Tips Menerbitkan Buku Pertama: Langkah Awal Menjadi Penulis Buku
Tips menerbitkan buku pertama yang paling realistis bukan soal mencari penerbit besar atau menunggu inspirasi sempurna, tapi soal menyelesaikan naskah dan memahami bagaimana industri penerbitan bekerja.
Banyak calon penulis terjebak dalam fantasi bahwa begitu naskah selesai, penerbit akan langsung melirik, padahal realitanya jauh lebih kompleks.
Setelah menulis beberapa buku, termasuk catatan perjalanan (travel writer) yang jadi buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi dan yang segera terbit Masalembu: Safarnama Membekas di Jantung Nusantara, saya belajar bahwa jalan untuk menerbitkan buku penuh dengan penolakan, revisi, dan pembelajaran yang jarang diajarkan di lokakarya menulis.
Artikel ini akan membagikan pengalaman saya dalam menerbitkan buku pertama, mulai dari menyelesaikan draft hingga buku siap masuk toko, lengkap dengan pelajaran yang saya dapat di setiap tahapnya.
Untuk membangun kebiasaan menulis sebelum menulis buku, baca juga Bagaimana Cara Terbiasa Menulis dan tips mengatasi writer's block jika kamu sering buntu saat menulis.
Tips Menerbitkan Buku Pertama: Panduan Lengkap dari Penulis Berpengalaman
Langkah awal menjadi penulis buku?
Langkah awal menjadi penulis buku adalah menuntaskan ide yang sudah ada di kepala menjadi tulisan, mulai dari kata pertama, lalu menyelesaikan naskah draft, revisi, dan finishing, bukan mencari penerbit atau memikirkan royalti.
Dalam proses menulis Runduma, saya menghabiskan berbulan-bulan, beberapa diantaranya untuk riset lapangan, observasi, dan pengalaman langsung yang kemudian dituangkan menjadi naskah.
Detail budaya lokal dicatat di Catatan Lapangan Runduma sebelum akhirnya berani duduk dan menulis draft kasar yang berantakan, dan itu normal. Bacaan tambahan tentang proses menulis bisa dilihat di Perjalanan Menulis Runduma.
Banyak calon penulis stuck di fase "persiapan abadi", riset terus, outline terus, tapi tidak pernah mulai menulis. Padahal, draft pertama itu boleh jelek. Fungsinya bukan untuk sempurna, tapi untuk mengekstrak semua ide dari kepala ke kertas.
Jika kamu masih sering mengalami writer's block, itu pertanda kamu perlu membangun kebiasaan menulis dulu sebelum proyek besar.
Langkah pertama ketika membuat buku adalah?
Langkah pertama ketika membuat buku adalah menentukan premis yang kuat dan menyelesaikan draft kasar tanpa mengedit saat menulis.
Kalau tidak salah, premis Runduma adalah pendidikan tidak boleh memisahkan anak-anak dari tanah kelahiran mereka. Pendidikan harus mampu mempertahankan tradisi lokal, meski sering terpinggirkan oleh arus Jakarta-sentris dan diabaikan negara.
Satu atau dua kalimat ini menjadi kompas selama menghadapi tantangan menulis budaya lokal yang sangat kompleks dan rawan bias.
Premis adalah fondasi buku. Sehingga kalau ini goyang, seluruh struktur akan runtuh. Premis yang jelas membantu kamu fokus ketika riset melebar kemana-mana, ketika data terlalu banyak, atau bingung bab mana yang harus ditulis duluan.
Setelah premis jelas, tulis draft kasar tanpa berhenti untuk mengedit. Pisahkan proses menulis dan mengedit, karena keduanya menggunakan bagian otak berbeda dan tidak bisa bekerja bersamaan secara efektif.
Cara agar naskah diterima penerbit?
Cara agar naskah diterima penerbit adalah dengan mempelajari karakter dan niche penerbit yang dituju, lalu menyiapkan paket proposal profesional (sinopsis, daftar isi, dan sampel bab terbaik).
Naskah buku Masalembu saya ditolak oleh dua penerbit sebelum diterima oleh dua penerbit lain. Akhirnya saya memilih Literatus Pustaka karena berlokasi di Sumenep dan Pulau Masalembu berada di Sumenep.
Pelajaran terbesar dari penolakan itu adalah: kalau sudah jadi draft buku, tidak ada tulisan yang jelek, hanya saja belum ketemu rumah yang tepat.
Setiap penerbit punya karakter, target pembaca, dan niche masing-masing. Jangan kirim buku filsafat ke penerbit buku anak, kecuali filsafat anak. Ini kesalahan fatal yang sering dilakukan calon penulis buku.
Untuk penerbit mayor seperti Gramedia, seleksinya sangat ketat dengan dua syarat utama: tulisanmu benar-benar exceptional (spesial banget), atau kamu sudah punya nama besar, misalnya followers yang cukup banyak di media sosial.
Proses menerbitkan buku di penerbit melibatkan banyak tahapan—antara lain editing, layout, proofreading, cetak, promosi, hingga siap dipasarkan—dan semua itu membutuhkan biaya.
Inilah salah satu alasan mengapa kalau tulisanmu belum exceptional, kamu perlu banyak pengikut di media sosial: agar buku kamu laku dan menutup biaya rantai produksi yang panjang.
Alternatif tercepat adalah self-publishing, kamu mengambil paket penerbitan untuk menangani seluruh proses produksi, sambil tetap memiliki kontrol penuh atas konten dan distribusi.
Penulis buku dibayar berapa?
Penulis buku biasanya dibayar dengan sistem royalti sekitar 10% atau 15% dari harga jual atau sistem beli putus, dan itu pun harus bersaing dengan ancaman pembajakan.
Misalnya harga buku 100 ribu, kamu akan dapat 10-15 ribu per buku. Laporan royalti biasanya diterima tiap 2-6 bulan.
Meskipun angka ini kecil, nilai sebenarnya dari buku pertama bukan di uangnya, tetapi di jejak pemikiran dan efek domino yang ditimbulkan.
Dari buku Runduma, royalti yang saya terima hanya sekian persen, tapi efek domino dari menulis luar biasa: saya keliling beberapa pulau, mendapat kesempatan riset baru, dan membuka jaringan yang membawa rezeki berlipat dari royalti buku itu sendiri.
Misalnya, melalui menulis saya membangun jaringan dengan pegiat literasi, yang akhirnya berujung pada kerjasama dengan Gramedia Gelora Indah Purwokerto, meski buku saya belum pernah diterbitkan oleh penerbit tersebut.
![]() |
| Mahéng dan Tim KKF bersama Feby (Gramedia) rencana bedah buku "Nak Kamu Gapapa Kan?". Foto: Dok. Fe. |
Buku pertama adalah investasi jangka panjang, bukan mesin uang instan.
Terbitkan dulu buku pertamamu, bahkan jika harus self-publishing. Uang akan mengikuti secara tidak terduga melalui speaking engagement, kolaborasi riset, konsultasi, atau kesempatan beasiswa dan grant (hibah).
Kesimpulan
Menerbitkan buku pertama adalah perjalanan penuh pembelajaran dari menyelesaikan draft mentah, menghadapi penolakan penerbit, sampai memahami realita royalti.
Langkah pertama yang paling penting adalah menyelesaikan naskah dengan premis kuat, lalu mempelajari karakter penerbit yang sesuai dengan niche tulisanmu. Jangan takut ditolak, karena tidak ada tulisan yang jelek, hanya belum menemukan rumah yang tepat.
Nilai terbesar dari buku pertama bukan di angka royalti, tapi di jejak pemikiran yang kamu tinggalkan dan efek domino yang akan membuka pintu-pintu tidak terduga.
Jika sudah punya naskah hampir selesai, jangan tunda lagi. Riset penerbit, siapkan proposal profesional, dan submit. Self-publishing adalah opsi valid untuk memulai. Yang penting, buku pertamamu harus terbit. Dari situ, perjalanan sesungguhnya sebagai penulis baru dimulai.


Leave a Comment