Cara Menemukan Gaya Menulis Tanpa Meniru Orang Lain
Tidak ada yang baru di bawah langit.
Pernah dengar kalimat itu? Ada juga adagium kalau kamu berambisi melakukan sesuatu yang benar-benar orisinal dan belum pernah dilakukan manusia lain di muka bumi, mungkin kamu harus lahir sebelum Adam.
Kenyataannya, di era informasi dengan banjir bandang berlumpur yang menghanyutkan berton-ton kayu ini, kita semua adalah produk dari apa yang kita konsumsi.
Apalagi kalau kita membaca buku yang sama, menonton film yang sama, dan mengonsumsi konten media sosial yang serupa. Maka, sangat wajar jika sesekali kita merasa tulisan kita terdengar seperti "suara" orang lain.
Namun, ada garis tipis yang memisahkan antara "terpengaruh" secara wajar dan "meniru" secara berbahaya.
Menemukan gaya menulis sendiri bukan berarti kamu harus menciptakan bahasa baru yang tidak dipahami manusia, melainkan bagaimana kamu mengolah pengaruh-pengaruh itu menjadi sebuah tanda tangan yang otentik, yang hanya bisa ditulis oleh tanganmu.
Saat Tulisanmu Terdengar Seperti Orang Lain
Kalau kamu mengikuti blog maheng.net sejak blog ini dibuat, mungkin kamu pernah kepikiran, "Kok kayak tahu ini gaya menulis siapa."
Fenomena "ketularan" gaya menulis adalah hal yang sangat umum, terutama buat penulis pemula seperti saya. Kita cenderung mengidolakan seorang tokoh dan tanpa sadar meniru diksinya, ritme kalimatnya, hingga cara dia membuka paragraf.
Dalam batas tertentu, ini adalah bagian dari proses belajar. Seperti kuli bangunan yang belajar dengan meniru karya tukang, penulis pemula juga perlu "meniru" untuk memahami struktur dan teknik.
Saya belajar banyak dari Andreas Harsono, jadi dalam cara menulis sedikit banyak ada kemiripan kalau kamu baca di andreasharsono.net, meskipun pelan-pelan saat ini sudah berbeda.
Meskipun Andreas Harsono adalah guru saya, ia sendiri punya guru, yaitu Bill Kovach di Universitas Harvard.
![]() |
| Mahéng bersama Andreas Harsono dan dua rekan lainnya di rooftop Apartemen Permata Senayan, diambil menggunakan ponsel Andreas Harsono. |
Jadi, proses "meniru" tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Karena kamu akan terjebak jadi "fotokopi". Dunia butuh suara otentik kamu.
Dalam menulis novel Auni dan Kordinat Terakhir, saya belajar banyak dari Eiji Yoshikawa penulis novel Musashi. Menemukan gaya sendiri memang tidak harus besok pagi, tapi ia sangat penting jika kamu ingin membangun hubungan jangka panjang dengan pembaca.
Apakah Wajar Terpengaruh Gaya Penulis Lain?
Sangat wajar. Bahkan tidak bisa dihindari.
Semua penulis besar dipengaruhi oleh penulis sebelumnya. T.S. Eliot pernah ngomong, "Good writers borrow, great writers steal." Maksudnya, penulis yang baik hanya meminjam, tapi penulis yang hebat "mencuri" ide lalu mencernanya begitu dalam hingga menjadi miliknya sendiri yang baru.
Perbedaannya terletak pada dua hal: terpengaruh (influenced) versus meniru (imitated).
Saat terpengaruh, kamu menyukai cara seorang penulis membangun suasana, lalu mencobanya pada ceritamu sendiri dengan konteks dan emosi yang kamu miliki. Saat meniru, kamu menyalin struktur, kata-kata khas, bahkan gaya bercandanya secara mentah-mentah tanpa filter.
Cara Menghindari Plagiarisme dalam Menulis
Ilmu menulis berbeda dengan ilmu agama. Kalau ilmu agama kamu butuh sanad, agar ilmu itu valid atau sampai ke nabi. Wajib fotokopi. Wajib imitasi, tidak boleh menambah atau mengurangi. Namun kalau kamu menggunakannya dalam ilmu menulis, itu bisa jadi plagiarisme.
Plagiarisme bukan cuma soal copy-paste teks. Ada bentuk yang lebih halus yang sering tidak kita sadari: plagiarisme ide, plagiarisme struktur, dan plagiarisme gaya.
Plagiarisme ide terjadi ketika kamu mengambil konsep atau temuan unik orang lain tanpa memberikan kredit. Plagiarisme struktur adalah menggunakan urutan pembahasan yang sama persis tanpa pengembangan baru. Sementara plagiarisme gaya adalah meniru cara bicara, pilihan diksi, dan ritme kalimat seseorang secara sengaja agar terlihat sepintar atau sekeren mereka.
Cara menghindarinya dimulai dari draf pertama yang steril. Selalu tulis draf pertama tanpa membuka tab referensi apa pun. Ini memaksa otakmu untuk memproses informasi terlebih dahulu, bukan sekadar menyalin. Jangan pelit menyebutkan sumber, karena kejujuran ini justru menambah kredibilitasmu.
Parafrase dengan logika, bukan cuma ganti kata dengan sinonim. Cobalah jelaskan kembali konsep tersebut kepada dirimu sendiri di dalam kepala, lalu tuliskan apa yang kamu pahami.
Ada tes sederhana untuk mengeceknya: tutup artikel referensi, tunggu sebentar, lalu tuliskan intisarinya dari ingatan. Jika kamu bisa menjelaskannya dengan kata-kata sendiri, berarti kamu sudah mencernanya.
Bagaimana Plagiarisme Bisa Terjadi Secara Sengaja?
Kamu mungkin sedang melakukan plagiarisme jika bisa memindahkan isi artikel orang lain ke halaman kerjamu tanpa melakukan satu pun kesalahan ketik, karena hanya mengandalkan CTRL+C dan CTRL+V. Ketika kamu bingung saat diminta menjelaskan isi tulisanmu sendiri tanpa melihat draf yang kamu buat, karena draf itu bukan hasil pemikiranmu.
Contohnya, artikel asli berbunyi "Menulis adalah proses merilis di tengah kekacauan pikiran, setelah bertengkar sama pasangan." Plagiarisme gaya akan menghasilkan "Menulis merupakan proses mendapatkan kembali diri sendiri di antara kerumitan hubungan."
Sementara parafrase yang punya suara personal akan berbunyi "Saat menulis, saya sering merasa seperti sedang merapikan pikiran yang berantakan. Saya sedang mencari makna dari tumpukan pikiran yang acak di tengah tuntutan pekerjaan dan relasi saya yang tidak sehat."
Mengapa Punya Gaya Menulis Sendiri Itu Penting?
Di era AI yang bisa menghasilkan ribuan artikel rapi dan sempurna dalam hitungan detik, gaya personal adalah kemewahan baru. Sama seperti bagaimana kita tetap bisa produktif menulis meski tidak mood, menemukan gaya sendiri adalah tentang konsistensi dan kejujuran pada diri sendiri.
Gaya menulis adalah alasan mengapa pembaca mau kembali ke blogmu, bukan ke blog orang lain yang membahas topik yang sama.
Pembaca setia tidak hanya mencari informasi, mereka mencari cara kamu bercerita. Jika tulisanmu bisa ditulis oleh siapa saja dengan gaya yang seragam, maka kamu adalah penulis yang bisa diganti kapan saja.
Gaya personal adalah perlindunganmu dari gempuran kecerdasan buatan atau mesin.
Lebih dalam lagi, cara kamu menyusun kalimat sebenarnya mencerminkan cara kamu memandang dunia.
Menemukan gaya sendiri berarti melatih otot kognitif untuk memproses realitas secara otonom. Ini bukan cuma soal menulis, tapi soal berpikir jernih dan mandiri.
Cara Menemukan Gaya Menulis Sendiri
1. Banyak Membaca, Tapi Jangan "Mabuk"
Langkah pertama adalah membaca dari berbagai genre. Identifikasi apa yang membuat sebuah tulisan terasa khas. Perhatikan apakah penulis suka kalimat pendek yang meledak-ledak atau kalimat panjang yang mengalir seperti sungai.
Yang perlu dihindari adalah membaca satu penulis favorit secara obsesif tepat sebelum kamu mulai menulis. Ini akan membuat "suara" mereka terngiang-ngiang di kepalamu.
Latihannya sederhana: setelah membaca sesuatu yang bagus, tunggu minimal 24 jam sebelum kamu mulai menulis. Jarak waktu ini berfungsi sebagai "filter" agar informasi yang masuk tersaring, menyisakan substansinya saja tanpa membawa gaya penulis aslinya.
Seperti kopi, yang kamu butuh adalah kafeinnya, bukan ampasnya.
2. Tulislah Seperti Kamu Sedang Bicara
Ini adalah cara tercepat menemukan keotentikan.
Jangan gunakan bahasa yang dibuat-buat "keren", bicara natural dengan bahasa sehari-hari. Kamu rekam pas lagi ngomong lalu transkrip. Memang akan berantakan awalnya, tapi di sanalah karakter aslimu berada.
Misalnya, hasil transkrip rekaman berbunyi: "Jadi gini ya, gua kemarin teledor kebangetan, sampe bikin Ayas kehilangan rasa aman. Gua pengen bela diri, kalau gua sayang banget sama Ayas, gua minta maaf berkali-kali. Tapi kalau gua jadi Ayas, gua juga sulit maafin Mahéng, kata-kata aja nggak cukup."
Lalu rapikan: "Kemarin saya teledor. Bikin Ayas kehilangan rasa aman. Saya ingin membela diri dan membuktikan kalau saya sayang banget sama dia, saya minta maaf berkali-kali. Meskipun sebenarnya kalau saya jadi Ayas, saya juga akan sulit memaafkan Mahéng, sebab kata-kata saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku."
3. Identifikasi Kebiasaan Menulismu
Ambil lima sampai sepuluh artikel lama kamu. Perhatikan polanya.
Apakah kamu sering memulai dengan pertanyaan retoris? Apakah kamu lebih suka menggunakan metafora alam atau teknologi? Apakah tulisanmu cenderung serius atau penuh sarkasme?
Pola yang konsisten itulah benih gaya menulismu. Sama seperti ketika kita menulis meski hidup terasa biasa saja, gaya muncul dari konsistensi mengamati diri sendiri.
4. Beri Jarak dengan Referensi
Gunakan aturan "tulis dari kosong": saat menulis draf pertama, pastikan tidak ada tab referensi yang terbuka. Tuliskan apa yang ada di kepalamu. Data atau kutipan bisa dimasukkan nanti.
Ini memastikan bahwa struktur dan alur cerita murni dari logikamu sendiri, bukan hasil "jahit-jahit" dari berbagai sumber.
5. Beri Izin untuk Tulisanmu Jelek
Banyak orang gagal menemukan gaya sendiri karena takut tulisannya terlihat jelek. Eksperimenlah tanpa takut gagal. Coba gaya puitis di hari Senin, gaya teknis di hari Selasa. Lihat mana yang terasa paling nyaman dan paling "kamu", mana yang bikin kamu excited saat nulis.
Tanda-Tanda Kamu Masih Terlalu Terpengaruh Orang Lain
Waspadalah jika kamu menggunakan istilah yang tidak kamu pahami hanya agar terlihat intelek.
Solusinya adalah writing detox. Berhenti baca penulis favoritmu selama dua minggu. Menulis hanya tentang pengalaman personal yang sangat spesifik yang tidak mungkin ada di internet. Fokus pada kejujuran, bukan kesempurnaan.
Kesimpulan: Gaya Menulis Bukan Ditiru, Tapi Ditemukan
Menemukan gaya menulis sendiri itu tidak instan. Kamu mungkin butuh menulis ratusan artikel sebelum suaramu benar-benar terdengar jernih.
Gaya menulis bukan sesuatu yang kamu pilih di rak toko, tapi sesuatu yang kamu asah lewat ribuan kata yang mungkin awalnya gagal. Tapi begitu ketemu? Menulis jadi jauh lebih mudah. Karena kamu tidak lagi berpura-pura jadi orang lain.
Gaya yang otentik adalah hasil dari kejujuran untuk jadi diri sendiri. Di era AI yang bisa menulis apa saja, suara manusiawi yang jujur tetap punya tempat istimewa.


Leave a Comment