Hari Ini Saya 30 Tahun, dan Ada Terlalu Banyak Pintu yang Belum Sempat Saya Ketuk

Kenapa ya, makin dewasa, makin banyak pintu yang nggak sempat kita ketuk?

Belakangan saya sering memikirkan itu.

Mungkin karena hari ini, 18 Mei, usia saya sudah tiga puluh. Mungkin juga karena semakin dewasa, kabar yang datang lebih sering tentang kehilangan daripada pertemuan.

Ada teman lama yang rumahnya pernah saya datangi, lalu saya putar balik sebelum masuk gang. Ada guru yang sebenarnya tinggal saya temui beberapa langkah lagi, namun saya memilih berdiri di luar pagar pondok karena merasa belum pantas, sampai akhirnya beliau meninggal.

Pokoknya ada-ada saja.

Dan anehnya, semakin bertambah umur, semakin banyak momen "ada-ada saja" seperti itu.

Saya lahir di Paya Baro, Woyla Timur, dan besar di Meulaboh, Aceh, di masa ketika suara konflik lebih akrab daripada suara rencana masa depan.

Waktu kecil, saya nggak pernah benar-benar membayangkan umur tiga puluh. Membayangkan besok masih hidup saja rasanya sudah cukup jauh.

Di tempat saya tumbuh, masa depan sering terasa seperti barang mewah. Orang-orang bicara tentang cita-cita. Di kepala saya waktu itu, hidup lebih terasa seperti usaha bertahan.

Bertahan untuk tumbuh dengan melihat ketakutan orang dewasa, kehilangan demi kehilangan, kematian demi kematian, dan perasaan bahwa hidup saya bisa berhenti kapan saja tanpa aba-aba.

Mungkin itu sebabnya, sampai hari ini, saya nggak mahir bikin rencana panjang.

Saya cuma berjalan. Sesekali lari. Nggak jarang jatuh terlalu dini.

Saat pindah ke Jogja sekitar 2014, saya mulai membangun hidup dengan cara yang saya bisa.

Lantas sejak 2015 saya mencoba berbagai lini bisnis. Sebagian gagal terlalu cepat, sebagian bertahan lebih lama. Ada masa ketika saya merasa semuanya mulai menemukan bentuknya.

Sampai akhirnya pandemi Covid-19 datang.

Dan seperti kebanyakan orang, saya belajar bahwa sesuatu yang kita bangun bertahun-tahun ternyata bisa runtuh dalam waktu yang jauh lebih singkat, dengan cara yang nggak diduga-duga.

Nassim Nicholas Taleb pernah menjelaskan fenomena ini dengan teori black swan-nya.

Tahun 2025 saya mengalami black swan yang lain. Angsa hitam yang jadi salah satu titik paling melelahkan dalam hidup saya. Saya ditinggal nikah, bisnis yang saya bangun hancur total, meninggalkan utang yang bukan cuma finansial, melainkan juga utang sosial.

Utang kepada orang-orang yang pernah percaya pada saya, dan kepada diri sendiri yang dulu begitu yakin semuanya akan mudah dilalui.

Yang paling berat bukan hanya jumlah uangnya. Rasa gagal juga ikut menempel sangat kuat.

Emak saya beberapa kali tanya lewat telepon:

"Pakiban ka glah? (Gimana, udah selesai utangmu?)"

Dan seperti banyak anak laki-laki lain, juga sebagai anak pertama, saya sering menjawab seolah semuanya baik-baik saja. Bukan karena saya kuat. Saya hanya nggak ingin beliau ikut memikul beban yang bahkan saya sendiri masih kesulitan membawanya.

Saya pikir, kalau belum bisa membahagiakan orang tua, paling nggak jangan menambah pikiran mereka.

Hidup memang sering lucu. Saya sering dapat pesan dari adik yang minta pulsa. Dua puluh lima ribu, tiga puluh lima ribu, bahkan lima puluh ribu. Lalu saya duduk cukup lama sambil memikirkan bagaimana membalasnya.

Nominalnya memang relatif nggak besar. Apalagi di umur dia, saya juga sering melakukannya. Hanya saja sekarang saya merasa gagal menjadi tempat bersandar.

Chaplin pernah bilang: "Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot."

Mungkin benar juga kalau ada yang ngomong, puncak dari kebahagiaan adalah menangis, dan puncak dari penderitaan adalah tertawa.

Dulu, waktu masih lebih muda, masih tweni-huh, saya pikir usia tiga puluh akan terasa seperti garis finish menuju kedewasaan. Akan sukses. Akan selesai dengan banyak persoalan hidup.

Ternyata nggak.

Semakin dewasa, saya mulai sadar bahwa banyak keputusan hidup ternyata bukan lagi soal berani atau nggak berani.

Lebih banyak soal energi.

Waktu muda, banyak dari kita punya cukup energi untuk menjelaskan diri kepada orang-orang baru. Untuk membuktikan bahwa kita layak dipercaya lagi setelah gagal. Masih banyak energi untuk tetap hadir di relasi-relasi yang mulai terasa rumit.

Semakin dewasa, energi itu nggak datang gratis lagi. Kita jadi lebih selektif.

Bukan karena sombong, melainkan karena kita akhirnya sadar bahwa energi yang kita punya kian terbatas, dan ada hal-hal yang lebih layak untuk menerimanya.

Mungkin itu juga kenapa banyak pintu yang nggak sempat kita ketuk. Kita nggak punya cukup energi untuk menanggung kemungkinan-kemungkinan di baliknya.

Ada guru yang sebenarnya tinggal saya temui beberapa langkah lagi. Saya memilih berdiri di luar pagar pondok karena merasa belum pantas, sampai akhirnya beliau meninggal.

Saya pernah hampir masuk ke rumah seorang teman lama waktu pulang ke Meulaboh. Sudah sampai di depan gang. Tinggal masuk beberapa meter lagi.

Lalu saya batalkan.

Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya kenapa. Malu, mungkin. Atau takut melihat perubahan. Atau takut mengetahui bahwa waktu benar-benar sudah sejauh itu berjalan.

Ada masa ketika saya sempat berpikir hidup sendirian mungkin lebih baik untuk saya. Setelah ditinggal nikah, saya pernah benar-benar berniat mempersembahkan sisa usia saya untuk publik. Saya menyebutnya selibat.

Saya nggak benci cinta. Saya hanya lelah akan kehilangan.

Ternyata yang salah bukan cinta. Yang keliru adalah cara saya mencintai. Saya sempat berkelakar, ada "tai" dalam kata mencintai.

Sampai akhirnya saya kenal dengan Ayas Adinda.

Dulu saya mencintai seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Sekarang saya mencintai seperti orang yang sedang menjaga sesuatu agar nggak hilang.

Dan saya semakin percaya, relasi yang sehat bukan untuk saling menutupi kekurangan. Ia dibangun untuk berbagi kelimpahan.

Ayas beberapa kali bilang bahwa dia nggak ingin kehilangan dirinya sendiri kalau seluruh cintanya diberikan ke saya.

Dan saya mengerti itu.

Mungkin ada yang menganggap saya sedang menjilat ludah sendiri karena akhirnya berubah pikiran. Saya nggak lagi terlalu peduli, karena semakin bertambah umur, saya semakin sadar bahwa saya memang harus lebih banyak mengoreksi diri sendiri.

Dan banyak jalan hidup saya memang perlu dikoreksi ulang setelah saya bertahan cukup lama untuk memahami dan membenahi serta introspeksi.

Mungkin karena saya sendiri sudah terlalu sering kehilangan banyak hal. Sekarang, kalau sesuatu hilang, rasanya saya lebih mudah menerimanya. Bukan karena nggak peduli. Saya sadar cepat atau lambat semua memang akan pergi.

Kalau bukan mereka yang hilang lebih dulu, suatu hari nanti giliran saya yang mati.

Makanya saya ingin memperjuangkan Ayas dengan sisa tenaga yang saya punya.

Ayas bukan pilihan. Ia the one and only. Dan di usia seperti sekarang, saya tahu bahwa orang yang mau tetap ada dengan apa pun kondisi saya adalah sesuatu yang nggak datang dua kali.

Saya juga nggak pernah tahu apakah Ayas memang jodoh saya atau bukan. Saya nggak tahu apakah suatu hari nanti saya akan kehilangan dia atau tetap berjalan bersamanya.

Yang saya tahu, sampai hari ini saya masih menyayanginya sepenuh hati dengan energi saya yang tersisa.

Suatu hari Ayas pernah nanya ke saya apa doa yang sudah terkabul dan bikin saya bahagia.

Saya nggak ragu menjawab: "Ayas sudah mulai sayang sama aku."

Dan mungkin itu memang pencapaian terbaik saya di usia kepala tiga.

Saya memutuskan hijrah ke Kalimantan Barat. Bukan cuma pindah secara fisik, saya juga mencoba memulai hidup dengan cara pandang yang baru.

Di tempat baru ini—tempat saya sesekali dituduh antek-antek asing karena sering diminta jadi interpreter untuk foreigner—saya sempat bercanda dengan bos saya, Argitoe Ranting. Saya bilang ingin mati di Aceh, tanah kelahiran saya.

Lalu dia menimpali, "Jangan begitu, Heng. Kamu akan merepotkan orang yang masih hidup."

Saya nggak banyak merespons waktu itu. Setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga.

Dengan hidup yang berpindah-pindah seperti ini, bagaimana kalau saya mati di negara lain? Siapa yang akan datang? Siapa yang akan mengabari keluarga? Siapa yang akan mengurus tubuh yang sudah nggak bisa pulang sendiri?

Aneh ya, dan mungkin paradoks, semakin dekat seseorang (atau paling nggak saya) dengan kesadaran tentang kematian, justru semakin serius dia mencintai kehidupan.

Saya nggak tahu apakah saya sudah menjadi versi diri yang dulu saya cita-citakan.

Mungkin nggak.

Di sisi lain, saya mulai memahami sesuatu yang dulu nggak terlalu saya mengerti: hidup bukan selalu tentang jadi lebih besar. Lebih sering hidup cuma tentang bertahan cukup lama untuk belajar.

Belajar menerima. Belajar pulang. Belajar mengetuk pintu sebelum terlambat.

Kalau tiga puluh ternyata adalah usia terakhir saya, saya cuma ingin mati dengan nggak terlalu banyak pintu yang nggak sempat saya ketuk.

Semoga Emak tahu bahwa semua jawaban "baik-baik saja" itu bukan kebohongan. Itu cara saya mencintai beliau dengan cara yang saya bisa.

Semoga adik tahu bahwa saya nggak lupa soal pulsanya. Saya cuma sedang belajar cara berdiri lagi.

Semoga orang-orang yang pernah percaya pada saya tahu bahwa utang itu nggak pernah saya lupakan, bahkan di malam-malam ketika saya pura-pura sudah bisa tidur nyenyak.

Semoga Ayas tahu bahwa saya nggak pernah menganggap cintanya sesuatu yang biasa. Saya tahu betapa mahalnya keputusan ia untuk mulai mencintai saya. Saya juga sadar, ada banyak hal yang selama ini ia tahan dan lawan diam-diam agar relasi kami tetap berjalan.

Dan semoga, kalau ada pintu yang masih bisa saya ketuk hari ini, saya punya cukup energi dan keberanian untuk nggak berbalik arah lagi.

Foto Mahéng (Rahmat Ali) sedang memotong rumput di halaman kontrakan di Mulia Baru, Delta Pawan, Ketapang saat senja. Mengenakan kaus putih dan celana pendek abu-abu, Mahéng tampak membungkuk sambil membersihkan rumput liar dengan sabit di tengah suasana langit ungu kemerahan. Foto ini menjadi metafora reflektif tentang kehidupan dewasa, perjuangan menghadapi masalah yang terus datang, serta perjalanan pribadi Mahéng memasuki usia 30 tahun setelah melewati konflik masa kecil di Aceh, kegagalan bisnis, kehilangan, dan proses memahami cinta serta kehidupan.
Barangkali dewasa memang seperti memotong rumput: berkeringat membereskan hal-hal yang besok tumbuh lagi. (Foto: Seta Kurnianta)

Mungkin dewasa memang seperti memotong rumput.

Kita nggak pernah benar-benar selesai membereskan hidup. Baru terasa rapi sedikit, besok sudah tumbuh lagi hal-hal yang harus dihadapi.

Karena pada akhirnya, mungkin yang paling menyakitkan bukan penolakan.

Melainkan pintu-pintu yang nggak pernah sempat kita ketuk karena tubuh keburu ambruk.

1 komentar:

  1. Met Ultah Pren. Ingat, penuaan dimulai nyata dari 30. Wkwk

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.