Cara Menulis Meski Hidup Kamu Terasa Biasa-Biasa Saja

Mungkin kamu yang rutin baca blog ini pernah mikir, "Ah, Mahéng enak sudah keliling ke berbagai tempat, jadi punya banyak bahan tulisan. Lah saya? Cuma di sawah."

Ada asumsi besar bahwa untuk menjadi penulis, seseorang harus punya hidup yang "luar biasa": bisa mengendalikan api, pernah tersesat di Kutub Utara, atau minimal punya paspor yang penuh stempel imigrasi.

Kita merasa bahwa hidup yang "biasa-biasa saja" adalah musuh besar kreativitas. Mungkin kamu akan bertanya: Bagaimana cara menulis jika merasa tidak punya pengalaman apa-apa untuk diceritakan?

Padahal, tidak punya pengalaman adalah pengalaman itu sendiri. Novel Nayanika yang saya tulis dengan mengangkat isu lintas iman, perempuan, dan fenomena #kaburajadulu, hingga peliknya program Ausbildung, sama sekali tidak lahir dari perjalanan fisik saya ke Jerman.

Ia lahir dari sebuah kursi kayu, di sebuah joglo, di depan layar laptop tua di sudut Purwokerto. Saat itu saya banyak duduk diam, mendengarkan curhat orang asing di sebuah aplikasi pertukaran bahasa. Sambil bingung karena usaha saya rungkad dan menunggu ada yang traktir makan.

Jadi, jangankan ke Jerman, buat makan saja saya bingung.

Sehingga saya berani bilang, menulis bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tapi seberapa tajam mata memandang atau seberapa dalam telinga mendengar.

Mengapa Kita Merasa "Tidak Punya Cerita"?

Masalah utama kita hari ini adalah mispersepsi tentang pengalaman. Kita terdistorsi dalam pengaruh media sosial yang mendikte bahwa "pengalaman" hanya valid jika ada foto estetiknya. Kita melihat hidup orang lain selalu lebih menarik, lebih berwarna, dan lebih layak diceritakan.

Akibatnya, kita mengalami apa yang disebut sebagai Creative Paralysis. Kita merasa minder untuk menuliskan tentang kopi yang dingin di meja makan karena kita pikir orang lebih ingin membaca tentang kopi di kafe mahal Paris.

Padahal, penulis hebat justru menulis dari pengalaman yang sangat "sepele" dan biasa. Buktinya banyak penulis besar dunia baru terkenal puluhan tahun kemudian. Salah satunya Franz Kafka, seorang novelis asal Praha. Ia baru tersohor setelah kematiannya. Novel Animal Farm karya Orwell juga sangat relevan hari ini padahal ditulis 17 Agustus 1945.

4 Cara Menulis Meski Hidupmu Terasa "Biasa" Aja

1. Temukan Luar Biasa di Dalam yang Biasa

Salah satu angle terbaik dalam menulis adalah menemukan keunikan dalam rutinitas. Segalanya bisa menjadi cerita jika kita tahu cara "meramunya".

Ambil contoh kamu seorang petani. Mungkin kamu akan merasa tidak punya cerita karena setiap hari hanya melihat lumpur dan cangkul. Kamu bisa menulis tentang bagaimana rasanya 'berjudi' dengan cuaca setiap musim, atau bagaimana rahasia yang dibisikkan tanah melalui tekstur lumpur yang dingin saat fajar.

Seorang petani tidak perlu menjadi petualang hebat untuk bercerita; ia cukup menceritakan bagaimana ia memaafkan hama yang merusak padinya dalam semalam, atau bagaimana ia melihat sawahnya perlahan 'tumbuh' menjadi beton perumahan.

Pemandangan gubuk sederhana di tengah sawah Gampong Tamping sebagai simbol ruang inspirasi yang sering dianggap biasa.
Sawah Gampong Tamping: Ruang biasa yang menyimpan sejuta cerita luar biasa. Foto: Erwin Laksamana.

Dalam hidupmu, pasti ada satu warung makan langganan, satu rute jalan yang kamu lewati setiap hari, atau satu kebiasaan yang kamu lakukan saat pagi hari.

Latihan: Cobalah observasi satu tempat yang kamu datangi setiap hari. Catat 10 detail kecil yang selama ini kamu abaikan. Itulah bahan tulisanmu.

2. Menulis adalah Latihan Melihat dan Mendengar

Banyak orang pergi ke sepuluh negara tapi tidak pulang membawa cerita, karena mereka hanya "melihat" tanpa "mengamati" serta tidak mendengar. Sebaliknya, seseorang bisa menulis satu buku hanya dari mengamati rumput di depan rumahnya.

Proses kreatif novel Nayanika adalah contohnya. Saya belum pernah terbang ke Jerman untuk merasakan kegelisahan para pejuang Ausbildung. Saya hanya perlu duduk di kursi kayu di Purwokerto dan menjadi pendengar yang baik. Saya menggunakan sebuah platform pertukaran bahasa yang tiba-tiba berubah jadi "bilik pengakuan dosa".

Saya mendengar curhatan berbagai jenis manusia di berbagai belahan dunia. Saya mendengar untuk memahami, bukan mendengar untuk sekadar mengomentari. Dari kursi kayu itulah, cakrawala saya terbuka lebih luas daripada jika saya hanya sekadar traveling tanpa kepekaan.

×
Nayanika
NAYANIKA Roman spiritual BACA

Menjadi penulis yang baik artinya menjadi pendengar yang baik. Jika kamu merasa hidupmu datar, mulailah pasang telinga.

3. Gunakan "Kacamata" Orang Lain (Empati)

Jika kamu tetap merasa hidupmu terlalu datar, biasa-biasa saja, maka menulislah tentang orang lain. Ini adalah teknik yang saya gunakan saat menyusun draf buku The Power of Mama.

Saya bukan seorang Mama. Saya bukan perempuan. Saya tidak pernah merasakan kaki yang terbakar atau beban mental mengurus keluarga di tengah keterbatasan. Namun, dengan duduk dan mendengarkan mereka, saya mencoba memakai "kacamata" mereka. Saya jadi saluran buat cerita-cerita yang selama ini bungkam.

Inilah peran kamu sebagai penulis: menjadi The Voice of the Voiceless. Kamu tidak perlu mengalami semuanya sendiri. Kamu tidak perlu digigit ular dulu untuk menulis digigit ular itu sakit.

Kamu bisa jadi saksi. Lihatlah pedagang kaki lima di depan kantormu, atau petugas keamanan yang berjaga malam. Mereka punya gudang cerita yang mungkin lebih dramatis dari film action mana pun.

Tips: Belajarlah untuk bertanya "Mengapa" dan "Bagaimana", bukan sekadar "Apa yang terjadi".

4. Pengalaman Internal adalah Pengalaman Terhebat

Jangan salah, pengalaman tidak selalu harus berbentuk fisik atau pertemuan dengan orang lain. Konflik batin yang kamu rasakan saat bangun tidur, ketakutanmu akan masa depan, atau kegelisahanmu saat melihat linimasa media sosial adalah pengalaman yang sangat valid.

Pernahkah kamu merasa melakukan kesalahan fatal dan sulit memaafkan diri sendiri? Bagaimana coping mechanism kamu saat terluka? Menulis adalah cara terbaik untuk mengonversi perasaan senang atau peristiwa yang menyesakkan dada menjadi teks yang konkret dan bisa dibaca.

Menulis tentang luka sendiri bukan berarti mengeluh. Itu adalah proses penyembuhan sekaligus memberikan cermin buat pembaca yang mungkin merasakan hal yang sama. Saat kamu jujur tentang kerentananmu, pembaca akan merasa terhubung.

Kesimpulan

Kembali ke kursi kayu saya di Purwokerto. Dari sana saya belajar bahwa ide tulisan tidak menunggumu di puncak gunung atau di bandara internasional. Ide itu ada di bawah kakimu, di dalam cangkir kopimu, dan di dalam curhatan orang-orang yang kamu temui.

Menulis bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah, tapi seberapa detail mata memandang dan seberapa dalam telinga mau mendengar. Hidup yang "biasa-biasa saja" justru adalah laboratorium terbaik untuk melatih kepekaan.

Jangan tunggu sampai kamu punya pengalaman hebat. Ambil pulpen atau buka laptopmu. Lihatlah sekeliling, dengarkan suara-suara kecil itu, dan mulailah terbiasa menulis hari ini. Maka dari tanganmu akan lahir cerita-cerita hebat.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.