Maudy Ayunda Bilang Harus Mindful, Tapi Asap Karhutla di Ketapang Nggak Bisa Diajak Mindful

Dulu saya termasuk golongan orang yang hobi banget nyisipin istilah “Jakarta-sentris” dalam setiap diskusi. Bahkan dua kata itu sampai tersisip dua kali dalam dua buku travelogue saya, Runduma: Surga Kecil di Wakatobi dan Masalembu: Suara dari Laut Seberang.

Saya suka sekali mengucapkannya. Selain bikin saya kelihatan seperti pengamat sosial independen yang siap diwawancarai media, istilah itu punya kemampuan ajaib untuk membuat obrolan ngalor-ngidul saya mendadak berbobot.

Tinggal bilang, “Ini kan Jakarta-sentris,” lalu pasang muka prihatin ala aktivis Bermuda Triangle of Talent. Selesai. Argumen saya seolah-olah baru saja lolos sidang skripsi yang pengujinya Émile Durkheim, padahal membaca bukunya pun saya cuma kuat sampai halaman senarai isi.

Ada juga istilah “Jawa-sentris” meski nggak terlalu saya rasakan waktu belasan tahun tinggal di Yogyakarta. Mungkin karena saya keburu lelap dalam kenyamanan Pulau Jawa dengan segala aksesnya. Kalau Jakarta-sentris, beda cerita.

Segala hal yang terjadi di Jakarta seperti punya derajat kelayakan berita yang setara dengan pecahnya Perang Dunia.

Orang jatuh ke selokan di Jakarta bisa dapat liputan khusus.

Saya nggak lagi bergurau. Banyak peristiwa "sepele" di Jakarta yang diangkat jadi berita nasional dengan breaking news berjangka, sementara persoalan hidup-mati orang daerah cuma berakhir jadi gosip bapak-bapak di pos ronda.

Ingat tragedi tumbler yang tertinggal di KRL?

Liputannya masif sekali, seolah-olah seluruh bangsa Indonesia sedang menahan napas mendoakan nasib botol minum itu.

Nggak ada yang salah dengan memberitakan tumbler. Saya juga nggak meminta wartawan berhenti peduli pada barang pecah-belah. Tapi saya agak heran: kenapa perhatian nasional bisa begitu cepat terenyuh oleh tumbler yang kesepian di gerbong kereta, sementara orang daerah kehilangan tanah, hutan, dan ruang hidupnya bertahun-tahun tanpa pernah mendapat sorotan yang sama?

Setelah pindah-pindah pulau, saya baru ngeh kalau ini bukan cuma soal ketimpangan media. Ada ketimpangan nasib di belakangnya.

Waktu pandemi Covid-19, saya sempat terjebak di Bangka Belitung untuk riset skripsi saya tentang tradisi Ruwah Kubur, sambil nyambi jualan serbet. Jadi saya nggak datang ke Bangka sebagai wisatawan yang sibuk mencari matahari terbenam di laut yang kadung tercemar.

Kalau melihat Bangka dari udara, tanahnya bopeng-bopeng seperti pernah dilubangi alien berkali-kali. Buat orang luar, itu mungkin cuma data produksi timah atau peta pertambangan. Buat warga setempat, itu adalah lanskap dari persoalan yang nggak selesai-selesai.

Sekarang saya tinggal di Ketapang, Kalimantan Barat, dan rasa ketimpangan itu makin konkret. Bahkan masuk ke pori-pori kulit saya.

Dua bulan terakhir, hujan seperti menghapus Ketapang dari peta bumi, dan itu bukan cuma perasaan saya sendiri: data resmi di sejumlah wilayah juga mencatat periode tanpa hujan yang sama panjangnya.

Akibatnya bukan cuma tanah yang kering.

Air sumur berubah rasa. Air mandi asin. Air cuci piring asin.

Saya akhirnya menemukan sebuah konsep estetika baru dalam hidrologi: merasakan pengalaman mandi air laut, tetapi tanpa pemandangan pantai dan tanpa klaim "eksfoliasi alami" kayak di iklan pemutih ketiak.

Sabun mandi malah bikin badan berasa kayak ikan asin yang sedang dimarinasi.

Beberapa kolega yang "have" memilih mandi pakai air galon. Kemewahan luar biasa, ketika biaya membilas daki ternyata lebih mahal daripada harga sabunnya sendiri.

Saya kebetulan disokong kantor, jadi kebutuhan air sedikit terbantu. Tapi tetap saja, begitu air menyentuh kulit, lidah saya refleks mengecap rasa garam.

Pagi hari di Ketapang juga nggak kalah puitis.

Saat orang lain disapa kicau burung dan embun pagi, saya bangun tidur langsung disapa batuk-batuk karena jerebu masuk ke kamar. Mata perih. Lantai penuh debu sisa kebakaran.

Kabut asap menyelimuti kawasan permukiman di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan pepohonan kelapa dan jalan yang tampak samar di balik jerebu. Foto oleh R. A. Mahéng, penulis, esais, dan storyteller Indonesia, penulis buku Runduma: Surga Kecil di Wakatobi dan Masalembu: Suara dari Laut Seberang.
Kabut asap menyelimuti kawasan di Ketapang, Kalimantan Barat. (Foto: R. A. Mahéng)

Dari ribuan titik panas di Kalimantan Barat, lebih dari dua ribu berada di Ketapang. Kualitas udara di sejumlah wilayah juga sempat masuk kategori nggak sehat hingga sangat nggak sehat.

Kalau pakai klasifikasi saya sendiri, mungkin sudah masuk kategori: “nggak disarankan untuk makhluk bernapas.”

Belakangan saya juga ngeh, ketimpangan ini ternyata bukan cuma soal siapa yang diberitakan. Ada lapisan lain yang baru kelihatan pas saya beneran hidup di dalamnya: soal siapa yang punya privilese buat memilih peduli, dan siapa yang nggak punya pilihan selain kena dampaknya.

Di tengah kepungan asap ini, linimasa media sosial saya malah diramaikan oleh potongan video Maudy Ayunda tentang mindfulness in the age of bad news.

Kebetulan, di video itu Maudy juga cerita soal rutinitas hariannya jaga asupan protein. Entah kenapa, di tengah kabut begini, saya malah ikut mikirin asupan harian saya sendiri: bukan protein, tapi air yang nggak asin.

Saya baru menonton video itu. Di beberapa bagian saya setuju dengan yang disampaikan Maudy. Otak manusia memang punya negativity bias, kecenderungan memberi perhatian lebih besar kepada hal-hal negatif. Kita juga memang perlu belajar membedakan mana yang berada dalam kendali kita dan mana yang nggak.

Dalam bahasa sederhana, jangan semua masalah dunia kita masukkan ke kepala kita sendiri.

Saya pernah membaca buku Om Piring tentang Stoisisme, Filosofi Teras, jadi sedikit-banyak mengerti apa yang dimaksud dengan dikotomi kendali. Sebagian orang bilang, ada kemiripan tertentu dengan konsep Jabariah dalam pemikiran Islam. Intinya kurang lebih sama: ya kalau dolar naik santai aja, rejeki Allah yang atur.

Nggak bisa mengendalikan sesuatu bukan berarti kita nggak kena dampaknya.

Saya nggak bisa mengendalikan kebakaran hutan. Betul. Saya juga nggak bisa mengendalikan arah angin. Betul.

Tapi kalau asapnya masuk ke kamar dan membuat saya bangun sambil batuk-batuk, rasanya agak sulit untuk berkata, “Ini di luar kendali saya, jadi saya terima dengan penuh kesadaran sudah kehendak Allah.”

Mungkin otak kita memang punya negativity bias. Tapi kalau setiap bangun tidur saya batuk karena asap masuk kamar, saya rasa masalahnya bukan lagi bias otak. Udara di luar memang sedang bermasalah.

Di videonya, Maudy juga menyarankan kita mengatur asupan berita: memilih sumber informasi, membaca long form daripada potongan-potongan berita, menentukan waktu khusus untuk mengonsumsi berita, lalu tahu kapan harus berhenti.

Masalahnya, ada jurang pemisah yang amat dalam antara membaca berita buruk dan hidup di dalam berita buruk itu.

Kalau berita di media sosial bikin pusing, kita bisa tekan mute, unfollow, atau log out.

Tapi bagaimana cara saya unfollow asap yang merayap lewat celah pintu kamar?

Bagaimana cara saya menekan tombol not interested pada air sumur yang rasanya seperti air kobokan?

Bagaimana cara scroll debu kebakaran yang menumpuk di sprei?

Maudy sendiri akhirnya mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita buruk adalah sebuah privilese.

Dan di situlah letak konyolnya.

Buat sebagian orang, berita buruk adalah konten yang bisa diatur konsumsinya sambil minum oat milk latte.

Buat kami di Ketapang, berita buruk adalah udara yang kami hirup, air asin yang kami pakai untuk mandi, dan asap yang bikin kami bangun sambil terbatuk-batuk.

Dulu saya memakai istilah “Jakarta-sentris” cuma buat gaya-gayaan di forum diskusi supaya kelihatan pintar. Sekarang saya merasakannya sendiri dengan cara yang sangat merepotkan.

Saya jadi paham bahwa ada orang yang bisa berhenti membaca berita buruk. Ada juga orang yang nggak punya pilihan selain hidup di tengah dampaknya.

Buat sebagian orang, kebakaran adalah berita.

Buat kami di Ketapang, kebakaran adalah sesuatu yang ikut bangun ketika kami bangun.

Jadi, kalau besok-besok ada pakar atau influencer yang menasihati saya untuk melakukan digital detox dan latihan mindfulness demi kesehatan jiwa, saya sih mau-mau saja menuruti.

Asal air asinnya juga bisa diajak mindful dan asap serta jerebu nggak masuk ke kamar saya.

☕ Kalau tulisan ini bermakna buatmu, secangkir kopi dari kamu akan sangat bermakna buatku.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.