Ada Nama yang Sengaja Saya Hilangkan dari Buku Masalembu
Menulis buku nonfiksi bukan sekadar memindahkan rekaman wawancara ke atas kertas.
Ia adalah proses menyusun kepingan kenyataan yang sering kali tajam dan melukai tangan penulisnya sendiri.
Dalam perjalanan riset dan menulis buku Masalembu: Safarnama Membekas di Jantung Nusantara, saya nggak hanya bertaruh nyawa di atas gelombang Laut Jawa yang sengaja dibuat angker, tetapi juga bertaruh nurani pada setiap nama yang saya catat dalam "notes" saya.
Masalembu adalah wilayah yang nggak mudah. Di sana, informasi nggak datang semudah mengetik kata kunci di mesin pencari.
Ia harus dijemput dengan duduk berjam-jam di dermaga, meminum kopi yang dingin disapu angin laut, dan membangun kepercayaan dengan warga lokal.
Dalam keterasingan itulah, bantuan sekecil apa pun terasa seperti wahah.
Tangan yang Membuka Pintu
Saya ingat betul bagaimana sulitnya menembus tabir sejarah Daeng Marala, sosok yang diyakini sebagai salah satu tetua pembuka Pulau Masalembu.
Di pulau terpencil, sejarah sering kali hanya tersimpan dalam ingatan yang memudar yang disampaikan dari mulut ke mulut.
Di titik buntu itu, saya bertemu dengan seseorang, sebut saja ia si informan kunci.
Ia adalah orang yang sangat membantu. Ia membukakan pintu-pintu yang tadinya tertutup buat saya. Ia mengenalkan saya pada narasumber lain, mengantar saya menyisir beberapa bagian pulau, hingga menunjukkan letak makam kuno yang dikeramatkan di tepi pantai.
Tanpa bantuannya, beberapa bagian dalam buku Masalembu mungkin akan hambar atau kehilangan konteks pentingnya.
Sebagai penulis travelogue yang terbiasa dengan etika jurnalisme dan disiplin verifikasi seperti yang diajarkan guru saya, Andreas Harsono, saya merasa berutang budi.
Aturan mainnya jelas: setiap bantuan harus diapresiasi, setiap narasumber harus diberi atribusi.
Namanya sudah saya tulis dengan rapi di draf naskah. Saya bahkan berencana menyiapkan satu paragraf khusus di bagian ucapan terima kasih untuk menghargai jasanya.
Namun, sebuah informasi yang pekat menghantam saya.
Pukulan di Tengah Laut
Berita itu datang tanpa permisi.
Lewat sebuah percakapan, tangisan, amarah, dan kesaksian yang tertatih-tatih, saya menemukan fakta bahwa laki-laki yang banyak membantu saya ini adalah seorang terduga pelaku kekerasan seksual.
Dunia saya rasanya runtuh lebih hebat daripada saat kapal dihantam ombak besar di perairan Masalembu. Ada rasa pusing yang nggak bisa dijelaskan dengan istilah medis.
Orang yang saya anggap sebagai "pemandu" ini ternyata adalah terduga predator yang meninggalkan trauma mendalam buat orang lain.
Di sinilah dilema itu muncul. Sebagai penulis, saya merasa berutang budi pada informasinya. Namun, sebagai manusia, saya berdiri tegak di pihak penyintas.
Ada suara yang sempat muncul, entah dari luar atau dari dalam kepala saya sendiri: informasi sejarahnya valid, urusan pribadinya bukan urusan buku ini.
Tapi hati nurani saya meneriakkan hal yang berbeda.
Jika saya mencantumkan namanya, apalagi dengan nada apresiasi, bukankah saya sedang membangun monumen buat seorang terduga penjahat kelamin?
Bukankah saya sedang mencuci tangannya lewat literasi?
Menghapus Jejak, Menjaga Marwah
Saya mengambil keputusan yang nggak bisa ditawar. Saya menyisir ulang naskah saya yang setebal ratusan halaman itu. Saya mencari setiap penyebutan namanya.
Satu malam yang penuh gelisah, saya menghubungi tim penerbit jam sebelas malam. Saya tahu saya nggak sopan.
Saya meminta Literatus Pustaka untuk menghapus namanya. Karena nggak ada informasi yang harganya sebanding dengan kesembuhan seorang penyintas.
Apalagi, dari nada percakapan itu, saya tahu ini bukan cerita yang pertama.
Saya nggak ingin buku ini, yang saya tulis dengan peluh, jadi tempat persembunyian yang nyaman buat seorang terduga predator.
Literasi Bukan Tempat Cuci Tangan
Banyak orang menganggap bahwa tulisan haruslah objektif, bahwa urusan moral penulis harus dipisahkan dari data lapangan.
Saya nggak sepakat.
Menulis adalah tindakan politis sekaligus tindakan moral.
Saya menyadari, memberi panggung kepada orang yang merampas ruang aman sesamanya berarti ikut memperpanjang kekerasan itu.
Senggaknya, itulah yang saya rasakan ketika membayangkan namanya tetap tercetak rapi di buku ini.
Meski saya sadar, penghapusan nama dia nggak akan menyembuhkan luka penyintasnya. Namun, paling nggak, saya memastikan bahwa karya intelektual saya nggak ikut mengkhianati penderitaan mereka.
Saya nggak ingin royalti yang saya terima, personal branding saya naik, atau apresiasi yang buku ini dapatkan nanti, mengandung sisa-sisa keringat dari orang yang merusak hidup orang lain.
Keputusan ini mungkin merepotkan tim Literatus Pustaka. Ia mungkin mengubah alur narasi yang sudah tertata.
Tapi buat saya, marwah sebuah buku nggak terletak pada selengkap apa narasumbernya, melainkan pada sejujur apa nurani penulisnya saat menyusun kata demi kata.
Sesudah Semua Ditulis
Buku Masalembu: Safarnama Membekas di Jantung Nusantara segera terbit.
Buku ini adalah upaya merekam wajah lain Masalembu yang selama ini sengaja dibuat angker oleh desas-desus.
Di dalamnya, kamu akan membaca tentang sejarah, tentang gelombang, tentang pantai, dan tentang manusia-manusia tangguh di pinggiran Indonesia.
![]() |
| Suasana Pantai Masna, Pulau Masalembu saat air laut surut. (Foto: Dok. Rora). |
Namun, ada satu hal yang nggak akan kamu temukan di sana: nama laki-laki itu.
Biarlah nama itu hilang ditelan ombak, sebagaimana kita berharap segala bentuk kekerasan juga hilang dari muka bumi.
Saya lebih memilih memiliki naskah yang "cacat" secara atribusi daripada memiliki jiwa yang cacat karena bersekutu dengan terduga pelaku kekerasan lewat kata-kata.
Ada nama yang hilang dari buku ini. Saya menghapusnya bukan karena lupa, tapi karena memilih.
Sebab buat saya, literasi yang paling berbahaya adalah yang rapi secara data, tapi busuk secara nurani.


Leave a Comment