Runduma: Melampaui Imajinasi 'Surga' dan Gugatan Atas Nalar Pembangunan Jakartasentris

Ketika orang menyebut Wakatobi, yang muncul biasanya adalah laut biru, terumbu karang, dan poster pariwisata yang teramat sempurna.

Saya pun sempat membayangkannya demikian. Sampai akhirnya saya tiba di Pulau Runduma, sebuah pulau kecil di gugusan Wakatobi yang jarang masuk cerita.

Runduma mengubah cara saya memahami kata “surga”.

Melalui riset lapangan untuk buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi, saya menyadari bahwa menyebut suatu tempat sebagai surga sering kali berarti kita berhenti bertanya. 

Kita berhenti melihat kerumitan hidup manusia yang tinggal di dalamnya. Kita berhenti mendengar suara yang tidak masuk brosur wisata.

Pulau yang Jauh, Tapi Tidak Pernah Benar-Benar Dilihat

Secara administratif, Runduma berada di Kecamatan Tomia. Namun secara pengalaman, jaraknya terasa lebih jauh dari sekadar angka di peta. 

Dari pulau utama (Pulau Wangi-Wangi), perjalanan laut dengan kapal kayu memakan waktu lima hingga tujuh jam, bisa lebih, tergantung cuaca dan mesin.

Masyarakat Runduma memiliki sejarah panjang yang terhubung dengan Kesultanan Buton dan identitas maritim Suku Bajo. Mereka adalah bagian dari tradisi laut yang telah bertahan ratusan tahun. Tetapi hari ini, sejarah ketangguhan itu hidup berdampingan dengan keterbatasan yang nyata.

Listrik tidak selalu menyala. Akses kesehatan nyaris tidak ada, internet belakang sudah masuk. Dan ketika seseorang sakit keras, laut yang sama yang memberi kehidupan berubah menjadi penghalang. 

Ketika Risiko Menjadi Bagian dari Hidup Sehari-hari

Untuk mencapai layanan medis di Tomia atau Wangi-Wangi, warga Runduma harus menyewa kapal dengan biaya jutaan rupiah. 

Angka itu mungkin terdengar biasa buat orang kota. Buat nelayan, itu adalah keputusan yang penuh kecemasan. Tidak jarang pertanyaan yang muncul bukan “ke rumah sakit atau tidak”, tapi “apakah kita sanggup”.

Di sini saya belajar bahwa ketimpangan bukan selalu soal niat buruk. Bisa jadi ia hadir karena jarak, karena cara berpikir yang terlalu terpusat, karena kebijakan yang dibuat tanpa pernah benar-benar menginjakkan kaki di tempat yang dibicarakan.

Pendidikan dan Cara Kita Mendefinisikan “Maju”

Setelah pulang dari Runduma, saya bertanya pada diri sendiri: apa sebenarnya arti pendidikan yang baik?

Anak-anak di pulau ini tumbuh dengan pengetahuan yang tidak ada di buku teks nasional. Mereka memahami musim laut, membaca tanda-tanda alam, dan menjaga wilayah peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) dengan cara yang diwariskan turun-temurun. 

Pengetahuan ini lahir dari hidup, bukan dari ruang kelas berpendingin udara.

Masalah muncul ketika sistem pendidikan hanya mengakui satu jenis kecerdasan. Ketika kemajuan selalu diukur dari standar kota besar, dan kehidupan yang berbeda dianggap sebagai kekurangan. 

Dari sini, banyak anak akhirnya dipaksa meninggalkan pulau, bukan karena ingin, tetapi karena definisi “hidup layak” yang terlalu sempit.

Belajar Mengabdi Tanpa Merasa Paling Tahu

Keterlibatan saya di Runduma melalui program Village Development Expedition tidak pernah terasa seperti “memberi”. Justru sebaliknya, saya lebih banyak belajar. 

Belajar tentang kesalingan. Tentang bagaimana relasi seharusnya dibangun tanpa hierarki moral antara penolong dan yang ditolong.

Masyarakat Runduma hidup untuk menjaga laut, menjaga ruang hidup, sering kali tanpa fasilitas yang layak. Dalam diam, mereka melakukan bentuk pengabdian yang jarang kita pahami dan rayakan.

Menulis untuk Menyelamatkan Ingatan

Menulis buku ini adalah kerja yang melelahkan. Mentranskrip wawancara bahasa Indonesia beraksen Runduma membutuhkan kesabaran ekstra. 

Satu jam rekaman bisa berubah menjadi berhari-hari kerja. Namun saya merasa ini penting.

Buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi, catatan lapangan Mahéng selama menjadi relawan di Pulau Runduma bersama Barakati Indonesia dalam program Village Development Expedition #3.
Foto: Jeni Nuraeni

Di Runduma, sejarah hidup dalam cerita lisan. Jika tidak dicatat, ia akan hilang. Literasi, buat saya, bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi keberanian untuk merawat ingatan agar suatu komunitas tidak diceritakan sepenuhnya oleh "orang luar."

Merajut Harapan di Surga yang Sunyi

Runduma mengajarkan saya bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari modernitas. Tetapi keadilan tetap menjadi sesuatu yang tak bisa ditawar.

Runduma tetap perlu dibangun, dengan cara yang lebih membumi dan berakar pada tradisi yang telah lama menopang hidup warganya.

Saya menulis ini bukan agar Runduma dikasihani, melainkan agar ia didengar. Bukan sebagai latar eksotis, tetapi sebagai subjek dengan pengalaman, martabat, dan pengetahuan.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat Indonesia hanya dari balik jendela pencakar langit Jakarta, dan mulai mendengarkan cerita dari pulau-pulau yang selama ini hanya kita sebut “jauh”.

Beberapa dari cerita itu saya himpun dalam buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi, sebuah catatan lapangan tentang hidup, laut, dan manusia di pulau kecil yang jarang diberi ruang bicara.


Buku ini hadir sebagai upaya memberikan ruang bicara bagi mereka yang selama ini hanya dianggap sebagai latar eksotis di peta nusantara.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.