Tips Menulis Puisi untuk Pemula agar Jujur dan Menyentuh Rasa

Banyak dari kita takut menulis puisi karena merasa tidak cukup "puitis".

Mengira puisi harus pakai diksi berbunga-bunga, rima yang sempurna, atau metafora yang rumit nan melangit. "Sang mentari", "pelita hati", "aku yang kapitil mengejar dia yang kapital," atau kata-kata yang tidak pernah kita pakai sehari-hari.

Padahal puisi yang baik justru yang jujur, bukan sekadar indah.

Potret Mahéng saat masih bersekolah di MAN 1 Meulaboh Aceh Barat, awal-awal mulai menulis puisi.
Potret saya saat masih di MAN 1 Meulaboh. Di balik seragam ini, ada cerita kuli bangunan selepas sekolah dan barisan puisi yang saya ketik dengan HP Nokia jadul.

Tahun 2012 atau 2013—saya lupa persisnya—saat kelas 1 Madrasah Aliyah di Aceh Barat, guru Bahasa Indonesia kami memberi tugas menulis puisi. Saya menulis puisi pendek berjudul "Awan Putih."

Puisinya sederhana:

Awan Putih

Warnamu melambangkan kesucian.
Indah saat dipandang, benderang saat dikhayal.

Tapi mendung tiba-tiba saja datang,
putihmu menjadi hitam, kini hanya penyesalan yang kau dapatkan.

Setelah guru saya baca, guru saya bilang: "Ini calon sastrawan."

Dari situ saya mulai percaya diri menulis puisi pakai HP Nokia jadul yang kami bilang tettot—HP yang cuma bisa SMS dan telepon. Cukup mahal buat saya yang untuk bertahan hidup harus kerja sebagai kuli bangunan selepas pulang sekolah.

Puisi-puisi saya kemudian terkenal di RRI Pro 2 Banda Aceh—ratusan kilometer dari Meulaboh tempat saya sekolah. Dan mungkin, pemicu saya jadi penulis hari ini dimulai dari puisi sederhana itu.

Di artikel ini, saya akan berbagi tips menulis puisi untuk pemula berdasarkan pengalaman saya, dari menulis puisi pertama, dilanjutkan dengan pakai HP tettot sampai menerbitkan buku.

Tidak perlu jadi "calon sastrawan" dulu untuk mulai menulis. Yang penting: kamu jujur dengan perasaanmu, dan cukup menjadi diri sendiri.

Langkah Awal Menulis Puisi

Banyak orang bertanya: dari mana sih mulainya?

Jawabannya mulai dari observasi atau suasana hati, bukan dari mencari rima yang rumit.

Mulai dari Observasi dan Suasana Hati

Saat menulis "Awan Putih", saya tidak duduk sambil mikir "wah, saya mau nulis puisi nih". Saya cuma membayangkan awan di langit, lalu tiba-tiba terlintas perasaan tentang sesuatu yang dulu saya anggap suci tapi kemudian mengecewakan. Awan jadi metaforanya.

Semakin kuat kamu melakukan observasi, semakin relevan puisi yang kamu tulis buat banyak orang.

Puisi lahir dari pengamatan kecil plus perasaan yang jujur.

Kamu sedih? Tulis apa yang kamu lihat di sekitarmu yang menggambarkan kesedihanmu. Kamu senang? Tangkap detail kecil yang bikin kamu senang.

Jangan mulai dari "aku mau nulis puisi tentang cinta" lalu bingung mau nulis apa. Mulai dari "aku lihat bunga layu di pot, itu mengingatkan aku pada seseorang."

Metafora akan lahir berdasarkan jam terbang, dan biarkan waktu yang akan menafsirkannya.

Jangan Terjebak Mencari Rima Dulu

Ini kesalahan terbesar pemula: fokus ke rima sampai lupa apa yang mau disampaikan.

Lihat lagi "Awan Putih" di atas. Tidak ada rima yang sempurna. "Kesucian" tidak berima dengan "dikhayal". "Datang" tidak berima dengan "dapatkan". Tapi puisinya tetap mengalir karena ada irama natural dari bahasa.

Rima itu bonus, bukan syarat. Yang penting adalah kesatuan perasaan di setiap baris.

Tulis Dulu, Edit Belakangan

Jangan edit saat menulis. Ini berulang kali saya sampaikan. Jangan hapus baris pertama karena kamu merasa "kurang puitis". Tuangkan dulu semua yang kamu rasakan, baru kemudian baca ulang keras-keras dan rapikan.

Membaca ulang keras-keras itu bisa menyinkronkan telinga dan rasa.

Puisi pertama saya banyak yang jelek. Tapi saya tetap menulis sampai akhir, baru kemudian saya pilih mana yang layak dibaca ulang.

Apa Saja 4 Unsur Puisi?

Puisi yang baik punya 4 unsur dasar. Ini bukan aturan kaku, tapi panduan supaya puisimu tidak cuma kumpulan kata acak.

1. Diksi (Pilihan Kata)

Diksi adalah pemilihan kata yang tepat untuk menyampaikan perasaan atau gambaran. Dalam "Awan Putih", saya pilih kata "benderang" bukan "terang" karena "benderang" lebih kuat dan punya nuansa harapan yang tinggi.

Tips: Pakai kata yang kamu benar-benar rasakan maknanya, bukan kata yang kamu pikir "kedengeran puitis".

2. Imajinasi (Citraan)

Imajinasi adalah kemampuan membuat pembaca "melihat" atau "merasakan" apa yang kamu tulis. "Awan putih" lebih konkret daripada "kesucian". Pembaca bisa membayangkan awan.

Tips: Pakai benda konkret untuk melambangkan perasaan abstrak. Jangan tulis "aku sedih", tapi "hujan turun tanpa henti".

3. Rima (Irama)

Rima bukan berarti harus bersajak a-b-a-b atau a-a-a-a. Rima adalah irama alami bahasa yang bikin puisi enak dibaca. Kalau kamu baca puisi dengan suara keras dan terdengar patah-patah, berarti rimanya belum mengalir.

Tips: Baca puisimu dengan suara keras. Kalau terdengar janggal, edit lagi.

4. Amanat (Pesan)

Amanat adalah pesan atau makna yang ingin kamu sampaikan. Dalam "Awan Putih", amanatnya adalah tentang kekecewaan saat sesuatu yang dianggap suci ternyata berubah atau tidak sesuai harapan.

Saat ini, belasan tahun setelah saya menulis puisi itu, justru puisi itu makin relevan. Dulu saya lahir seperti awan putih, dalam perjalanan hidup ada banyak mendung yang datang, dan kadang saya keliru bertindak, sehingga banyak penyesalan sekaligus tempat saya belajar.

Tapi kalau kamu yang baca, maknanya bisa lain.

Tips: Tidak perlu eksplisit. Biarkan pembaca menafsirkan sendiri.

Apa Saja Syarat Puisi?

Pertanyaan ini sering bikin pemula bingung. Apakah puisi harus bersajak? Harus panjang? Harus pakai bahasa tinggi?

Jawabannya: tidak.

Dalam puisi modern, syarat utamanya hanya dua:

1. Kesatuan Makna

Setiap baris harus punya hubungan dengan baris lainnya. Jangan asal nulis "langit biru, aku sedih, kopi hangat" tanpa ada benang merah yang menghubungkan.

2. Estetika

Puisi harus punya keindahan—entah dari pilihan kata, irama, atau gambaran yang diciptakan. Tapi "keindahan" di sini bukan berarti harus pakai kata-kata sulit. Keindahan bisa lahir dari kejujuran dan kesederhanaan.

Puisi tidak harus bersajak. Tidak harus panjang. Tidak harus pakai metafora rumit. Yang penting: ada makna dan ada estetika.

Puisi 3 Baris Namanya Apa?

Kalau kamu suka puisi pendek, ada dua bentuk puisi 3 baris yang terkenal:

Haiku

Haiku adalah puisi pendek dari Jepang yang terdiri dari 3 baris dengan pola suku kata 5-7-5. Haiku biasanya tentang alam atau momen sederhana.

Contoh:

Angin bertiup
Daun jatuh perlahan
Musim berganti

Haiku mengajarkan kita untuk menangkap momen kecil dengan kata-kata minimal.

Terzina

Puisi terzina adalah puisi yang setiap baitnya terdiri dari tiga baris (tiga seuntai), contohnya puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Aku Ingin”.

Untuk pemula, coba dulu Haiku—ini melatih kamu untuk ekonomis dengan kata-kata.

Tips Praktis Menulis Puisi ala Mahéng

Ini tips yang membantu saya menulis puisi:

1. Observasi Detail Kecil

Jangan dulu cari tema besar seperti "cinta", "kehidupan", atau "kematian". Mulai dari detail kecil: warna baju seseorang, suara motor di malam hari.

"Awan Putih" lahir dari observasi sederhana: melihat awan di langit.

2. Pakai Bahasa Sehari-hari Dulu

Jangan paksakan pakai kata-kata yang tidak pernah kamu pakai. Tulis seperti kamu ngomong ke temanmu, baru kemudian kamu "naikkan" bahasanya sedikit kalau perlu.

Saya menulis "Awan Putih" pakai bahasa yang saya pakai sehari-hari. Tidak ada "sang mentari" atau "pelita hati". Baru belakangan saya pakai yang lebih metaforis.

3. Baca Ulang Setelah Satu Hari

Jangan langsung publish atau kirim puisimu. Simpan dulu, baca ulang besok. Kamu akan melihat banyak hal yang bisa diperbaiki—baris yang bertele-tele, kata yang kurang tepat, atau bait yang bisa dihapus.

4. Jangan Bandingkan dengan Penyair Terkenal

Jangan baca Widji Thukul atau Joko Pinurbo lalu merasa puisimu jelek. Mereka punya pengalaman puluhan tahun. Kamu baru mulai. Yang penting kamu konsisten menulis.

Guru saya dulu bilang "Ini calon sastrawan" bukan karena puisi saya sempurna, tapi mungkin karena saya berani menulis dengan apa adanya.

5. Ikut Komunitas atau Kirim ke Media

Coba kirim puisimu ke media lokal, radio, atau komunitas sastra online. Feedback dari orang lain akan membuatmu lebih baik.

Puisi saya dulu terkenal di RRI Pro 2 Banda Aceh karena saya berani mengirimkannya. Kalau saya simpan sendiri, mungkin saya tidak akan percaya diri menulis sampai sekarang.

Kesimpulan

Menulis puisi bukan soal jadi "calon sastrawan" dulu baru boleh mulai. Menulis puisi adalah soal kejujuran—jujur dengan apa yang kamu lihat, jujur dengan apa yang kamu rasakan.

Puisi pertamamu tidak perlu sempurna. Tidak perlu bersajak. Tidak perlu pakai metafora rumit. Yang penting: kamu mulai.

Saya menulis puisi sederhana berjudul "Awan Putih" di kelas 1E MAN 1 Aceh Barat. Dari puisi itu, saya mulai belajar bahwa kata-kata sederhana yang jujur jauh lebih kuat daripada kata-kata indah yang dibuat-buat.

Sekarang giliranmu. Lihat sekeliling. Rasakan perasaanmu. Lalu tulis—satu baris, dua baris, tiga baris. Tidak perlu panjang. Tidak perlu sempurna.

Mulai dengan satu puisi hari ini. Siapa tahu, seperti saya, kamu juga akan jadi penulis suatu hari nanti.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.