Jarak yang Lebih Panjang dari Luka
Pukul 04.30 pagi, alarm ponsel saya berbunyi.
Bunyinya bukan suara ombak. Saya juga nggak menyetel musik instrumental yang menenangkan, melainkan seseorang berteriak, "Hidup ******!" Mungkin kamu sudah familiar dengan teriakan itu.
Saya sengaja memasangnya karena ingin bangun sambil tertawa.
Karena kalau nggak, beberapa detik pertama setelah membuka mata bisa terasa berbahaya.
Dalam beberapa hari terakhir, saya sering terbangun dengan perasaan yang sama. Ada jeda pendek antara tidur dan sadar ketika dunia masih terlihat utuh. Pada jeda itulah semuanya terasa normal. Seakan nggak ada yang berubah.
Seolah saya masih bisa membuka ponsel dan menemukan pesan yang menunggu balasan. Rasanya seperti Ayas masih ada di tempat yang selama ini ia tempati dalam hidup saya.
Sampai akhirnya saya sadar. Saya harus kehilangan orang yang sangat saya sayangi sekali lagi.
Setiap pagi. Berulang-ulang.
Tanggal 7 Juni 2026, seminggu setelah pesan terakhir yang memutus relasi kami, saya bangun dengan alarm konyol itu dan memaksa diri keluar dari "rumah".
Gail Campbell-Smith dan Rahmanita dari Yayasan IAR Indonesia mengajak saya ikut Car Free Day di pusat Kabupaten Ketapang.
Mereka sering bergurau menyebutnya bukan Car Free Day, melainkan Coffee Day atau bahkan Coffee All Day. Sebab setelah berjalan kaki, ujung-ujungnya tetap berkumpul di warung kopi.
Pagi ini saya ikut.
Ada hari ketika seseorang keluar rumah karena semangat.
Ada juga hari ketika seseorang keluar rumah karena kalau ia tetap tinggal, pikirannya akan memakan dirinya sendiri.
Pagi ini buat saya termasuk kategori kedua.
Sebelum berangkat, saya melakukan sesuatu yang bahkan nggak perlu saya pikirkan lagi.
Saya membuka aplikasi pesan singkat. Jari-jari saya masih menjalankan kebiasaan yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Membuka percakapan yang dulu menjadi bagian rutin hidup saya.
Padahal saya tahu nggak akan ada pesan baru.
Saya tahu pesan apa pun yang saya kirim nggak akan pernah sampai.
Saya tahu semua itu.
Tetapi tubuh manusia rupanya membutuhkan waktu lebih lama daripada logika untuk menerima kehilangan.
Akal saya sudah mengerti. Kebiasaan saya belum.
Setelah mobil jemputan datang, dan sopir mengantar kami ke lokasi, kami mulai berjalan ketika langit masih belum sepenuhnya terang.
Ada cukup banyak orang di jalan. Sebagian datang untuk olahraga. Sebagian datang untuk bertemu teman. Sebagian lagi mungkin hanya ingin punya alasan untuk keluar rumah.
Saya nggak tahu saya termasuk kategori yang mana.
Yang saya tahu, selama melangkah saya berusaha keras untuk nggak memikirkan seseorang yang terus muncul di kepala.
Ada pasangan yang berjalan bersama. Ada yang bersepeda berdua. Ada yang bercanda sambil membawa botol minum.
Saya berusaha nggak terlalu memperhatikan. Karena saya tahu persis apa yang akan terjadi kalau saya memperhatikannya terlalu lama.
Saya pernah membayangkan masa depan bisa berjalan bersama Ayas Adinda yang saya cintai di pagi hari seperti ini.
Mungkin sambil bercanda. Mungkin sambil mengeluh soal panas. Mungkin sesekali menggendongnya ketika ia kelelahan.
Hal-hal kecil yang dulu terasa begitu mungkin.
Pagi ini saya melihat masa depan itu dari kejauhan seperti seseorang yang berdiri di depan jendela toko yang sudah tutup.
Masih bisa melihat ke dalam.
Tapi nggak bisa masuk.
Ada dua orang bule yang berjalan bersama kami.
Mereka berjalan cepat sekali. Sangat cepat. Cepat dengan cara yang membuat orang lain—atau paling nggak saya—harus pura-pura nggak kelelahan.
Beberapa kilometer kemudian, kami mulai mencari alasan untuk berhenti.
Dan di situlah kecerdasan kolektif manusia bekerja.
Belum ada yang mengaku capek.
Sebaliknya, kami mulai menemukan berbagai alasan yang terdengar jauh lebih elegan dan bisa dibilang politis.
"Lihat sungainya bagus."
"Kayaknya di sini bagus buat foto."
"Wah, pemandangannya keren."
Padahal kalau jujur, kami cuma ingin istirahat.
Kami akhirnya berhenti di Dermaga Mangkunegeri.
Saya masih ingat angin yang datang dari arah sungai.
Masih ingat bagaimana kami berdiri memandangi air yang terus bergerak tanpa peduli siapa yang sedang patah hati hari itu.
Di sana saya berfoto. Belakangan saya menjadikan foto itu sebagai foto profil.
Ketika melihat hasilnya, saya tampak baik-baik saja. Padahal nggak.
Saya terlihat hidup.
Dan mungkin di situlah letak keanehannya. Karena saya memang masih hidup.
Mungkin kalimat "saya masih hidup" terdengar biasa ketika diucapkan pada hari-hari normal. Namun setelah kehilangan Ayas, kalimat itu terasa seperti penemuan baru.
Saya memang masih hidup.
Meski hidup terasa hambar. Meski pagi masih sering terasa berat. Meski ada kekosongan, saya belum tahu cara mengisinya.
Yang jelas, saya masih hidup.
Di tengah perjalanan itu, ada seorang laki-laki yang datang dan mengaku dari imigrasi. Nada bicaranya membuat saya merasa ia nggak sedang menjalankan tugas.
Ia sedang menikmati perasaan memiliki kuasa.
Saya memperhatikannya beberapa saat lalu mendadak merasa lucu.
Betapa anehnya manusia.
Di satu sudut kota ada seseorang yang sedang sibuk menunjukkan kekuasaan kepada orang asing. Di sudut lain ada seseorang yang sedang mencoba bertahan dari patah hati.
Di tempat lain mungkin ada seseorang yang sedang merayakan kelahiran anaknya.
Ada yang sedang berduka. Ada yang sedang jatuh cinta. Ada yang sedang mengurus utang. Ada yang sedang memulai usaha baru.
Dan semua itu terjadi bersamaan.
Dunia ternyata terlalu besar untuk berhenti hanya karena dua hati sedang patah. Dunia juga terlalu besar untuk memuat hanya satu kemungkinan hidup.
Saya sering lupa akan hal itu. Terutama ketika masih membayangkan masa depan dalam bentuk yang sangat spesifik. Seakan-akan kebahagiaan hanya bisa datang melalui satu orang, satu rencana, satu jalan.
Belakangan saya jadi lebih ngerti kalau yang saya bayangkan waktu itu bukan hanya kehidupan bersama Ayas.
Saya juga membayangkan dunia yang lebih luas untuknya.
Saya pernah membayangkan ia mengajar tari dengan lebih banyak murid di Sei Awan. Membuka usaha yang pernah ia ceritakan dengan semangat membara.
Pergi ke tempat-tempat di sudut negeri yang selama ini hanya muncul dalam percakapan kami.
Banyak di antara kemungkinan itu sekarang terasa jauh, semenjak saya nggak lagi menjadi bagian dari cerita yang akan membawanya ke sana.
Padahal bahkan orang yang paling kita sayangi pun membawa impian yang nggak selalu melibatkan kita di dalamnya.
Mungkin itu pelajaran paling menyakitkan yang saya dapat dalam beberapa hari terakhir.
Dunia nggak berhenti. Matahari tetap terbit. Sungai Pawan tetap mengalir (meski sangat kotor dan dipenuhi sampah).
Kafe baru tetap buka.
Bahkan pagi itu kami akhirnya berakhir di sebuah tempat bernama Teduh Coffee & Eatery yang baru saja melakukan grand opening sehari sebelumnya.
Orang-orang mengobrol.
Kopi diseduh. Pager restoran tetap berbunyi. Hidup berlangsung seperti biasa.
Sementara saya duduk di sana sambil diam-diam membawa seseorang yang nggak hadir.
Saya nggak menyesal mengirim pesan-pesan yang mungkin nggak pernah dibaca lagi.
Semua pesan itu jujur. Semua pesan itu lahir dari doa dan harapan.
Saya hanya ingin memastikan Ayas yang saya sayangi baik-baik saja. Mungkin itu bentuk cinta yang tersisa ketika relasi kami harus berhenti.
Nggak ada lagi harapan besar untuk memiliki tempat dalam hidupnya.
Yang ada hanyalah harapan agar ia tetap menemukan jalan menuju hidup yang selama ini ia impikan.
Kalau ada yang saya rasakan hari ini, mungkin bukan penyesalan.
Mungkin hanya kesedihan.
Kesedihan karena waktu yang kami miliki ternyata jauh lebih pendek daripada yang saya bayangkan.
Kesedihan karena saya masih bisa membayangkan begitu banyak hal yang nggak pernah sempat kejadian.
Termasuk berjalan bersama di pagi seperti ini.
Namun ketika saya melihat kembali foto di Dermaga Mangkunegeri, saya merasa ada satu hal yang patut saya syukuri.
Saya datang ke sana dengan hati yang berat. Saya datang dengan tidur yang berantakan. Saya datang dengan kehilangan yang masih segar.
Tetapi saya tetap datang.
Saya tetap berjalan. Langkah demi langkah. Dan mungkin untuk sementara waktu, itu sudah lebih dari cukup.
Karena ternyata manusia nggak selalu harus sembuh dulu untuk bisa melanjutkan hidup.
Ada saatnya ia hanya perlu terus berjalan sampai suatu hari jarak yang ditempuh perlahan lebih panjang daripada luka yang dibawanya.

cinta yang luar biasa 🥹
BalasHapus