Pelajaran dari M. Amin Abdullah yang Baru Saya Pahami sebagai Penulis
Ada satu dosa kecil yang sering dilakukan mahasiswa: meremehkan kehadiran seorang guru saat ia masih berdiri tepat di depan hidung kita.
Saya baru menyadari dosa itu sepuluh tahun kemudian, saat menatap sebuah foto di layar laptop yang pecah dan kabur.
Sebuah potret tahun 2016 yang membuktikan bahwa saya pernah berada di orbit seorang pemikir besar bernama M. Amin Abdullah, namun saat itu saya lebih memilih untuk nggak peduli.
Foto itu saya temukan kembali setelah mengotak-atik beranda Facebook lama saya. Tertanggal 27 April 2016.
![]() |
| Foto yang saya unggah di Facebook pada 27 April 2016. (Foto: Dok. Istimewa) |
Di sana, kualitas gambarnya hancur, khas tangkapan kamera ponsel satu dekade lalu yang dipaksa bekerja dalam ruangan dengan pencahayaan seadanya.
Pak Amin berdiri agak ke kiri persis di belakang saya, dikelilingi oleh barisan mahasiswa.
Mungkin hanya kami yang ada di foto itu yang benar-benar bisa mengenali wajah kami sendiri.
Buat orang asing, itu mungkin hanya sekumpulan bayangan manusia yang nggak jelas. Bahkan, sejujurnya, saya pun sudah mulai lupa siapa saja rekan-rekan mahasiswa yang berdiri di samping saya saat itu.
Dulu, saat foto itu diambil, saya nggak pernah membayangkan betapa berharganya sebuah dokumentasi dengan seorang guru.
Kita sering kali meremehkan momen saat sedang menjalaninya, menganggapnya sebagai rutinitas kampus biasa, sampai akhirnya waktu menarik kita jauh ke depan dan meninggalkan momen itu sebagai artefak yang sulit dikenali.
Namun, meski visualnya kabur, resonansi dari pertemuan itu justru semakin jernih seiring bertambahnya usia saya sebagai penulis.
Keberuntungan di Balik "Kertas Administrasi"
Saya merasa sangat beruntung karena Pak Amin Abdullah bukan sekadar dosen yang saya temui di aula besar atau mimbar seminar.
Beliau adalah Dosen Penasihat Akademik (DPA) saya.
Dalam birokrasi kampus, beliau adalah “wali dosen” yang membimbing secara personal sekitar empat sampai lima mahasiswa per angkatan di program studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga.
Mendapatkan akses seistimewa itu untuk berkonsultasi dengan seorang pemikir sekaliber beliau adalah kemewahan yang baru saya sadari nilainya hari ini.
Dulu, sebagai mahasiswa yang mungkin lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegelisahan di luar kelas, saya harus jujur: saya nggak terlalu peduli dengan konsep “Integrasi-Interkoneksi” yang beliau gaungkan sebagai mahakarya pemikirannya.
Konsep itu terasa terlalu akademis, terlalu luas, dan mungkin terlalu berat untuk pundak mahasiswa yang saat itu lebih suka nongkrong di kantin sambil nunggu ditraktir teman yang sama-sama miskin atau sekretariat pers mahasiswa.
Saya melihat “Integrasi-Interkoneksi” hanya sebagai slogan yang entah, bukan sebagai kunci untuk melihat dunia.
Namun, ada satu hal yang selalu membuat saya kagum dan menetap di kepala saya: cara beliau berbicara.
Pak Amin memiliki kemampuan langka untuk menjelaskan teori yang paling njlimet dan filosofis sekalipun dengan bahasa yang sangat sederhana.
Beliau nggak perlu menggunakan istilah-istilah yang ndaki-ndaki untuk menunjukkan kecerdasannya.
Sebaliknya, beliau membawa teori-teori itu membumi, menyentuh realitas sehari-hari yang bisa dipahami oleh mahasiswa paling “ndablek” kayak saya sekalipun.
Tanpa saya sadari, gaya komunikasi beliau itulah yang menjadi benih pertama buat perspektif atau bahasa kerennya worldview, termasuk dalam kepenulisan saya.
Hari ini, setiap kali saya menulis esai, menulis fiksi atau nonfiksi tentang budaya yang rumit atau tema kemanusiaan dalam buku-buku saya, saya sering teringat beliau.
Saya belajar bahwa menjadi seorang penulis bukan tentang seberapa rumit kita berbicara, tapi seberapa jernih kita bisa membuat orang lain paham.
Pintu Gerbang Menuju Rausyan Fikr
Jika saya nggak mengenal Pak Amin Abdullah, mungkin saya nggak akan pernah menjadi Mahéng yang kamu kenal hari ini. Serius.
Pertemuan dengan beliau adalah “pintu masuk” menuju labirin intelektual yang lebih luas.
Melalui bimbingan dan suasana akademik yang beliau bangun di UIN Sunan Kalijaga, saya mulai mengenal dunia filsafat.
Bukan filsafat yang hanya berhenti pada quotes di media sosial, tapi filsafat yang memprovokasi kesadaran.
Dari filsafat, saya mulai mengenal Pondok Pesantren (Ponpes) Madrasah Muthahhari dan kemudian sempat aktif sangat singkat di Jaringan Aktivis Filsafat Islam (Jakfi) di bawah bimbingan guru saya yang lain, A.M. Safwan di Rausyan Fikr.
Sebelum akhirnya saya disibukkan oleh dinamika kehidupan yang lain.
![]() |
| Bersama Ustaz A.M. Safwan dan rekan-rekan Santri Epistemologi Islam Madrasah Muthahhari Yogyakarta, periode Maret-September 2016. (Foto: Dok. Ponpes Madrasah Muthahhari) |
Gairah ini kemudian membawa saya terjun ke berbagai organisasi mahasiswa dan aktif di dunia pers mahasiswa.
Di sanalah saya mengasah pena (termasuk di bawah bimbingan Andreas Harsono), belajar bahwa tulisan bisa menjadi senjata buat menyuarakan mereka yang belum bisa bersuara.
Tanpa “nasihat akademik” yang memberikan ruang bagi pertumbuhan mental saya, saya mungkin hanya akan menjadi mahasiswa yang sibuk mengejar IPK tanpa pernah memiliki keresahan pada semesta.
Menyambung Napas Gus Dur
Rantai ini terus memanjang.
Kedalaman filsafat dan sosiologi agama yang diajarkan di lingkungan Pak Amin membawa saya “bertemu” dengan sosok Gus Dur secara pemikiran.
Saya mulai memahami mengapa Gus Dur begitu gigih membela kemanusiaan di atas segalanya.
Saya mulai mengerti mengapa keberagaman harus dirayakan dengan dialog, bukan dengan kecurigaan.
Benih-benih yang ditanam oleh Pak Amin di ruang kelas yang sederhana itu tumbuh menjadi pohon besar pemikiran yang hari ini memberi keteduhan buat karya-karya saya, termasuk dalam novel Nayanika atau buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi.
Melihat kembali foto blur tahun 2016 itu, saya menyadari bahwa identitas saya sebagai penulis hari ini adalah hasil rajutan dari banyak orang hebat.
Pak Amin Abdullah adalah orang yang memegang jarum rajutnya di masa-masa awal.
Beliau nggak hanya memberi nilai pada mata kuliah saya, tapi beliau memberi nilai pada cara saya memandang manusia dan dunia.
Menulis sebagai Cara Membayar Hutang
Hari ini, ketika saya menulis tentang manusia, budaya, dan semesta, saya merasa sedang membayar “hutang ilmu” kepada beliau.
Tulisan-tulisan saya adalah bentuk pertanggungjawaban saya atas akses istimewa yang pernah saya dapatkan sebagai mahasiswa bimbingannya.
Saya belajar untuk meneruskan tradisi beliau: menyederhanakan yang rumit, membawa filsafat ke meja makan orang biasa, dan menjadikan literasi sebagai alat untuk memahami dunia lewat berbagai genre karya.
Mungkin foto itu akan tetap blur selamanya.
Mungkin piksel-pikselnya akan semakin hancur dimakan usia mayantara.
Buat saya, itu nggak lagi penting.
Selama saya masih hidup dan selama saya masih bisa menuangkan kegelisahan saya dalam bentuk karya tulis, maka sosok Pak Amin Abdullah mungkin akan selalu hadir secara nggak langsung dalam setiap baris kalimat saya.
Terima kasih, Pak Amin. Terima kasih telah menjadi guru yang nggak hanya mengajar, tapi juga membentuk jiwa.
Jika hari ini dunia (dan mesin pencari Google) mengenal Mahéng sebagai seorang penulis, esaiis, atau apa pun itu, itu karena bertahun-tahun lalu, Pak Amin telah memberikan kompas yang benar di tengah kabut masa muda saya yang sempat nggak karuan.
Pada akhirnya, biarlah foto itu tetap kabur, karena ilmu yang beliau titipkan nggak butuh resolusi tinggi untuk terlihat terang.
Sebab, di hadapan waktu, mungkin dokumentasi terbaik bukanlah yang tersimpan di galeri Facebook, melainkan yang tetap bernapas di mata pembaca, bahkan saat saya sudah mati, dan tubuh ini membusuk.



Leave a Comment