Bagaimana Cara Kita Agar Terbiasa Menulis?

Bagaimana cara kita agar terbiasa menulis? Pertanyaan ini sering muncul, terutama buat kamu yang ingin mengembangkan kemampuan menulis namun kesulitan membangun kebiasaan konsisten.

Menulis bukan soal bakat semata, melainkan tentang membangun rutinitas yang tepat. Menurut keyakinan saya, siapa pun bisa menjadi penulis produktif dengan strategi yang terstruktur dan komitmen yang konsisten.

Mengapa Menulis Perlu Menjadi Kebiasaan?

Menulis sebagai kebiasaan memberikan manfaat jangka panjang buat perkembangan kognitif kita.

Berbagai riset di bidang psikologi kognitif dan pendidikan menunjukkan bahwa aktivitas menulis yang dilakukan secara konsisten dapat membantu melatih berpikir kritis, memperjelas alur penalaran, dan memperkuat kemampuan mengingat.

Hal ini terjadi karena ketika kita menulis secara teratur, otak dilatih untuk menyusun, menghubungkan, dan mengorganisasi gagasan secara sistematis.

Kemampuan ini tidak hanya berguna untuk menulis, tetapi juga untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari, membuat keputusan yang lebih matang, dan berkomunikasi dengan lebih efektif, termasuk dengan pasangan.

Menulis secara konsisten juga dikenal memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental.

Sejumlah penelitian tentang expressive writing menunjukkan bahwa menulis reflektif dalam durasi singkat secara rutin dapat membantu mengurangi stres dan membantu seseorang memproses pengalaman emosionalnya.

Proses menulis membantu kita memproses emosi, mengenali pola pikir yang kurang sehat, dan menemukan jarak yang lebih jernih terhadap masalah yang sedang dihadapi. Inilah mengapa membangun kebiasaan menulis bukan hanya soal produktivitas kreatif, tetapi juga investasi jangka panjang untuk kesejahteraan mental.

Strategi Agar Terbiasa Menulis: Mulai dari Hal Kecil

Banyak orang gagal membangun kebiasaan menulis karena menargetkan terlalu tinggi di awal, seperti langsung ingin menulis novel atau artikel panjang setiap hari.

James Clear dalam bukunya Atomic Habits menjelaskan bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten cenderung lebih bertahan dibanding target besar yang dijalankan secara sporadis.

Prinsip ini bekerja karena otak kita lebih mudah menerima komitmen kecil yang terasa realistis, sehingga hambatan psikologis untuk memulai menjadi jauh lebih rendah.

Dengan menargetkan hanya 10–15 menit menulis setiap hari, kita membangun fondasi kebiasaan yang kuat tanpa merasa terbebani. Seiring waktu, durasi ini bisa meningkat secara alami ketika menulis sudah menjadi bagian dari rutinitas harian.

Tetapkan Target Waktu, Bukan Jumlah Kata

Fokus pada durasi menulis sering kali lebih membantu dibandingkan mengejar jumlah kata tertentu.

Ketika kita menetapkan target “menulis selama 10 menit” alih-alih “menulis 500 kata”, tekanan untuk menghasilkan tulisan sempurna dalam sekali duduk menjadi jauh berkurang.

Pendekatan berbasis waktu ini sejalan dengan penelitian tentang pembentukan kebiasaan (habit) yang menunjukkan bahwa konsistensi memiliki peran lebih besar dibanding intensitas.

Buat Jadwal Menulis yang Tetap

Konsistensi waktu merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan habit.

Ketika kita menulis di waktu yang sama setiap hari, otak mulai mengasosiasikan waktu tersebut dengan aktivitas menulis, sehingga proses memulai terasa lebih otomatis.

Polanya mirip dengan kebiasaan menyikat gigi sebelum tidur: kita melakukannya tanpa merasa terbebani karena otak sudah mengenali waktu dan konteksnya.

Mekanisme asosiasi yang sama inilah yang juga bisa terbentuk dalam kebiasaan menulis.

Pilih Media Menulis yang Nyaman

Media atau alat menulis yang digunakan juga berpengaruh terhadap konsistensi.

Pengalaman banyak penulis menunjukkan bahwa menggunakan media yang sesuai dengan preferensi pribadi membuat proses menulis terasa lebih lancar dan menyenangkan.

Teknik Praktis untuk Konsistensi Menulis

Metode “Write Without Editing”

Anne Lamott dalam bukunya Bird by Bird memperkenalkan gagasan tentang pentingnya menulis draf pertama tanpa mengedit, sekacau apa pun hasilnya.

Konsep ini bekerja karena menulis dan mengedit menggunakan bagian otak yang berbeda: menulis mengaktifkan mode kreatif yang bebas dan eksploratif, sementara mengedit menggunakan mode analitis yang kritis dan menghakimi.

Ketika kita mencoba melakukan keduanya secara bersamaan, kedua mode ini saling bertabrakan dan membuat proses menulis terasa melelahkan, lambat, dan membuat frustrasi.

Gunakan Prompt atau Tema Harian

Penggunaan prompt atau tema sederhana membantu banyak penulis mengurangi hambatan awal dan mempermudah proses memulai menulis.

Prompt sederhana seperti "Ceritakan momen paling berkesan hari ini", "Apa yang saya pelajari minggu ini", atau "Jika saya bisa memberi nasihat ke diri saya 5 tahun lalu..." memberikan arah langsung tanpa perlu memikirkan topik dari nol.

Mengatasi Hambatan dalam Membangun Kebiasaan Menulis

Mengelola Ekspektasi dan Fokus pada Proses

Perfeksionisme merupakan salah satu penghambat utama dalam membangun kebiasaan menulis.

Ketika kita terus-menerus menilai apakah tulisan kita "sudah keren", otak mengaktifkan respons stres yang membuat menulis terasa seperti ujian, bukan eksplorasi kreatif.

Sebaliknya, ketika fokus beralih ke "apakah saya sudah menyelesaikan 10 menit menulis hari ini?", kita merayakan konsistensi dan usaha, bukan kesempurnaan.

Kualitas tulisan akan meningkat secara alami seiring jam terbang, seperti halnya seseorang yang belajar bersepeda: di awal yang penting adalah tetap naik sepeda setiap hari, bukan langsung bisa melakukan trik akrobatik.

Bergabung dengan Komunitas Penulis

Menulis sering terasa sebagai aktivitas yang soliter, dan hal ini bisa melemahkan motivasi dalam jangka panjang.

Banyak pengalaman menunjukkan bahwa dukungan sosial, seperti memiliki teman diskusi atau komunitas menulis, dapat membantu menjaga komitmen dan konsistensi.

Berbagi progres, tantangan, dan pengalaman dengan orang lain membuat proses menulis terasa lebih hidup dan tidak terisolasi.

Pola itu juga yang saya jalani. Meski sering berpindah-pindah tempat, saya selalu mencari komunitas literasi.

Saat di Yogyakarta, saya kerap bergabung dengan Klub Buku Main2 karena di sana saya menemukan perspektif baru dan relasi yang berharga.

Mahéng bersama komunitas Klub Buku Main2 setelah diskusi dan bedah buku.
Diskusi dan bedah buku Runduma di Klub Buku Main2. Komunitas sebagai ruang merawat konsistensi menulis. (Foto: Dok. Klub Buku Main2).

Anggota komunitas menulis umumnya lebih bertahan dalam membangun kebiasaan karena adanya dorongan, umpan balik, dan rasa kebersamaan.

Kesimpulan: Perjalanan Menjadi Penulis Produktif

Bagaimana cara kita agar terbiasa menulis? Jawabannya terletak pada konsistensi, target yang realistis, dan fokus pada proses.

Tujuan di tahap awal bukan menghasilkan karya terbaik, melainkan membangun rutinitas yang berkelanjutan.

Jadi, penulis yang produktif tidak lahir begitu saja. Mereka dibentuk melalui kebiasaan harian yang dilakukan terus-menerus.

Temukan lebih banyak tips menulis di maheng.net.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.