Mengapa Saya Tetap Mencintai Durian dan Orang-Orang yang Melukai Saya

Kepala saya pernah hampir kena durian jatuh.

Waktu itu saya masih bocil. Saya dan Bibi sedang mencari durian di kebun keluarga seperti seorang detektif yang mencari barang bukti, dengan mata awas dan langkah hati-hati.

Tugas saya ambil yang sudah jatuh, panjat pohon kalau belum ada yang jatuh.

Tiba-tiba terdengar bunyi yang nggak asing.

Bukkkk.

Saya mendongak.

Terlambat.

Satu buah durian sedang meluncur dari langit secepat anjloknya nilai tukar rupiah. Untungnya tangan saya refleks bergerak lebih cepat daripada kemampuan saya melupakannya. Durian itu berhasil saya tangkis.

Saya selamat. Tangan saya nggak. Berdarah, orang di kampung saya percaya kalau luka yang disebabkan oleh durian, obatnya adalah durian itu sendiri.

Lantas saya melumuri tangan dengan daging buah untuk menghentikan perdarahan. Sampai hari ini bekasnya masih ada, meski sudah samar.

Anehnya, pengalaman itu nggak membuat saya membenci durian. Saya justru semakin menyukainya. Bahkan ketika pindah ke Pulau Jawa, harganya nggak masuk akal untuk kantong saya yang sudah bolong dari sananya.

Belakangan saya jadi lebih ngerti kalau sebagian besar hal yang saya cintai memang bekerja seperti itu. Mereka melukai saya. Sedikit, sesekali banyak. Tapi entah kenapa saya tetap kembali.

Termasuk durian. Termasuk beberapa orang.

Saya sangat suka durian.

Bukan cuma karena rasanya. Kalau cuma soal rasa, ada banyak buah lain yang lebih enak. Pisang nggak perlu dibuka pakai parang. Jeruk nggak membuat satu rumah berbau selama tiga hari tujuh malam. Apel bahkan bisa dimakan sambil merem tanpa risiko ditusuk duri.

Durian berbeda.

Ia merepotkan sejak awal. Baunya membuat sebagian orang mual. Kulitnya penuh duri tajam. Membukanya butuh tenaga dan keberanian yang cukup untuk membuat seseorang layak jadi panitia sunatan massal.

Tapi setiap musim tiba, orang-orang tetap mencarinya.

Saya juga.

Setiap kali makan durian, saya selalu teringat kampung. Saya teringat kebun. Saya teringat suara buah jatuh di malam hari. Saya teringat tangan saya yang pernah berdarah karenanya.

Saya juga teringat bibi saya. Fatimah namanya.

Sebelum saya berangkat ke Jogja bertahun-tahun lalu, beliau pernah bilang sesuatu yang waktu itu terdengar biasa saja.

"Sang hana meurumpok lee tanyo (Kita nggak akan ketemu lagi)."

Saya ketawa, bercampur marah dan sedih. Waktu itu saya pikir, orang dewasa selain suka nyuruh-nyuruh, memang suka bilang hal-hal dramatis seperti itu.

Ternyata ia benar. Nggak lama kemudian beliau meninggal.

Aneh sekali bagaimana satu jenis buah bisa menyimpan begitu banyak orang di dalamnya.

Mungkin itu sebabnya saya nggak pernah bisa jawab kalau ada yang tanya:

"Mahéng, kenapa kamu suka durian?"

Saya nggak tahu. Atau lebih tepatnya, saya tahu terlalu banyak alasan sampai nggak tahu harus mulai dari mana.

Pertanyaan yang sama sering muncul dalam bentuk lain.

"Kenapa kamu mencintai Ayas Adinda?"

Saya juga nggak pernah punya jawaban yang memuaskan.

Kalau saya bilang karena dia baik, berarti saya harus berhenti mencintainya ketika suatu hari dia nggak baik. Kalau saya bilang karena dia "cantik", berarti cinta saya bisa kalah oleh kamera beresolusi tinggi dan skincare mahalnya. Kalau saya bilang karena dia mendengarkan saya, berarti hubungan kami nggak lebih dari layanan pelanggan premium.

Masalahnya nggak sesederhana itu.

Saya mencintainya karena dia adalah dirinya sendiri. Saya tahu jawaban itu terdengar menyebalkan. Tapi saya nggak punya yang lebih baik.

Belakangan saya mulai curiga bahwa manusia terlalu sering berusaha menjelaskan hal-hal yang sebetulnya nggak lahir dari penjelasan.

Saya juga sampai sekarang nggak mengerti kenapa daging buah durian bisa menyembuhkan luka di tangan saya.

Kita ingin semuanya rasional. Padahal hidup nggak selalu bekerja begitu.

Kalau manusia selalu rasional, nggak akan ada yang utang pakai paylater demi gengsi. Nggak akan ada yang bilang otw padahal masih di kasur. Nggak akan ada yang doomscrolling sampai jam 3 pagi padahal besok presentasi. Nggak akan ada yang korupsi dana MBG, bikin UU yang menyengsarakan rakyat, deforestasi ugal-ugalan untuk food estate yang gagal—eh, itu mah terlalu rasional nggak sih? Skip.

Nggak akan ada yang bikin festival literasi dengan modal nekat lalu berutang puluhan juta. Hahaha.

Dan mungkin nggak akan ada yang jatuh cinta, karena hampir semua orang tahu risikonya.

Kehilangan.

Masalahnya bukan kita nggak tahu konsekuensinya. Kita justru tahu. Saya tahu durian bisa melukai tangan saya. Saya tahu beberapa orang nggak akan tinggal selamanya. Saya tahu sebagian besar hal yang saya cintai datang bersama kemungkinan kehilangan.

Tetapi saya tetap memilih.

Saya pikir, cinta dan kalkulasi memang dua hal yang berbeda.

Kalkulasi bertanya: "Apa untungnya buat saya?"

Cinta bertanya: "Kalau rugi pun, apakah saya tetap mau?"

Mungkin itu sebabnya saya nggak pernah benar-benar menyesali beberapa orang yang pernah hadir dalam hidup saya.

Saya kehilangan mereka. Tentu saja. Tapi saya nggak menyesali kehadiran mereka, sama seperti saya nggak menyesali durian yang hampir menghantam kepala saya. Sama seperti saya nggak menyesali luka di tangan ini. Sama seperti saya nggak menyesali Bibi saya yang sekarang hanya bisa saya temui lewat ingatan.

Ada banyak hal yang hadir. Ada banyak hal yang berakhir. Tapi nggak semua yang pergi berubah jadi mungkir.

Malam kemarin saya makan durian lagi di Sungai Awan Kiri.

Penjual membelah kulitnya. Saya ikut mencoba sampai betis saya tertusuk dan luka. Nggak apa-apa hitung-hitung mengobati rindu kampung.

Mahéng memegang dua belahan durian Kalimantan yang baru dibuka di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Daging durian berwarna putih krem tampak tebal dan matang, sementara beberapa kulit durian lain terlihat berserakan. Foto ini merekam momen Mahéng menikmati durian lokal khas Kalimantan yang mengingatkannya pada masa kecil, kebun keluarga, dan berbagai kenangan di kampung halamannya di Gampong Paya Baro, Woyla Timur, Aceh Barat. Di Ketapang, durian bukan sekadar buah musiman, melainkan bagian dari tradisi, pertemuan keluarga, dan cerita hidup yang terus dibawa hingga dewasa. Gambar ini diambil di Desa Sungai Awan Kiri. Foto durian Kalimantan bersama Mahéng ini menggambarkan pengalaman menikmati buah segar langsung dari daerah asalnya, dengan suasana sederhana pedesaan Kalimantan Barat.
Menikmati durian Kalimantan di Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang. Foto: Dok. Mahéng.

Aromanya langsung memenuhi ruangan. Sebagian orang menyebutnya bau. Sebagian lagi menyebutnya surga. Saya termasuk kelompok kedua.

Dan entah semesta sedang bercanda atau nggak, setelah pulang dari makan durian itu, saya masih bisa duduk di satu forum daring dengannya, mendengar suaranya. Saya senang sekali. Saya pikir ia sudah benar-benar hilang dari hidup saya. 

Ternyata kami hanya nggak bisa bersama.

Saya membuka satu pongge durian. Saya melahapnya sampai harus ke kamar mandi.

Di Ketapang, ada keyakinan bahwa minum air di batok durian bisa mengantisipasi mabuk. Nggak rasional, tapi kadang ia bekerja.

Mungkin cinta juga begitu.

Yang pasti, saya tahu bagaimana baunya. Saya tahu bagaimana akhirnya. Saya tahu luka di tangan saya berasal dari durian.

Dan saya tahu luka yang lain berasal dari manusia.

Sampai hari ini saya masih mencintai keduanya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.