Laki-Laki Hanya Bisa Jatuh Cinta Sekali Seumur Hidup, Teori yang Saya Bantah Sendiri

Saya termasuk orang yang percaya kalau laki-laki hanya bisa jatuh cinta sekali seumur hidup.

Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan teori itu sama saya, tetapi waktu itu saya menerimanya dengan penuh keyakinan. Teori tersebut bahkan telanjur beredar luas, saya ikut mendengungkannya dalam berbagai kesempatan, bahkan mungkin lebih saya percaya dari urgensi anggaran pengadaan ikan hias kementerian.

Saya belum ketemu penelitian, belum pernah baca jurnal ilmiah, bahkan belum pernah hadir di seminar nasional. Saya percaya begitu saja, seperti kebanyakan orang mempercayai janji swasembada pangan tahun depan.

Sampai sekarang pun, saya belum tau siapa pencetus teori itu. Barangkali perlu dibentuk tim pencari fakta.

Ketika penegak hukum bisa bergerak secepat kilat hingga berujung pada penetapan tersangka oleh Bareskrim dalam kasus penyadapan Presiden, sungguh ironis melihat teori percintaan yang mengendalikan hidup banyak laki-laki masih saja dibiarkan jadi misteri.

Mungkin emang begitu teori tentang cinta, satu orang alami satu kejadian, lantas membuat kesimpulan untuk seluruh umat manusia.

Kalau dia ditinggalkan, berarti semua perempuan sulit dipercaya. Kalau dia diselingkuhi, berarti semua laki-laki bajingan. Kalau dia berhasil menikah, berarti cinta sejati emang ada.

Saya bahkan sempat ngebayangin kalau laki-laki yang sudah jatuh cinta sekali akan ngejalani sisa hidupnya dengan status pensiun dari urusan percintaan. Selibat. Nggak perlu mencari pasangan lagi. Nggak perlu mengenal orang baru.

Tinggal memperbanyak ibadah, bekerja, membayar utang, dan merenungi kenapa transaksi sepiring telur dadar warteg dan jasa pangkas rambut sekarang dicurigai sebagai jaringan ekonomi bawah tanah yang harus dipajaki, padahal rekening pemiliknya sendiri boleh jadi sudah lebih tipis dari dasi penagih pajak.

Kalau masih ada waktu luang, barangkali saya bisa ikut rapat RT atau belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Toh, urusan hati sudah selesai. Tinggal urusan hidup yang entah kapan ikut selesai.

Tahun 2023 saya bergabung dengan Komunitas GUSDURian Jogja. November 2023, saya ikut bantu-bantu di Festival Beda Setara, dan sempat menuliskannya di Kompasiana.

Foto bersama panitia Festival Beda Setara yang diselenggarakan di Kampoeng Mataram, PanggungHarjo, Sewon, bantul pada november 2023 oleh Seknas Jaringan GUSDURian. Sejumlah anak muda, laki-laki dan perempuan, berpose bersama di halaman terbuka dengan latar panggung beratap putih, pepohonan, dan bangunan beratap genteng. Para peserta mengenakan pakaian kasual dan batik, sebagian berhijab, serta menunjukkan beragam ekspresi dan gestur ceria ke arah kamera. Di belakang kelompok terlihat dekorasi acara dan sebagian tulisan pada spanduk Festival Beda Setara. Foto ini mendokumentasikan kebersamaan peserta dalam kegiatan yang merayakan keberagaman, kesetaraan, dan semangat hidup bersama.
Penggerak GUSDURian, November 2023 di Kampoeng Mataram, Panggungharjo, Sewon. (Foto: Komunitas GUSDURian Jogja.)

Setahun kemudian, November kembali datang dengan urusan yang berbeda.

November 2024, saya banyak menghabiskan waktu dengan menangis di Seknas Jaringan GUSDURian. Pasangan saya waktu itu sudah selesai masanya dengan saya. Itu kegagalan kedua saya dalam menjalin hubungan. Mungkin karena kesalahan saya, ia akhirnya menikah dengan orang lain.

Semoga ia hidup bahagia.

Masa itu, saya kesulitan menulis, ditambah lagi nggak punya uang, dan ada yang nyaranin saya agar nggak kembali dulu ke kontrakan, sebab mental saya belum stabil.

Saya nggak akan mengulang ceritanya sebab sudah pernah saya singgung di mari. Lagi pula, saya nggak pengen blog ini jadi tempat penyimpanan seluruh riwayat kegagalan cinta. Nanti Google mengira saya sedang membangun pusat dokumentasi patah hati.

Makanya, jangan heran kalau saya ajukan AdSense ditolak mulu karena dinilai low value content.

Beberapa bulan setelah itu saya kenal dengan orang baru, dan tiba-tiba jatuh cinta padanya.

Di sini teori yang selama ini saya percayai mulai menghadapi persoalan serius. Saya kenal dia, lalu perasaan itu tumbuh. Hanya saja saya butuh waktu untuk ngomong sama doi, saya ragu, ini cinta, penasaran, atau pelampiasan dari hubungan sebelumnya.

Saya khawatir saya hanya kesepian. Dan, entah kenapa, kekhawatiran itu sulit dibedakan dari rasa cinta.

Dan kamu tau? Saya gagal lagi membangun relasi. Bulan Mei kami nggak bisa bersama. Itu kegagalan ketiga saya dalam menjalin hubungan. Setelah itu saya banyak menghabiskan hidup dengan memikirkannya.

Sekarang November 2026. Saya sedang melihat kembali teori yang dulu saya percayai dengan begitu yakin—bahkan lebih yakin dari slogan “pemerintah berkomitmen memberantas korupsi”.

Hasilnya cukup memalukan. Saya sendiri sudah membantah teori tersebut. Kalau ini penelitian ilmiah, mungkin jurnalnya sudah ditarik karena penelitinya gagal menjaga objektivitas. Kalau ini sidang skripsi, pengujinya mungkin sudah melempar asbak ke muka saya karena metodologinya hancur lebur.

Bagaimana nggak hancur? Hipotesis awal saya patah total oleh fakta bahwa ternyata laki-laki bisa jatuh cinta lebih dari sekali. Dan sialnya, eksperimen konyol itu saya lakukan pada diri saya sendiri.

Saya nggak tau apakah kegagalan metodologi ini cukup berharga untuk dipaparkan, tetapi kalau ada kampus yang mau mengundang saya ke seminar nasional, saya bersedia datang. Lumayan, honor narasumbernya bisa saya pakai buat bayar utang.

Kenapa Teori Ini Mudah Dipercaya?

Setelah dipikir-pikir, teori “laki-laki cuma jatuh cinta sekali” itu laris manis karena sangat nyaman dipakai untuk malas-malasan, urusan akurat belakangan. Kalau cinta cuma jatah sekali seumur hidup, begitu kehilangan, ya sudah tamat. Kita nggak perlu repot-repot berbenah diri, menata hati, apalagi PDKT ulang dari nol yang melelahkan. Berhenti berusaha pun bisa dengan gagah diklaim sebagai bentuk kesetiaan tertinggi.

Teori ini juga gampang banget diakali. Setiap kali hubungan kita kandas, tinggal dicoret saja dari daftar sambil menghibur diri: “Oh, itu kemarin belum cinta yang sebenarnya.” Teori yang nggak pernah bisa disalahkan begini sebenarnya wahana komedi. Dan saya curiga, tanpa sadar, saya sempat jadi pelanggan tetap wahana tersebut.

Sialnya, ada psikolog yang sudah lebih dulu membongkar kedok saya. Pada 1998, Raymond Knee meneliti dua keyakinan soal hubungan: percaya pasangan itu ditakdirkan (destiny beliefs) dan percaya hubungan itu dirawat lewat usaha (growth beliefs), seperti diringkas di Psychology Today. Yang percaya takdir cenderung menarik diri begitu hubungan bermasalah. Yang percaya usaha cenderung ikut berbenah. Intinya, kalau jodoh sudah dari sananya, buat apa repot ngerawat?

Penelitian yang lebih baru di jurnal Personal Relationships, seperti disitir dari PsyPost, menyentil lebih tajam lagi. Orang yang percaya takdir romantis cenderung lebih sering menghubungi dan memantau mantan setelah putus, apalagi kalau si mantan dianggap pasangan ideal. Teorinya memang beda tipis dengan “cuma jatuh cinta sekali”, tapi tetangga sebelah rumah: sama-sama percaya ada satu orang yang ditakdirkan.

Saya kurang tau apakah merenung berbulan-bulan sambil memandangi ruang obrolan yang sepi itu termasuk kategori “intelijen memantau mantan”, tapi yang jelas kelakuannya masih satu kartu keluarga.

Satu lagi yang bikin saya agak dongkol: kenapa skrip “jatuh cinta cuma sekali” ini selalu dibebankan secara sepihak kepada laki-laki?

Di tongkrongan, kalimat itu sering digemakan seolah-olah pujian agung untuk menunjukkan bahwa laki-laki itu setia, lurus, dan nggak neko-neko. Padahal realitasnya, narasi itu cuma memberi laki-laki jalan pintas untuk langsung mengambil paket pensiun dini dari urusan asmara. Di dalam skrip itu, sama sekali nggak disediakan bab khusus yang mengizinkan kami untuk menangis sesenggukan di sekretariat organisasi dan mengaku jujur kepada dunia kalau kami sedang hancur lebur.

Beruntungnya, di Komunitas GUSDURian Jogja saya mendapatkan ruang itu.

Jatuh Cinta Bisa Berkali-kali, Kesiapan Ada Batasnya

Mungkin kita bisa jatuh cinta berkali-kali, tapi kesiapan menjalaninya punya batas. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membicarakan soal jatuh cinta dan membangun relasi, sampai lupa bertanya apakah saya sudah cukup baik dalam menjalani hidup sendiri.

Ada banyak hal yang belum selesai saya urus. Utang, kebiasaan hidup, pekerjaan, dan berbagai urusan pribadi yang selama ini sering saya tunda. Akan cukup merepotkan kalau saya mengajak seseorang membangun masa depan bersama, sementara masa depan saya sendiri masih menunggu kepastian pembayaran cicilan.

Mungkin Tuhan sedang memberi saya kesempatan untuk belajar mencintai diri sendiri dulu. Saya nggak yakin apakah ini benar-benar pesan dari semesta atau cuma kesimpulan yang saya buat setelah tiga kali gagal menjalin hubungan. Saya juga nggak pengen buru-buru buat teori baru. Satu teori yang saya yakini saja sudah berhasil mempermalukan diri sendiri.

Sekarang saya nggak berani lagi bilang kalau laki-laki hanya bisa jatuh cinta sekali seumur hidup. Saya sudah punya bukti bahwa teori itu keliru, jadi saya putuskan pensiun dari urusan membuat teori percintaan. Pensiun dari percintaannya sendiri, ya, batal.

Barangkali yang perlu saya pelajari sekarang adalah bagaimana mencintai tanpa kehilangan akal sehat, bagaimana menyayangi orang lain tanpa melupakan diri sendiri, dan bagaimana membayar utang tepat waktu.

Untuk yang terakhir, saya belum punya teorinya.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Suka tulisan seperti ini? Jadikan maheng.net sumber pilihanmu di Google, siapa tahu tulisan berikutnya gampang ketemu.

Jadikan sumber pilihan
Saya bisa saja keliru. Kalau kamu ketemu yang kurang tepat, kasih tahu saya di komentar ya. Atau tulis pendapatmu sendiri, siapa tahu pembaca lain ikut terbantu, atau malah jadi ide tulisan baru.
Tulis di komentar

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.