Cara Menulis Feature dan Jurnalisme Naratif yang Menggugah

Menulis adalah sebuah perjalanan, namun menulis feature atau jurnalisme sastrawi adalah tentang bagaimana kita mengajak pembaca ikut serta dalam perjalanan tersebut.

Tahun 2020, saya menulis sebuah artikel feature berjudul Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?, cerita tentang saya yang punya banyak nama.

Artikel itu bukan berita. Bukan laporan investigasi. Bukan esai akademis. Ia disebut juga jurnalisme narasi.

Feature adalah sebuah cerita jurnalistik yang dalam, personal, dan tidak terburu-buru. Feature Kenapa Saya Dipanggil Mahéng? butuh waktu lima tahun untuk matang sebelum saya publikasikan ulang di blog ini.

Dan untuk belajar menuliskannya sama guru saya Andreas Harsono, saya butuh waktu bertahun-tahun.

Mahéng memegang modul Kursus Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (periode 3-14 Juni 2013) di Taman Baca Kesiman Bali
Modul Kursus Jurnalisme Sastrawi (Periode 2013) di Taman Baca Kesiman, Bali. (Foto: Dok. Mahéng)

Banyak orang bingung: apa bedanya feature dengan berita? Kenapa feature bisa sepanjang 3000 kata, sementara berita cukup 300 kata? Dan yang paling sering ditanya: bagaimana cara menulis feature yang mendalam tapi tetap enak dibaca?

Di artikel ini, saya akan berbagi cara menulis feature berdasarkan pengalaman saya—dari riset mendalam sampai jadi tulisan yang menggugah dan bikin pembaca seakan-akan ikut di dalam cerita.

Tidak perlu jadi jurnalis profesional untuk menulis feature. Yang penting: kamu punya cerita yang layak digali lebih dalam.

Apa Itu Menulis Feature?

Feature adalah tulisan jurnalistik yang berfokus pada kedalaman cerita, bukan sekadar kecepatan informasi seperti berita straight news.

Feature menjawab "So what?" (kenapa pembaca harus peduli), bukan hanya 5W+1H.

Kalau berita adalah potret cepat, feature adalah lukisan detail yang butuh waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk selesai. Kalau berita menggunakan piramida terbalik, feature piramidanya bisa terbalik-balik malah, atau bisa jadi segi empat, lonjong.

Aspek Berita Feature
Tujuan Memberikan informasi cepat dan aktual Memberikan kedalaman cerita dan emosi
Lead Langsung (5W+1H) Naratif, deskriptif, atau filosofis
Panjang Pendek (300–500 kata) Panjang (1000–3000 kata)
Gaya Bahasa Objektif, lugas, faktual Boleh subjektif, deskriptif, sastrawi
Sifat Cepat basi Abadi (evergreen)

Feature cocok untuk profil tokoh, investigasi mendalam, atau kisah human interest yang butuh konteks kuat. Berita straight news menjawab "apa yang terjadi", sedangkan feature menjawab "kenapa ini penting dan apa artinya buat hidup manusia".

Apa Saja Contoh Feature?

Sebelum masuk ke teknik penulisan, kita harus memahami bahwa feature memiliki banyak wajah. Berikut adalah beberapa jenis feature yang umum ditemui:

  1. Human Interest Feature: Berfokus pada emosi manusia. Contohnya adalah tulisan saya, "Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?"—sebuah cerita tentang diri saya sendiri yang punya banyak nama.
  2. Profile Feature: Menggali sosok secara mendalam. Bukan hanya biodata, tapi juga pemikiran dan kegelisahannya.
  3. Investigative Feature: Menggabungkan fakta keras investigasi dengan narasi yang menarik.
  4. Travel Feature: Bukan sekadar panduan wisata, tapi tentang pengalaman batin di sebuah tempat. Buku Masalembu dan Runduma saya tulis melalui pendekatan ini.
  5. News Feature: Memberikan latar belakang pada sebuah berita yang sedang hangat.
  6. Historical Feature: Mengangkat kembali sejarah dengan gaya bercerita modern.

7 Langkah Menulis Feature

Langkah menulis feature berbeda dengan menulis berita. Berita fokus pada kecepatan dan fakta (5W+1H), sedangkan feature fokus pada kedalaman dan narasi.

Berikut 7 langkah yang bisa kamu pakai, meskipun langkah-langkah menulis feature jauh lebih kompleks karena melibatkan proses kreatif dan perenungan:

Langkah 1: Riset Mendalam

Feature butuh riset lebih dalam dari berita. Tidak cukup wawancara 30 menit lewat telepon.

Untuk artikel "Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?", saya tinggal di Gampong Paya Baro, mendengar cerita keluarga, serta literatur dan berbagai sumber.

Saya kumpulkan detail kecil yang tidak mungkin didapat dari wawancara singkat, dari cara orang Paya Baro menyebut sungai dengan kata "krueng", atau bagaimana kerbau di sana tahu kapan harus pulang ke kandang.

Tips: Jangan hanya bertanya. Luangkan waktu minimal 2-3 kali sesi wawancara. Kalau bisa, observasi langsung. Detail kecil seperti cara narasumber menyeruput kopi dengan tangan bergetar yang kamu lihat akan jadi cerita yang kuat.

Langkah 2: Tentukan Angle yang Spesifik

Kelemahan banyak penulis adalah ingin menceritakan segalanya dalam satu tulisan. Itu akan membuat tulisanmu dangkal. Jangan terlalu luas. Feature yang baik punya satu angle yang sangat spesifik.

Bukan "Profil Orang Aceh di Jogja" (terlalu luas), tapi "Mengapa Mahéng Bisa Punya Banyak Nama?" (spesifik dan unik).

Tips: Tanya pada diri sendiri: "Apa satu hal unik yang membedakan cerita ini dari cerita lain?" Itulah angle-mu.

Langkah 3: Pilih Struktur Naratif

Feature bisa linear (A → B → C) atau non-linear (B → C → A) flashback, frame story. Jadi bukan piramida terbalik, bisa jadi 5W+1H bisa tersebar secara acak di seluruh badan feature.

Artikel "Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?" pakai frame story: dimulai dari pesawat, flashback ke masa lalu di Paya Baro, kembali ke present di Jogja, lalu ending.

Tips: Kalau ceritanya kompleks dan punya banyak timeline, pakai non-linear. Kalau sederhana, pakai linear saja.

Langkah 4: Tulis Lead yang Menggoda

Ini perbedaan terbesar antara berita dan feature. Lead berita harus langsung (5W+1H), tapi lead feature harus menggoda pembaca untuk terus baca.

Feature lead bisa:

Filosofis:
"Kita harus keluar kamar agar mengetahui kondisi rumah kita yang sesungguhnya."

Deskriptif:
"Jalanan ke Gampong Paya Baro masih berbatu. Pinggang kamu akan kesakitan setelah satu jam perjalanan. Tapi pemandangannya memanjakan lensa kamera dan sekaligus menyimpan sejarah kelam."

Dialog:
"Pakai nasi, ora, Mas?" tanya ibu warung pada Ajeng yang baru tiba di Jogja.

Jangan pernah mulai feature dengan kalimat berita seperti "Mahéng adalah penulis asal Aceh yang jatuh hati pada Ayas Adinda..." Itu membosankan.

Bukan jatuh hati pada Ayas Adinda yang membosankan, tapi cara menulis kalimatnya. Hehehe

Langkah 5: Bangun Karakter Lewat Detail

Show, don't tell. Tunjukkan, jangan ceramahi pembaca.

Jangan tulis "Ajeng adalah orang sederhana", tapi tunjukkan: "Ia naik pesawat dengan celana training dan sandal jepit, membawa sebuah tas dari karung goni."

Jangan tulis "Pak Kasem adalah orang yang sabar", tapi tunjukkan: "Meski bahunya copot dan kedua rahangnya patah, ia tidak pernah menceritakan penyiksaan itu kepada siapa pun, selain pada saya."

Tips: Detail kecil menciptakan kredibilitas. Detail Atmosfer, detail sensorik. Pakai sandal jepit di pesawat, cara Ajeng salah paham kata "ora", semua ini membuat karakter hidup.

Langkah 6: Sisipkan Konteks Tanpa Mengganggu Alur

Feature butuh konteks: sejarah, geografi, budaya. Tapi jangan sampai jadi textbook.

Cara salah:
"Paya Baro adalah Gampong di Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, yang terletak 50 kilometer dari Meulaboh dan memiliki jumlah penduduk 500 jiwa."

Cara benar:
"Sebelum jalan ini ada, masyarakat yang ingin ke kota Meulaboh harus menaiki jalo meusein (sampan mesin) menyusuri sungai selama satu jam. Jika cuaca buruk, kecelakaan sering terjadi. Banyak jalo ditelan pusaran air raksasa dan dalam."

Konteks yang kedua lebih hidup karena disajikan dalam narasi, bukan statistik.

Langkah 7: Edit Tanpa Ampun

Editing adalah bagian dari proses menulis, meskipun tulisan kamu akan diserahkan pada editor, kamu wajib terlebih dahulu mengedit secara mandiri.

Feature bisa panjang—1000, 2000, bahkan 3000 kata lebih. Tapi setiap kalimat harus punya fungsi.

Hapus dan edit semua yang tidak mendukung tema utama.

Artikel "Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?" versi pertama (2020) panjangnya ribuan kata. Saya lupa persisnya. Setelah edit berkali-kali, jadi sekitar 3000 kata.

Tips: Baca ulang setelah satu hari. Tanya pada setiap paragraf: "Apakah bagian ini penting untuk cerita?" Kalau tidak, hapus.

Apa Saja Contoh Penulisan Artikel Feature?

Ada banyak contoh feature, tapi yang paling sulit adalah menulis lead atau hook.

Berikut contoh lead menarik dari berbagai jenis feature:

Contoh 1: Human Interest Feature

Judul: "Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?"

Lead:
"Kita harus keluar kamar agar mengetahui kondisi rumah kita yang sesungguhnya.

**

Orang memanggilnya Ajjank, salah satu siswa dari Gampong Paya Baro, sebuah desa di pelosok Aceh Barat yang melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta..."

Kenapa ini kuat:

  • Lead filosofis yang bikin penasaran
  • Detail kaya (Kondisi Gampong Paya Baro, Krueng Woyla, jungle boots)
  • Twist ending (kamu baca dulu featurenya, biar tahu twistnya)
  • Struktur non-linear yang kompleks tapi enak dibaca

Contoh 2: Profile Feature

Lead:
"Ali Kasem tidak pernah memilih jadi Geuchik. Tapi ketika tidak ada yang mau, ia menerima tanggung jawab itu—meski harus menukar nyawa dengan jabatan."

Kenapa ini kuat:

  • Konflik internal yang kuat
  • Dilema moral yang relatable
  • Langsung masuk ke inti cerita

Contoh 3: Travel Feature

Lead:
"Jalanan ke Paya Baro masih berbatu. Pinggang kamu akan kesakitan setelah satu jam perjalanan. Tapi pemandangannya indah sekaligus menyimpan sejarah kelam."

Kenapa ini kuat:

  • Detail sensoris yang kuat (sakit pinggang, jalan berbatu)
  • Kontras: indah vs kelam
  • Bikin pembaca penasaran: sejarah kelam apa?

Kesimpulan

Feature bukan soal panjang, tapi kedalaman.

Artikel "Kenapa Saya Dipanggil Mahéng?" ditulis pertama kali tahun 2020, direvisi 2025 atau butuh waktu lima tahun untuk matang.

Jangan terburu-buru. Feature yang baik adalah feature yang membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca, bahkan setelah 3000 kata. Feature yang baik adalah feature yang membuat pembaca merasa: "Wah, saya berasa nonton dan ada di lokasi."

Perbedaan utama antara berita dan feature: berita memberitahu fakta, feature membuat pembaca merasakan makna di balik fakta tersebut.

Sekarang giliranmu. Pilih satu cerita yang menurutmu punya kedalaman, bisa cerita tentang nama kamu, tentang orang tua yang punya sejarah kelam, atau tentang tempat yang jarang orang tahu.

Lalu tulis dengan 7 langkah di atas.

Mulai dari lead yang menggoda, bukan dari fakta yang membosankan. Feature yang baik selalu dimulai dari pertanyaan "So what? Kenapa pembaca harus peduli?"

Kalau kamu bisa menjawab pertanyaan itu dengan jujur dan mendalam, kamu sudah punya setengah jalan menuju feature yang kuat.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.