A. M. Safwan: Mengenang Guru yang Mengajarkan Berbeda Pendapat dengan Cinta
"Menurut saya, saya benar. Dan kamu salah. Tapi saya menyayangimu."
Kalimat itu pertama kali saya dengar di sebuah kelas epistemologi, dari seorang ustadz yang menjelaskan “hukum identitas” dengan cara yang nggak pernah saya bayangkan bisa dilakukan siapa pun.
Bahwa ketajaman logika dan keluasan cinta kasih bisa berdiri dalam satu napas, tanpa saling menyisih.
Saya menyimpan kalimat itu lama di hati saya. Mungkin terlalu lama sampai saya lupa mengucapkan terima kasih kepada yang mengajarkannya.
Semalam, perjalanan menuju pusat Kabupaten Ketapang terasa lebih panjang dari biasanya. Ada yang mengganjal di kepala, firasat yang nggak bisa saya jelaskan, tapi terasa.
Bahkan ketika saya bertukar pesan dengan Ayas. Balasannya terasa berbeda.
Sekitar jam sepuluh malam, kabar itu akhirnya datang.
Andi Muhammad Safwan, guru saya, pukul 19:16, telah berpulang.
Yang muncul di kepala saya bukan serangan jantung yang dideritanya. Yang muncul adalah sebuah sore di Gang Pandawa Wreksa, lokasi Pondok Pesantren Mahasiswa Madrasah Mutahhari Yogyakarta.
Sore yang sekarang nggak bisa saya ulang.
Entah kenapa, dari ingatan itu, saya justru teringat satu momen lain.
Ada satu foto lama, foto saya berdiri di depan kelas di Madrasah Mutahhari, mencoba menjelaskan sesuatu yang sekarang bahkan saya sendiri lupa.
Mungkin tentang Kant dan Al-Ghazali.
|
| Mahéng presentasi di Madrasah Mutahhari, Yogyakarta, menjelaskan argumen di depan santri. (Foto: dok. Mahéng) |
Tapi yang nggak hilang justru siapa yang mendengarkan saya waktu itu—dan cara beliau membantu saya.
Saya masih ingat samar-samar, ketika saya mulai gagap dan argumen saya dipertentangkan oleh audiens, beliau masuk seperti merapikan sesuatu yang saya sendiri belum sempat susun.
“Mungkin maksud Mahéng begini...”
Saya nggak ingat persis kalimatnya.
Tapi saya ingat setiap santri memang diminta presentasi pada momen tertentu untuk menguji pemahaman, lalu dipertentangkan oleh santri lain.
Dan di momen seperti itu, saya belajar bahwa yang kita sebut guru bisa jadi seseorang yang menahan kita supaya nggak jatuh saat sedang belajar berdiri.
Pada kesempatan lain, saya datang untuk menemui seorang santri senior. Kami bertemu di sebuah burjo nggak begitu jauh dari pondok. Di depan pintu, ada santri lain yang bertanya, "Nggak mau ketemu Ustadz?"
Saya menggeleng.
Bukan karena nggak rindu dengan guru. Tapi saya merasa nggak layak. Merasa dosa saya terlalu banyak, sementara ilmu yang pernah beliau titipkan justru semakin menyusut dari diri saya.
Saya pikir nanti saja, kalau sudah siap, kalau sudah lebih baik.
Sekarang saya jadi ngerti: siap nggak siap, nggak ada nanti. Dan "lebih baik" adalah alasan yang paling sering kita pakai untuk menunda.
Seandainya saya masuk ke pondok waktu itu, mungkin itu akan menjadi momen terakhir saya mencium tangan guru saya.
Saya punya empat guru yang namanya, secara ajaib, hampir semuanya dimulai dengan huruf yang sama, huruf A.
Tiga dari mereka, nama depannya memang A. Yang satu, nama resminya dimulai dengan M. Tapi belum pernah saya dengar ada orang yang memanggilnya Muhammad.
Orang-orang memanggilnya Amin.
M. Amin Abdullah membuka jendela sosiologis di kepala saya dan mengajarkan bahwa agama dan ilmu pengetahuan bukan dua musuh yang harus dipisahkan. Sivitas UIN Sunan Kalijaga sudah akrab dengan konsep integrasi-interkoneksinya.
Abdurrahman Wahid, yang lewat Komunitas GUSDURian Jogja, mengajarkan saya bahwa jadi manusia yang utuh berarti berani merangkul mereka yang berbeda, bukan karena terpaksa, tapi karena memang itulah cara hidup manusia.
Andreas Harsono mengajarkan bahwa menulis adalah disiplin verifikasi. Bahwa fakta harus dikejar sampai ke akarnya, dan tulisan yang baik bukan sekadar yang paling indah bunyinya, tapi yang paling kuat pertanggungjawaban dan empatinya.
Dan Andi Muhammad Safwan, yang meletakkan fondasi cara saya berpikir. Yang memperkenalkan Teori Disposesi dalam epistemologi Muhammad Baqir as-Sadr.
Yang mengajarkan bahwa kita boleh yakin pada kebenaran kita, tapi nggak boleh membenci mereka yang berdiri di barisan seberang.
Keempat nama itu dimulai dari A, atau alif—tanpa menafikan yang lain—telah menjadi semacam kompas dalam hidup saya. Dan kini dua dari mereka sudah selesai menunaikan tugas mereka di dunia.
Barangkali ini hanya kebetulan. Tapi bahkan pasangan saya sekarang pun dimulai dari huruf yang sama: A. Ayas.
Ustadz Safwan adalah pengagum Gus Dur. M. Amin Abdullah adalah penerjemah intelektual dari kegelisahan Gus Dur tentang pluralisme. Dan Andreas Harsono adalah representasi dari kelompok yang selama hidupnya selalu dibela oleh Gus Dur.
Sebagai penulis buku, saya belum berencana menulis buku khusus tentang mereka. Rasanya itu bukan cara yang tepat untuk membayar jasa mereka buat hidup saya.
Mungkin cara saya membayarnya adalah dalam setiap esai yang saya tulis dengan nilai yang mereka wariskan, setiap kali saya memilih untuk tetap mengasihi seseorang yang berbeda pandangan dengan saya, setiap kali saya memilih verifikasi daripada kecepatan, di situ mereka masih hidup, dengan cara yang mungkin lebih awet daripada ucapan bela sungkawa di media sosial.
Selamat jalan, Ustadz.
Maaf, dulu saya memilih berdiri di luar pintu pondok karena merasa diri nggak layak.
Padahal saya rasa, ustadz sudah mengamalkan jawabannya sejak lama, bahkan sebelum saya sempat bertanya.
Menurut saya, saya benar. Dan kamu salah. Tapi saya menyayangimu.
Rupanya kalimat itu bukan hanya pelajaran epistemologi. Itu cara guru mencintai murid yang memilih berdiri di luar, ragu mengetuk, sampai pintu itu tertutup selamanya.

Leave a Comment