Enak Ya Kerjanya Jalan-jalan? Catatan Tentang Pekerjaan, Lelah, dan Proses Belajar

“Enak ya kerjanya jalan-jalan.”

Kalimat itu hampir selalu datang dari orang yang tidak mengenal saya, di ruang-ruang transisi seperti bandara dan antrean. Ia terdengar ramah, sering kali tanpa niat apa pun.

Yang jarang disadari, kalimat sesingkat itu mampu mereduksi perjalanan panjang menjadi satu kesan ringan, seakan lelah bisa dihapus oleh pemandangan.

Saya tersenyum, mengangguk, lalu memberi jawaban aman supaya percakapan tidak berlanjut. “Jalan-jalannya enak, tapi kerjanya enggak.”

Jawaban itu saya pilih bukan karena paling tepat. Ia biasanya cukup untuk menghentikan pertanyaan lanjutan.

Untuk orang-orang yang tidak benar-benar ingin tahu, kalimat pendek itu sudah cukup.

Untuk teman dekat (yang sekarang hampir saya tidak punya), jawabannya bisa lebih ketus, diiringi tawa tipis, supaya tidak terdengar terlalu sinis.

Yang Terunggah dan Yang Disembunyikan

Saya tidak tersinggung dengan kalimat itu. Serius, sama sekali tidak. Sebab saya paham kenapa ia muncul. Orang hanya melihat apa yang saya tampilkan.

Foto yang saya unggah sudah dipilih. Sudutnya saya tentukan. Warnanya saya atur. Bahkan sesekali saya tambahkan filter supaya saya kelihatan sedikit lebih ganteng di layar, meski hasil akhirnya tetap saja tidak. Hahaha.

Mahéng menyeberang arus deras Sungai Way Rilau dalam proses riset lapangan di kawasan Hutan Lindung Batutegi, Lampung. Foto milik Ayun IAR Lampung
Dokumentasi: Ayun IAR Lampung

Layar gawai mengajari kita satu hal sejak lama, bahwa cerita harus ringkas dan menyenangkan.

Mungkin karena itu, tidak semua yang saya alami layak, atau ingin, saya bagikan.

Yang tidak ikut terunggah adalah hujan yang datang tiba-tiba, badan yang terguling di jalan berlumpur, sepatu basah, menunggu narasumber berjam-jam lalu pulang dengan rekaman lima menit. 

Malam yang panjang di penginapan, sinyal putus-nyambung, atau kepala yang masih bekerja saat tubuh sudah meminta berhenti. Juga tubuh yang dipaksa bangun sebelum nyeri benar-benar pergi.

Orang melihat potongan gambar, lalu menyimpulkan keseluruhan cerita.

Dan itu wajar.

Ketika Profesi Menggeser Kesenangan

Saya pernah menjadi jurnalis di sebuah media besar. Kalimat serupa juga hadir. “Enak ya bisa jalan-jalan ke mana-mana.”

Orang melihat lokasi, nama besar, pertemuan dengan tokoh.

Mereka tidak ikut duduk di pinggir jalan menunggu pernyataan. Tidak ikut menimbang risiko liputan. Tidak ikut membawa beban ketika satu kesalahan bisa berujung ancaman kematian.

Buat saya, pekerjaan itu memberi banyak hal baik. Ia juga menuntut keseriusan yang tidak ringan.

Masalahnya bukan pada orang lain yang berasumsi. Yang sering mengusik justru kata “jalan-jalan” itu sendiri.

Kata yang terdengar ringan, menyenangkan, seakan tanpa beban. Padahal, kalau harus jujur, kata itu terlalu kecil untuk menampung apa yang sebenarnya saya jalani.

Yang saya lakukan lebih mendekati proses belajar.

Belajar membaca medan. Belajar menakar tenaga. Belajar menerima bahwa rencana sering berubah tanpa meminta izin. Hutan tidak mengenal tenggat. Cuaca tidak peduli jadwal. Tubuh punya bahasanya sendiri, dan ia akan bersuara saat dilanggar.

Ada hari-hari ketika waktu terasa menguap. Bangun, bergerak, mencatat, berjalan lagi. Tahu-tahu malam datang. Pikiran berputar-putar memikirkan cicilan utang. Tangan ingin menulis, kepala mencari kata, tubuh meminta jeda.

Tidak semua malam produktif. Tidak semua malam menyenangkan.

Saya pernah mendengar kalimat dari seorang pemain bola. Saya lupa siapa, mungkin saya juga salah mengingat. Intinya kurang lebih begini: bermain bola itu menyenangkan, tapi ketika ia berubah menjadi profesi, lengkap dengan tuntutan manajer, suporter, dan target, kesenangannya tidak pernah lagi utuh.

Saya rasa itu berlaku di banyak bidang. Ketika sesuatu menjadi pekerjaan, ada konsekuensi yang ikut menempel, suka atau tidak.

Biaya yang Tidak Pernah Ditanya

Saya mendapat banyak privilese dari pekerjaan saya saat ini, salah satunya bisa berkeliling Indonesia tanpa membeli tiket sendiri.

Kalimat itu terdengar mewah jika berdiri sendiri. Ia menjadi lebih jujur saat disandingkan dengan biaya lain yang harus saya bayar: biaya fisik, biaya mental, waktu tidur yang terpotong, dan kesempatan bersama orang-orang terdekat yang tertunda.

Semua berjalan beriringan tanpa harus dijelaskan dengan banyak kata.

Saya jarang sekali ditanya apakah capek. Orang lebih sering bertanya ke mana, dapat apa, gaji berapa, atau kapan berangkat lagi.

Pagi tadi, Ayas bilang, “Capek banget ya bang.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa rasanya seperti mood booster.

Seperti ada yang melihat bagian yang tidak terlihat orang lain. Pernah juga ia bercanda, setengah serius, “Meskipun kamu tetap perlu sakit supaya kamu bisa istirahat lebih lama.”

Kami tertawa, tapi di baliknya ada perhatian yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang.

Ada satu hal lain yang sering membuat saya tidak nyaman: pertanyaan tentang gaji.

Bukan karena saya tidak butuh uang. Bukan karena jumlahnya. Karena pertanyaan itu mereduksi perjalanan menjadi angka. Ia memotong proses belajar menjadi hasil singkat.

Saya memilih menjawab seperlunya. Beberapa hal lebih baik disimpan rapi.

Tulisan Sebagai Pengikat Ingatan dan Evaluasi Diri

Saya tidak perlu menuliskan semua keluh di ruang publik. Ada ruang privat yang cukup untuk itu. Di layar gawai, saya memilih bercerita dengan nada lain. Bukan untuk menggurui. Bukan untuk mengeluh.

Saya tetap mengunggah foto. Tetap menulis perjalanan. Tetap mempromosikan tempat dan orang-orang yang saya temui. Tulisan menjadi pengikat ingatan. Ia mengarsipkan proses belajar. Ia menjadi catatan untuk diri sendiri.

Kelak saya bisa membuka kembali, mengingat apa yang pernah dijalani, lalu menilai ulang dengan kepala saya sendiri.

Ada hal lain yang jarang dibicarakan. Ketika tulisan mendapat respons baik, ketika ada yang bilang “keren”, perasaan bangga itu cepat berubah menjadi beban. Ada tuntutan baru, meski datangnya dari diri sendiri.

Takut jika tulisan berikutnya tidak sepadan. Takut jika standar yang terlanjur naik justru membuat saya tidak berani menulis apa-apa.

Saya mulai belajar untuk membiarkan pujian lewat tanpa ditambatkan. Menulis tetap soal kejujuran, bukan perlombaan.

Saya punya satu pegangan yang sering saya sebutkan: sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan. Tulisan menyimpan sesuatu yang pelan-pelan bisa hilang kalau tidak dicatat. Ia menjadi rekaman perjalanan, bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dievaluasi.

Dari situ saya bisa belajar, mengulang, atau berhenti.

Saya tetap akan mengunggah foto di story. Tetap membagikan tautan tulisan. Tetap mempromosikan apa yang saya kerjakan. Bukan untuk membangun kesan, karena itu bagian dari pekerjaan itu sendiri. Yang saya bagikan adalah permukaan.

Saya sadar betul, bagian bawahnya tidak selalu ingin, atau perlu, saya buka.

Tidak ada satu momen spesifik yang paling tidak enak dalam perjalanan menulis saya. Yang ada adalah akumulasi: menunggu, berjalan, jatuh, bangkit, menunggu lagi.

Dulu saat jadi jurnalis kami sering bercanda, “Kerja keras bagai kuda, gaji bercanda, kurang bercinta.”

Sekarang, di tempat saya bekerja, kesejahteraan jauh lebih diperhatikan. Saya bisa mencicil utang jauh lebih lancar. 

Tapi lelah tetap lelah. Bentuknya hanya berubah.

Saya tidak ingin menutup tulisan ini dengan keluhan. Saya tahu apa yang saya pilih, dan saya tahu biayanya. Saya tidak mengeluh ke publik. Keluhan cukup saya simpan, dan sesekali saya ceritakan ke Ayas.

Selebihnya, biarlah tetap terlihat seperti jalan-jalan. 

Saya sudah memahami bahwa yang saya jalani lebih dari sekadar berpindah tempat. Itu proses belajar yang panjang, dan mungkin hanya akan diselesaikan oleh kematian.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.