Mengapa 'Maaf Lahir Batin' Bisa Jadi Kalimat yang Paling Susah Kita Ucapkan untuk Diri Sendiri?
Dua hari sejak Idulfitri 1447 H, saya berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Menyetir (lebih tepatnya jadi tukang ojek), makan, bersalaman, dan saling mengucapkan minal aidin walfaizin, mohon “maaf” lahir dan batin.
![]() |
| Mahéng bersama tim Yayasan IAR Indonesia dalam silaturahmi Lebaran Idulfitri 1447 H di Ketapang. (Foto: Argitoe Ranting) |
Ada satu kalimat yang nggak ikut saya tinggalkan di rumah mana pun.
Selumbari, setelah salat Id, saya melakukan panggilan video dengan mamak. Beliau tanya, "Utang-utangmu sudah selesai?" Lalu menambahkan, kalau ada lebih, mungkin bisa bantu mamak.
Setelah memutuskan merenovasi rumah, ayah dan mamak kekurangan uang, bahkan hanya untuk plester.
Sebelum air mata saya jatuh, mamak bilang, kira-kira dalam bahasa Indonesia berbunyi seperti ini: "Ya nggak apa-apa… orang lain kalau bisnisnya jatuh masih bisa ditopang orang tuanya. Kamu ya harus berjuang sendiri."
Kalimat itu terdengar seperti penguatan. Harusnya.
Saya ingin menutup kamera lebih cepat dari biasanya.
Lalu makan siang sendirian.
Dan sepanjang hari itu, satu pertanyaan terus berputar tanpa bisa saya jawab: apa sebenarnya fungsi saya?
Saya sudah bekerja cukup keras untuk ukuran saya, sudah berusaha, bahkan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua kehancuran ini adalah "biaya belajar."
Tapi ada getaran kecil setiap kali saya mengucapkan itu, seperti ada bagian dalam diri saya yang tahu kalau saya belum sepenuhnya percaya sama dua kata tersebut.
Terlebih ketika mamak bilang, "Nanti kalau ada uang baru diplester."
Kalimat itu entah kenapa, rasanya seperti menghentak sesuatu di dalam diri saya.
Belakangan saya juga mulai sering menggunakan kata "maaf", bahkan di luar momen Lebaran seperti ini. Termasuk sama Ayas.
Tapi saya sudah lama menyadari sesuatu, bahwa saya lebih mudah meminta maaf kepada orang lain, dan semakin jarang meminta maaf kepada diri sendiri.
Mungkin karena meminta maaf kepada orang lain selalu punya bentuk yang jelas.
Ada orang di depan saya, ada tangan yang dijabat, ada kalimat yang diucap, ada momentum penuh harap.
Tapi ketika berhadapan dengan diri sendiri, semuanya jadi lebih kabur.
Pada hari-hari seperti ini, "maaf lahir dan batin" diucapkan begitu ringan, seakan semua luka bisa selesai dalam satu salaman.
Saya berjabat tangan, tersenyum, mengucapkan "mohon maaf lahir dan batin." Seperti sebuah kalimat yang sudah terlalu sering diulang sampai kehilangan bentuk aslinya.
Bahkan jujur saja, saya sendiri nggak selalu tahu, saya sedang meminta maaf atas apa. Mungkin hanya karena sudah diberi makan.
Atau karena itu memang bagian dari tradisi bentuk keramahtamahan.
Tapi setelah itu selesai, rasa di dalam diri saya tetap ada. Nggak benar-benar berkurang.
Seperti paket yang sudah diantar ke depan rumah, pintunya diketuk, tapi kurirnya nggak pernah benar-benar masuk ke dalam.
Saya mulai merasa, mungkin selama ini saya terlalu sering menggunakan kata "maaf" untuk keluar dari sesuatu, bukan untuk benar-benar masuk dan menyelesaikannya.
Dan yang paling sering saya hindari, justru adalah diri saya sendiri.
Saya pernah baca dan dengar kisah tentang Wahsyi bin Harb, orang yang membunuh Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW.
Ketika Wahsyi masuk Islam dan datang meminta maaf, Nabi memaafkannya. Tapi setelah itu, beliau meminta Wahsyi untuk nggak sering menampakkan diri.
Karena rasa sakit itu tetap ada.
Nabi nggak berpura-pura lukanya sudah hilang. Beliau nggak memaksa dirinya merasa lega lebih cepat dari yang sanggup beliau rasakan.
Saya masih meminta maaf sampai hari ini. Bahkan saat esai ini sedang saya tulis.
Tapi di saat yang sama, saya tahu saya belum sepenuhnya memaafkan diri saya sendiri.
Memaafkan orang lain terasa lebih mudah. Setelah diucapkan, ada rasa lega, seakan beban itu sudah selesai.
Tapi ketika berhadapan dengan diri sendiri, rasanya tetap tinggal. Nggak ke mana-mana.
Mungkin karena saya tahu persis apa yang saya lakukan. Dan saya juga tahu apa yang belum bisa saya perbaiki.
Apakah semua kesalahan memang harus langsung dimaafkan? Atau ada yang memang butuh waktu untuk dipahami lebih dulu?
Saya nggak tahu.
Yang saya tahu adalah mamak saya sedang menunggu uang untuk plester dinding rumahnya.
Dan saya di sini, di Ketapang, masih menyetir hidup saya sendiri yang entah ke mana arahnya sembari mengucapkan "mohon maaf lahir dan batin" kepada orang-orang yang bahkan nggak tahu apa yang sedang saya minta maafkan.
Sementara satu kalimat itu, masih jarang sampai ke dalam diri saya sendiri.


Leave a Comment