Ending Novel Seperti Apa yang Bisa Memuaskan Pembaca?
ADA PERTANYAAN dari anonim yang masuk di Kotak Surat:
“Menurut kamu, ending novel seperti apa yang paling memuaskan pembaca? Happy ending yang memberikan rasa lega, sad ending yang meninggalkan kesan mendalam, atau open ending yang membuat pembaca terus bertanya-tanya bahkan setelah bukunya selesai dibaca?”
Kamu juga punya pertanyaan?
Selain di kolom komentar, kamu bisa kirim lewat Kotak Surat.
Tulis di Kotak SuratSaya belum punya jawaban yang bisa berlaku untuk semua novel. Sebab, setiap cerita punya perjalanan dan persoalannya sendiri. Tetapi kalau harus memilih, saya lebih tertarik pada ending yang masuk akal.
Mau berakhir bahagia, menyedihkan, atau dibiarkan terbuka, semuanya bisa memuaskan selama pembaca merasa akhir itu memang pantas terjadi setelah mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya.
Sebelum lanjut, saya perlu penafian soal posisi saya. Jawaban ini datang dari dua kursi sekaligus: kursi pembaca dan kursi penulis novel (fiksi) pemula.
Sebagai pembaca, saya bisa kesal pada akhir cerita yang nggak masuk logika, tapi senang pada ending yang meninggalkan sesuatu untuk direnungkan. Sebagai penulis yang baru menulis satu roman dan masih punya satu yang mandeg, saya ngerti betapa sulitnya menutup cerita dengan greget.
Kursi yang kedua ini masih sering goyang.
Happy Ending yang Dipaksakan Bisa Kehilangan Rasa
Saya kurang menyukai cerita yang semua tokohnya harus mendapatkan akhir bahagia. Terutama novel-novel bertema hidayah yang kadang-kadang membuat semua persoalan seolah bisa selesai setelah tokohnya menemukan kesadaran baru.
Tokoh yang sebelumnya melakukan kesalahan bisa tiba-tiba berubah, orang-orang yang berselisih saling memaafkan, kemudian semua orang hidup bahagia.
Saya nggak menggeneralisasi bahwa cerita seperti itu buruk. Hanya saja, saya rasa kehidupan manusia nggak bekerja sesederhana itu.
Sad Ending yang Masuk Akal Lebih Gampang Diterima
Dalam kehidupan nyata, kita nggak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Ada orang yang sudah berusaha keras, tetapi tetap gagal. Ada yang mencintai seseorang, tetapi nggak bisa hidup bersamanya.
Ada yang menyadari kesalahannya, tetapi kesadaran itu nggak serta-merta mengembalikan kepercayaan yang sudah telanjur hilang.
Karena itu, ending yang baik menurut saya—yang baru menulis satu roman, Nayanika—adalah ending yang membiarkan tokoh-tokoh dalam novel mengalami konsekuensi sebagaimana orang-orang dalam kehidupan nyata, meskipun akhirnya nggak menyenangkan.
Menurut keyakinan saya, memang begitu kehidupan. Kita nggak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi kita selalu menemukan jalan untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan.
Bukan berarti semua tokoh harus menderita supaya ceritanya terasa realistis. Saya juga nggak punya dendam sama tokoh-tokoh yang saya tulis.
Mereka sudah cukup repot menjalani kehidupan yang saya buat, jadi rasanya nggak perlu ditambah penderitaan hanya untuk membuktikan kalau penulisnya serius.
Ending Menggantung Butuh Paku
Saya menyukai open ending atau ending yang menggantung, terutama cerita yang memberi kesempatan kepada pembaca untuk menafsirkan sendiri apa yang terjadi setelah halaman terakhir. Ketika sebuah novel selesai dibaca dan ceritanya masih tertinggal di kepala, saya merasa penulis nggak lagi pidato. Ia lagi ngajak mikir bareng.
Namun, menurut saya, ending terbuka seperti itu tetap harus punya pijakan. Ending boleh menggantung, tetapi harus ada tempat untuk menggantungnya.
Ibarat kita menggantung hanger baju, tentu butuh cantolan atau paku.
Maksud saya, penulis perlu menanam petunjuk (cantolan atau pakunya) sejak awal, pertengahan cerita, atau di mana pun. Jadi, saat pembaca sampai di halaman terakhir, mereka punya sesuatu.
Mereka mungkin nggak mendapatkan jawaban, tetapi bisa menyusun kemungkinan berdasarkan hal-hal yang sudah mereka temukan sepanjang cerita.
Ending juga nggak harus menjelaskan semuanya. Saya lebih menyukai akhir cerita yang menunjukkan sesuatu melalui tindakan, peristiwa, atau detail kecil daripada penulis tiba-tiba menjelaskan makna seluruh cerita kepada pembaca.
Buat saya, ending yang lebih bagus lagi adalah ending yang mic drop.
Ending mic drop adalah cara penulis bilang, “Saya sudah menancapkan pakunya, sekarang giliranmu mencari tau sendiri apa yang mau digantung di sana,” lantas pergi meninggalkan pembaca yang terkesima.
Ending Novel Saya Sendiri Masih Menggantung
Mungkin karena pandangan itu saya juga belum berhasil menulis bagaimana novel saya yang lain, Auni dan Koordinat Terakhir, akan berakhir.
Novel yang sedang saya tulis ini sebenarnya punya hubungan dekat dengan pengalaman hidup saya sendiri. Semacam autobiografi, meskipun tentu saja banyak hal yang kemudian berkembang melalui imajinasi dan subjektivitas.
Saya ingin membuat cerita dari pengalaman dan ingatan yang pernah menjadi bagian dari hidup saya.
Seperti yang sudah saya singgung di muka, menulis ending yang greget adalah pekerjaan tersendiri.
Sampai hari ini belum berhasil. Setiap kali melakukan riset, ada saja hal dari masa lalu yang kembali terungkit. Ada pengalaman yang ternyata nggak mudah untuk saya tulis, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Novel itu sendiri belum selesai. Tapi kamu sudah bisa membaca bab-bab yang sudah jadi di KBM.ID. Kalau mau yang sudah tamat, Nayanika bisa dibaca penuh di KBM.ID, beberapa bab awalnya gratis.
Meski itu tulisan pengalaman pribadi, saya nggak sedang berusaha memperbaiki hidup melalui roman. Walau begitu, mungkin dengan menulis, saya bisa belajar sesuatu dari masa lalu.
Saya bisa lihat kembali pengalaman yang pernah terjadi, memikirkannya dari sudut pandang yang berbeda, atau menemukan hal-hal yang sebelumnya jadi blind spot atau nggak saya sadari.
Saya juga nggak ingin terlalu cepat menentukan nasib tokoh-tokohnya. Mereka punya perjalanan masing-masing, dan saya ingin melihat ke mana pilihan-pilihan mereka akan membawa cerita.
Mungkin ada yang mendapatkan apa yang diinginkan. Mungkin ada yang harus kehilangan sesuatu. Mungkin ada pula yang akhirnya menemukan sesuatu yang sebenarnya mereka butuhkan, meskipun sejak awal nggak pernah mencarinya.
Saya belum tau.
Ending Seperti Apa yang Memuaskan Pembaca?
Jadi, kalau ditanya ending seperti apa yang paling memuaskan pembaca, jawaban saya, dari kursi pembaca maupun kursi penulis pemula, mungkin ada di luar tiga pilihan itu: akhir yang terasa masuk akal buat cerita yang sudah dibangun sejak awal, lebih memuaskan lagi kalau mic drop.
Tentu saja, saya nggak tau apakah semua pembaca, termasuk si anonim yang bertanya, akan merasa puas dengan pilihan penulis. Selalu ada kemungkinan pembaca menginginkan tokoh A bersama tokoh B, sementara penulis justru membuat mereka berpisah.
Penulis emang berhak menentukan nasib tokohnya. Namun, jangan sampai keputusan itu membuat pembaca mendatangi rumah penulis dan pengen nyekek. Haha.
Ada yang berharap tokohnya selamat, tetapi ternyata harus mati. Ada pula yang ingin semua pertanyaan terjawab, sementara penulis memilih meninggalkan beberapa di antaranya.
Barangkali memang nggak mungkin menyenangkan semua pembaca. Bahkan, menyenangkan diri sendiri sebagai penulis saja sering sulit.
Saya sendiri masih harus menyelesaikan roman yang sudah cukup lama mandeg.
Jadi, untuk sementara, saya belum bisa menjanjikan akhir yang memuaskan buat pembaca Auni dan Koordinat Terakhir. Saya bahkan belum tau apakah tokoh-tokohnya akan memaafkan penulisnya karena membuat mereka menunggu selama ini.
Saya bahkan belum tau apakah tokoh-tokohnya masih bersedia bekerja sama dengan saya setelah sekian lama nggak diberi kepastian.
Suka tulisan seperti ini? Jadikan maheng.net sumber pilihanmu di Google, siapa tahu tulisan berikutnya gampang ketemu.
Jadikan sumber pilihanTulis di komentar

Leave a Comment