Krisis Bensin, Air, Udara di Ketapang: Negara Boleh Kehabisan Solusi, Asal Rakyat Jangan Kehabisan Tenaga
Di Ketapang, Kalimantan Barat, ada tiga hal yang belakangan terasa seperti benda gaib: air bersih, udara nggak beracun, dan bensin.
Ketiganya sama-sama sulit didapat, sama-sama dibutuhkan untuk bertahan hidup, dan sama-sama nggak bisa digantikan dengan imbauan.
Minggu, 11 Oktober, saya pergi ke pusat Kabupaten Ketapang. Niatnya bisa dibilang mulia: mencari suasana baru untuk menulis Bab 15 buku dua puluh tahun YIARI. Di Learning Centre Sir Michael Uren di Sei Awan Kiri, asap sudah membuat kepala pening. Ide tulisan pun mengering.
Saya berharap suasana kafe bisa membantu. Paling nggak, kalau sama-sama nggak menghasilkan apa-apa, kopi nggak bikin migrain seperti habis dengerin statemen pejabat yang bilang sudah menggunakan segala cara mengatasi karhutla.
Malam sebelumnya, Atria, dokter hewan relawan, menggambar henna di lengan saya. Ada koordinat Learning Centre dan nama Ayas. Sebuah karya seni yang menggabungkan geografi, organisasi konservasi, dan urusan perasaan.
Lengan saya resmi jadi peta yang bisa dibaca buat yang paham, meskipun hidup pemiliknya sendiri nggak menunjukkan arah yang meyakinkan.
Sayangnya, perjalanan ke pusat kabupaten menghadirkan persoalan yang lebih mendesak daripada koordinat dan asmara: bensin.
Ketika Bensin Jadi Benda Gaib
Motor nyaris kosong. Sebelum berangkat, saya sudah meminta kolega yang pakai motor ini mengisi bensin. Di Sei Awan Kiri, bensin sudah seperti janji politisi.
Dia mencoba mencari, tetapi gagal. Di Ketapang, bensin eceran seperti mantan yang sudah memblokir nomor kita: dicari ke mana-mana, nggak ditemukan, dan kita nggak punya saluran pengaduan yang berguna.
Banyak kios bensin tutup, diselimuti terpal hijau, tertutup kardus atau sekadar bertuliskan HABIS. Dari jauh, pemandangannya mirip tempat kejadian perkara yang sedang dilindungi polisi. Tapi ini bukan garis polisi yang dipasang untuk mengamankan barang bukti, melainkan terpal yang seolah-olah sedang mengamankan kenyataan bahwa barangnya memang nggak ada.
Saya tetap pergi ke kafe bersama Atria. Dia punya agenda bersama Fia dan teman-teman dokter hewan. Saya punya agenda yang lebih rumit: menulis Bab 15 dari kebuntuan. Mereka punya teman untuk bercerita, sedangkan saya punya dokumen kosong yang setiap kali dibuka seolah bertanya, “Jadi, kapan kita selesai?”
Sore bergeser menjadi malam. Saya mulai memikirkan cara pulang. Bukan lagi bagaimana menyelesaikan satu bab buku, melainkan bagaimana memindahkan tubuh dan motor dari satu titik ke titik lain tanpa bantuan mukjizat.
Satgas Perkasa Dorong Motor
Saya menghubungi petugas keamanan Learning Centre dan menjelaskan bahwa saya nggak bisa pulang karena kehabisan bensin.
“Gak apa-apa, kamu lelaki perkasa, cuman dorong motor doang.”
Ucapan yang sangat heroik. Di tengah indeks kualitas udara yang sudah masuk kategori nggak layak huni buat mamalia, saya diminta mempraktikkan keperkasaan dengan mendorong motor berkarburator kering di bawah hujan abu dan jerebu belasan kilometer.
Benar juga. Mungkin selama ini saya terlalu banyak membaca teori perubahan sosial. Ternyata, untuk mengatasi krisis energi, birokrasi nggak butuh pasokan BBM. Ia hanya butuh kebijakan yang memaksa warga jadi lebih perkasa untuk dorong motornya masing-masing.
Kalau masih ada warga yang kesulitan pulang, mungkin memang perlu dibentuk Satuan Tugas Pejabat Perkasa. Nggak perlu pusing mencari pasokan BBM, cukup rekrut Atria sebagai Joki Bensin resminya. Dengan seragam dan integritasnya sebagai dokter hewan, dia bisa kita minta menerobos antrean SPBU sambil membawa spuit raksasa lalu berteriak ke petugas:
“Mas, ini emergency! Ada pasokan BBM yang harus disuntikkan ke papalia—mamalia spesies laki-laki perkasa—yang nggak mau move on. Tolong diisi Pertalite dua cc sekarang!”
Krisis pun berubah menjadi ujian karakter. Negara boleh kehabisan solusi, asal rakyat jangan kehabisan tenaga.
Henna Lebih Awet daripada Pasokan Bensin
Pagi berikutnya, saya, Atria, dan Fia mencari sarapan. Jam sudah sekitar pukul sembilan atau sepuluh, tetapi langit tampak seperti pukul enam.
Matahari rupanya ikut mengambil kebijakan penghematan: cahayanya dibatasi, visibilitas dikurangi, dan warga diminta menyesuaikan diri.
Saat kami memesan sarapan, Fia melihat tato henna (inai) buatan Atria di tangan saya, lengkap dengan nama Ayas, lantas bertanya, “Bagaimana, Bang Maheng, kalau ternyata Ayas punya pacar baru?”
Saya jawab, “Nggak apa-apa. Kalau itu bikin dia bahagia, aku bahagia juga.”
Saya mengucapkannya dengan tenang. Mungkin karena sedang lapar. Mungkin orang yang belum sarapan sebaiknya nggak mengambil keputusan emosional yang berlebihan.
Lagi pula, setelah semalaman menghadapi krisis bensin, saya nggak punya energi untuk ikut mengelola krisis percintaan untuk sementara waktu. Meskipun saya sendiri nggak yakin.
Di lengan saya masih ada koordinat Learning Centre dan nama Ayas. Rupanya henna punya daya tahan lebih baik daripada pasokan bensin. Paling nggak, sampai tulisan ini dibuat, koordinat dan nama itu masih meninggalkan jejak.
Hanya saja, henna bisa luntur sendiri. Urusan hati—apalagi yang terbentur restu—biasanya membutuhkan rapat koordinasi, notula, dan keputusan yang nggak mengikat.
Antre 250 Meter demi Bensin Rp30.000
Siang Senin, 12 Oktober, setelah sarapan, kami menuju SPBU D.I. Panjaitan. Antrean motor mengular dalam dua baris, kira-kira 250 meter, sampai mengekor ke Jalan Merak. Kami mengantre mulai kira-kira pukul 10.57 dan baru dapat bensin sekitar pukul 12.11. Orang-orang menunggu, sebagian lebih dari satu jam, untuk membeli bensin yang dibatasi maksimal Rp30.000 per motor.
Awalnya kami minta isi penuh, tetapi petugas SPBU bilang hanya boleh segitu.
Tiga lembar uang sepuluh ribuan ternyata bisa membeli bensin sekaligus pengalaman spiritual: belajar sabar, menerima keadaan, dan menyadari bahwa waktu manusia memang nggak selalu dianggap sebagai sumber daya yang perlu diselamatkan.
Di tengah antrean, pedagang es teh manis berjalan menawarkan dagangan. Saya hampir merasa terharu. Ketika bensin sulit ditemukan dan udara bersih menjadi kemewahan, ekonomi informal tetap bekerja.
Negara belum tentu bisa memastikan motor warga sampai rumah, tetapi es teh tetap berusaha sampai ke tangan pembeli sebelum mereka pingsan akibat dehidrasi-cum-carbon-monoxide.
Mungkin ini yang disebut normal. Karhutla di Kalimantan nggak seheboh di medsos. Buktinya ada satu distribusi yang berjalan. Es teh.
Saya nggak tau berapa lama lagi warga Ketapang harus berhadapan dengan asap, air yang sulit didapat, dan bensin yang menghilang. Saya juga nggak tau kapan Bab 15 akan selesai. Namun, hari ini saya belajar kalau hidup di daerah kaya sumber daya bisa menghadirkan pengalaman yang sangat minimalis: udara secukupnya, air seadanya, bensin seperlunya, dan kepastian yang nggak tersedia.
Kalau ada yang bertanya apa yang paling sulit dari hidup di Ketapang, saya mungkin akan menjawab: mencari udara bersih, mencari air bersih, mencari bensin, lalu mencari alasan agar semua itu terdengar masuk akal.
Dan kalau setelah semua itu saya masih bisa pulang, saya akan menganggapnya sebagai pencapaian.
Jadi kalau besok, lusa, bensin tetap jadi benda gaib, dan langit tetap berwarna gelap, saya siap dipanggil ke Jakarta untuk memaparkan solusi krisis energi terbaru: pembentukan Satgas Perkasa Dorong Motor.
Minimal, negaranya hemat APBN, Kabupaten Ketapang hemat APBD, warga dapat sehatnya, dan es teh manis jualan warga tetap laku keras.
Kalau ada pejabat yang baca tulisan ini lantas bertanya kenapa nggak ditutup dengan solusi, jawabannya: jangankan tulisan saya, dinas dan kementerian terkait saja sampai hari ini masih bingung mau menutup karhutla pakai apa.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment