7 Langkah Menulis Berita untuk Pemula (dengan Contoh Nyata)
Tahun 2019, saat masih bekerja sebagai jurnalis di Suara.com, saya menulis berita tentang Pasha, seorang bocah yang terancam putus sekolah akibat sistem zonasi.
Berita itu dibaca banyak pasang mata, dibagikan, dan memicu diskusi publik tentang kebijakan pendidikan.
Sebelum menulis berita itu, saya juga harus memikirkan: dari mana mulainya? Bagaimana caranya supaya cerita Pasha tidak sekadar jadi data statistik, tapi benar-benar menggerakkan empati pembaca?
![]() |
| Dokumentasi pribadi di kantor Arkadia Digital Media (Suara.com) Jogja. |
Menulis berita berbeda dengan menulis esai atau cerita perjalanan. Ada struktur, ada aturan, ada teknik khusus yang harus dikuasai.
Di artikel ini, saya akan berbagi 7 langkah menulis berita yang saya pelajari selama bekerja sebagai jurnalis—dengan contoh konkret dari berita yang pernah saya tulis. Baca di sini.
Meski contohnya berita 2019, prinsip-prinsip ini tetap relevan sampai sekarang. Yang berubah hanya medium dan kecepatan distribusi, tapi fondasi dasarnya tetap sama.
7 Langkah Menulis Berita
Langkah 1: Tentukan Angle Berita
Angle adalah sudut pandang atau fokus ceritamu. Satu peristiwa bisa punya puluhan angle berbeda.
Berita tentang sistem zonasi pendidikan tahun 2019 bukan hal baru. Sudah banyak media yang memberitakan. Tapi angle yang saya pilih: dampak kebijakan ini terhadap bocah kurang mampu seperti Pasha.
Bukan statistik makro tentang ribuan siswa, tapi satu wajah manusia yang bisa pembaca lihat, rasakan, dan peduli.
Kenapa angle ini kuat? Karena menghadirkan wajah manusia di balik kebijakan. Pembaca tidak peduli angka, tapi peduli cerita.
Tips memilih angle:
- Cari yang spesifik, bukan umum
- Cari yang human interest, bukan sekadar fakta kering
- Tanya: "Kenapa orang harus aware dengan berita ini?"
Langkah 2: Kumpulkan Fakta dengan 5W+1H
Sebelum menulis, kamu harus punya fakta lengkap.
Ini dasarnya jurnalisme: 5W+1H.
What (Apa yang terjadi): Pasha terancam putus sekolah karena sistem zonasi
Who (Siapa yang terlibat): Pasha, keluarganya, tetangga, dan lain-lain
When (Kapan terjadi): Juli 2019, saat kebijakan zonasi diterapkan
Where (Di mana): Lokasi tempat tinggal Pasha dan sekolah yang dituju
Why (Mengapa terjadi): Karena rumah Pasha di luar zona sekolah yang dia inginkan
How (Bagaimana prosesnya): Detail bagaimana dia tidak bisa mendaftar, reaksi keluarga, dampaknya
Tanpa 5W+1H, beritamu tidak lengkap. Ini checklist wajib sebelum menulis.
Langkah 3: Wawancara Narasumber
Berita bukan opini. Kamu butuh narasumber yang kredibel untuk memvalidasi faktamu.
Untuk berita Pasha, saya wawancara:
- Pasha dan keluarganya (korban kebijakan)
- Tetangganya
- Ombudsman Republik Indonesia DIY
Triangulasi dari berbagai sumber ini penting supaya beritamu tidak bias, tidak berat sebelah, dan faktual.
Tips wawancara:
- Siapkan pertanyaan sebelumnya, semua pertanyaan sudah kamu susun di rumah, pelajari berbagai tulisan atau artikel terkait, tapi jangan kaku, ikuti flow percakapan
- Catat semua quote penting (rekam lebih baik)
- Minta izin sebelum merekam atau mengutip
Langkah 4: Buat Lead yang Kuat
Lead adalah kalimat pertama atau paragraf pertama beritamu. Ini yang menentukan apakah pembaca akan lanjut baca atau langsung close tab.
Lead yang baik harus: singkat, padat, menarik, dan langsung ke inti.
Contoh lead lemah:
Sistem zonasi pendidikan yang diterapkan pemerintah tahun 2019 menuai banyak kritik dari berbagai kalangan.
Ini terlalu umum, tidak ada human interest, pembaca langsung bosan.
Contoh lead kuat (seperti berita Pasha):
Sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kembali memakan korban. Salah satunya Muhammad Pasha Pratama (12), warga Bulu RT5/RW14 Desa Bejiharjo, Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Langsung ada tokoh (Pasha), ada konflik (memakan korban), ada di mana (warga Bulu RT5/RW14 Desa Bejiharjo). Pembaca langsung penasaran: terus gimana nasib Pasha?
Langkah 5: Susun dengan Piramida Terbalik
Struktur berita berbeda dengan cerita fiksi. Berita pakai piramida terbalik: informasi paling penting di atas, detail pendukung di tengah, background di bawah.
Kenapa?
Karena pembaca berita tidak punya waktu, dengan jutaan berita yang ada di internet. Mereka mau tahu inti ceritanya dulu. Kalau tertarik, baru baca detail.
- Lead (paragraf 1–3): Inti berita, 5W+1H singkat
- Body (paragraf 3–6): Detail cerita, quote narasumber, fakta pendukung
- Background (paragraf 7–dst.): Konteks, sejarah kebijakan, data statistik
Jangan pernah tulis berita seperti novel, umumnya panjang berita sekitar 300 kata, pembaca berita tidak sabar menunggu klimaks di akhir.
Langkah 6: Sisipkan Quote yang Powerful
Quote bukan sekadar isian. Quote harus menambah dimensi emosi atau fakta yang tidak bisa kamu tulis dengan kata-katamu sendiri.
Quote yang lemah:
"Aku sedih karena tidak bisa sekolah," kata Pasha.
Ini terlalu datar. Tidak ada yang spesial.
Quote yang kuat:
"Aku maunya di SMP 2 Karangmojo, karena sekolah swasta yang paling dekat jaraknya 5 km. Kalau di SMP 2 Karangmojo, aku bisa nebeng motor dengan teman,” tuturnya sedih sembari menundukkan kepala.
Quote ini powerful karena ada detail emosi (menundukkan kepala), ada pertanyaan retoris yang menggerakkan empati, ada kontras ironis (aku bisa nebeng motor dengan teman).
Tips memilih quote:
- Pilih yang paling emosional atau paling faktual
- Jangan ubah kata-kata narasumber (kecuali untuk grammar)
- Maksimal 2–3 kalimat per quote supaya tidak terlalu panjang
Langkah 7: Edit dan Fact-Check
Sebelum publish atau kirim ke redaksi, lakukan 3 hal ini:
1. Cek kembali semua fakta: Nama, angka, lokasi, tanggal. Pastikan akurat. Satu kesalahan kecil bisa menghancurkan kredibilitasmu. Atau bahkan jatuh ke fitnah.
2. Hilangkan opini pribadi: Berita harus objektif. Meski ada angle. Jangan tulis "kebijakan yang tidak adil ini" atau "Pasha yang malang". Biarkan fakta dan quote yang bicara.
3. Edit judul: Judul harus informatif, tidak clickbait, tapi tetap menarik. Jangan tulis "Kisah Pasha yang Bikin Nangis" (terlalu clickbait). Lebih baik "Pasha, Bocah Miskin Terancam Putus Sekolah Akibat Sistem Zonasi" (informatif tapi tetap human interest).
Apa Saja 6 Unsur Berita?
Berita yang baik harus memenuhi 6 unsur ini:
- Aktual (terbaru, bukan berita lama, kecuali jika berita lamanya punya sisi aktualitas)
- Faktual (berdasarkan fakta, bukan opini)
- Penting (relevan dengan kehidupan pembaca)
- Menarik (ada human interest atau konflik)
- Objektif (boleh berpihak asal tetap objektif, cover semua sisi)
- Berimbang (triangulasi dari berbagai narasumber)
Kalau salah satu unsur ini tidak ada, beritamu lemah.
4 Struktur Teks Berita
Struktur berita yang paling umum adalah piramida terbalik, yang terdiri dari 4 bagian:
- Lead (kalimat/paragraf pembuka): Inti berita, jawab 5W+1H secara singkat
- Body (tubuh berita): Detail cerita, quote narasumber, fakta pendukung
- Quote (kutipan langsung): Pernyataan narasumber yang menambah dimensi
- Penutup (background/konteks): Sejarah kebijakan, data statistik, analisis
Jangan menulis berita seperti cerpen, pembaca berita mau tahu intinya dulu, baru detail.
Update 2026: Apa yang Berubah?
Prinsip 7 langkah ini masih sama dari 2019 hingga 2026. Tapi ada beberapa hal yang berubah:
Kecepatan: Berita sekarang harus lebih cepat (real-time). Kalau kamu terlambat 30 menit, sudah kalah dengan media lain.
SEO: Berita online harus SEO-friendly. Judul harus mengandung keyword yang dicari orang, struktur harus pakai heading H2/H3, dan harus ada internal link.
Media sosial: Berita harus ada versi pendek untuk media sosial. Satu berita, tiga format berbeda.
Tapi fondasi dasarnya—5W+1H, lead yang kuat, piramida terbalik, quote yang powerful—tetap tidak berubah. Teknik jurnalisme ini sudah teruji puluhan tahun.
Kesimpulan
Menulis berita bukan sekadar menyampaikan fakta. Ini soal bagaimana kamu mengemas fakta supaya pembaca peduli, paham, dan tergerak.
Sebab berita yang baik bukan yang paling panjang atau paling banyak data. Berita yang baik adalah berita yang membuat pembaca peduli dan bertindak.
Sekarang giliranmu. Apa berita pertama yang akan kamu tulis?


Leave a Comment