Pengalaman Perpanjang SIM Online: Kemudahan yang Punya Jalan Panjang
Saya kira memperpanjang Surat Izin Mengemudi sekarang tidak lagi serumit dulu. Ada aplikasi, ada layanan digital, ada janji bahwa semuanya bisa dilakukan dari mana saja.
Saya cari aplikasinya di penyedia layanan.
Tidak bisa diunduh. Perangkat saya dianggap tidak kompatibel. Ponsel yang saya beli sekitar akhir 2019, yang masih saya pakai untuk bekerja, menulis, membalas chat Ayas, panggilan video dengan Mamak, dan hampir semua hal lain, tiba-tiba tidak bisa kerja untuk satu urusan administratif.
Saya diam sebentar, menahan kesal.
Beberapa jam kemudian, saya meminjam ponsel komunitas The Power of Mama (TPOM). Mengunduh aplikasi Digital Korlantas POLRI. Mulai dari awal.
Untuk masuk ke layanan, saya diminta melakukan verifikasi surel. Masalahnya, surel yang saya pakai sudah terdaftar di akun lama, akun yang saya buat sekitar 2021, untuk memperpanjang surat izin mengemudi pertama kali.
Saya coba memasukkan surel lama saya. Setelah beberapa kali, muncul too many requests yang bikin pekerjaan saya makin berat.
Saya tidak bisa masuk lagi ke akun itu.
Login hanya bisa lewat nomor ponsel. Nomor yang dulu saya pakai sudah tidak aktif. Dan seperti banyak nomor yang pernah dipakai untuk mendaftar layanan tertentu, jejaknya entah ke mana, seperti banyak hal yang dulu pernah kita pakai lalu hilang tanpa jejak.
Sayangnya, tidak ada login lewat media sosial atau surel; tidak ada pemulihan akun yang umum digunakan oleh “aplikasi swasta”.
Di layar yang sama, ada tombol pengaduan.
Saya coba buka.
Untuk mengajukan pengaduan, saya diminta verifikasi surel terlebih dahulu.
Saya kesal lagi.
Saya sempat mencoba menghubungi kontak yang tersedia di media sosial Digital Korlantas dan mengirim surel untuk bertanya solusinya, termasuk soal too many requests itu, berharap ada penjelasan soal akun lama. Tidak ada balasan. Tidak hari itu, tidak juga hingga cerita ini ditulis.
Saya coba verifikasi pakai surel lain bekas milik brand usaha saya yang kadung rungkad.
Berhasil.
Saya lanjut mengisi data, mengikuti instruksi, dan mengunggah dokumen. Semuanya berjalan seperti yang seharusnya, tidak cepat, tapi bisa diikuti.
Saya lanjut saja.
Sampai di tahap pembayaran, saya kembali kesal. Pilihan metode pembayaran hanya dimonopoli oleh satu bank pemerintah dan tidak ada penjelasan yang benar-benar menjawab. Akhirnya saya minta bantuan orang lain untuk transfer. Status berubah. Proses berlanjut.
Setelah berjuang dari pagi hingga larut malam, saya pikir sudah sampai di ujung.
Lalu notifikasi itu muncul: permohonan ditolak.
Alasannya, pas foto tidak sesuai syarat.
Saya tidak langsung mengulang. Ponsel yang saya pinjam sudah dikembalikan, dan untuk memulai lagi, saya harus mengulang semuanya dari awal. Kecuali tes psikologi di website ePPsi, hasilnya bisa digunakan hingga enam bulan.
Saya minta tolong Muffidz Ma'sum, ia ahli bagian perfotoan duniawi ini, proses selesai. "Jangan lupa transfer 300 ribu," katanya.
Saya tahu ia bercanda.
Lalu saya pinjam ponsel The Power of Mama lagi. Buka aplikasi yang sama. Isi ulang data. Kali ini saya sudah lebih pede dengan foto yang dipotret Muffidz—bukan pede dengan muka saya tentunya.
Kalau profil di blog ini saya kelihatan manis karena filter, kalau di SIM ya kamu tahu sendiri lah ya.
Ya itu.
Prosesnya tidak berubah. Yang berubah hanya cara saya memanajemen emosi.
Setelah semua selesai, saya kembalikan ponselnya. Dan saya tidak tahu apakah itu berhasil atau tidak. Tidak ada notifikasi yang masuk ke ponsel saya sendiri. Tidak ada yang bisa saya cek. Saya hanya bisa menunggu.
Sekitar semingguan kemudian, saya datang ke rumah salah satu anggota The Power of Mama yang memegang ponsel itu. Saya buka aplikasinya. Ternyata SIM saya sudah berhasil diperpanjang, dan kartunya sudah sampai di Sungai Awan Kiri di Ketapang.
Saya kabari Ayas.
"Di ACC," tulis saya.
"Yeaaayyy... Aku ga jadi jalan kaki," balasnya.
Saya ketawa.
Tapi yang bikin saya lebih ketawa adalah saat saya akhirnya melihat foto saya yang terpampang di SIM.
Foto yang saya siapkan dengan cukup serius setelah ditolak di percobaan pertama: pencahayaan diperhatikan, ekspresi dijaga, bahkan dibantu orang yang paham di bidang fotografi.
Saya sudah berusaha terlihat seperti manusia yang layak diberi izin mengemudi.
Tapi entah kenapa, ketika SIM itu sampai di tangan saya, foto saya berubah jadi sesuatu yang rasanya bahkan ibu saya mungkin perlu melihatnya dua kali untuk memastikan itu benar saya.
Padahal menurut keyakinan saya, Muffidz sudah melakukan tugasnya dengan baik. Fotonya bagus. Saya kelihatan ganteng. Tapi hasil cetaknya seperti punya pendapat sendiri.
Saya ketawa lagi, sebentar. Habis itu ya sudah.
![]() |
Amplop SIM C dari Digital Korlantas POLRI yang berhasil
diperpanjang online, mendarat di Ketapang. (Foto: dok. Mahéng) |
Saya tidak benar-benar merasa ini lebih mudah. Saya juga tidak merasa ini lebih sulit.
Rasanya seperti mengerjakan sesuatu yang panjang, dengan banyak bagian yang harus ditebak sendiri.
Saya tidak datang ke kantor Satpas Polda Metro Jaya. Tidak antre. Tidak menunggu di ruangan yang penuh orang dengan vibe yang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan.
Sebagai gantinya, saya duduk di depan layar, meminjam perangkat orang lain, membuat akun baru, dan mencari jalan keluar di sistem yang tidak selalu kompatibel di semua jenis gawai.
Mungkin memang ini bentuk baru dari kemudahan.
Bukan menghilangkan prosesnya—tapi memindahkan sebagian kebingungannya ke tempat lain.


Leave a Comment