Setelah Buku Masalembu Dibaca Kembali
Saya nggak ngerti kenapa, tetapi saya senang sekali akhirnya buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang benar-benar terbit dan kemudian dibicarakan banyak orang.
Semalam buku itu dibedah di Kancakona Kopi, Sumenep. Saya nggak bisa hadir secara langsung di sana. Saya mengikutinya dari jauh melalui panggilan video, melihat orang-orang duduk lesehan di atas lantai kayu pendopo, di antara cangkir-cangkir kopi dan tumpukan buku, memperhatikan wajah saya yang terpampang di layar proyeksi.
Yang di Sumenep, akhir pekan pada ke mana?
— Mahéng (@iamaheng) August 20, 2026
Yuk, mampir ke Kancakona Kopi buat ngobrolin buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang!
🗓 Sabtu, 22 Agustus 2026
⏰ 19.00 WIB
📍 Kancakona Kopi
🎟 Gratis untuk umum! pic.twitter.com/DGDUn2Xupe
Sekarang, buku itu nggak lagi sepenuhnya milik saya.
Ia mulai dibaca, ditafsirkan, dipuji, dikritik, bahkan mungkin dipahami dengan cara yang nggak pernah saya bayangkan ketika menulis buku itu.
Ketika pertama kali menulis buku Masalembu, niat saya sebenarnya ingin menulis antitesis terhadap berbagai stereotip dan stigma yang selama ini dilekatkan pada pulau tersebut.
Saya ingin mendokumentasikan "keindahan Masalembu". Saya ingin mengetahui bagaimana manusia hidup di sebuah pulau, bagaimana mereka memandang laut, keluarga, pekerjaan, perantauan, dan kehidupan sehari-hari.
Saya ingin menunjukkan bahwa di sana, masyarakat Madura justru membangun peradaban dan hidup berdampingan secara harmonis dengan suku Bugis dan Mandar—fakta yang membantah dokumen-dokumen kolonial yang kerap menggambarkan Madura sebagai kelompok yang eksklusif atau sulit bergaul.
Tetapi ternyata, ketika buku itu dibaca kembali dalam sebuah forum, pembicaraannya bergerak jauh lebih luas. Orang-orang membicarakan identitas, persaudaraan, stereotip, labeling, dan bagaimana sebuah komunitas direpresentasikan oleh "orang luar".
Di ruang diskusi semalam, terungkap betapa hangat dan kuatnya ikatan persaudaraan orang Madura. Mereka merawat kekerabatan melalui petok popo hingga kadek poponan untuk mencari keluarga hingga tujuh turunan.
Diskusi itu juga membedah nggak adilnya pemberitaan media: ketika kejahatan terjadi di Pulau Jawa, ia kerap dianggap kasus kriminal biasa berdasarkan wilayah; sebaliknya, ketika melibatkan individu dari Madura, label kesukuan sering kali langsung disematkan secara generalisasi kepada seluruh entitas.
Mendengar itu semua, saya justru mulai bertanya: jangan-jangan buku ini memang nggak pernah sesederhana yang saya bayangkan.
Saya bukan orang Madura. Saya juga bukan orang Masalembu. Bahkan ketika melakukan wawancara, saya membutuhkan penerjemah karena nggak bisa berbicara bahasa Madura.
Posisi saya sejak awal memang posisi orang luar.
Saya datang sebagai relawan Village Development Expedition #4 Barakati Indonesia yang mendengar cerita orang lain, mencatatnya, kemudian menyusunnya menjadi sebuah buku.
Karena itu, ketika Kiai Dardiri, yang juga menulis prolog buku ini, mengatakan dalam diskusi bahwa orang Madura harus menulis budayanya sendiri dan jangan menyerahkan narasi tersebut kepada orang luar yang menjadikan dokumen kolonial sebagai rujukan, kalimat itu terasa cukup mengganggu pikiran saya.
Saya merasa ada benarnya.
Selama proses menulis, saya sendiri cukup kesulitan mencari referensi tentang Masalembu yang ditulis oleh orang Madura, Bugis, atau Mandar sendiri. Banyak bahan yang tersedia justru datang dari orang luar, penelitian akademik, atau dokumen lama yang sudah lebih dahulu membentuk cara orang melihat Masalembu.
Ketika sebuah komunitas terlalu sering diceritakan oleh orang lain, lama-lama cerita dari luar bisa dianggap sebagai cerita tentang diri mereka sendiri.
Stereotip bekerja dengan cara yang kurang lebih sama.
Orang Madura sering kali digambarkan sebagai maling besi, dekat dengan kekerasan, atau identik dengan carok. Padahal kehidupan manusia tentu jauh lebih rumit daripada beberapa kata yang ditempelkan kepadanya.
Dalam diskusi semalam, persoalan labeling itu kembali muncul.
Saya teringat pembicaraan Iskandar Dzulkarnain atau Pak Dadang yang menulis epilog buku ini.
Semalam membicarakan bagaimana seseorang bisa disebut pemberontak tergantung pada siapa yang sedang bercerita.
Buat pihak luar, Trunojoyo mungkin disebut pemberontak, tetapi dari sudut pandang orang Madura, ia bisa dilihat sebagai seseorang yang melawan penjajahan.
Hal serupa bisa ditemukan dalam banyak kisah sejarah.
Soekarno dianggap pemberontak oleh Belanda, tapi oleh bangsa Indonesia disebut pahlawan. Teuku Umar juga dilabeli sebagai pemberontak oleh penjajah, tapi di hati orang Aceh, ia manusia mulia.
Tenang, saya nggak sedang mengajarkan separatisme. Ini hanya analogi sudut pandang.
Sebuah peristiwa yang sama dapat menghasilkan cerita yang berbeda ketika diceritakan dari posisi yang berbeda.
Dan mungkin itulah salah satu persoalan terbesar dalam menulis tentang manusia: kita selalu membawa sudut pandang kita sendiri.
Saya pun demikian.
Karena itu, meskipun beberapa orang yang hadir dalam diskusi semalam mengatakan hal-hal baik tentang Masalembu, saya tetap sadar bahwa pujian itu nggak otomatis membuat buku ini bebas dari bias.
Saya tetap orang luar. Saya bisa salah memahami Masalembu. Saya bisa membawa cara pandang saya sendiri ketika memilih cerita mana yang masuk dan mana yang nggak masuk ke dalam buku.
Saya bisa saja mengira sedang mendokumentasikan sesuatu, padahal tanpa sadar sedang membentuk sebuah representasi baru.
Kesadaran itu penting buat saya. Sebab saya nggak pernah menganggap Masalembu sebagai buku sejarah ilmiah yang kelak harus menjadi rujukan akademik. Saya juga nggak pernah bermaksud membuat buku yang "menjelaskan" Masalembu secara definitif.
Saya lebih suka menganggapnya sebagai catatan tentang manusia—catatan tentang orang-orang yang kebetulan saya temui di Pulau Masalembu dan Masakambing. Saya datang, mendengar cerita mereka, mencoba memahami sebisanya, lalu menuliskannya.
Setelah itu, buku ini harus berjalan sendiri.
Mungkin ia akan ditemukan oleh orang yang nggak pernah mengenal Masalembu. Mungkin dibaca oleh orang Madura yang merasa ada bagian dirinya di dalamnya. Mungkin juga dibaca oleh orang Masalembu yang menemukan kekeliruan di dalamnya.
Dan itu nggak apa-apa.
Sebab sebuah buku tentang manusia barangkali memang nggak pernah benar-benar selesai ketika dicetak. Ia baru mulai hidup ketika dibaca.
Ada satu hal lain yang membuat saya lebih senang setelah mengikuti diskusi semalam. Beberapa orang yang hadir kemudian mengikuti akun media sosial saya, tetapi ada satu pesan langsung yang paling saya ingat:
"Aku rencana ingin seperti kakak, mau nulis buku tentang pulauku, Gili Iyang. Nanti boleh sharing dengan kakak, kan?"
Barangkali kelak ia akan menemukan lebih banyak referensi daripada yang saya temukan ketika menulis buku Masalembu. Barangkali ia akan melakukan kesalahan yang berbeda, atau bukunya akan jauh lebih baik daripada buku saya.
Saya justru berharap begitu.
Sebab tujuan paling baik dari sebuah buku bukan membuat penulisnya menjadi orang terakhir yang berbicara tentang suatu tempat. Menurut keyakinan saya, buku yang baik justru membuka kemungkinan agar orang-orang dari tempat itu mulai menulis cerita mereka sendiri.
Orang Aceh menulis tentang Aceh. Orang Masalembu menulis tentang Masalembu. Orang Gili Iyang menulis tentang Gili Iyang.
Dan suatu hari nanti, orang luar nggak lagi menjadi satu-satunya pihak yang punya kesempatan untuk menceritakan mereka.
|
| Suasana bedah buku Masalembu di Kancanakopi, Sumenep. Para peserta lesehan khidmat menyimak diskusi. (Foto: Lesbumi Sumenep) |
Mungkin, pada akhirnya, itulah perjalanan Masalembu: Suara dari Laut Seberang—menjadi satu suara kecil yang pernah datang dari seberang laut, mendengar beberapa cerita, kemudian pulang membawa cerita itu dalam sebuah buku.
Selebihnya, biarkan buku ini melanjutkan perjalanannya sendiri.
Dan kepada seseorang yang mengatakan, "Tunggu karyaku ya," saya tunggu.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment