Belajar Bahwa Nggak Semua Hal Bisa Saya Kendalikan

Tulisan ini akhirnya saya lepas ke publik.

Saya belajar bahwa nggak semua hal yang sudah saya rancang dengan penuh ketelitian dan ketulusan akan berdiri selama yang saya harapkan.

Ada bangunan yang runtuh bukan karena niatnya keliru, tetapi karena manusia nggak pernah benar-benar bisa mengendalikan seluruh variabel yang bekerja di sekitarnya.

Sesekali, sebuah jeda kecil, sebuah kelalaian di fase belajar konsisten, atau sebuah momen ketika kita kurang peka, dapat mengubah arah angin yang sebelumnya terasa begitu pasti.

Saya dulu percaya bahwa selama seseorang berusaha cukup keras, menjaga komunikasi dengan sungguh-sungguh, dan menyiapkan rencana dengan hati-hati, maka relasi yang dijaga akan tetap bertahan.

Keyakinan itu nggak sepenuhnya salah, tetapi ternyata juga nggak sepenuhnya benar.

Hubungan interpersonal nggak hanya dibentuk oleh niat baik, melainkan juga oleh timing, kapasitas emosi, kesiapan masing-masing, serta hal-hal yang sering kali nggak terlihat dari luar.

Beberapa waktu terakhir, saya merasakan bagaimana rasanya ketika sesuatu yang telah dijaga dengan sungguh-sungguh tiba-tiba berubah arah. Ada rencana-rencana yang sebelumnya terasa jelas, ada gambaran masa depan yang sempat disusun pelan-pelan, lalu mendadak semuanya terasa kabur dan menyesakkan.

Bukan karena salah satu pihak sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar, tetapi karena ada luka, ketakutan, dan batasan yang nggak bisa dipaksa untuk segera pulih.

Di titik itu, saya menyadari bahwa manusia sering kali terlalu cepat menyamakan “berjuang” dengan “mengendalikan hasil”. Padahal keduanya sama sekali berbeda.

Kita bisa berusaha sebaik mungkin, memperbaiki kesalahan, belajar menjadi lebih peka, dan tetap saja nggak semua hal kembali seperti semula. Ada proses yang harus dijalani oleh masing-masing individu, dan proses itu nggak selalu bisa dipercepat hanya karena kita menginginkannya.

Saya juga belajar bahwa rasa kehilangan nggak selalu datang dalam bentuk perpisahan yang jelas. Kadang ia hadir sebagai jarak yang perlahan melebar, sebagai percakapan yang semakin singkat dan kehilangan rasa, atau sebagai keheningan yang nggak lagi bisa ditafsirkan dengan pasti.

Pada awalnya, keheningan itu terasa menakutkan. Seolah-olah setiap menit tanpa jawaban adalah tanda bahwa sesuatu sedang hilang. Namun, lama-kelamaan saya mulai memahami bahwa keheningan nggak selalu berarti penolakan; ada waktunya ia hanya ruang yang sedang dibutuhkan seseorang untuk menata ulang "rasa" dan emosinya.

Di tengah proses itu, saya melihat kembali diri sendiri.

Selama ini, saya banyak menyusun rencana dengan membayangkan seseorang berjalan di samping. Untuk tujuan kerja, arah pengembangan diri, bahkan langkah-langkah kecil sehari-hari, sering kali saya hubungkan dengan harapan bahwa suatu hari semua itu akan dijalani bersama.

Nggak ada yang salah dengan memiliki harapan seperti itu. Tetapi saya mulai menyadari bahwa ketika seluruh bangunan motivasi terlalu bertumpu pada satu kemungkinan, maka ketika kemungkinan itu goyah, fondasi di dalam diri pun ikut terasa goyah.

Kesadaran ini dipertegas ketika saya mendengar sebuah rekaman salah satu narasumber buku yang sedang saya kerjakan. Sebuah bisikan di jam dua pagi dari seorang istri yang sedang di ambang maut kepada suaminya (narasumber itu): “Udah nggak kuat.”

Mendengarnya membuat saya merinding. Bukan untuk membanding-bandingkan, tetapi bisikan itu seolah jadi pengingat bahwa hidup ini memiliki lapisan perjuangan yang jauh lebih dalam, dan ia menuntut saya untuk memiliki kekuatan untuk jadi sandaran yang kuat pula.

Karena itu, pelajaran terbesar yang sedang saya pelajari sekarang bukan tentang bagaimana “memperbaiki semuanya secepat mungkin,” melainkan bagaimana tetap melanjutkan langkah tanpa harus menunggu semua keadaan kembali sempurna.

Ada hal-hal yang bisa diperbaiki melalui tindakan nyata: jadi lebih konsisten, lebih jujur terhadap diri sendiri, lebih berhati-hati dalam menjaga perasaan orang lain.

Namun, ada juga hal-hal yang hanya bisa dipulihkan oleh waktu, dan bagian itu nggak bisa dipercepat oleh kata-kata atau janji.

Saya nggak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun, termasuk diri sendiri. Setiap orang bergerak dengan kapasitas yang berbeda, membawa pengalaman masa lalu yang berbeda, dan memproses luka dengan cara yang nggak selalu sama.

Ada orang yang membutuhkan ruang lebih panjang untuk kembali merasa aman, ada yang membutuhkan percakapan panjang, dan ada pula yang memilih diam sampai emosinya benar-benar tenang.

Nggak ada satu cara yang sepenuhnya benar untuk semua orang.

Hari ini saya mencoba memandang perjalanan ini dari sudut pandang yang lebih sederhana

.

Bahwa yang bisa benar-benar saya kendalikan hanyalah sikap saya sendiri: bagaimana saya belajar dari kesalahan, bagaimana saya memperlakukan orang yang saya sayangi ke depan, dan bagaimana saya membangun kembali fondasi dalam diri tanpa harus menggantungkan kekuatannya pada satu kemungkinan saja.

Jika suatu hari jalan yang pernah terpisah kembali beriringan, saya ingin berada dalam keadaan yang lebih matang, bukan sekadar berusaha lebih keras, tetapi juga lebih tenang dan lebih jelas memahami yang di luar kendali.

Saya juga mulai memahami bahwa membangun untuk diri sendiri bukan berarti berhenti peduli pada orang lain. Justru sebaliknya, ketika seseorang memiliki fondasi yang lebih stabil di dalam dirinya, ia bisa hadir dengan lebih sehat dalam hubungan apa pun.

Saya baru sadar belum sepenuhnya mencintai diri sendiri, tetapi kadung menaruh cinta pada orang lain. Hasilnya malah bikin orang itu menangis tersedu-sedu. Mungkin bukan sekali dua kali. Berkali-kali, tapi angka pastinya saya nggak pernah tahu.

Yang saya tahu, rasa sayang saya mulai tumbuh berkali-kali dari jumlah tangisannya, sampai akhirnya saya bertanya, kalau cinta bisa bikin penerima menangis, apakah masih bisa disebut cinta?

Kalau pun iya, semoga cinta itu nggak lagi bergerak dan tumbuh karena takut kehilangan, tetapi karena memang ingin memberi dan berjalan bersama secara sadar.

Dan jika suatu saat jalan itu nggak lagi searah, ia tetap mampu berdiri tanpa harus merasa seluruh dunianya runtuh.

Mungkin inilah fase yang sedang saya pelajari sekarang.

Sebuah fase belajar berdiri tanpa tergesa-gesa, belajar menerima bahwa nggak semua rencana harus selesai sesuai jadwal yang pernah saya buat, dan belajar bahwa kedewasaan sering kali datang bukan dari keberhasilan mempertahankan sesuatu, melainkan dari kemampuan untuk tetap tumbuh ketika sesuatu berantakan.

Saya nggak tahu bagaimana bentuk akhir dari perjalanan ini.

Bisa saja beberapa hal kembali menemukan jalannya; bisa juga masing-masing orang melanjutkan langkah pada arah yang berbeda. Tetapi senggaknya hari ini saya tahu saya ingin melanjutkan pembangunan ini dengan lebih jujur, lebih tenang, dan lebih bertanggung jawab terhadap berbagai kemungkinan.

Mahéng berdiri di tepi sawah di dekat Pantai Pecal, Ketapang, Kalimantan Barat,  saat matahari terbenam, satu kaki melangkah di atas jembatan kayu kecil, menggambarkan refleksi tentang kehilangan, kedewasaan, dan belajar membangun diri kembali.
Belajar berdiri dan melangkah, meski arah belum sepenuhnya pasti.

Satu langkah kecil setiap hari, tanpa harus menunggu kepastian dari luar.

Karena pada akhirnya, bangunan terkuat bukan yang terlihat megah dari kejauhan, melainkan yang cukup kokoh untuk jadi tempat pulang buat hati kita dan orang yang kita sayangi.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.