Pulau Cempedak, Bawal, dan Lugun Belanda: Jalan Panjang di Kendawangan, Ketapang
VISTA dari balik kaca depan mobil sepenuhnya dikuasai kabut asap pekat.
Layar digital di dasbor menunjukkan waktu yang merangkak dari pukul 07:24 hingga 07:35. Jam pada mobil rupanya lebih cepat sejam dari waktu sebenarnya pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Binar matahari pagi sama sekali tidak mampu menembus tebalnya selubung udara tersebut.
Di tengah dasbor, pajangan kucing Maneki-neko berwarna krem dengan kalung merah tanpa henti mengayunkan kaki kirinya. Di kaca spion tengah, sebuah boneka dengan label persegi panjang ikut berayun mengikuti setiap guncangan mobil.
Aspal jalanan dengan garis marka di tepinya seperti lenyap ditelan kekosongan yang mengaburkan jarak pandang. Dari balik pekatnya udara, siluet pepohonan, tiang listrik yang dihiasi umbul-umbul merah putih, hingga papan reklame minimarket muncul lamat-lamat.
Sorot lampu motor-motor yang melaju dari arah berlawanan menembus kepulan asap seperti mata-mata yang menyala, sementara sebuah truk crude palm oil berwarna kuning dan berukuran besar berjalan lambat di lajur depan. Bahkan, pendar hijau lampu lalu lintas tampak berkilau sayu, tertahan oleh pekatnya bumantara.
Di dalam kabin, frekuensi radio menunjukkan angka 87,5 MHz, menyelingi obrolan Hani dan Arfi. Saya terus mengarahkan kamera ke luar, merekam apa yang tampak di balik kaca.
“Masa kau masih ngevideoin? Nggak cukup, Kak Mahéng?” tanya Arfi.
“Nggak cukup,” jawab saya. “Biar kawan-kawan tuh ngeh kalau kondisi Indonesia tuh kayak gini.”
SETELAH formasi rombongan lengkap bersama Okta, Muhammad Feby mengarahkan kemudi menuju dermaga Posal Kendawangan.
Jam di layar dasbor kini bergeser ke angka 09:27. Kabut pekat pagi tadi telah sepenuhnya menguap, digantikan langit biru cerah dengan sapuan awan yang sedang menertawakan tanah di bawahnya.
Di banyak bagian, aspal tidak lagi bersisa. Ban mobil kini harus berjibaku dengan jalanan tanah merah yang hancur, berdebu, bergelombang, dan dipenuhi ceruk-ceruk kering.
Di balik kemudi, Feby yang berbalut hoodie merah tampak ekstra waspada. Tangannya berulang kali memutar setir untuk menghindari lubang terdalam. Setiap kali roda menghantam permukaan yang tidak rata, tubuh kami ikut terlempar dari tempat duduk.
Kanan-kiri kami adalah semak belukar dan pepohonan yang meranggas, diselimuti debu. Sepanjang jalur di Desa Sungai Nanjung dan sekitarnya, kami sedang membelah kawasan konsesi raksasa. Di hamparan tanah ini berdiri perusahaan-perusahaan penanaman modal asing di sektor pemurnian mineral logam, serta korporasi besar pemegang hak pengelolaan hutan tanaman industri.
Di sepanjang jalur, pagar-pagar seng berbaris rapi, menandai batas yang tidak bisa sembarang orang masuki. Jalan yang kami lalui sendiri—jalan yang semestinya milik semua orang—justru tidak punya batas jelas selain lubang demi lubang yang terus memanjang di depan kap mobil.
Ingatan saya melayang pada Padang 12 yang lokasinya berdampingan dengan perusahaan asing yang baru berdiri. Masyarakat Tanah Kayong percaya di sana ada kota gaib yang dihuni suku Limun. Mereka hidup dalam peradaban modern.
Apa mungkin dana perbaikan infrastruktur di sini tidak sengaja nyasar ke Padang 12? Di dunia nyata, kami harus tertatih-tatih di atas tanah berlubang, sementara di dimensi sebelah, jalanannya mungkin sudah berlapis aspal mulus.
Atau barangkali kondisi jalanan yang babak belur ini memang sudah takdirnya selaras dengan semesta mitologi kita.
Di kesempatan lain, saya pergi ke sini dengan tim yang berbeda. Waktu itu muncul candaan: makhluk gaib yang ada di Padang 12 kalah pamor dan terkesan lebih inferior dibandingkan makhluk gaib luar negeri, seperti vampir dari Beijing.
Hantu dari luar bisa terbang melayang dengan anggun menembus awan. Hantu kita? Jangankan terbang melayang, melawan kabut asap saja sudah kewalahan. Pocong kakinya terikat. Suster yang malang harus ngesot di lantai. Kakek Cangkul dan Nenek Gayung sudah kelewat jompo. Tuyul malah masih di bawah umur.
|
| Hani, Okta, Mahéng, dan Arfi berswafoto di dermaga Posal Kendawangan sebelum berlayar. (Foto: Okta). |
PUKUL sebelas siang, lepeh meninggalkan dermaga Posal Kendawangan. Tiang-tiang pancang kayu ulin dan kibaran bendera Merah Putih berdiri di bawah sengatan matahari Ketapang yang menyengat kulit tanpa ampun.
Mesin lepeh berdengking konstan, menghantam gelombang sungai muara dengan tenaga penuh. Buih-buih putih berhamburan dari lambung kayu yang dicat hijau dan putih, memercikkan titik-titik air asin ke wajah dan membasahi pakaian, sementara gelak tawa serta kilau layar ponsel mengiringi detik-detik awal keberangkatan.
Di dalam kabin kayu bercat biru cerah dengan atap terpal, Hartono (43), atau yang akrab disapa Pak Tono, duduk mengemudikan lepeh, merangsek menyusuri garis beting lumpur di tepi perairan, tempat deretan pohon bakau tumbuh rapat.
Di atas lidah pasir basah yang terpapar surut, koloni dara-laut berkerumun padat, bertengger rapat di atas hamparan pasir yang berkilat di bawah langit biru yang lapang.
Kawanan itu serentak membubung, membentuk pusaran terang berbulu putih-abu yang berputar anggun melawan terpaan angin laut.
Pancaran rawi memantul tajam pada kepak sayap mereka yang ramping dan menyilang, sebelum akhirnya berpencar, melayang rendah, lalu kembali menepi ke batas vegetasi pesisir atau menghilang di balik rimbunnya akar bakau.
SENGATAN siang membakar tepat di atas kepala, memproyeksikan bayang-bayang ranting pohon yang menorehkan pola-pola rumit di atas hamparan pasir Pulau Cempedak.
Butiran pasir dipenuhi serpihan halus cangkang kerang, fosil siput kecil, hingga sisa-sisa arang kayu basah yang terdampar di garis pantai. Semakin melangkah mendekati bibir air, pijakan terasa makin padat dan dingin, disambut buih air laut yang berdesir sebelum lenyap terserap kembali ke dalam tanah.
Air laut di Pulau Cempedak bening sempurna hingga tiap lekuk riak pasir di dasar laut yang hanya setinggi mata kaki terlihat kasatmata, berkilat-kilat memantulkan bias cahaya dari langit biru yang lapang.
Di sekelilingnya, lanskap pantai terhampar dengan barisan pilar silinder beton abu-abu yang berbaris kaku di tepi daratan, beradu dengan sebuah tiang kayu lapuk yang tertancap miring di perairan.
|
| Dermaga kayu Pulau Cempedak berlatar laut jernih Ketapang. (Foto: Hani Naziihah). |
Utas tali menjuntai dari tiang tersebut menuju air dangkal, mengarahkan pandangan jauh ke tengah selat, tempat sebuah bangunan panggung kayu kecil berdiri menyendiri, berlatar siluet membiru gugusan perbukitan cagar alam di pulau seberang.
Hani berjongkok di garis pasang surut. Angin pantai menderu kencang, menarik-narik helaian rambutnya, mengibaskan kain kemeja, dan menempelkan uap asin samudra ke permukaan kulit yang hangat. Dinginnya pasir basah menyelinap di antara sela-sela jari saat jemarinya tekun mengais pecahan biota laut di tepi air.
Suara kepakan angin dan cicitan riak ombak yang menghantam bibir pantai berpadu dengan tawa renyah serta celetukan riang.
SANDY untuk sementara menggantikan Pak Tono mengantar kami menuju destinasi pertama di Pasir Merah, titik pertama penjelajahan di Pulau Bawal. Raungan mesin berdengung sengau saat haluan kayu menghantam puncak gelombang. Pecahan air asin terlempar tajam dari lambung perahu, menampar wajah, menyelinap ke balik kacamata, dan membuat mata perih seketika.
Di buritan, Dede (24) pemandu kami, duduk bersila santai di atas papan biru yang licin, berpegangan pada sisi lepeh sambil mengunyah permen karet. Ia tidak peduli celana dan jerseynya sudah basah kuyup disiram buih yang terbang dari depan.
Getaran mesin merambat secara konstan dari bilah kayu ke tulang duduk. Uap garam yang lengket mengering cepat di kulit, beradu dengan bau pekat solar yang menguar tiap kali haluan perahu anjlok menghantam gelombang.
Buat siapa pun yang mengendapkan ingatan tentang pesisir Ketapang lewat warna keruh Pantai Pecal atau endapan sedimen Tanjung Belandang, pesona Pulau Cempedak dan Pulau Bawal terasa seperti anomali.
Di sini, air laut tidak menyembunyikan apa pun. Kejernihannya membiaskan cahaya secara telanjang, menyajikan lanskap pesisir yang berseberangan dengan bayangan umum tentang laut daratan utama.
“Kalau kamu pernah ke Banda Neira, di sini sama,” ujar Dede.
Kami berlabuh di Pasir Merah, titik awal penjelajahan di Pulau Bawal.
Ada paradoks visual yang membingungkan begitu kaki menapak daratan: pasir yang terhampar di bawah sapuan air justru berwarna pucat dan bersih, sama sekali tidak merah.
Menurut keterangan Pak Tono, dulunya pasir di sini memang agak merah. Saat pasang, air dangkalnya bisa menjadi area bermain yang riuh atau sekadar tempat snorkeling di antara terumbu karang.
Begitu air surut sepenuhnya, lanskap itu bertransformasi total. Laut menyusut jauh ke tengah, menyisakan gurun pasir putih yang padat dan basah, terbentang luas bagai lapangan tanpa batas.
Perjalanan berlanjut menyusuri sisi lain Pulau Bawal, menuju kawasan di kaki Bukit Prancis, titik yang kami pilih untuk mendirikan tenda dan menghabiskan malam. Begitu perahu mendekati pesisir, lanskap menyajikan pertunjukan senja yang begitu intens. Matahari sore pelan-pelan turun, membentuk bulatan merah keemasan yang menggantung rendah di atas cakrawala, membiaskan lidah-lidah cahaya hangat di permukaan laut yang tenang.
Perahu berhenti beberapa belas meter dari garis pantai karena air mulai mendangkal. Satu per satu galon air bersih dan tas-tas perbekalan diturunkan, dipanggul menerobos riak air setinggi pinggang menuju daratan. Di tengah kelelahan fisik setelah berjam-jam mengarungi laut dan melintasi pulau, ada momen-momen spontan yang justru menjadi ingatan paling membekas.
Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di tanah perkemahan, Okta menepis rasa lengket air garam dengan bilasan air tawar langsung di tengah laut. Menggunakan gelas plastik yang diciduk dari galon perbekalan, air tawar disiramkan perlahan ke atas kepala, membilas rambut dan wajah di bawah siraman cahaya senja yang kian meredup.
Kemiringan lereng Bukit Prancis membuat napas kami cepat memburu. Jalurnya terjal, membelah lautan ilalang. Setiap kali kaki menapak, tanah terasa mudah bergeser di bawah telapak.
Tubuh kami merunduk serendah mungkin, nyaris merayap. Jemari mencengkeram erat tali yang ditambat di sepanjang alur bukit, lalu menarik tubuh sedikit demi sedikit agar tidak merosot.
Napas terengah. Betis terasa menegang. Beberapa langkah terasa seperti harus dibayar dengan jeda untuk mengambil napas lagi.
Begitu langkah terakhir berhasil menjejak puncak dan kepala terangkat, semua itu seketika terbayar. Di hadapan kami terbentang garis pantai Bawal yang melengkung halus, berpadu dengan laut biru yang tenang hingga ke batas cakrawala.
|
| Lanskap dari puncak Bukit Prancis, Pulau Bawal, Ketapang, dipenuhi asap karhutla. (Foto: Hani Naziihah). |
Perkemahan kami berdiri di atas hamparan alang-alang kering berwarna emas pucat khas musim kemarau. Namun, di luar musim kemarau, wajah Bukit Prancis berubah drastis. Saat musim penghujan, seluruh punggung bukit tersiram hijau pekat, menjelma permadani rumput segar yang berpadu dengan gradasi laut biru pirus di bawahnya.
Pulau Bawal pun memperlihatkan wajah lain yang lebih rindang dan megah.
Ketika malam benar-benar jatuh, bulan purnama perlahan muncul di atas garis horizon. Cahaya keemasannya menyapu rumput-rumput bukit dan permukaan laut di kejauhan.
Kendati perkemahan berada di atas bukit, urusan dapur malam terpaksa kami pindahkan ke pantai di bawahnya. Vegetasi kering di puncak terlalu riskan untuk disulut api. Di atas pasir pantai, panggangan besi diletakkan di atas bara yang menyala, mengepulkan aroma gurih ikan berbalur bumbu.
Sandy (18) mencubit sirip ikan senangin dengan jari, membalik badannya di atas jeruji yang memerah saat api masih menjilat beberapa senti dari kulitnya. Bara menerangi wajah. Tangannya tetap tenang.
“Unik rasa ikannya. Ada rasa-rasa pasirnya,” kata Hani.
DALAM perjalanan pulang melintasi Pulau Cempedak, peran Sandy sebagai nakhoda kembali digantikan Pak Tono.
Kami sempat menepi di kawasan yang dikenal warga sebagai Lugun Belanda. Menurut keterangan Pak Tono, Lugun atau gunung dengan pantai berpasir cokelat keemasan ini, dahulunya menjadi medan perlawanan rakyat menghadapi penjajahan kolonial, lokasi historis tempat peninggalan meriam-meriam tua pernah ditemukan.
Pak Tono tiba-tiba mengambil alih peran sebagai “sutradara” dan melempar ide pembuatan konten yang luar biasa Gen Z. Ia mengatur blocking dengan yakin seperti sudah biasa bikin konten.
Ponsel diletakkan rendah di atas pasir, sudut yang membuat siapa pun yang berlari ke arahnya tampak menjulang, berlatar laut lepas dan perahu yang bersandar.
Atas arahan Pak Tono, kami berbaris di dekat riak air lalu berlari bergantian, melompati kamera, berputar, dan berlari kembali ke arah laut. Hani berlari lebih dulu, tangannya terayun liar, bayangannya memanjang tajam di pasir basah. Menyusul Okta yang melesat sambil tergelak, mulut terbuka lebar, disusul Pak Tono tepat di belakangnya. Gelak tawa pecah berulang kali di tengah gempuran ombak pesisir.
SEBELUM benar-benar memutar arah untuk pulang ke Sei Awan, ada satu permintaan yang sukar saya tolak.
Okta menyampaikan niatnya untuk mampir menemui ibunya yang tinggal di mess perkebunan di tengah Hutan Karet HKI, Sungai Nanjung. Ia bilang sudah tiga tahun tidak bertemu ibunya. Begitu Okta memintanya, tanpa ragu saya langsung mengiyakan.
Setelah setengah jam perjalanan menuju tempat tinggal sang ibu, kami harus melanjutkan dengan berjalan kaki. Kami menyusuri jalan tanah dan kerikil di antara barisan pohon karet yang meranggas, melangkah sejauh lima kilometer menembus kedalaman kompleks perkebunan.
Terik yang menyengat dan debu tebal jalanan perlahan menguras stamina. Jarak sepuluh kilometer pulang-pergi itu terasa setelahnya, ketika kaki Hani sakit dan pegal luar biasa.
Kira-kira tiga ratus meter sebelum mess, di tengah kebun karet yang baru saja dilalap api, sosok kecil sudah menunggu di tepi jalan.
Okta berhenti beberapa jenak, lalu berlari.
“Sira!”
Jaket yang dililitkannya di pinggang ikut berkibar saat ia sampai di sisi adiknya. Sira menoleh, mencuri pandang ke arah kami yang tertinggal puluhan langkah, sebelum kembali berjalan berdampingan menyusuri sisa jalan menuju mess.
|
| Foto: Hani Naziihah |
Setelah tiga tahun terpisah jarak, Okta akhirnya kembali menginjak tanah tempat ibunya tinggal. Bangunan mess berdiri di tengah hamparan hutan karet, jauh dari riuh keramaian.
MOBIL terus melaju, membelah sore yang perlahan meredup. Dari balik bingkai kaca jendela, langit tampak terbakar oleh sapuan warna merah pekat. Bulatan matahari menggantung rendah, sinarnya berpendar menyilaukan tiap kali menerobos celah siluet gelap pepohonan yang berkelebat cepat ditinggalkan laju kendaraan, sebelum akhirnya perlahan habis diserap gelap.
Di dalam kabin, riuh sepanjang hari akhirnya luruh menjadi senyap. Hanya ada alunan musik yang bersaing dengan dengung ban menggilas jalanan berdebu.
Kami hanya duduk diam, membiarkan tubuh yang letih menyandarkan kepala.
Mungkin benar, tidak semua perjalanan diciptakan untuk menaklukkan peta. Beberapa di antaranya hanya cara semesta menuntun seseorang pulang dalam pelukan ibunda.
☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Leave a Comment