-kadang saya masih mengeluh bosan karena makan itu-itu saja. Saya ingin menu yang berbeda, ingin mencoba makanan lain. Saya sering lupa kalau bisa makan dengan layak adalah sesuatu yang pernah begitu ingin saya capai.

Saya tau banyak orang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tetapi pengetahuan itu nggak serta-merta membuat saya berhenti mengeluh.

Begitulah manusia, atau mungkin begitulah saya. Kita bisa mengetahui kalau sesuatu itu berharga tanpa selalu mampu merasakannya.

Barangkali saya memang perlu belajar mensyukuri sesuatu selagi ia ada. Karena saya nggak pernah benar-benar tau berapa lama waktu yang saya miliki.

Saya juga nggak pernah tau sampai kapan Argitoe Ranting dan Karmele Llano Sánchez akan percaya sama saya sehingga saya masih diberi kesempatan untuk berkontribusi di Yayasan IAR Indonesia (YIARI), berikut berbagai benefit yang saya peroleh.

Saya tentu berharap kepercayaan itu bertahan lama. Namun, saya juga sadar kalau kesempatan, seperti banyak hal lain dalam hidup, bukan sesuatu yang bisa saya anggap akan selalu tersedia.

Ayah, ibu, dan waktu yang berjalan

Belakangan ini, saya mulai sering memikirkan ayah dan ibu.

Usia mereka bertambah. Wajah mereka semakin keriput. Sementara saya jarang sekali bisa pulang.

Saya nggak tau sejak kapan waktu berjalan begitu cepat. Rasanya, ada banyak hal yang masih ingin saya lakukan sebelum merasa cukup mapan untuk membahagiakan mereka.

Saya ingin hidup lebih baik, menyelesaikan pekerjaan, mengurangi beban keuangan, dan mencapai hal-hal yang selama ini saya perjuangkan.

Saya ingin suatu hari nanti bisa membuat mereka lebih tenang, nggak perlu terlalu memikirkan keadaan saya, dan menikmati hidup dengan lebih baik.

Sementara saya sibuk mengusahakan semua itu, usia mereka terus berjalan.

Kadang-kadang saya nyerocos, kalau seluruh pencapaian yang saya miliki sekarang bisa ditukar dengan tambahan usia ayah dan ibu, saya rela menukarnya.

Saya paham hidup nggak bekerja seperti itu. Lagian, kalimat itu nggak akan mengubah apa pun. Saya juga nggak yakin apakah saya sungguh-sungguh akan mampu menyerahkan semua yang telah saya perjuangkan bila pilihan itu benar-benar tersedia.

Mungkin pikiran itu muncul karena saya mulai menyadari ada hal-hal yang nggak bisa diperbaiki dengan pencapaian, sebanyak apa pun yang kelak berhasil saya kumpulkan.

Kita bisa bekerja lebih keras, mendapatkan penghasilan lebih baik, membeli makanan yang lebih enak, tinggal di tempat yang lebih nyaman, dan pergi ke tempat-tempat yang selama ini hanya kita lihat dari layar gawai.

Kita bisa mengusahakan banyak hal agar hidup terasa lebih layak. Tetapi kita nggak bisa meminta waktu untuk berhenti barang sebentar.

Menunda bahagia sampai “nanti”

Kita sering menunda kebahagiaan karena merasa belum cukup. Nanti aja kalau utang sudah lunas. Kalau pekerjaan sudah beres. Kalau keadaan sudah lebih baik. Nanti kalau sudah punya uang.

Ada saja sesuatu yang perlu diselesaikan sebelum kita merasa pantas menikmati hidup.

Kalau menunggu semua masalah selesai, jangan-jangan kita baru bisa bahagia setelah meninggal. Itu pun masih ada kemungkinan keluarga kita harus membereskan utang yang belum lunas.

Saya nggak bilang kita harus berhenti mengejar kehidupan yang lebih baik. Saya sendiri masih ingin memperbaiki banyak hal dalam hidup. Saya masih ingin bekerja, menulis, menyelesaikan utang sebelum mati, dan berharap bisa menua bersama seseorang yang saya cintai.

Hanya saja, jangan sampai kesibukan mencari apa yang belum ada membuat kita mengabaikan apa yang sudah kita miliki.

Suatu malam Ayas pernah bilang, kalau masih banyak cobaan yang harus dicobain, jangan lupa banyak kenikmatan yang harus dinikmatin.

Hujan mungkin akan berhenti. Asap mungkin akan kembali. Saya nggak tau berapa lama lagi saya bisa menikmati udara bersih di LC. Saya juga nggak tau berapa banyak kesempatan yang masih saya miliki untuk duduk bersama ayah dan memeluk ibu.

Saya juga nggak yakin besok akan menjadi manusia yang lebih pandai bersyukur daripada hari ini. Bisa saja besok saya kembali mengeluh karena makanan membosankan, pekerjaan menumpuk, atau saldo rekening belum sesuai harapan.

Paling nggak, hujan dua atau tiga hari ini mengingatkan saya bahwa ada hal-hal yang selama ini saya anggap biasa, padahal tanpanya hidup bisa terasa jauh lebih sulit.

Dan mungkin buat saya yang paling menyedihkan bukan kehilangan sesuatu yang kita cintai, melainkan baru menyadari betapa berharganya ia ketika kita nggak lagi punya kesempatan untuk mengutarakannya.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.