Tips Menulis Catatan Perjalanan: Panduan Lengkap dari Travel Writer
Tips menulis catatan perjalanan yang paling efektif bukan sesuatu yang rumit, melainkan tentang bagaimana melatih mata untuk melihat lebih detail dan telinga untuk mendengar lebih jernih.
Saya masih ingat saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Runduma, atau ketika berada di atas dek kapal menuju Pulau Masalembu.
Detail-detail kecil seperti suara cicak, decit tali tambat, atau warna atap rumah yang berkarat kemudian menjadi jantung dari catatan perjalanan saya. Detail semacam ini mudah sekali hilang jika tidak segera ditangkap oleh mata yang jeli dan telinga yang peka.
Menulis catatan perjalanan adalah upaya melawan lupa atas detail-detail yang sering kali tersapu oleh waktu.
Di artikel ini, saya membagikan cara mengubah pengalaman perjalanan menjadi tulisan yang hidup dan bermakna, berdasarkan pengalaman nyata menulis buku perjalanan.
Tips Menulis Catatan Perjalanan yang Menarik dan Berkesan
Menulis catatan perjalanan yang menarik membutuhkan lebih dari sekadar mencatat itinerary, harga tiket, lokasi yang harus dikunjungi, atau deskripsi tempat wisata.
Yang kamu butuhkan adalah teknik observasi yang tajam dan keberanian untuk menuliskan apa yang benar-benar kamu rasakan.
Cara Menulis Catatan Perjalanan?
Cara menulis catatan perjalanan yang efektif dimulai dengan mencatat secara spontan di lapangan, fokus pada detail sensorik, dan menangkap jiwa tempat melalui interaksi dengan warga lokal, bukan sekadar deskripsi fisik.
Dalam proses menulis buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi, saya sering membawa gawai meski di Pulau Runduma saat itu tidak ada koneksi internet.
Saya punya grup yang isinya cuma saya sendiri yang saya beri nama “Dapur Imajinasi”. Di grup itu, saya mencatat observasi secara real-time seperti percakapan di dermaga dan warna atap rumah yang mulai berkarat.
Detail-detail ini tidak akan muncul jika saya menunda menulis sampai kembali ke tempat menginap.
Otak manusia punya kecenderungan meromantisasi atau menyederhanakan memori. Kalau kamu menunggu sampai di rumah untuk menulis, yang tersisa hanya kesan umum seperti “indah” atau “menyenangkan.”
Kata-kata semacam ini klise dan tidak memberi gambaran konkret.
Kalau kamu sering mengalami kebuntuan saat menulis, mulai dengan membangun kebiasaan menulis sederhana seperti langsung mencatat secara real-time.
Jadi, jangan tunda. Tulis di tempat, karena detail kecil punya dampak besar untuk tulisanmu.
Bagaimana langkah menulis teks perjalanan?
Langkah menulis teks perjalanan yang terstruktur setelah mencatat spontan tadi adalah menemukan jiwa tempat melalui manusia dan cerita mereka untuk memberikan nyawa pada tulisan.
Dalam proses menulis Masalembu: Safarnama Membekas di Jantung Nusantara, saya tidak langsung fokus pada deskripsi pantai atau mercusuar. Saya justru lebih banyak menghabiskan waktu mengobrol dengan nelayan, guru sekolah, dan ibu-ibu.
Dari percakapan itulah saya mempertegas premis buku: Pulau Masalembu tidak menakutkan seperti yang digambarkan orang-orang di internet.
Banyak penulis perjalanan terjebak menulis seperti brosur wisata: harga tiket, jam buka, lokasi GPS. Padahal, yang membuat catatan perjalanan berkesan adalah manusianya.
Cerita orang-orang yang ditemui, kebiasaan lokal, bahkan konflik sosial yang tersembunyi.
Kalau kamu punya foto, itu cukup membantu mengingat, tapi tulisan memberi konteks dan emosi yang tidak tertangkap kamera.
Apa saja contoh tulisan perjalanan?
Contoh tulisan perjalanan yang baik bekerja dengan prinsip show, don’t tell: penulis tidak mengatakan bahwa suatu tempat itu “ramai”, “indah”, atau “menyentuh”, melainkan menunjukkan bukti-buktinya lewat detail konkret yang bisa dirasakan pembaca.
Berikut dua contoh konkret dari pengalaman saya menulis buku perjalanan.
Contoh 1
Di sisi dermaga, keramahan penduduk lokal sudah terasa. Puluhan atau mungkin ratusan orang berjubel. Ada yang menjemput sanak-kadang, sibiran tulang, atau keluarga. Ada yang menekel kiriman dan logistik, tumpah ruah. Lansekap begitu riuh dan ramai, serta terpancar kebahagiaan baik oleh penumpang kapal maupun penyambut. Suara teriakan para pengunjung dan decit tali bercampur dengan suara ombak.
Saya tidak menulis “dermaga itu ramai”, tetapi menunjukkan keramaian lewat jumlah orang, aktivitas mereka, suara teriakan, dan decit tali kapal.
Pembaca menyimpulkan sendiri suasananya, tanpa perlu diberi tahu secara langsung.
Contoh 2
Dari atas ketinggian, Baubau tampak seperti lukisan abstrak. Rumah-rumah penduduk dengan atap warna-warni bertaburan di antara pohon yang sebagian rantingnya mulai mengering. Rumah-rumah itu terlihat seperti bungkus rokok yang tersusun rapi, beratap biru, putih, sebagian kecokelatan karena sengnya sudah berkarat.
Di sini saya tidak menulis “pemandangannya indah”, tetapi menyebut warna atap, kondisi seng, dan menggunakan perbandingan visual yang spesifik.
Detail-detail inilah yang menggantikan kata-kata klise.
Prinsip show, don’t tell bekerja dengan satu aturan sederhana: setiap kali kamu ingin menulis kata-kata generik seperti “ramai”, “indah”, atau “menarik”, gantilah dengan jawaban atas pertanyaan apa yang sebenarnya kamu lihat, dengar, atau rasakan di tempat itu.
Detail sensorik membuat pembaca mengalami peristiwa, bukan sekadar membaca penilaian kamu sebagai penulis.
Jadi, kalau kamu tergoda menulis kata seperti “keren”, “bagus”, atau “cantik”, berhenti sejenak dan tanyakan: detail apa yang membuat tempat itu terasa demikian?
Tulis detailnya, dan biarkan pembaca merasakan sendiri. Dengan begitu tulisanmu jauh lebih hidup.
Apa saja struktur catatan perjalanan?
Struktur catatan perjalanan yang efektif terdiri dari tiga elemen utama: orientasi, observasi, dan refleksi. Struktur ini membantu tulisan tetap fokus, bernapas, dan tidak berubah jadi laporan wisata.
Gunakan struktur ini secara konsisten saat menyusun draft.
Pada bagian orientasi, gambarkan ekspektasi awal dan suasana keberangkatan: kondisi kapal, cuaca, tubuh yang lelah atau antusias, serta bayangan awal tentang tempat yang akan dituju.
Bagian ini berfungsi sebagai pintu masuk emosional bagi pembaca.
Di bagian observasi, fokus pada detail yang benar-benar kamu alami di lapangan—apa yang dihirup, didengar, disentuh, dan dilihat. Inilah jantung catatan perjalanan.
Detail sensorik dan interaksi dengan warga lokal membuat tempat terasa hidup, bukan sekadar koordinat geografis.
Di bagian refleksi, tuliskan perubahan yang terjadi dalam diri kamu selama perjalanan.
Bukan kesimpulan moral yang menggurui, melainkan kesadaran kecil yang muncul: kegelisahan baru, sudut pandang yang bergeser, atau pertanyaan yang belum terjawab.
Struktur ini memberi ruang pada transformasi personal. Inilah yang membedakan catatan perjalanan dari laporan wisata.
Perjalanan yang baik hampir selalu mengubah sesuatu dalam diri penulis, sekecil apa pun.
Belakangan, saya mempelajari satu teknik penutup yang belum sempat saya terapkan di Runduma maupun Masalembu: penutup mic drop.
Penutup mic drop adalah momen yang menghantam pembaca. Biasanya berupa pertanyaan, ironi, atau pengamatan sederhana yang dibiarkan menggantung.
Teknik ini bekerja karena pembaca diajak berpikir sendiri, bukan dituntun menuju kesimpulan.
Contoh penutup mic drop:
Di Pulau Masalembu, listrik hanya menyala beberapa jam sehari.
Tapi ingatan tentangnya, entah kenapa, justru sulit dimatikan.
Penutup seperti ini tidak menjelaskan apa-apa, tapi justru meninggalkan gema.
Dan sering kali, gema itulah yang membuat sebuah catatan perjalanan diingat lebih lama daripada seluruh deskripsi tempat di dalamnya.
Berhenti Sejenak di Foto Ini
![]() |
| Dipotret oleh Rora |
Tuliskan satu paragraf di kolom komentar artikel ini, tanpa menyebut kata “indah”, “lucu”, atau “bahagia”, tentang apa yang kamu lihat, pikirkan, atau bayangkan jika berada di tempat ini.
Kesimpulan
Menulis catatan perjalanan bukan soal ke mana kamu pergi, tapi apa yang benar-benar kamu lihat, dengar, dan alami di sana. Detail kecil seperti suara, bau, dan interaksi manusia jauh lebih menggugah daripada sekadar daftar tempat dan itinerary.
Catatan perjalanan yang kuat lahir dari kebiasaan mencatat di tempat, mengutamakan manusia dan cerita mereka, serta menunjukkan pengalaman lewat detail konkret.
Pada akhirnya, perjalanan yang baik hampir selalu meninggalkan perubahan, sekecil apa pun. Tugas penulis adalah menangkap perubahan itu sebelum ingatan memudar.


Leave a Comment