Ragunan, Sikatan Emas, dan Pertarungan Hidup: Mencari Arti Kebebasan di Jakarta
Jarak antara Siberia dan Jakarta Selatan adalah sekitar sepuluh ribu kilometer.
Buat manusia modern, itu berarti penerbangan dua belas jam, dua kali transit, dan timbunan jet lag yang membuat kepala berat dua hari.
Lain cerita buat Burung Sikatan Emas (Ficedula narcissina).
Burung kecil dengan panjang tubuh hanya tiga belas sentimeter dan berat tidak lebih dari lima belas gram. Buat makhluk sekecil itu, perjalanan sejauh ini adalah kewajiban.
Bukan pilihan. Itu urusan hidup dan mati. Naluri yang tidak bisa ditawar.
Setiap tahun, ia terbang dari dinginnya Siberia atau Asia Timur Laut menuju hutan-hutan tropis Indonesia, salah satunya di Taman Margasatwa Ragunan.
Saya mempelajari ini bukan dari buku biologi, tetapi dari Robithotul Huda, yang lebih sering saya panggil Mas Huda, General Manager International Animal Rescue (IAR) Indonesia.
Sabtu pukul lima pagi, 15 November 2025, ia membawa saya bersama tim kecil berisi Kempleng, Skeep, dan Nike untuk hunting foto Burung Sikatan Emas di Ragunan.
Sebagai orang yang bukan morning person, saya berkali-kali meminta tolong Nike menggedor pintu kamar supaya tidak ditinggal. Perjalanan dari Ciapus di Bogor ke Ragunan di Jakarta Selatan memakan waktu lebih dari satu jam.
Jika macet di Tol Jagorawi, waktu itu bisa berlipat.
Setiba di lokasi, kami kepagian. Ragunan belum buka.
Mas Huda, Kempleng, dan Skeep sudah siap di parkiran dengan kamera yang harganya lebih mahal dari rumah orang tua saya. Mereka memotret burung-burung yang mengawali pagi di pepohonan sekitar parkir.
Begitu gerbang Ragunan dibuka pukul tujuh, kami bergerak ke sisi timur, titik kumpul para birder—sebutan untuk orang-orang yang hobi memotret burung. Banyak lensa panjang, tripod, dan wajah-wajah penuh ekspresi.
Mas Huda sempat berkelakar sambil menunjuk kamera salah satu birder. “Ada yang sampai jual mobil demi kamera.”
Saya tertawa, meski dalam hati bertanya apa yang membuat seseorang berkorban begitu besar untuk mengabadikan satu burung kecil. Jawabannya ada di tangan orang-orang itu.
Mungkin mereka mengejar keindahan sebuah kebebasan yang makin sulit didapatkan manusia modern.
Di bawah rindangnya pepohonan dekat kolam buaya, puluhan orang dengan lensa tele raksasa sudah mengelilingi satu titik. Mereka mengobrol, lalu hening, lantas menunggu. Sesekali terdengar klik rana di antara langkah para pelari pagi.
“Itu dia,” kata seseorang.
Saya mengikuti arah telunjuknya. Seekor burung kecil berwarna kuning emas dengan punggung hitam hinggap di ranting. Burung Sikatan Emas jantan. Cantik. Mungil.
![]() |
| Sikatan Emas hasil jepretan Robithotul Huda di Ragunan |
Dalam tubuh seberat tiga sendok teh gula itu tersimpan kekuatan untuk terbang ribuan kilometer melintasi lautan, gunung, dan badai.
Mas Huda menjelaskan bahwa burung ini datang karena musim dingin membuat serangga yang jadi makanan mereka sulit ditemukan. Jika tidak terbang ke sini, mereka bisa tutup usia.
Ini survival. Dorongan naluriah, bukan pilihan. Dan buat para birder, foto itu adalah bukti dari sebuah perjuangan kecil yang heroik.
Setelah beberapa menit, saya dan Nike memutuskan berkeliling Ragunan.
Kami ingin melihat satwa yang sebenarnya sudah akrab buat kami, bukan semata karena pekerjaan di lembaga
konservasi tetapi juga karena rumah kami berada tidak jauh dari hutan.
Kami berhenti di kandang orangutan Kalimantan. Satu individu betina duduk di dekat enrichment, makan buah dengan lahap. Kandangnya bersih, luas, dengan tali-tali untuk berayun. Dari segi kesejahteraan satwa, ini standar yang baik.
“Baguslah hewannya sejahtera,” kata Nike sambil memotret.
Saya menatap orangutan itu lebih lama.
“Sejahtera tapi dikurung, sama saja,” sahut saya.
Nike menoleh. “Untuk edukasi.”
Saya mengangguk. Mungkin benar. Kebun binatang memiliki fungsi konservasi ex-situ. Mereka menjaga populasi cadangan, sumber genetik, dan pendidikan publik. Mereka memberi makanan, tempat tinggal, perawatan, dan keamanan.
Ini yang saya maksud dengan konsep Kandang Emas.
Filosofi IAR, sebaliknya, sama sekali berbeda dengan konsep Kandang Emas.
IAR mengambil satwa dari kandang, perdagangan ilegal, atau rumah manusia, lalu melatihnya kembali agar memiliki naluri yang sama seperti Sikatan Emas: kembali ke habitat alami, betapapun jauh dan berbahayanya perjalanan itu.
IAR tidak ingin orangutan menjadi hewan yang hanya makan dengan lahap di enrichment kandang, dengan nasib sepenuhnya ditentukan manusia.
IAR ingin mereka menjadi Sikatan. Kecil, rentan, tetapi punya kemauan untuk kembali ke "rumah" sejati, berapa pun risiko dan kelelahan yang harus dibayar.
Nasib satwa di kebun binatang tidak jauh dari nasib manusia modern. Kita punya makanan, tempat tinggal, perawatan kesehatan kulit, tetapi sering kali kehilangan satu hal: kebebasan.
Mungkin dalam beberapa hal, kita semua hidup dalam kandang emas versi kita. Kandang yang kita bangun sendiri. Kandang bernama kenyamanan, rutinitas, dan zona aman.
Setelah melihat musang, luwak, singa, harimau, hingga gajah, kami sarapan pecel dan memesan es kopi untuk melepas lelah. Kami kembali ke titik kumpul birder menjelang siang.
Burung Sikatan Emas masih terlihat. Para birder datang dan pergi, bergantian, dengan kamera yang sama mahalnya.
Mas Huda cerita bahwa hobi memotret burung ini baru berkembang beberapa tahun terakhir. Menariknya, Burung Sikatan Emas hanya muncul setahun sekali sebelum kembali ke tempat asalnya.
Saya duduk di jalan paving tempat orang-orang hilir mudik. Sesekali menatap buaya yang berenang tanpa arah. Saya memikirkan burung itu yang tidak punya pilihan. Ia harus terbang sepuluh ribu kilometer. Itu dorongan genetik yang tidak bisa ia lawan.
Tapi manusia punya pilihan. Dan sering kali, justru pilihan itulah yang membuat hidup menjadi rumit.
Kami pulang ketika matahari sudah menyengat. Mas Huda duduk di kursi depan dan tiba-tiba bertanya, “Lagu apa, nih?”
“Bebas,” jawab Nike.
Mas Huda langsung mencarinya. Mengetik kata “bebas” di aplikasi streaming. Lagunya ada, tapi entah kenapa tidak satu pun dari kami benar-benar bisa menikmatinya. Skeep tetap fokus mengemudi, mobil melaju stabil, dan saya memilih tidur di kursi paling belakang.
Saat terbangun, lalu lintas sudah padat. Ketika mobil mendekati Ciapus, hujan turun deras. Udara terasa lebih dingin, seperti menyapu sisa panas dari Ragunan.
Di situ saya sadar satu hal. Burung Sikatan Emas terbang sepuluh ribu kilometer bukan untuk gagah-gagahan. Ia hanya ingin hidup. Sementara kita, yang hidup dalam kenyamanan, sering bingung menentukan arah. Bahkan sesederhana memilih judul lagu pun bisa terasa ragu-ragu.
Mungkin memang begitu. Mungkin manusia tidak pernah benar-benar bebas. Atau barangkali kita hanya sedang belajar menerima bahwa kebebasan yang kita cari bentuknya tidak sesederhana memutar lagu di aplikasi streaming.
Burung Sikatan Emas terbang sejauh itu karena ia harus hidup. Kita tidak perlu terbang ke mana pun. Kita hanya perlu memilih.
Dan lucunya, makhluk sekecil itu tampak lebih tegas tentang apa yang ia pilih dibanding banyak dari kita yang merasa paling berakal.



.jpg)
Leave a Comment