Cara Menulis Isu Sosial Tanpa Terjebak Propaganda
Menurut keyakinan saya, saat ini semua orang memiliki "megafon".
Salah satunya adalah media sosial yang memungkinkan kita berteriak tentang ketidakadilan, mulai dari bencana ekologis di Sumatera hingga isu hak asasi manusia di pelosok timur Indonesia.
Namun, ada perbedaan besar antara "berteriak" dan "bersuara".
Buat penulis yang memiliki keresahan sosial, oke, kita sebut saja activist writer, tantangan terbesarnya bukan pada menemukan isu, melainkan bagaimana menyuarakannya.
Bagaimana kita menulis tentang ketidakadilan tanpa terdengar seperti pamflet propaganda yang membosankan? Bagaimana kita menggerakkan hati pembaca tanpa memanipulasi emosi mereka?
Tulisan ini adalah refleksi personal dari perjalanan saya menulis di berbagai medium, sebuah upaya menyeimbangkan disiplin jurnalisme yang ketat dengan api aktivisme yang masih menyala.
Menarik Garis Batas: Advocacy Writing vs. Propaganda
Hari ini saya tersadar saya sudah terjebak. Niat hati ingin membela kaum marjinal, tapi tulisan yang lahir justru penuh amarah, teriak-teriak, dan akhirnya hanya dibaca oleh mereka yang sudah sepemikiran dengan saya (echo chamber).
Di sinilah pentingnya membedakan antara Advocacy Writing (Penulisan Advokasi) dengan Propaganda.
Propaganda bekerja dengan cara menyederhanakan dunia menjadi hitam dan putih. Ia menyembunyikan fakta yang tidak mendukung narasi, memanipulasi ketakutan, dan mendikte pembaca tentang apa yang harus dipikirkan.
Propaganda tidak membutuhkan "kebenaran" yang utuh; ia hanya butuh kepatuhan.
Sedangkan Advocacy Writing, khususnya dalam bingkai jurnalisme sastrawi, bekerja dengan menyajikan "kebenaran" yang kompleks.
Penulis advokasi percaya bahwa jika realitas ketidakadilan disajikan dengan jujur, lengkap, dan manusiawi, nurani pembaca akan bergerak dengan sendirinya.
Propaganda memberi tahu pembaca apa yang harus dipikirkan. Tulisan advokasi menunjukkan mengapa hal itu penting untuk dirasakan.
Sebagai penulis, tugas kita bukan jadi "hakim" yang memvonis siapa yang "salah," melainkan menjadi "saksi" yang menuturkan apa yang terjadi di lapangan dengan integritas tinggi.
Tentu, kita tetap boleh berpihak.
Riset yang Kredibel: Pondasi Suara yang Kuat
Tulisan sosial yang buruk biasanya dimulai dari asumsi, bukan data. Mentang-mentang kita "berpihak pada rakyat", kita merasa boleh abai pada akurasi. Ini fatal. Satu kesalahan data bisa menghancurkan kredibilitas seluruh argumen perjuangan kita.
Untuk menulis isu sosial yang powerful, metode riset "Triangulasi Sederhana" dapat dijadikan pegangan awal:
1. Data Makro (Statistik dan Regulasi): Sebelum turun ke lapangan, pahami dulu konteks strukturalnya. Berapa angka kerusakan hutan di sana? Apa undang-undang yang dilanggar? Data ini memberikan "tulang punggung" logis pada tulisanmu.
2. Observasi Lapangan (Sensory Details): Di sinilah kekuatan artikel featuremu bermain. Jangan cuma bilang "banjir ini bikin Aceh Tamiang hancur". Tuliskan bagaimana lumpur yang menggunung menempel di baju anak-anak, bagaimana tekstur makanan yang mereka makan, atau bagaimana bunyi mengaji memecah keheningan malam dengan penerangan dari panyot. Detail inderawi membuat isu sosial jadi lebih punya rasa.
3. Suara Subjek (Human Voice): Biarkan mereka bicara. Kutipan langsung dari masyarakat terdampak jauh lebih kuat daripada ribuan kata opini penulis. Dengarkan keluhan mereka, harapan mereka, bahkan ketakutan mereka.
Kombinasi ketiga hal ini akan menghasilkan tulisan yang sulit dibantah. Pembaca atau pihak terkait mungkin bisa mendebat tulisanmu, tapi mereka akan kesulitan mendebat fakta lapangan dan data yang kamu sajikan dengan detail.
Seni Persuasi: Menulis Tanpa Memanipulasi
Bagaimana cara membuat pembaca peduli pada isu yang jauh dari keseharian mereka? Kuncinya adalah empati, bukan sekadar simpati.
Simpati menempatkan pembaca di posisi yang lebih tinggi ("Kasihan ya warga Aceh"). Tapi rasa ini akan cepat hilang seiring munculnya isu yang lain.
Empati menempatkan pembaca setara dengan subjek ("mereka bisa bayangin jika ini terjadi pada mereka").
Untuk mencapai titik ini, hindari bahasa yang manipulatif atau victimizing (menempatkan subjek semata-mata sebagai korban tidak berdaya).
Sebaliknya, tunjukkan ketahanan (resilience) mereka. Tunjukkan bahwa di tengah ketidakadilan, masih ada martabat yang mereka pertahankan.
Teknik lain yang efektif adalah apa yang disebut dengan "Vulnerable Writing" (Menulis dengan Kerentanan).
Jangan ragu menunjukkan keraguan atau proses belajar kamu sebagai penulis. Mengakui bahwa kita adalah orang luar (outsider) yang sedang belajar memahami masalah justru membangun kepercayaan pembaca.
Pembaca lebih suka "diajak mencari kebenaran bersama" daripada "diceramahi tentang kebenaran".
Studi Kasus: Dari Papua hingga Teras Merapi
Berikut adalah dua pendekatan berbeda yang pernah saya lakukan dalam mengangkat isu sosial:
Isu HAM dan Keberagaman: Pendekatan Historis-Humanis
Saat menulis tentang isu Papua dan dialog antariman, tantangannya adalah stigma dan stereotip. Jika saya menulis dengan nada provokatif, tulisan itu hanya akan menambah bensin dalam api.
Dalam artikel saya di Interfidei, saya memilih pendekatan bridging (menjembatani).
Saya tidak memulai dengan menyalahkan satu pihak, tetapi menggali sejarah, trauma kolektif, dan upaya-upaya kecil yang mungkin sering luput dari kita dan media massa.
Dengan fokus pada human stories, tulisan tersebut menjadi undangan untuk refleksi, bukan provokasi.
Isu Lingkungan: Pendekatan Narasi Personal
Isu lingkungan seringkali terasa kering jika hanya bicara soal emisi karbon atau data kerusakan lahan. Kita perlu "mengalami" alam.
Dalam tulisan saya di Medium, saya menggunakan bingkai perjalanan wisata (glamping) di lereng Merapi.
Awalnya mungkin terlihat seperti ulasan wisata biasa, namun perlahan saya mengupas lapisan di bawahnya: bagaimana pariwisata massal menggerus sakralitas gunung dan mengancam ekosistem.
![]() |
| Berawal dari wisata, berakhir jadi refleksi kritis. (Foto: Dok. Mahéng) |
Dengan mengajak pembaca "berwisata" terlebih dahulu lewat tulisan, saya bisa menyusupkan kritik sosial tentang komodifikasi alam secara lebih halus namun menohok.
Ini membuktikan bahwa travel writing (safarnama) bisa menjadi senjata baru untuk advokasi lingkungan.
Memilih Medan Tempur: Platform Mana yang Efektif?
Terakhir, di mana tulisan seperti ini harus dimuat?
- Blog Pribadi (Personal Blog): Seperti Maheng.net, ini adalah rumah terbaik untuk membangun arsip pemikiran jangka panjang dan personal branding sebagai penulis serius. Kamu punya kendali penuh atas editorial.
- Medium: Sangat bagus untuk menjangkau audiens internasional atau komunitas spesifik yang mencari tulisan mendalam (long-form).
- Media Massa/Pers Mahasiswa: Efektif untuk isu yang membutuhkan validasi publik segera.
Kesimpulan: Menulis adalah Merawat Gema
Satu tulisan advokasi dari kamu mungkin tidak akan langsung mengubah kebijakan negara atau menghentikan tambang ilegal.
Tetapi, itu sudah jadi tanda keberpihakan.
Kita boleh berpihak. Bahkan kita harus. Namun keberpihakan tanpa disiplin verifikasi hanya akan melahirkan kebisingan baru.
Dunia tidak kekurangan orang yang marah pada ketidakadilan.
Yang langka adalah penulis yang mau bersabar, turun ke lapangan, memeriksa data, dan tetap jadi manusia saat menuliskannya.
Di titik itulah tulisan berhenti dari teriakan, dan mulai jadi gema.


Leave a Comment