Cara Tetap Bisa Menulis Ketika Tidak Mood (Tetap Produktif)
Bagaimana cara tetap bisa menulis ketika bad mood, atau bahkan saat hidup lagi berantakan?
Bagaimana saya bisa tetap produktif merilis belasan artikel dalam bulan Januari ini? Jawaban saya mungkin akan mengecewakan kamu: saya melakukannya sering tanpa mood.
Bahkan saat menyusun draft yang sedang kamu baca ini, mood saya benar-benar sedang berantakan. Tapi saya tetap berusaha menulis, berjuang menyelesaikan draft ini sampai bisa kamu baca.
Lalu kenapa saya tetap komitmen dan konsisten menulis? Karena menunggu mood adalah jebakan paling mematikan buat siapa pun yang ingin serius di dunia tulis-menulis.
Coba bayangkan kalau dokter menunggu mood sebelum menangani pasien—meski sering terjadi di Konoha. Atau pilot menunggu inspirasi sebelum me-landing-kan pesawat. Yang terjadi adalah bencana.
Begitu juga dengan menulis.
Kalau kamu benar-benar ingin jadi penulis, atau setidaknya sedang berada di fase serius ingin menulis, maka mindset-nya bukan lagi soal “aku lagi mood atau tidak”, tapi soal tanggung jawab.
Bukan cuma tanggung jawab pada pembaca, tapi juga pada diri sendiri. Menulis bukan hanya untuk menyembuhkan orang lain, ia sering kali untuk menyelamatkan diri sendiri.
Kenapa Menunggu Mood Itu Berbahaya?
Mood itu Tidak Stabil
Perasaan manusia itu cair, ia berubah secepat cuaca di pesisir Ketapang, Kalimantan Barat.
Pagi ini kamu mungkin merasa bisa menaklukkan dunia, tapi satu jam kemudian, sebuah pesan singkat dari dia karena lupa pamit lalu ketiduran bisa merusak segalanya.
Jika tulisanmu sepenuhnya bergantung pada variabel eksternal yang tidak stabil, kamu hampir pasti tidak akan pernah menyelesaikan apa pun. Menulis saat emosi sedang naik-turun justru merupakan ujian; apakah kamu mengendalikan diri dan perasaanmu, atau perasaanmu yang mendikte karyamu?
Menulis ketika tidak mood bukan tanda kamu penulis buruk. Itu tanda kamu manusia.
Prokrastinasi Berkedok Idealisme
Kita sering beralasan "nggak ada inspirasi" atau "ingin hasil yang sempurna" padahal sebenarnya itu hanyalah upaya penundaan (prokrastinasi) yang dipoles dengan kata-kata indah.
Saya pernah menulis tentang Cara Menulis Meski Hidup Biasa Saja , inspirasi tidak datang kepada mereka yang menunggu, melainkan kepada mereka yang tetap mengamati dan bekerja di tengah pengabaian.
Hidup biasa saja pun layak ditulis. Sama seperti tulisan yang lahir dari bad mood pun tetap layak dan valid. Inspirasi sering datang setelah kita mulai, bukan sebelum.
Bagaimana Strategi Teknis Agar Tetap Bisa Menulis Ketika Tidak Mood?
Ritual "Pemanasan"
Jangan langsung menulis naskah berat. Itu seperti lari sprint tanpa pemanasan. Mulailah dengan journaling , atau menulis apa pun selama 5–10 menit.
Teknik ini berfungsi seperti pemanasan atlet sebelum bertanding.
Dengan menulis bebas, kamu sedang membuka keran ide yang mungkin tersumbat oleh keraguan. Kamu bisa menerapkan teknik struktur naratif setelah tanganmu sudah terasa ringan untuk bergerak.
Tentukan Target Kecil (Micro-Goals)
Salah satu penyebab utama tidak menulis adalah target yang kebesaran. Kita ingin artikel selesai, ingin sempurna, ingin langsung publish. Akhirnya, tidak mulai sama sekali.
Turunkan targetnya.
Bukan satu artikel. Jangan langsung 1000 kata. Cukup 100 kata dulu. Atau dua paragraf.
Target kecil ini menghilangkan tekanan mental. Sering kali, setelah 100 kata pertama terlewati, otak akan "panas" secara otomatis dan tanpa sadar kamu sudah menulis ribuan kata.
Kekuatan "Anchor" (Jangkar Sistem)
Otak manusia butuh "saklar" untuk berpindah mode. Saya sering menggunakan musik sebagai jangkar. Kalau kamu butuh suara kitab suci juga nggak masalah.
Coba menulis sambil mendengarkan satu lagu yang diputar berulang-ulang (on repeat), atau saat sedang memakai komputer dengan warna keyboard yang kamu suka dan duduk di kursi tertentu.
![]() |
| Dulu di Jogja atau kini di Kalimantan, menulis adalah sistem, bukan sekadar menunggu mood. |
Ini bisa menciptakan pengkondisian, membentuk komitmen atau menciptakan sistem: jika lagu ini mengalun, berarti tangan harus bergerak, tidak peduli seberapa hancur hatimu hari itu. Lagu itu menjadi perintah buat otak untuk segera bekerja.
Foto di atas adalah potret saya beberapa tahun lalu saat masih di Jogja. Jika kamu teliti, hampir semua benda di foto itu sekarang sudah tidak ada. Mejanya sudah berganti, komputernya sudah entah ke mana.
Namun, ada satu hal yang tetap saya bawa pindah ke Kalimantan: sistemnya.
Foto ini adalah bukti bahwa 'jangkar' menulis itu bukan soal bendanya, tapi soal keputusan untuk tetap duduk dan mengetik, tidak peduli lagi mood atau tidak.
Siapkan Lingkungan yang Steril
Mood sering kalah bukan karena kita lemah, tapi karena lingkungan berisik. Iklan flash sale, notifikasi masuk, dihantui drama China CEO yang nyamar jadi security perusahaan—otak terpecah.
Matikan semua notifikasi (menulis tanpa internet lebih baik). Indonesia tidak akan bubar jika kamu menghilang selama 60 menit untuk menulis.
Lingkungan yang steril memastikan bahwa satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan saat itu adalah menghadapi layar laptop atau kertas di depanmu.
Menulis sebagai Terapi dan Disiplin
Metode "Write-to-Think", Bukan "Think-to-Write"
Kesalahan umum penulis adalah menunggu pikiran jernih baru menulis. Padahal, menulis justru alat untuk menjernihkan pikiran.
Kalau kamu benar-benar tidak tahu harus menulis apa, ketik saja kalimat ini: “Saya tidak tahu mau menulis apa, tapi saya harus tetap duduk di sini untuk menulis…”
Ulangi terus sampai pemerintah menetapkan bencana ekologis di Sumatera jadi bencana ekologis nasional.
Para penulis kondang sering menyebut metode ini sebagai write-to-think. Menulis bukan hasil dari pikiran rapi. Ia proses merapikan pikiran.
Penutup: Menulis adalah Cara Merilis
Pada akhirnya, tulisan yang lahir di masa-masa tersulit kita sering kali justru punya nyawa paling kuat. Bukan karena teknisnya sempurna, tapi karena ia jujur. Dan pembaca bisa merasakannya.
Menulis saat tidak mood bukan soal memaksa diri. Ini soal memilih bertahan. Berjuang. Duduk. Mengetik. Merilis. Memberi ruang buat diri sendiri untuk bernapas lewat kata.
Jangan menunggu mood untuk menulis. Menulislah sampai kamu lupa bahwa kamu sedang tidak mood.


Leave a Comment