Cara Menulis Sinopsis Buku: Jangan Tertukar dengan Blurb!
Cara menulis sinopsis buku yang paling sering kurang efektif bukan soal panjang atau pendek, tapi karena kebanyakan penulis pemula tertukar antara sinopsis dan blurb.
Saya juga pernah mengalami hal ini.
Sinopsis dan blurb memang sama-sama ringkasan buku, tapi fungsinya sangat berbeda.
Blurb adalah teks promosi di sampul belakang yang dirancang untuk menggoda calon pembaca agar membeli buku tanpa spoiler hingga ending.
Sedangkan sinopsis adalah ringkasan lengkap untuk penerbit atau editor yang menunjukkan seluruh alur cerita, termasuk ending, agar mereka bisa menilai kelayakan naskah.
Di artikel ini, kamu akan belajar cara menulis sinopsis buku yang menarik, struktur yang tepat, dan contohnya agar naskahmu tidak mudah ditolak karena kesalahan teknis seperti ini.
Cara Menulis Sinopsis Buku: Panduan untuk Penulis Pemula
Menulis sinopsis buku yang baik adalah keterampilan krusial dalam proses menerbitkan buku pertama. Tanpa sinopsis yang solid, naskah terbaik sekalipun bisa ditolak karena penerbit tidak bisa menangkap esensi cerita.
Sinopsis buku berisi apa saja?
Sinopsis buku berisi tiga elemen utama, yaitu tokoh atau karakter utama, konflik atau masalah yang dihadapi, dan solusi atau ending cerita. Semua disampaikan secara padat dan kronologis.
Ketika kamu menyusun sinopsis untuk buku pertamamu, pastikan bahwa dalam 300–500 kata, penerbit bisa memahami siapa tokoh utamanya.
Untuk buku non-fiksi, jelaskan siapa narator dan karakter-karakter yang ditemui, lalu konflik apa yang terjadi. Konflik bisa berupa tantangan infrastruktur, keterbatasan pendidikan, atau mitos yang keliru tentang suatu tempat.
Kemudian jelaskan bagaimana perjalanan itu berakhir atau insight apa yang didapat oleh kamu atau calon pembacamu.
Untuk buku fiksi, elemen ini lebih jelas: protagonis menghadapi antagonis atau masalah internal, lalu ada resolusi, baik happy ending, tragic ending, atau open ending.
Perbedaan paling mendasar antara sinopsis dan blurb terletak pada elemen ending.
![]() |
| Pengunjung membaca blurb buku di Kosa Kota Festival. Foto: Dok KKF |
Blurb sengaja menghilangkan ending untuk membuat pembaca penasaran: “Akankah Ayas Adinda menemukan Mahéng di tempat yang sudah dijanjikan? Baca untuk tahu jawabannya!”
Sedangkan sinopsis harus menjawab semua pertanyaan itu: “Ayas akhirnya menemukan Mahéng di Desa Sungai Awan Kiri, tetapi mengetahui bahwa Mahéng telah menunggunya di Ketapang sambil berteriak di pinggir jalan setelah tidak tahan menahan kerinduan.”
Penerbit perlu mengetahui ending untuk menilai apakah ceritamu memiliki resolusi yang memuaskan, konsisten, dan layak jual. Tanpa elemen ending, sinopsis kamu tidak lengkap dan bisa diminta revisi atau bahkan ditolak.
Jadi, cara menulis sinopsis buku adalah dengan tidak menyembunyikan apa pun. Paparkan tokoh, konflik, dan ending secara terus terang, karena ini bukan promosi untuk pembaca, melainkan upaya meyakinkan penerbit.
Apa saja struktur sinopsis?
Struktur sinopsis mengikuti alur linier yang jelas: pembukaan (pengenalan tokoh dan setting), masalah atau konflik utama (inciting incident), puncak atau klimaks (turning point), dan penyelesaian (resolusi atau ending).
Dalam sinopsis Masalembu, saya mengikuti struktur ini. Pembukaan menjelaskan konteks perjalanan, yaitu ekspedisi ke Pulau Masalembu yang dikenal dengan stigma “Segitiga Bermuda Indonesia”.
Masalah menggambarkan mitos keliru dan stereotip negatif tentang pulau dan masyarakat Madura. Puncak terjadi saat saya menemukan kenyataan yang berbeda.
Penyelesaian berupa refleksi tentang pentingnya melihat tempat dan masyarakat dengan perspektif yang adil, bukan berdasarkan stereotip.
Untuk buku fiksi, struktur ini bahkan lebih ketat: karakter menghadapi masalah awal, situasi memburuk di tengah cerita, mencapai titik krisis, lalu ada resolusi final.
Alur linier penting karena penerbit perlu melihat apakah ceritamu memiliki pacing yang baik.
Sinopsis yang melompat-lompat atau tidak jelas urutannya akan membuat penerbit bingung dan meragukan kemampuan menulismu.
Struktur yang rapi juga menunjukkan bahwa kamu memahami storyline dengan baik. Hindari flashback atau subplot yang terlalu rumit di sinopsis. Fokus pada alur utama saja.
Jika ceritamu memiliki banyak tokoh atau subplot, pilih yang paling penting untuk dimasukkan. Sinopsis bukan resensi atau analisis mendalam, melainkan peta jalan cerita yang ringkas.
Dalam industri penerbitan yang menerima ratusan naskah setiap bulan, sinopsis yang jelas dan linier adalah keunggulan yang menentukan.
Apa contoh sinopsis singkat?
Daripada memberikan contoh dari buku saya yang belum tentu cocok dengan genre bukumu, berikut template umum yang bisa kamu isi sendiri.
Template ini fleksibel dan dapat digunakan untuk fiksi maupun non-fiksi.
Template Kerangka Sinopsis (Isi Sesuai Ceritamu)
Paragraf 1 – Pembukaan (50–75 kata)
- Siapa tokoh utama atau narator?
- Di mana dan kapan setting cerita?
- Apa situasi awal sebelum konflik muncul?
Paragraf 2 – Konflik Utama (75–100 kata)
- Apa masalah atau tantangan yang dihadapi tokoh?
- Apa yang membuat situasi semakin rumit?
- Siapa atau apa penghalangnya?
Paragraf 3 – Puncak/Klimaks (50–75 kata)
- Apa turning point atau momen paling kritis?
- Keputusan besar apa yang diambil tokoh?
- Apa risiko atau konsekuensinya?
Paragraf 4 – Penyelesaian/Ending (75–100 kata)
- Bagaimana konflik diselesaikan?
- Apa yang berubah dari tokoh atau narator?
- Apa insight atau transformasi yang terjadi?
Sinopsis singkat yang baik memberikan gambaran lengkap dalam 300–500 kata dengan struktur yang jelas.
Sinopsis meliputi apa saja?
Setelah menulis sinopsis yang efektif, akan lebih maksimal kalau kamu juga melengkapi informasi teknis seperti genre, target pembaca, estimasi jumlah halaman, dan tone atau gaya penulisan.
Semua ini penting untuk membantu penerbit menilai positioning buku kamu di pasar.
Ketika saya mengirim proposal buku Masalembu, saya mencantumkan genre, target pembaca, estimasi halaman, dan tone penulisan.
Informasi ini membantu penerbit menilai kecocokan buku dengan katalog, niche mereka, dan potensi pasarnya.
Banyak penulis pemula hanya mengirim sinopsis alur cerita tanpa informasi teknis ini, padahal penerbit membutuhkan data lengkap untuk membuat keputusan lebih cepat.
Genre menentukan penempatan rak, target pembaca menentukan strategi pemasaran, estimasi halaman memengaruhi biaya produksi, dan tone menentukan kecocokan gaya penulisan.
Sinopsis yang mudah diterima penerbit tidak hanya menjawab apa yang terjadi dalam cerita, tetapi juga untuk siapa buku ini dan bagaimana buku ini akan dijual.
Kesimpulan
Menulis sinopsis buku yang baik adalah keterampilan teknis yang sering diabaikan oleh penulis pemula.
Perbedaan utama antara sinopsis dan blurb terletak pada fungsinya: blurb untuk menarik pembaca, sinopsis untuk meyakinkan penerbit.
Kesalahan menukar sinopsis dengan blurb mudah dihindari jika kamu memahami kebutuhan penerbit.
Sebelum mengirim naskah, pastikan sinopsis yang kamu lampirkan adalah sinopsis lengkap, bukan blurb promosi.
Dengan sinopsis yang solid, peluang naskahmu diterima penerbit akan jauh lebih besar.


Leave a Comment