Cara Menjadi Penulis? Menulis. Sisanya Datang Belakangan.
Beberapa kali seseorang bertanya kepada saya. "Mahéng, gimana caranya jadi penulis?"
Jawaban saya masih relatif sama.
"Menulis."
Mungkin dia mengira saya sedang bergurau. Padahal, saya sedang menjawab sejujur-jujurnya, sebagaimana adanya.
Saya sering merasa kita terlalu sibuk mencari jalan pintas menjadi penulis. Kita membeli buku tentang cara menulis, mengikuti kelas menulis, menonton video tentang teknik menulis, bahkan bertanya kepada orang yang sudah lebih dulu menerbitkan karya tulis.
Semua itu baik. Tetapi ada hal yang sering luput. Belum ada seorang pun yang menjadi penulis sebelum benar-benar duduk dan menulis.
Saya pun begitu.
Saya belum pernah bangun suatu pagi lalu merasa, "Mulai hari ini saya seorang penulis."
Saya hanya terus menulis. Dimulai dari menulis catatan harian dalam bahasa Inggris saat di tsanawiyah. Menulis puisi untuk dibacakan di RRI Banda Aceh saat aliyah. Menulis status media sosial. Menulis feature. Menulis buku. Menulis hal-hal yang bahkan mungkin belum pernah dibaca siapa pun.
Belakangan, orang mulai memanggil saya penulis. Google Knowledge Graph pun mulai mengindeksnya. Meskipun dalam panel yang sangat sederhana.
Mungkin memang begitu jalannya.
Kita nggak menjadi penulis karena merasa pantas disebut penulis. Kita disebut penulis karena terlalu lama hidup bersama tulisan.
Tetapi setelah bertahun-tahun menulis, saya mulai paham kalau pekerjaan seorang penulis ternyata bukan merangkai kalimat. Pekerjaan seorang penulis adalah belajar menunda kesimpulan.
Ini sangat subjektif. Menurut keyakinan saya, cara yang lebih baik untuk menjadi penulis yang baik adalah dengan lebih banyak mendengar, alih-alih sekadar melihat.
Banyak orang bilang, penulis harus pandai mengamati.
Saya setuju.
Tetapi mata sering kali terlalu cepat percaya pada apa yang ia lihat. Ada fatamorgana. Ada prasangka. Ada kesan pertama. Ada banyak bias.
Karena itu, saya lebih sepakat mendengar. Mendengar membuat saya lebih sabar. Lebih lama berada di sebuah peristiwa sebelum memutuskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Mungkin itu sebabnya saya jarang memulai tulisan dari konflik. Kalau sedang menulis feature, saya lebih dulu mencari suasana.
Saya ingin tahu bagaimana udara di tempat itu. Bagaimana orang-orang berbicara. Bagaimana mereka ketawa. Bagaimana mereka diam.
Menurut saya, kalau suasananya sudah hidup, tokohnya akan berbicara sendiri. Konfliknya akan muncul sendiri. Saya nggak perlu memaksanya.
Saya jadi ingat kebiasaan yang belakangan ini masih sering saya lakukan. Saya suka bersepeda ke pantai jelang matahari terbenam.
Entah di Pantai Air Mata Permai, Tanjung Belandang, atau lokasi-lokasi lain yang sempat saya singgahi.
|
| Senja di Pantai Tanjung Belandang, Ketapang, ruang refleksi tentang kehilangan, harapan, dan proses menjadi penulis. (Dok. Mahéng). |
Orang mungkin datang sekadar untuk melihat matahari tenggelam.
Saya datang untuk duduk lebih lama.
Sudah sebulan rasanya seperti malam. Tapi laut selalu mengingatkan: matahari tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sedang menyinari tempat yang lain. pic.twitter.com/K5YKj1nmia
— Mahéng (@iamaheng) July 4, 2026
Sampai suatu hari muncul satu kalimat yang nggak pernah saya rencanakan.
"Matahari tidak benar-benar hilang. Ia hanya sedang menyinari tempat lain."
Kalimat itu lahir setelah saya kehilangan seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidup saya. Mungkin kamu yang sudah baca beberapa tulisan saya belakangan tahu itu siapa.
Belakangan saya tahu ia baik-baik saja.
Ia hanya sedang menjadi matahari buat orang-orang lain yang menyayangi dan membutuhkan kehadirannya.
Kalimat itu bisa "quotable" bukan karena saya mahir menyusun kata-kata. Ia lahir karena saya cukup lama duduk bersama senja.
Banyak tulisan lahir dengan cara seperti itu. Karena penulisnya nggak buru-buru pergi. Nggak buru-buru menulis kesimpulan.
Saya pernah makan nasi merah dengan sambal pete, rebung kering bersantan, jamur, dan jagung muda. Kalau berhenti di situ, ia hanya menjadi makan malam.
Tetapi saya ingat satu kalimat darinya, "Kalau banyak cobaan yang harus dicobain, jangan lupa banyak kenikmatan yang harus dinikmatin."
Seporsi nasi itu berubah menjadi pemahaman bahwa kebahagiaan sering kali datang dalam bentuk yang sangat sederhana.
Klise? Mungkin. Jawaban yang sama bagaimana cara menjadi penulis juga sangat klise. Menulis.
Saya juga pernah salah menulis nama sendiri selama bertahun-tahun. Kalau saya hanya berhenti pada fakta itu, ia hanya menjadi cerita tentang ejaan.
Tetapi saya memilih bertanya lebih lama.
Kenapa saya bisa salah? Apa sebenarnya arti sebuah nama? Apakah bahasa selalu benar? Apakah identitas hanya soal huruf?
Dari satu kesalahan kecil, lahirlah satu esai. Barangkali memang begitu cara kerja tulisan.
Selain menjadi pendengar yang baik, sebuah karya tulis bisa lahir dari kesediaan tinggal sedikit lebih lama bersama susunan pertanyaan.
Kalau hari ini kamu juga bertanya kepada saya bagaimana menjadi penulis, mungkin jawaban saya masih tetap sama.
Menulis.
Tetapi sekarang saya akan menambahkan sedikit "nasihat". Menulislah sampai kamu mulai mendengar lebih banyak.
Mendengar akan menumbuhkan kepekaan. Dan kepekaan akan melahirkan rasa.
Dalam bahasa Jawa, bunyi 'roso' punya dua dimensi yang unik. Ia bisa berarti rosa yang bermakna kuat, dan rasa yang berarti jiwa atau penjiwaan. Dua hal itu yang bikin sebuah tulisan bisa punya fondasi yang kokoh sekaligus hidup.
Menulislah sampai satu matahari terbenam bisa mengubah cara pandangmu terhadap kehilangan. Menulislah sampai sepiring nasi bukan lagi sekadar makanan, melainkan juga jadi energi untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan.
Sebab menurut keyakinan saya, dengan menulis kita belajar mendengar. Dengan mendengar kita belajar menyusun pertanyaan, dengan banyaknya pertanyaan, kita belajar menunda kesimpulan.
Dan mungkin, hanya dengan menunda kesimpulan kita akhirnya benar-benar memahami kehidupan.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment