Self-Publishing vs Penerbit Mayor: Mana yang Lebih Baik untuk Buku Pertama?
Jika naskah atau draft buku pertama kamu sudah selesai, ia adalah bayi.
Bukan soal seberapa tebal atau seberapa "pintar" isinya, tapi soal satu keputusan penting: siapa yang akan membesarkan bayimu.
Apakah kamu akan menitipkannya ke institusi besar bernama penerbit mayor, atau membiarkannya tumbuh mandiri lewat jalur self-publishing, dengan segala risiko dan kebebasannya?
Dilema inilah yang sering muncul ketika penulis menghadapi pertanyaan: self-publishing vs penerbit mayor, mana yang lebih baik untuk buku pertama?
Saya pernah berhadapan langsung dengan pertanyaan itu, bahkan setelah menerbitkan buku pertama.
Naskah Masalembu ditolak oleh dua penerbit. Yang pertama, saya sempat koordinasi dengan Iqbal Aji Daryono yang punya kedekatan dengan pihak penerbit.
Jawabannya kurang lebih begini: "Kalau mau terbit di sana, tulisanmu harus exceptional, atau kamu sudah sangat terkenal."
Ternyata saya tidak punya dua-duanya.
Penerbit kedua menolak dengan alasan berbeda. Saya menduga Masalembu tidak sesuai dengan niche mereka.
Apakah itu akhir dari perjalanan menulis buku saya? Ternyata tidak.
Justru dari penolakan itu, saya jadi belajar bahwa penolakan bukan soal kualitas tulisan, tapi soal fit—kecocokan antara naskah, penerbit, dan pasar.
Di artikel ini, kamu akan memahami perbedaan self-publishing dan penerbit mayor, serta mana yang lebih tepat untuk buku pertamamu berdasarkan tujuan dan kondisimu.
Perbedaan Self-Publishing dan Penerbit Mayor
Memilih jalur penerbitan yang tepat adalah keputusan strategis yang akan menentukan perjalanan bukumu.
Setiap jalur punya karakteristik, kelebihan, dan kekurangan yang perlu kamu pahami sebelum menerbitkan buku pertama.
Apa yang dimaksud dengan penerbit mayor?
Penerbit mayor adalah penerbit berskala besar dengan modal besar dan jaringan distribusi nasional. Mereka menerapkan standar seleksi yang sangat ketat—biasanya hanya menerima naskah yang exceptional atau ditulis oleh penulis yang sudah terkenal.
Contoh penerbit mayor di Indonesia antara lain Gramedia Pustaka Utama, Mizan Publishing, Bentang Pustaka, dan Diva Press.
Ketika naskah Masalembu saya ajukan ke penerbit mayor, saya mendapat feedback bahwa untuk bisa diterbitkan di sana, naskah harus truly exceptional atau penulisnya sudah punya nama besar di industri.
Syarat ini bukan tanpa alasan: penerbit mayor mengeluarkan biaya produksi yang sangat besar untuk editing profesional, desain cover berkualitas tinggi, cetak dalam jumlah ribuan eksemplar, dan distribusi ke ratusan toko buku.
Kelebihan: Kamu tidak keluar uang sepeser pun, justru mendapat royalti 10-15% dari setiap buku terjual. Bukumu akan dipajang di rak Gramedia, Togamas, dan toko buku besar lainnya di seluruh Indonesia, memberikan prestige dan kredibilitas yang tinggi.
Kekurangan: Proses seleksi bisa memakan waktu 6-12 bulan atau lebih. Kontrol kreatifmu sangat terbatas—biasanya penerbit yang menentukan judul final, desain cover, bahkan bisa mengubah struktur naskahmu.
Literatus Pustaka, penerbit yang akhirnya menerbitkan Masalembu, adalah contoh penerbit mayor kecil: masih punya standar editing yang ketat, tapi jangkauan distribusinya lebih regional.
Apa itu self-publishing?
Self-publishing adalah jalur penerbitan mandiri di mana penulis menanggung seluruh biaya produksi (penyuntingan, desain, cetak) dan pemasaran tanpa melalui proses seleksi penerbit. Di Indonesia, biayanya berkisar Rp1–10 juta tergantung jumlah cetak dan kualitas finishing.
![]() |
| Foto oleh Nur: Klub Buku Main2 |
Buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi saya terbitkan lewat paket penerbitan di Bintang Semesta Media sebagai portofolio pertama.
Apakah bukunya laku? Jujur saja, tidak.
Namun efek dominonya jauh lebih besar: saya jadi lebih berani menulis buku berikutnya, mendapat undangan diskusi buku, menjadi pengisi kelas menulis, hingga membangun jaringan yang mungkin tidak akan saya dapatkan tanpa buku tersebut.
Kelebihan: Kebebasan penuh atas konten, desain, harga, dan strategi pemasaran. Tidak ada proses penolakan. Keuntungan penjualan sepenuhnya milik penulis setelah dikurangi biaya produksi.
Kekurangan: Seluruh biaya dan risiko ditanggung sendiri. Distribusi terbatas sejauh usaha promosi. Prestige lebih rendah dibanding penerbit mayor.
Self-publishing paling masuk akal buat kamu yang ingin buku terbit cepat (1-3 bulan), memiliki modal untuk investasi awal, atau menulis naskah yang sangat niche—misalnya sejarah satu desa, buku kenangan komunitas, atau proyek dokumentasi.
Perbedaan penerbit indie dan self-publishing?
Banyak orang salah mengira penerbit indie dan self-publishing itu sama. Padahal perbedaan utamanya terletak pada proses kurasi: penerbit indie tetap melakukan seleksi naskah dan menjaga standar kualitas tertentu, sedangkan self-publishing murni mandiri tanpa kurasi.
Penerbit indie seperti Deepublish, Nulisbuku, Guepedia, Ellunar Publisher, Detak Publisher, dan Stiletto Book biasanya punya fokus niche tertentu dan tetap melakukan proses seleksi naskah, meskipun tidak seketat penerbit mayor.
Perbedaan ini penting karena memengaruhi persepsi pembaca dan kredibilitas bukumu. Buku dari penerbit indie tetap memiliki "stempel kualitas" karena sudah melewati kurasi, meskipun jangkauannya tidak seluas penerbit mayor.
Jadi, penerbit indie adalah jalur tengah: ada kurasi dan quality control, tetapi lebih fleksibel dan terbuka untuk naskah-naskah niche.
Lebih baik menerbitkan sendiri atau melalui penerbit?
Tidak ada jalur yang lebih baik secara absolut. Berikut tabel perbandingan singkat:
| Aspek | Penerbit Mayor Nasional | Penerbit Mayor Kecil/Regional | Penerbit Indie | Self-Publishing |
|---|---|---|---|---|
| Biaya | Gratis (penerbit yang bayar) | Gratis | Berbagi biaya atau paket | 100% ditanggung penulis (Rp 1–10 juta) |
| Royalti | 10–15% dari harga jual | 10–15% | 20–30% (profit sharing) | 100% keuntungan + royalti |
| Distribusi | Nasional (Gramedia, toko besar) | Regional (toko lokal, online) | Terbatas (event, online) | Sangat terbatas (promosi sendiri) |
| Kecepatan Terbit | 6–12 bulan | 4–8 bulan | 3–6 bulan | 1–3 bulan |
| Kontrol Kreatif | Sangat rendah | Rendah | Sedang | Sangat tinggi |
| Prestige | Sangat tinggi | Tinggi | Sedang | Rendah |
| Seleksi | Sangat ketat | Ketat | Moderat | Tidak ada |
| Contoh | Gramedia, Mizan, Diva Press | Literatus Pustaka, Kreatifafa, Afkaruna | Deepublish, Nulisbuku, Guepedia | Portofolio pribadi (Runduma) |
Jalur Mana yang Tepat?
- Naskah exceptional + mau tunggu lama → Penerbit Mayor
- Naskah niche + butuh kurasi → Penerbit Indie
- Butuh cepat + punya modal → Self-Publishing
Kesimpulan: Pilih Jalur Penerbitan yang Tepat untuk Buku Pertamamu
- Penerbit Mayor: Gratis, distribusi luas, proses 6-12 bulan
- Penerbit Indie: Ada kurasi, lebih fleksibel, 3-6 bulan
- Self-Publishing: Kontrol penuh, biaya Rp1-10 juta, 1-3 bulan
Tidak ada jalur penerbitan yang lebih baik secara absolut—yang ada adalah jalur yang paling tepat untuk kondisimu saat ini.
Pilih penerbit mayor jika naskahmu truly exceptional atau kamu sudah punya nama, dan bersedia menunggu 6-12 bulan dengan kontrol kreatif terbatas demi prestige dan distribusi nasional.
Pilih penerbit indie jika naskahmu niche tapi tetap ingin kurasi dan quality control, dengan proses lebih fleksibel dan waktu terbit 3-6 bulan.
Pilih self-publishing jika ini buku pertamamu, kamu butuh portofolio cepat (1-3 bulan), punya modal Rp1-10 juta, dan siap menangani promosi sendiri.
Jangan biarkan penolakan menghentikan langkahmu. Masalembu ditolak dua kali sebelum menemukan rumah yang tepat di Literatus Pustaka. Setiap jalur punya nilai dan pelajarannya masing-masing.
Yang tidak kalah penting, setelah draftmu matang atau jadi bayi, langkah selanjutnya siapkan sinopsis yang solid untuk meningkatkan peluangmu diterima penerbit, apapun jalur yang kamu pilih.


Leave a Comment