Pujian yang Membuat Saya Berhenti Menulis

Saya punya keyakinan bahwa Tuhan memberi rezeki sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai keinginan.

Manusia sering nggak terlalu jago membedakan keduanya. Saya pun begitu.

Beberapa bulan lalu saya sempat khawatir.

Saya mulai memikirkan nasib blog ini. Tahun lalu saya membeli domain maheng.net (waktu itu domainnya lagi promo, harganya Rp 68.491,00 dari harga aslinya 249 ribu belum termasuk pajak, emang pajak ini ngeselin) dan tema dengan tampilan yang lebih proper karena ingin pembaca merasa nyaman.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat blog ini seperti punya rumah sendiri.

Foto jarak dekat tangan Maheng memegang lembaran resi pembayaran cetak dari Alfamart di latar belakang alam terbuka di Yayasan IAR Indonesia, Sei Awan Kiri, Ketapang. Struk menunjukkan rincian transaksi pembayaran perpanjangan domain maheng.net via DomaiNesia dan Midtrans sebesar Rp278.497 atas nama R A Maheng. Foto ini menjadi gambaran visual dan bukti nyata bahwa merawat blog pribadi independen membutuhkan biaya operasional riil yang tidak bisa dibayar hanya dengan sajak atau idealisme menulis.
Resi perpanjangan domain maheng.net tahun ini, Rp278.497, empat kali lipat dari harga promo tahun lalu. (Dok. Mahéng)

Tentu saja, saya juga berharap Google menganggap rumah ini layak dikunjungi. Saya akui, saya ingin tulisan-tulisan saya masuk ke halaman pertama Google—iya, saya masih ingin divalidasi oleh mesin pencari.

Kalau manusia bilang tulisan kita bagus, kita masih bisa curiga itu cuma sungkan, nggak enakan, takut pertemanan berakhir. Bila Google menaruh tulisan kita di halaman pertama, rasanya seperti mendapat surat rekomendasi dari robot.

Sayangnya, sampai sekarang Google belum memberi saya surat cinta itu.

Berkali-kali saya mendaftar Google AdSense, berkali-kali pula ditolak karena dianggap low-value content.

Tangkapan layar dasbor Google AdSense yang menampilkan status penolakan kebijakan low value content pada blog maheng.net. Memperlihatkan rincian kriteria jaringan penerbit Google yang belum terpenuhi serta tombol request review, sebagai ilustrasi pendukung esai tentang pergulatan bayar domain, monetisasi, dan idealisme menulis di maheng.net.
Tampilan penolakan AdSense "low value content" untuk maheng.net. (Sumber: tangkapan layar)

Saya kemudian memasang Trakteer, siapa tau ada pembaca yang berbaik hati membantu biaya operasional (atau paling nggak saya nggak bingung lagi gimana cara bayar domainnya).

Bukan karena saya tiba-tiba punya cita-cita menjadi kaya dari blog (kalau itu terwujud, alhamdulillah). Atau karena saya mulai alergi dengan idealisme bahwa penulis sejati menulis karena panggilan hati. Saya juga masih percaya bahwa alasan utama saya menulis memang bukan uang.

Saya cuma mulai sadar bahwa ada kebutuhan yang sama sekali nggak puitis: bayar domain.

Saya bisa saja menulis panjang lebar tentang karhutla, keresahan sosial, pengalaman hidup, atau apa pun yang sedang memenuhi kepala. Tapi ketika masa aktif domain hampir habis, maheng.net nggak akan menerima pembayaran dalam bentuk sajak.

Dia maunya uang. Saya tetap butuh internet untuk mengunggah tulisan. Saya tetap makan. Dan sejauh yang saya tau, makanan belum bisa dibeli pakai idealisme. Utang-utang saya masih harus dibayar pakai uang.

Di situlah saya mulai berpikir ulang tentang hubungan saya dengan uang dan dunia menulis.

Dulu saya merasa nggak dilahirkan untuk menjadi penulis. Aneh juga kalau mengingat sekarang saya malah punya beberapa buku. Ada Runduma: Surga Kecil di Wakatobi. Ada Masalembu: Suara dari Laut Seberang. Ada juga roman Nayanika.


Saya menulis karena memang ingin menulis. Nggak jarang ada sesuatu yang berisik di kepala dan baru terasa plong setelah dituangkan jadi kalimat. Blog ini juga sebagian besar isinya begitu. Curhat. Catatan pendek. Sesekali tips menulis.

Pernah juga saya menulis ketika harus berpisah dengan Ayas.

Belakangan, beberapa orang mulai bilang mereka suka tulisan saya. Mungkin related. Ada yang menikmati Masalembu. Ada pula yang bilang menangis setelah membaca Runduma.

Saya senang? Ya jelas. Penulis kalau dipuji ya senang, manusiawi. Bukan patung.

Tapi justru karena itu, saya sering meminta ke orang-orang yang baca tulisan saya: Jangan cuma muji. Kritik juga. Ini bukan basa-basi. Saya sungguh membutuhkannya.

Sebab saya punya masalah yang agak aneh dengan pujian. Kalau tulisan saya dikritik, biasanya saya bisa menerima dengan cukup santai. “Oh, bagian ini kurang bagus.” “Oke.” “Kalimat ini kepanjangan.” “Siap.”

Saat saya belajar nulis di Yogyakarta, saya sering dengar selentingan, “tulisanmu ini, jangankan bagus, jelek aja nggak” Atau Ctrl+A+Delete. Ini bikin mereka-mereka yang ngalamin itu jadi punya mental bagus dan tulisannya jadi berkelas. Pramoedya pernah dibilang oleh Idrus, idolanya sekaligus pelopor prosa Angkatan '45: “Kau tidak menulis, Pram, kau berak!”

Lalu saya bisa kembali menulis. Kritik membuat saya ngerti ada sesuatu yang bisa diperbaiki.

Masalah justru muncul ketika tulisan saya dipuji terlalu bagus. Entah kenapa, setelah mendapat pujian, saya punya kecenderungan ingin menulis lebih baik lagi. Sekilas ini terdengar seperti hal yang bagus. Positif.

Namun, begitu tulisan sebelumnya dipuji, otak saya mulai memasang standar baru.

“Harus lebih bagus dari yang kemarin.” “Jangan sampai mengecewakan.”

Lalu saya mulai terlalu banyak berpikir. Kalimat ini bagus nggak? Terlalu biasa nggak? Kalau humornya terlalu banyak, nanti dianggap nggak serius nggak?

Sampai akhirnya saya nggak menulis apa-apa.Writer’s block, ternyata bisa juga datang karena kebanyakan dipuji. Ironis sekali. Orang mengira pujian adalah bahan bakar buat penulis.

Buat saya, kadang-kadang pujian malah seperti rem tangan.

Karena itu saya justru suka dikritik. Kritik membuat saya nggak merasa sudah selesai. Ketika seseorang bilang, “Mahéng, ini apaan?”, saya nggak harus langsung jadi penulis hebat. Saya cuma perlu memperbaiki bagian itu.

Kalimat teguran itu sangat membantu membuat saya lebih mudah menulis tulisan selanjutnya.

Lalu, bagaimana dengan urusan AdSense yang ditolak dan Trakteer yang sepi tadi?

Di sinilah sesuatu yang menarik terjadi. Meski belum ada yang benar-benar jadi penyelamat keuangan blog, domain ini ternyata tetap bisa dibayar. Saya kembali teringat keyakinan di muka tulisan tadi.

Rezeki memang nggak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

Saya mengetuk pintu Adsense. Belum dibuka. Saya pasang Trakteer. Belum ramai.

Tapi ada orang yang membaca. Ada yang membeli buku. Ada yang mengirim pesan. Ada yang memuji, ada juga yang mengkritik. Dan entah bagaimana, dari jalan yang nggak saya duga, kebutuhan itu tetap terpenuhi.

Domainnya tetap hidup. Blog ini masih ada. Saya masih bisa menulis. Mungkin itu juga rezeki.

Sebab kalau dipikir-pikir, apa gunanya mendapatkan uang dari menulis kalau kemudian saya malah nggak punya keberanian untuk menulis karena terlalu sibuk memikirkan ekspektasi pujian orang lain?

Saya akhirnya sampai pada kesimpulan yang agak lucu. Saya memang nggak menulis untuk uang. Tapi saya tetap membutuhkan uang agar bisa terus menulis. Dan saya nggak malu mengakuinya lagi.

Saya juga nggak malu bilang bahwa saya masih ingin dipuji. Tapi saya tau sekarang, saya juga sangat membutuhkan kritik. Pujian membuat hati saya senang. Kritik membuat otak saya kembali bergerak. Dan mungkin saya perlu keduanya dalam jumlah yang nggak berlebihan.

Terlalu sedikit pujian, penulis bisa kehilangan kepercayaan diri. Terlalu banyak pujian, penulis bisa kehilangan tulisan.

Karena itu, kepada kamu yang selama ini sering mampir ke blog ini, membeli buku saya, atau sekadar ikut baca racauan saya, terima kasih. Kalau suka, bilang suka. Tapi kalau ada yang jelek, tolong bilang juga.

Nggak usah sungkan. Barangkali tulisan saya memang jelek. Barangkali ada bagian yang menurut saya keren, tetapi buat pembaca malah bikin ingin menutup tab.

Nggak apa-apa. Saya masih belajar. Lagipula, saya sudah cukup sering dipuji untuk ngerti kalau pujian itu menyenangkan.

Sekarang saya ingin belajar bahwa kritik juga bisa jadi bentuk rezeki.

Sebab ada rezeki yang membantu bayar domain. Dan ada rezeki yang membuat saya nggak berhenti menulis.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Masalembu: Suara dari Laut Seberang
Masalembu Suara dari Laut Seberang beli buku
Runduma: Surga Kecil di Wakatobi
Runduma Surga Kecil di Wakatobi beli buku

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.