Ketika Sakit Mungkin Jadi Satu-satunya Cara Saya Mengizinkan Diri Sendiri Istirahat
"Jaga kesehatan," kata Ayas, "meskipun kamu tetap perlu sakit supaya kamu bisa istirahat lebih lama."
Waktu itu saya nggak tertawa. Bukan karena kalimatnya nggak lucu, tapi karena saya tahu ia serius. Dan orang yang serius sering kali lebih menakutkan dari orang yang marah.
Saya ingat kalimat itu persis saat-saat seperti ini, ketika tubuh mulai memberikan tanda-tandanya.
Tanda yang sudah berulang kali saya abaikan sampai akhirnya tubuh memilih cara yang lebih keras untuk bicara.
Saya pergi ke tukang urut. Dalam keyakinan saya, ada dua cara tubuh bisa pulih: diurut, atau makan pedas sampai keringat keluar dan sesuatu yang tersumbat akhirnya lepas.
Keduanya terasa seperti perjanjian antara saya dan tubuh. Saya mau dengar kamu, tapi dengan cara yang saya pilih.
Setelah urut, saya pulang sekitar pukul sepuluh malam. Melewati hutan. Angin turun dari segala arah seperti nggak punya urusan lain selain masuk ke sela-sela jaket saya.
Saya nggak berhenti. Sudah malam, sudah dingin, katanya jalan yang saya lewati tempat yang rawan, dan saya pikir kalau sudah diurut, badan seharusnya lebih kuat.
Keesokan harinya, ada urusan lain yang nggak bisa ditunda. SIM C saya hampir habis masa berlakunya. Saya memperpanjang melalui aplikasi, tapi aplikasi itu nggak kompatibel dengan gawai saya yang sudah bapuk.
Saya ingin meminjam gawai milik The Power of Mama. Saya berangkat lagi. Pulang malam lagi. Melewati dingin yang sama, hutan yang sama, angin yang sepertinya sudah hafal rute saya.
Dan di situlah demam memutuskan untuk nggak menunggu lagi.
Tubuh saya menyerah sebelum saya menyerah.
Saya masuk kamar, tutup pintu, dan mulai bekerja. Ini sudah jadi ritual. Saya bekerja paling baik di ruangan tertutup, tanpa interupsi, tanpa suara yang datang dari arah yang nggak saya harapkan.
Bisa dibilang, kamar adalah kantor saya.
![]() |
| Kamar D5, Learning Center Sir Michael Uren, IAR Ketapang — tempat bekerja sambil menahan demam. (Dokumentasi: Mahéng) |
Tapi dari luar, pintu tertutup itu dibaca dengan cara lain. Saya menduga ada yang berpikir, “enak ya, kerjaan Mahéng, makan tidur doang”.
Saya rada tersinggung waktu pertama kali menyadarinya. Tapi lama-lama saya berhenti merasa perlu meluruskan.
Bukan karena saya pasrah, tapi menurut keyakinan saya, menjelaskan pekerjaan yang nggak kelihatan kepada orang yang nggak bertanya adalah pekerjaan yang paling menguras energi, dan saya nggak punya banyak energi untuk itu.
Yang lucu, kalau lucu bisa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang sebenarnya menyedihkan, adalah bahwa saya masih buka laptop.
Transkrip masih menunggu. Deadline buku Biografi Kolektif 20 tahun Yayasan IAR Indonesia masih tergantung di kepala saya seperti lampu yang nggak bisa dipadamkan.
Saya sudah berencana menyelesaikannya sebelum ulang tahun saya (18 Mei). Sudah saya hitung-hitung, sudah saya bagi per hari, sudah saya bayangkan selesai tepat waktu.
Lalu saya hitung ulang dari atas kasur, dengan kepala yang berat dan layar yang terasa terlalu terang. Dan akhirnya saya paham, itu nggak memungkinkan.
Bukan karena saya nggak mampu. Tapi karena saya manusia, dan manusia punya batas yang nggak bisa dinegosiasi hanya dengan niat yang kuat.
Dari situ, kalimat Ayas kembali. "Kamu tetap perlu sakit supaya kamu bisa istirahat lebih lama."
Saya mulai berpikir: kapan terakhir kali saya beristirahat bukan karena terpaksa? Bukan karena perjalanan selesai, bukan karena deadline sudah lewat, bukan karena tubuh akhirnya memblokir semua akses.
Kapan terakhir kali saya berhenti karena memang memilih untuk berhenti?
Saya menulis banyak tentang koeksistensi. Tentang bagaimana manusia perlu belajar hidup berdampingan dengan satwa, dengan alam, dengan hal-hal di luar dirinya.
Tapi saya jarang menulis tentang koeksistensi antara saya dan tubuh saya sendiri.
Tubuh saya sudah memberi peringatan dua, tiga hari sebelumnya. Saya dengar, tapi saya nggak mendengarkan. Ada perbedaan di antara keduanya yang sering saya remehkan.
Mendengar berarti suara itu sampai ke telinga. Mendengarkan berarti saya membiarkan suara itu mengubah sesuatu.
Saya memilih urut; itu bentuk mendengar. Tapi setelah itu saya tetap pergi malam, tetap menembus angin, tetap membuka laptop. Itu bukan mendengarkan. Itu negosiasi sepihak yang saya lakukan tanpa izin tubuh saya.
Dan tubuh, seperti biasa, nggak suka diabaikan.
Pun esai ini saya tulis sambil menahan pusing. Ingus sesekali turun. Layar terasa terlalu terang, tapi saya tetap mengetik, karena rupanya bahkan dalam sakit pun saya masih perlu alasan untuk merasa bahwa hari ini nggak terbuang sia-sia.
Ironis, memang. Saya sakit supaya bisa istirahat, tapi istirahat saya tetap diisi dengan kerja.
Ayas nggak salah. Memang seharusnya nggak begitu. Seharusnya saya nggak butuh demam untuk mengizinkan diri saya rebahan. Istirahat seharusnya bukan sesuatu yang perlu alasan.
Tapi kenyataannya, buat saya, dan mungkin buat banyak orang yang nggak bisa diam tanpa rasa bersalah, tubuh yang menyerah adalah satu-satunya argumen yang cukup kuat.
Saya pikir saya yang selama ini mengatur semuanya. Sampai akhirnya tubuh saya mengambil alih ketika saya terlalu lama keras kepala.


Leave a Comment